TENTANG PERJODOHAN DALAM PROSA: DARI MARAH RUSLI HINGGA DAMHURI

Perjodohan demi perjodohan terus dikisahkan dalam prosa (roman, novel, cerita pendek) karangan penulis yang tinggal, pernah tinggal, atau pernah bersentuhan dengan Minangkabau. Seakan perjodohan demi perjodohan adalah maklumat tragik yang patut disiarkan pada orang banyak. Kisah perjodohan demi perjodohan dalam perkembangan prosa di Indonesia memberikan warna dan kekhasan tersendiri secara tematik. Kisah tersebut seakan sudah melekat dan tersemat erat pada adat dan tradisi masyarakat Minangkabau.

Membentangkan kembali persoalan perjodohan dalam prosa karangan penulis dari Minangkabau maka akan kita temukan adanya pergeseran strategi naratif guna melakukan penolakan, pemangkiran, upaya kritik terhadap praktik perjodohan sekaligus kritik terhadap adat dan tradisi. Roman berjudul Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) karya Marah Rusli (1889-1968) terbitan Balai Pustaka tahun 1922 hingga hari ini jalinan kisahnya masih diasosiasikan oleh pembaca pada penolakan praktik perjodohan. Percintaan antara Sitti Nurbaya dan Samsul Bahri kandas akibat perjodohan antara Sitti Nurbaya dan Datuk Maringgih, seorang saudagar kaya yang sudah menjerat Baginda Sulaiman (ayah Sitti Nurbaya) pada utang tak terbayarkan. Roman Sitti Nurbaya, dibaca atau belum oleh masyarakat Indonesia, tapi sudah menjadi simbol dari praktik perjodohan. Simbol tersebut terus direproduksi, dalam film, dalam lagu, dalam percakapan sehari-hari bila menyangkut pemaksaan dalam hubungan pernikahan.

Hanafi, tokoh dalam roman Salah Asuhan (1928) karya Abdul Muis (1886-1959), dengan latar pendidikan HBS dan pergaulan kesehariannya dengan orang-orang Eropa turut melakukan penolakan ketika hendak dijodohkan dengan Rapiah, anak mamaknya Sutan Batuah. Hanafi merasa kepantasannya menikah hanya dengan Corrie, seorang perempuan keturuanan Eropa. Meskipun dalam jalinan kisah roman tersebut Hanafi menikah dengan Rapiah karena paksaaan ibunya mengingat jasa Sutan Batuah membiaya sekolah Hanafi. Tapi rumah tangga mereka kandas. Roman dengan latar cerita di Solok, turut mempersoalkan dilema perjodohan, antara hutang budi dan ketidak-sesuaian hati.

Roman Nur Sutan Iskandar (1893-1975) berjudul Salah Pilih (1928) agak sedikit berbeda. Praktik perjodohan di sini agak bergeser polanya dibanding roman Sitti Nurbaya dan Salah Asuhan. Dalam Salah Pilih, tokoh Asri karena sudah dianggap cukup umur sebagai laki-laki dan sudah pantas menikah maka diminta oleh ibunya, Mariati, untuk mencari istri. Tokoh Asri bisa dibilang lebih sedikit beruntung di mana ia masih dengan bebas memilih siapa yang hendak ia nikahi. Tapi tetap saja dalam roman ini dikisahkan bagaimana ia berupaya dipertemukan dengan calon istrinya, Saniah, dengan cara-cara yang kurang baik. Perjodohan dalam roman ini dinarasikan dengan penuh intrik.

Marah Rusli melalui Sitti Nurbaya, Abdul Muis dengan Salah Asuhan, dan Nur Sutan Iskandar lewat Salah Pilih, mengambarkan pandangan Watson mengenai novelis Minangkabau pada zaman Balai Pustaka yang melakukan tuntutan terus-menerus bukan terhadap penghapusan tradisi atau adat demi modernisasi, melainkan fleksibilitas dan sikap yang cukup terbuka bagi modifikasi tradisi atau adat dalam menerima pembaharuan-pembaruan gaya hidup yang muncul dalam proses modernisasi.

Pembaruan-pembaruan (inovasi) dalam pandangan Watson tersebut bisa dihubungkan salah-satunya pada persaoalan bagaimana praktik perjodohan ditabrakkan dengan kisah-kisah tragik tokoh pada akhir cerita dalam roman di atas. Dengan hal itu, tawaran-tawaran terhadap modifikasi tradisi atau adat dapat dihidangkan pada pembaca dengan lembut. Dalam Sitti Nurbaya, misalnya, kisah-kisah tragik terus terjadi setelah Sitti Nurbaya menikah dengan Datuk Maringgih. Atau Hanafi yang pada akhirnya meninggalkan istri dan anaknya, dalam roman Salah Asuhan, untuk bertemu dan menikahi Corrie. Keretakan rumah tangga Asri dan Saniah dalam roman Salah Pilih karena pernikahan mereka tidak berlandaskan kejujuran.

Kesadaran akan adanya konsekuensi terhadap penolakan, pembaharuan, terhadap perjodohan tampak pada ketiga roman di atas. Konsekuensi ini barangkali oleh Watson, yang membahas sosiologi novel indonesia 1920-1955, disebut sebagai perihal identik yang ditemukan antara roman-roman karangan penulis Minangkabau zaman Balai Pustaka dengan nilai-nilai adat dan tradisi dalam kaba.

