NIRWAN DAN ARSIP PRIBADI

dsc_4973-ed

Gelaran arsip Nirwan Dewanto

Satu Setengah Mata-Mata dihadirkan ke publik. Buku berisi sepilihan tulisan Nirwan Dewanto mengenai ulasan rupa dan sastra, dengan pronominal dalam prosa tersebut bergerak enteng dari orang pertama tunggal hingga orang ketiga jamak. Buku tersebut bergerak antara fiksi dan non-fiksi, antara “antropologi” dan catatan autobiografis, antara telaah seni dan nalar puitik, antara pembacaan-dekat dan pembacaan-jauh, seakan mewujud penghormatan Nirwan Dewanto pada kegiatan mengulas, kegiatan menyelia, kegiatan mencatat gejala seni dan gejala rupa di Indonesia yang sejauh ini ia terlibat di dalamnya.

Kamis lalu (1/9/2016) Satu Setengah Mata-Mata (Oak, 2016) diluncurkan di Dia.Lo.Gue Artspace, Jalan Kemang Selatan 99A, Jakarta Selatan, berikut dengan gelaran arsip mengiringi. Gelaran tersebut bagi Nirwan Dewanto adalah upaya “mempertunjukkan” pada orang-orang bagian dari proses kreatifnya yang secara langsung atau tidak berhubungan dengan Satu Setengah Mata-Mata. Semacam mempertunjukkan bagian “dapur” yang selama ini belum atau masih sedikit diketahui orang-orang dekat. Maka hadirlah dalam etalase gelaran itu sepilihan tulisan tangan Nirwan Dewanto, berupa catatan, draft awal, manuskirip, coret-moret, nota lapangan, pulpen, pena, pensil, beragam kuas, dan sebagainya.

Nirwan Dewanto boleh jadi adalah seorang kurator dan editor sastra yang mengganggap arsip pribadi adalah jantung dari proses kreatifnya. Boleh jadi juga ia mengganggap arsip pribadi adalah perihal untuk terus memata-matai diri sendiri. Atau barangkali arsip pribadi baginya adalah perihal mengingat apa yang sudah dilupakan dirinya dan diluputkan orang-orang kini. Arsip sebagai bukti otentik bahwa ada sebuah fase ,di mana orang-orang pernah menjadi pribadi tekun lagi telaten, sebelum data-data berlalu-lalang dengan enteng di media digital.

“Bagi saya, menulis selalu bersifat ragawi, dalam artian menulis dengan tangan. Saya percaya bahwa aksara, kata dan kalimat harus ditarik oleh seluruh tubuh dan dialirkan ke tangan, dan akhirnya ke atas kertas,” kata Nirwan Dewanto dalam sambutan peluncuran buku tersebut. Maka tak heran apabila ia, dalam gelaran arsip, masih menyimpan catatan-catatan singkat (untuk sekedar pengingat) dari apa yang pernah dicitrakan oleh rupa di galeri-galeri dalam dan luar negeri yang pernah ia tengok. Ia masih merawat dengan rapi buku-buku catatan mengenai pertemuannya dan perbincangannya dengan orang-orang sewaktu ia menjalani residensi di beberapa negara. Ia dengan mantap meyakini bahwa sisa-sisa mimpi yang masih memburunya dari lelap semalam musti diaksarakan.

dsc_8298-ed

Satu Setengah Mata-Mata

Gelaran arsip tersebut menampakkan dengan utuh (bukan lagi merepresentasikan) kerja Nirwan Dewanto sebagai seorang “mata-mata” dunia seni dan rupa di Indonesia, juga upaya dirinya memata-matai diri sendiri. Sebab tulisan tangan, media tinta pulpen atau pena di atas kertas, coret-moret tentu tidak bisa dihapus begitu saja seperti paduan huruf (kata) pada aplikasi menulis di word-document di komputer. Tulisan di atas kertas akan selalu menyisakan coret-moret kesalahan (lebih tepatnya kekeliruan) yang diperbaiki, disempurnakan, dianggap baik, dan Nirwan Dewanto melalui gelaran tersebut dengan nyaman memperlihatkan coret-moret tersebut.

Maka hadir juga di antara gelaran tersebut beberapa puisi yang ditulis tangan yang kemudian hadir dalam buku puisinya Jantung Lebah Ratu (2008) dan Buli-Buli Lima Kaki (2009) dengan coretan perubahan-perubahan di sana-sini. Ketelatenan Nirwan Dewanto sebagai seorang editor sastra juga tampak di salah satu arsip berupa buku catatan yang berisikan daftar tanggal berikut nama dan karya yang dimuat di lembar sastra Koran Tempo yang ia jaga.

