DI WAY KIRI

Di Way Kiri, seekor bawal terapung
membentur pinggang sampan
membentur sebatang betung terapung

air hitam naik
menampilkan bayangan burung-burung
sementara musim migrasi sudah beralih lain
sementara tahun telah membikin cangkang-cangkang
telur kosong

dan di Way Kiri
deretan batang ketapang mengusir hari tua.

Tapi di sini, kita bersampan
seperti orang dulu terkurung dalam masa lalu
takut air hitam akan terus naik
menggenangi sawah
mencapai pangkal tiang rumah
bikin tulah pada tanah.

Di Way kiri, seekor kuntul terbidik bedil
dan mati tercebur
seorang perempuan muda peranakan utara
terjatuh dari atas sampan
mengumpat berkali-kali tentang kesialan mencelakai burung
sementara air hitam terus naik
sementara ketakutan akan ikut terbidik

dan di Way Kiri
hari-hari adalah tambalan lubang pada sampan.

Rumah-rumah berdiri dengan tiang tinggi
seorang bermuka tua, barangkali tidak umurnya, berkisah
tentang perpindahan demi perpindahan manusia
dusun yang kehilangan pengharapan demi pengharapan
atap rumah yang ketirisan
orang-orang yang terus berangkat
mengangkut berkarung-karung mimpi
dan tidak kembali, tidak akan pernah kembali.

Rumah-rumah yang menanti
masa lalu terbentur kusen dan jendela tua
masa depan terbawa hanyut bersama sisa ketam di air hitam
dibawa arus dan membenam di muara penghabisan.

Tapi di sini, kita terus bersampan
terus bersabar menghadapi kabar yang itu-itu juga
berita yang seperti itu-itu saja.

2016

Telah disiarkan Kompas cetak, Sabtu, 10 September 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s