PULANG KAMPUNG #2

Tanah Jao
Rantau rancak sadonyo mamuji
Kotonyo santiang, balabuah batembok
Balampu tak baminyak

Oi liek pulo
Malang untuang oi urang dagangnyo
Sen ciek haram kok basuo
Dompet lah barisi jo aia mato

Laruik sanjo
Laruik sanjo hati den kok ibo
Bak kami nanko alah rindiah pauik
Manahan tumbok baju

Alah marengkak
Galang-galang ndak manginyam nasi
Hanyo ubi dapek pambujuaknyo
Litaklah paruik, den piciangkan mato

“Tanah Djao” Vocal Elly Kasim diiringi The Step, ciptaan N.N

 

Kalau kau pulang hari raya, bertemu kawan sapamainan, salapik-sakatiduran, satu hal yang paling dihindari adalah jangan sampai turut manyukek-an angok. Saya tidak tahu istilah puitik manyukek-an angok ini munculnya sebab apa. Tapi yang jelas istilah itu menyakitkan, berdekatan dengan mahajan tuah, kau memperlihatkan-mempertontonkan-menceritakan kepiawaian, kemahiran, dan segala yang ada padamu pada kawan di hadapanmu.

Kau bisa bayangkan, yang di-sukek (bambu besar penakar ukuran padi—bukan untuk beras) itu angok (napas), yang ditakar itu adalah hidupmu. Tapi saya meyakini juga istilah tersebut yang membawa perantau modern berkirab dari kampung halaman. Saya mengistilahkan perantau modern, berbeda dengan perantau dengan pola yang diceritakan Elizabeth E. Graves dalam buku Asal Usul Elite Minangkabau Modern. Bukan perantau yang pergi dari kampung halaman sebab di kampung-kampung mereka tidak mempunyai lahan subur yang bisa mereka garap untuk berladang dan bersawah. Bukan perantau yang pergi, meninggalkan anak-istri di kampung selama setahun, lalu pulang pada lebaran tiba, dan begitu seterusnya. Konon, kabarnya pola merantau seperti ini memang sudah ditinggalkan sejak gerakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) diluluh-lantakkan oleh tentara pusat.

Hari ini saya percaya, istilah manyukek-an angok selain menyakitkan, akan menjadi kekuatan bagi mereka yang gigih. Istilah tersebut jadi rotan pelecut bagi mereka yang merasa galeh-nya dibeli oleh kawannya, oleh lawan bicaranya. Maka ia pergi pula ke rantau, berharap ketika ia pulang, orang tidak bisa lagi manyukek-an angok-nya, galeh-nya tidak bisa lagi dibeli orang. Maka satu pertanyaan muncul lagi di kepala saya: mengapa kau merantau?

Jika di tahun 2003, saya akan menjawab pertanyaan tersebut, dengan beberapa jawaban: ingin orang-tua saya naik haji seperti orang tua si anu, ingin membangun rumah bagus untuk orang tua seperti si anu, menyekolahkan adik-adik saya seperti si anu menyekolahkan adiknya, mengirimkan ponsel pada semua anggota keluarga seperti si anu, mengirimkan televisi 32 inci seperti si anu, mengirimkan pemutar vcd lengkap dengan pelantam besar seperti si anu mengirimkan pada keluarganya (pemutar vcd yang bisa memasukkan tiga vcd sekaligus, konon pemutar vcd tersebut dibeli murah pada tahun 1998 pasca ketusuhan di jakarta), dst. Itu semua untuk keluarga, lalu saya, mengapa saya merantau? Kau tahu, ketika si anu turun dari mobil sedan memakai 501 dan memperlihatkan merek yang sengaja dibikin berlebih oleh perusaan garmen tersebut, lalu sepatu Puma Ferrari merah menyala, dua dompet kulit tebal dimasukkan ke masing-masing saku depan, benar-benar gagah betul. Yang pasti, si anu sedang mencari bunga kampung, dan tentu saja ia akan bisa menikung siapa saja, termasuk menikungmu. Itu motivasi saya. Segala motif berdasarkan si anu!

Tapi “nasib adalah kesunyian masing-masing”, kata Engku Chairil, saya sebagaimana orang kampung saya percaya betul mengenai hadist “sembilan dari sepuluh pintu rezeki adalah berdagang”, ternyata satunya adalah saya. Saya sudah mencoba “sekolah alam rantau” sebagaimana orang kampung saya itu, jadi penunggu bofet jamu, berjaga di kedai nasi, berjualan plastik, tapi entah mengapa tidak ada jalan niaga membentang di depan saya. Yang ada, hampir tiap malam saya turut minum Intisari, Anggur Putih, dan paling mantap itu VSOP di Bandung. Saya tidak gesit berdagang dan ketakutan terbesar saya adalah induk semang merugi. Satu jalan ternyata dibentangkan pada saya, jalan yang seperti tokoh “Orang Padang” dalam sinetron Bajaj Bajuri (saya lupa namanya).

Dan tahun ini saya pulang ke kampung. Saya tetap merasa pulang hari raya adalah pulang yang berbeda, sebab semua anggota keluarga pulang, saya bertemu adik-adik saya. Meskipun orang bilang rantau saya cuma di belakang pagu dapur, cuma selemparan batu, memicing mata saja sampai ke kampung (sebab Padang – Solok dekat dan kawan-kawan mengolok begitu), saya tetap merasa pulang berhari raya berbeda dengan pulang-pulang yang lain. Dan saya tetap memahami konsep rantau adalah bertolak dari rumah ibu, berkirab dari kampung, mencari peruntungan. Dan dalam pandangan orang Minang, bukankan Padang juga daerah rantau? Meskipun masih sebentang pesisiran (utara dan selatan). Yang pasti, dari hari ke hari, motif merantau seperti 2013 lalu telah lama berpiuh, menukik ke arah lain.

Saya pulang, tidak ada kegelisahan sebenarnya di kampung, seperti kegelisahan materil yang dikabarkan orang-orang rantau. Kecuali padi kena hama, panen gagal, dan jalanan kampung yang tidak lagi tersentuh perbaikan oleh pemerintah (jalan itu diperbaiki hanya ketika kampung mendapat jatah jalur Tour de Singkarak). Jalan yang kian hari kian buruk dilewati dari pagi hingga malam oleh truk-truk perusahaan tambang yang mengangkut cadas bukit dari arah Paninggahan. Rumah-rumah terus berdebu tiap kali dibersihkan dan orang-orang yang selalu takut anak mereka terkena infeksi saluran pernapasan.

Kini, saya membenarkan apa yang dikatakan kawan saya, seorang penyair yang memilih tinggal di kaki Singgalang, di daerah Pandaisikek sana. Di kampung, jika azan subuh berkumandang kau tinggal turun dari rumah, mandi, ke surau, lalu menghabiskan pagi di lepau dengan segelas kopi dan ketan goreng pisang. Kau tinggal memilih kapan pergi ke sawah, siang kembali lagi ke lepau, ke sawah lagi, dan ketika senja datang kau pulang melihat anak-istri. Ke lepau lagi sehabis magrib menonton berita di televisi dan turut berkomentar tentang suhu perpolitikan negeri ini. Turut berkomentar, mengumpat-ngumpat, dan tentu tidak akan pernah didengar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s