Bahwa, menurut Watson, yang ideal antara roman dan kaba adalah harmonisasi sosial yang tergantung pada sensivitas individual terhadap emosi-emosi dan perasaan-perasaan orang lain. Tekanan besar diberikan kepada rasa hormat timbal balik. Dalam roman Sitti Nurbaya, misalnya, rasa hormat dan kepatuhan terhadap ayahnya membuat dirinya menikahi Datuk Maringgih. Pada Salah Asuhan, Hanafi menikahi Rapiah karna hutang budi kepada mamaknya (ayah rapiah). Atau pada Salah Pilih, Asri menikah Saniah karena ia merasa dalam pandangan adat kepatutan orang banyak usianya sudah harus menikah. Meskipun pada roman Salah Pilih, Asri pada akhirnya menikahi Asnah, adik angkatnya yang sesuku dengannya, dengan konsekuensi harus terbuang atau membuang diri dari kampung.

Dari periode Balai Pustaka (1920-1930) hingga ke depannya persoalan perjodohan terus dibawa ke dalam prosa oleh pengarang-pengarang berlatar berlakang Minangkabau. Tema ini barangkali pada saat itu digemari pembaca. Atau pengarang-pengarang masih merasa persoalan tersebut amat mengganggu cara pandang mereka yang notabene berpendidikan Eropa. Selasih atau Sariamin Ismail (1909-1995) dalam roman Kalau Tak Untung (1933) mulai mengelaborasi dan mengembangkan konflik perjodohan berlapis. Kisah percintaan Masrul dan Rasmani diganjal perjodohan antara Masrul dengan Aminah, anak mamaknya. Pada bagian ini persoalan hampir mirip dengan roman Salah Asuhan, tapi Selasih melanjutkan konflik dalam kisah tersebut dengan perjodohan selanjutnya. Masrul yang mencari peruntungan di daerah Painan ternyata menikahi Muslina karena dijodohkan berkali-kali oleh seorang Guru Kepala. Masrul tidak menikah dengan perempuan perjodohan pertamanya tapi dengan perempuan perjodohan ke dua.

Selanjutnya pada periode cerita pendek (1950 – sekarang) para pengarang Minangkabau mulai mengidentifikasi praktik perjodohan dan melihatnya sebagai sebuah struktur legalitas norma-norma sosial dalam adat. Perihal yang dulunya, dalam roman Balai Pustaka, hanya ditolak kini dikritisi lebih lanjut. AA Navis misalnya, pada cerpen berjudul Ganti Lapik (tahun tidak diketahui) dan Cina Buta (1956) mengelaborasi persoalan perjodohan, mengurainya, dan melihat modus sekaligus motif dalam praktik tersebut. Dua cerpen Navis itu seakan memperlihatkan betapa praktik perjodohan, selain menjadi wajar secara adat, ternyata menghadirkan persoalan lanjut apabila salah satu unsur dalam perjodohan merasa terpaksa atau menerima dengan tabah.

Cerpen Ganti Lapik dan Cina Buta memperlihatkan praktik perjodohan di Minangkabau ternyata beragam diistilahkan, yang mana masing-masing istilah tersebut, mengangkut persoalan-persoalan unik. Ganti Lapik merupakan istilah untuk seseorang yang mengawini istri (bagi laki-laki) atau suami (perempuan) dari kakak atau adiknya yang sudah meninggal. Dalam cerpen Ganti Lapik, Navis berkisah bahwa Rahman dijodohkan dengan Dahniar istri kakaknya yang sudah meninggal. Perjodohan tersebut menurut keluarga rahman untuk menyelamatkan harta pencarian kakanya yang sudah meninggal dan menyelematkan anak-anaknya. Tapi modus tersebut terus berkembang hingga bagaimana kehidupan Rahmat begitu didominasi oleh Dahniar dan membuat lelaki tersebut tidak bisa mengambil sikap.

Cerpen Cina Buta lebih miris lagi. Bagaimana seorang lelaki remaja sekolah menengah remaja ditipu dengan istilah permainan cina buta. Nas, remaja laki-laki tersebut menjadi korban dari ketidakpahamannya terhadap adat. Ia dinikahkan dengan mama angkatnya, yang juga merupakan mama kekasihnya Nurna, untuk menyelamatkan rumah tangga keluarga angkatnya tersebut. Sebab papa dari Nurna mencerikan dengan talak tiga dan dalam agama (Islam) si mama tersebut haruslah menikahi laki-laki lain dulu sebelum dapat rujuk dan menikah lagi dengan si papa. Perwakilan adat, melalui tokoh Mak Uniang, digambarkan sebagai seorang tukang kibul, pembuat petaka bagi masa depan Nas.

Damhuri Muhammad melalui cerpen mutakhirnya masih memperlihatkan bagaimana praktik perjodohan hingga hari ini tetap pantas dibicarakan. Dalam buku cerpen terbarunya, Anak-anak Masa Lalu (2015), di antara 14 cerpen di dalamnya, dua di antaranya mempersoalkan praktik perjodohan; Reuni Dua Sejoli dan Lelaki Ragi dan Perempuan Santan. Dengan sangat prosaik, Damhuri mengurai lika-liku perjodohan dengan cara yang hampir sama dilakukan Navis.

 

Tulisan ini dimuat di halaman Cagak, Padang Ekspres, 25 September 2016.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s