OSLAN DI FREKUENSI 92.4

sarinah

Di frekuensi 92.4 FM, RRI Pro 4 Padang, suatu Senin pagi di awal tahun 2015 (antara Januari dan Februari) suara Oslan Husein mendendangkan lagu yang baru saya dengar. Siaran radio di frekuensi yang khusus menyiarkan lagu-lagu Minang ini memang gemar saya dengar dari tape mobil apabila mengantar dan menjemput istri di kantor. Dan di Senin pagi, yang tanggal persisnya saya lupa itu, adalah Senin pagi yang benar-benar membuat saya penasaran. Saya memptertegas volume suara tape dan menghapal beberapa lirik lagu Oslan tersebut untuk kemudian saya lacak. Beberapa kata dalam lagu yang didendangkan Oslan itu saya simak baik-baik, saya reka-reka, saya perkirakan bagian mana yang menjadi judulnya.

Waktu itu saya memperkirakan judulnya “Sarinah” (yang bukan dimaksud Soekarno) sebab nama itu beberapa kali diulang dalam lagu. Beberapa lirik yang saya hapal dengan cepat saya ketik di laman aplikasi mesin pencari di internet dengan menyertakan salah satu blog yang menampilkan lirik-lirik lagu Minang lama: laguminanglamo.wordpress.com. Lantas saya menemukan lirik dan lagu tersebut. Tebakan saya benar, judul lagu Oslan tersebut “Sarinah”.

Pencarian saya lanjutkan di youtube. Ternyata sudah ada yang mengunggah dua tahun sebelum saya mendengarkan lagu itu dari radio. Meski kualitas suara dari unggahan tersebut tidak sebagus yang saya dengar dari radio, tapi sebagai penyuka lagu Oslan, saya berbahagia tiap menemukan lagu yang baru saya dengar. Saya lantas mengunduh lagu tersebut dari youtube, menjadikan format video ke audio, dan saya gabungkan dengan beberapa lagu Oslan lain dalam flasdisk. Beberapa hari, setiap kali menyetel tape mobil, saya ulang-ulang mendengar lagu “Sarinah”. Saya kerap berjoget dibuatnya. Saya suka. Hingga lagu ini akhirnya menarik saya ke peristiwa-peristiwa puitik. Mendesak saya untuk menulis puisi yang saya semula niatkan diberi judul persis dengan lagu itu: “Sarinah”.

Puisi “Sarinah” menemukan jalannya menuju pembaca dalam penayangan puisi itu dengan beberapa puisi saya yang lain di Koran Tempo, Maret 2015. Sempat saya bacakan juga sewaktu saya diminta untuk baca puisi di loby depan Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, pada agenda Asean Literary Festival 2015. Hingga kini “Sarinah” menemukan lagi jalan lain menuju pembaca, “Sarinah” menjadi pintu pembuka untuk 55 puisi saya yang lain dalam sebuah kumpulan puisi yang segera diterbitkan Grasindo.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s