SOEWARDI IDRIS (1930-2004): ANTARA KARYA SASTRA DAN MORAL HISTORIOGRAFI

soewardiNasionalisme kata Benedict Anderson dalam Imagined Communities, seharusnya akan lebih mudah bila orang memperlakukannya seolah-olah ia berbagi ruangan dengan ‘kekerabatan’ dan ‘agama’, bukannya dengan ‘liberalisme’ atau ‘fasisme’. Bangsa atau nasion, lanjutnya, adalah komunitas politis dan dibayangkan sebagai suatu yang bersifat terbatas secara inheren sekaligus berkedaulatan. Tapi nasionalisme juga membawa permasalahan pokok. Bangsa yang dibayangkan sebagai sebuah komunitas, yang dipahami sebagai kesetiakawanan dan rasa persaudaraan, memungkinkan banyak orang, jutaan jumlahnya, bersedia melenyapkan nyawa orang lain, bahkan rela merenggut nyawa sendiri demi pembayangan tentang yang tak terbatas itu.

Permasalahan pokok dalam membayangkan bagaimana sebuah bangsa itu menjadi juga telah merundung masyarakat Minangkabau (Sumatera Barat). Diproklamirkannya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) oleh Ahmad Husein di Padang, 10 Februari 1958, menjadi bukti nyata bagaimana bayangan akan sebuah bangsa itu berangkat dari persoalan. Kesenjangan antara pusat dan daerah serta kecewaan-kecewaan lain terhadap pemerintahan membuat bagian dari sebuah bangsa sanggup menyatakan diri tidak lagi mempunyai ikatan. Kesenjangan tersebut ditegaskan secara metaforik dalam bait pantun Ahmad Husein saat proklamasi PRRI: Penjahit penjolok bulan/ tiba di bulan patah tiga/ Di langit hari yang hujan/ di bumi setetes tiada.

Dalam artikel ilmiah berjudul PRRI Penulisan Sejarah dan Kekerasan sejarawan Gusti Asnan mengatakan bahwa PRRI dapat dikatakan sebuah gerakan daerah yang menarik dalam sejarah Indonesia kontemporer. Peristiwa itu telah melahirkan sebuah fenomena sejarah bagi Sumatera Barat khususnya dan Indonesia secara umum. Secara politis, PRRI punya andil dalam berakhirnya era partai-partai politik dan era demokrasi liberal di Indonesia. Secara pemerintahan, PRRI semakin mempercepat realisasi pembentukan Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Jambi, semakin memperkuat sentralisasi pemerintahan, serta menjadi awal terlibatnya militer secara intensif dalam pemerintahan daerah. Secara militer, PRRI menjadi bukti bahwa pemerintah lebih memilih menggunakan cara-cara militer dalam menyelesaikan gerakan “separatis” daripada diplomasi. Secara sosial dan psikologis, PRRI telah menyebabkan eksodus besar-besaran orang Sumatera Barat (Minangkabau) ke luar daerahnya, dan telah menyebabkan hilangnya harga diri orang daerah itu karena perlakuan sewenang-wenang tentara pusat, serta ketidak-adilan para penguasa.

Historiografi PRRI memang menyisakan banyak celah untuk memandang. Menurut Gusti Asnan, historiografi yang sejauh ini ditulis secara deskripsi terdapat perbedaan kadar pengungkapan (tahapan tindak kekerasan selama era PRRI). Perbedaan deskripsi ini pun kemudian dibedakan dalam beberapa kategori: penulis (terdiri dari para pelaku dan aktor sejarah, penulis yang berpihak pada aktor/sejarah, kelompok ilmuwan), waktu terbit, dan tujuan penerbitan masing-masing penulisan.