Tidak hanya tulisan, dalam gelaran tersebut juga ditampilkan kuasi-kaligrafi. Di dinding Dia.Lo.Gue Artspace terpajang prosa, puisi, kaligrafi tinta cina dengan kuas di atas beberapa media. Nirwan Dewanto mengganggap pada suatu ketika kerja menulis di atas kertas mewujud, menjadi rupa itu sendiri. Pada tahan itulah ia menggunakan tinta cina untuk mengalirkan kata, nama, wicara, tanda tangan dan paraf sendiri. “…dan karena si kuas punya juga takdirnya sendiri, hasilnya adalah gambar yang mengatasi tulisan, semacam ideogram yang hilang-ganti: ia meneruskan konsekuensi ini dengan mencobai, misalnya, cat air, arang dan pastel.” Proses Nirwan Dewanto tercatat dalam kertas di dalam etalase gelaran.

Secara langsung atau tidak gelaran tersebut berkaitan dengan Satu Setengah Mata-Mata sebagai “anak” dari proses kreatif Nirwan Dewanto. Buku ulasan 312 halaman yang dibagi menjadi empat bab dan 34 sub-bab tersebut boleh disebut sebagai upaya berbagi bagaimana cara ia menghampiri dunia seni rupa serta memberi warta, atau membentangkan kembali apa yang luput dari kita—dibuka “epilog” dan ditutup “prolog” dengan sangat prosaik yang mengetengahkan bagaimana pronominal orang ketiga tunggal (“ia”) mulai menyusup dalam seni dan rupa hingga “ia” ia turut terlibat dalam tafsir.

Dalam prolog Satu Setengah Mata-Mata dapat dibaca bagaimana pengalaman “ia”, sebagai anak-anak, melalui seni rupa merasa telah diajari untuk memperkarakan rupa. Si “ia” berbicara soal Mooi Indie (Hindia Molek) mengawali dirinya untuk belajar soal rasionalitas, sebgaimana ibu-“nya” mengatasi kisah-kisah hantu dan beragam makhluk halus dan mengatasi segala tahayul. Si “ia” juga berkisah bagaimana pertemuannya sewaktu kuliah ia bersitatap dengan karya Popo Iskandar, Ahmad Sadali, Srihadi Soedarsono, hingga perjalanan mengunjungi museum dan galeri rupa di luar tanah airnya. Dalam Satu Setengah Mata-mata, Nirwan Dewanto, “melalui bergagai jalan keterlibatannya, ia berhujah bahwa seni rupa bukan sekadar apa yang dapat dipandang, melainkan juga apa yang nyaman diciptakan kembali terus menerus dalam imajinasi. Bahwa seni rupa mengungkai ranah-ranah gelap yang dilewatkan oleh ilmu pengetahuan”.

Peluncuran Satu Setengah Mata-Mata dan gelaran arsip Nirwan Dewanto di Dia.Lo.Gue Artspace memang seakan memperlihatkan atau mempertontonkan pada kalayak bagaimana ia berupaya mengambil bagian dengan mencari jalan lain dalam seni dan rupa. Ia terkadang berlaku sebagai kurator (yang profesi ini sebenarnya ia jalani) tapi ia memandang seni dan rupa malahan dalam catatannya ia memosisikan diri sebagai orang yang menduga, meragukan, mempertanyakan hasil kurasinya—beberapa catatan dalam Satu Setengah Mata-Mata memang melakukan otokritik terhadap “ia” yang barangkali perwakilan dari “kita”.

Dalam gelaran arsip dan peluncuran Satu Setengah Mata-Mata turut dibacakan-dipertunjukkan bagian dari buku Satu Setengah Mata-Mata oleh Jay Subyakto, Mira Lesmana, Ubiet Raseuki dan Najmi Ismail. Mereka membacakan-mempertunjukkan-memusikkan karya Nirwan Dewanto di hadapan para tamu yang berdatangan sedang dan sudah Jakarta diguyur hujan deras. Dari gelaran tersebut, setidaknya kita bisa memaknai lagi bagaimana pengarsipan merupakan bagian dari kerja kreatif. Arsip mengatasi keraguan pada ingatan, kenangan, pandangan dan pikiran kita yang kini sebagian besar tersimpan dalam ruang digital. Perihal yang barangkali suatu kali tidak lagi intim, tidak lagi bisa kita raih, menjadi hak milik orang, atau terhapus oleh virus pada ponsel pintar dan komputer.***
Foto: Witjak Widhi Cahya

Telah disiarkan di lembaran “cagak”, Padang Ekspres, Minggu, 4 September 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s