DI HADAPAN KEDAI NASI

Di hadapan kedai nasi
kota sudah demam 36o C
harum dendeng bakar, rendang setengah jadi, daun asam disangai
di atas pagu, dan potongan koran berisi sajak seorang penyair tua
tentang kangen pada masa muda: ketipak kaki kuda, angin pulau seberang
mengirim gumpalan garam, harum rempah dari gudang-gudang tepi muara
suara lintasan kereta bara…

Telah aku tolak dan aku tinggalkan haru begini
tapi jalur-jalur kota ini seakan dibangun dari satu kematian
menuju kematian lainnya.

Kedai-kedai sudah didirikan tinggi
patung orang menggalah awan bergumpal, patung kuda rebah
dan patung segala buah ditegakkan di tiap sudut
dengan neon mengelilingi.

Di hadapan kedai nasi ini
kota sudah demam 36o C
kita ternyata punya kangen yang pekat
pada hari-hari baik
sebelum kota ini pandai berkhianat.

2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s