 

Karya Sastra Soewardi Idris

Pandangan Gusti Asnan mengenai pola penulisan historiografi PRRI dapat dikomparasikan dengan kehadiran karya sastra mengenai PRRI dari periode pemerintahan Soekarno (Orde Lama), Soeharto (Orde Baru), dan reformasi hingga kini, di mana beberapa karya sastra dengan latar PRRI hadir melalui beragam sudut pandang. Soewardi Idris, pengarang sekaligus pelaku PRRI, menghadirkan peristiwa tersebut secara khusus melalui kumpulan cerpen Diluar Dugaan (1963), Istri Seorang Sahabat (1963), dan novel Dari Puncak Bukit Talang (1964).

Karya-karya Soewardi tersebut mendahului penerbitan beberapa karya lain yang sedikit-banyaknya juga menyentuh persoalan PRRI. AA Navis dengan beberapa cerpen dan novelnya (terbit pada masa Orba), Pergolakan (Pustaka Jaya, 1974) karya Wildan Yatim, Ketika Merah Putih Terkoyak (Gramedia, 2001) karya Carl Chairun novel, Ular Keempat (2005) karya Gus Tf Sakai, Cerita Cinta Enrico (Gramedia, 2012) karya Ayu Utami, dll.

Soewardi melalui karyanya menghadirkan tokoh-tokoh yang moralitasnya tercerabut dari tujuan perjuangan menyebut PRRI dengan istilah “pemberontakan”. Navis melalui perspektif gadis tuna rungu yang terseret dalam peristiwa PRRI menggunakan kata “perang”. Leon Agusta dan Rusli Marzuki Saria dalam beberapa puisi menggunakan istilah “perang saudara”. Gus Tf melalui perspektif ingatan korban (masyarakat) menggambarkan peristiwa tersebut sebagai “pembunuhan pada orang-orang tak bersenjata” yang dilakukan tentara pusat. Sementara Ayu Utami dalam narasinya menyebut peristiwa tersebut sebagai “revolusi berkaki kurus” dan “pemberontakan berkaki kurus”.

Karya Soewardi merupakan teks sastra yang paling dekat dan paling intim bercerita tentang PRRI. Mengingat karya tersebut diterbitkan pada tahun 1963-1964 tidak lama setelah gelombang terakhir penyerahdirian pasukan PRRI. Keterlibatan pengarang dalam peristiwa tersebut menjadi salah satu kekuatan bagaimana Soewardi membangun suasana cerita. Keterlibatannya tersebut dituliskan kembali dalam catatan berjudul Perjalanan dalam Kelam (Majalah Sarinah, No. 153, hlm. 2-19), di mana Soewardi menegaskan bahwa: “Penulis telah terlibat langsung dalam pemberontakan itu, sekalipun bukan merupakan tokoh”.

Dari dua kumpulan cerpen Soewardi, Di Luar Dugaan dan Istri Seorang sahabat, 10 judul cerpen di antaranya berkisah tentang peristiwa PRRI. Melalui cerpen berjudul Di Luar Dugaan bisa ditelisik bagaimana moralitas dalam tubuh PRRI. Cerpen ini mengisahkan tokoh Hadi, yang pada suatu ketika diminta oleh komandannya memimpin pencegatan kedaraan umum di daerah Lubuk Silasih. Hadi, menyadari bahwa cita-cita perjuangannya sudah berubah: “Aku terlibat dalam pemberontakan, terombang-ambing oleh suatu cita-cita politik yang makin lama makin kabur di balik nafsu ingin berkuasa dari seluruh pengikutnya.”

Tujuan melawan dominasi pusat untuk kesejahteraan dan kebaikan masyarakat berubah ketika pasukan PRRI mulai terdesak oleh APRI. Narasi dari tokoh Hadi menggambarkan bahwa suasa turut membuat pribadinya berubah, dari seorang yang tidak suka marah, menjadi seorang yang suka memukul, seorang yang tak takut melihat darah mencucur. Keterjepitan juga digambarkan membuat pasukan PRRI melakukan berbagai kenekatan: “Kehidupan kami kaum pemberontak semakin terjepit, dan karena itu perbuatan kamipun semakin nekat. Sebuah kampung yang tak mau membantu menyediakan perbekalan kami, segera kami datarkan menjadi abu. Anak gadisnya kami seret untuk memuaskan nafsu kami dan ternak penduduk kami biarkan mai terbakar dalam kandang”.

