EMAS SURIAN

Sepasang cincin apa yang hendak kita pesan, istriku
sementara pati santan pati asam tahun lalu 
masih mengendap dalam lambungku 
dan hari raya terus datang terburu.

Aku dengar di pasar orang-orang berteriak 
pada pisau tukang daging, pada timbangan gantung: kenapa 
terlalu tipis daging sapi itu disayat, kenapa terlalu banyak lemak 
dicampurkan, kenapa daging ringan ketika dimasukkan 
ke kuali perendangan? Dan sial benar, sepotong tungkai sapi 
dihargai lebih tinggi dibanding tahun lalu.

Sepasang cincin mana yang akan kita beli, istriku
aku pilih emas dari Surian seperti rantai ibuku di masa lalu
dapat disepuh bila perlu
dapat dibeli seukuran tungku.

Di belakang, aku lihat periuk belum ditambal 
sementara anak-anak minta diisi penuh lemari baju. 

“Seperti orang itu, Bapak. Seperti orang itu!”
 
Aku membayangkan bermalam-malam mereka akan tidur
berjaga di hadapan lemari hingga tersumbul baju 
dengan ragi kain seperti yang mereka lihat di televisi itu.

Sepasang cincin dari emas surian, istriku
sebelum datang lagi hari raya baru 
sebelum lambung menaikkan endapan pati santan 
dan pati asam hingga sampai ke pangkal leherku.

2016   

Disiarkan Koran Tempo akhir pekan, Sabtu, 17 Desember 2016
  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s