KETAKUTAN TANBARO

Di atas tunggul, di timbunan rawa, pada hampangan selat
dan bekas bongkaran kuburan

kota ini dibangun 
dari bentuk rebah kuda hingga disusun tegak berjaga

gedung berdiri lurus, ribuan kubus
jalan merentang panjang, terus benderang
monumen orang terjungkang, selamat datang.

Tanbaro, ketakutan apa yang merundungmu
selain pasar serba ada dalam kurungan kaca itu
telah menghisap masalalu ke dalam kaleng soda
ke celah gantungan kutang, ke dalam bungkus pisang
dan ditembakkan lewat laser pada punggung orang datang?

Dan di sebuah kubus bersusun tinggi
aku duduk mengutuk masuk angin dan ngilu tulang
di bawah kulihat kota terus membesarkan anak ular
seekor demi seekor induk harimau menembus dinding kaca
ribuan, barangkali jutaan orang, mulai berhimpun
memenuhi jalan, mengerubungi monumen, memanjat 
apa yang bisa dipanjat.

Siasat, Tanbaro. Aku kira kota ini akan rebah kuda lagi
lalu dibangun kembali untuk bersiasat di kemudian hari
sementara kau terus dirundung ketakutan datang
sementara aku terus mengutuk masuk angin dan ngilu tulang.

2016

Disiarkan Koran Tempo akhir pekan, Sabtu, 17 Desember 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s