Kenekatan lain juga digambarkan ketika tokoh Hadi ketika memimpin pasukan mencegat kendaraan umum di daerah Lubuk Silasih. Mereka mencegat satu buah bus umum dan satu truk perusahaan yang lewat, mengosongkan muatan, menyuruh semua penumpang membuka seluruh pakaian, dan mengharuskan penumpang-penumpang tersebut ikut ke dalam hutan: “Tidak lupa kami membuat lelucon yang tidak ada dalam kamus manusia beradab, yaitu menanggalkan pakaian wanita-wanita kecuali BH dan rok dalam. Wanita-wanita ini merupakan hasil pencegatan yang paling besar, yang membuat anggota gerombolan kami mabuk karena gembira. Mereka ingin agar wanita-wanita itu dibagi-bagi seperti membagi nasi bungkus.”

Soewardi dalam karya-karyanya tentang PRRI selalu menghadirkan persoalan moralitas orang-orang kecil yang tidak mempunyai posisi tawar secara politik. Permasalah rumah tangga dan kondisi keluarga pasukan PRRI turut menjadi pusaran penting dalam cerpennya. Soewardi memang telah menghadirkan kisah-kisah dilematis. Di satu sisi, karya-karyanya ditentang oleh PKI di mana sempat ditulis dalam Harian Rakyat (1964), dan di sisi lain ketidak-senangan juga datang dari orang-orang yang terlibat PRRI. Kumpulan cerpen Di Luar Dugaan dan Istri Seorang Sahabat secara tidak langsung juga membuat pertikaian dalam penerbit N.V. Nusantara (Bukittinggi) pimpinan Roestam Anwar. “Buku-buku ini pulalah yang antara lain menjadi sumber keretakan antara Rustam Anwar dan bapaknya Anwar St. Saidi. Bapaknya merasa belum waktunya kedua buku ini diterbitkan, tapi sebaliknya Rustam menganggap penerbitan buku-buku itu tidak perlu menjadi persoalan,” tulis Soewardi dalam Perjalanan Dalam Kelam. A.A Navis dalam tulisan berjudul Tingkah Laku Bangsa Kita Mengganggu Penciptaan (Hari Kompas, Selasa 14 Juli 1981) yang menyayangkankan mengenai novel Dari Puncak Bukit Talang yang terpaksa harus ditarik dari peredaran.

Kepengarangan Soewardi, yang oleh H.B. Jassin digolongkan sebagai penulis realis, sama dilematisnya dengan kisah-kisah yang ditulisnya. Karya-karyanya memang tidak langsung menyorot persoalan politik tapi berada pada pusaran besar arus perpolitik Indonesia era pemerintahan Soekarno. Ia terlibat PRRI, tapi karya-karyanya menggugat moralitas keterlibatannya itu. Keterlibatan itu pula yang bisa jadi membuat karya-karya Soewardi lebih banyak bercerita tentang “tubuh PRRI” dibanding “pemerintahan pusat” melalui perwakilan APRI.

Tapi bagaimanapun juga, PRRI dengan istilah “pemberontakan” yang dipakai Soewardi melalui karya-karyanya merupakan historiografi dalam perspektif sastra, tentang bagaimana sebuah bangsa menjadi. “Betapun gelapnya,” kata Soewardi,”…sebagai sejarah yang menandai turun-naiknya perjuangan bangsa, perlulah dipelajari secara lugas. Barangkali saatnya sudah datang untuk menelaahnya agar kita menarik pelajaran daripadanya…” lanjut Soewardi dalam catatan Perjalanan dalam Kelam.

 

Tulisan ini dimuat di halaman Cagak, Padang Ekspres, 4 Desember 2016

Versi PDF Koran Padang Ekspres: cagak-utama-padek-4-desember-2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s