PUISI INDONESIA: DARI “MODERNISME” HINGGA “POSMODERNISME”

Dalam era modernitas ilmu pengetahuan dianggap kategori pokok yang mengatur dan menyatukan narasi-narasi lokal. Sains dianggap tunggal (metanarasi) yang memayungi sub-sub ilmu lain. Dua narasi besar (grand-narratives) muncul pada era modernitas, sejak tahun 1700-an, telah muncul untuk melegitimasi ilmu pengetahuan. Lubis (2014:131) menjabarkan bahwa narasi tersebut, pertama, adalah kepercayaan bahwa ilmu pengetahuan dapat membawa umat manusia pada kemajuan (progress). “Mitos politik” ini menjustifikasi sains sebagai alat untuk pembebasan dan humanisasi. Narasi kedua, menurut Lubis, bersifat filosofis dengan menggambarkan bahwa “subjek” yang sadarlah yang memungkinkan perkembangan ilmu pengetahuan itu. Sebagai reaksi terhadap peran keyakinan dalam menentukan kebenaran dalam abad Pertengahan, para pemikir modern menyatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh dipengaruhi oleh nilai religius atau kepentingan pribadi ilmuwan. Ilmu pengetahuan dikembangkan demi ilmu pengetahuan itu sendiri, dengan demikian ilmu pengetahuan harus dijauhi dari bias subjektivitas, nilai moral atau kepentingan tertentu di luar pengetahuan itu.

Russell dalam Principles of Social Recontruction (2008:192) mengungkapkan hampir semua perubahan yang dialami dunia sejak akhir Abad Pertengahan disebabkan oleh penemuan dan penyebaran pengetahuan baru. Ini adalah sebab utama dari Renaisans, Reformasi, dan revolusi industri. Ia juga, secara langsung, menjadi sebab dari merosotnya agama dogma, studi atas teks-teks klasik dan sejarah gereja awal, astronomi dan fisika Copernican, biologi Darwinisme dan antropologi perbandingan, secara bergiliran mendobrak sebagian bangunan dogma Katolik, sehingga, bagi hampir semua kalangan pemikir dan praktisi, begian terbesar yang nampaknya masih bisa dipertahankan adalah jenis spirit batin, harapan yang samar-samar, dan semacam perasaan yang tidak pasti akan kewajiban moral.

Modernitas, pendek kata, menurut Sarup (2008:202),  dapat dipahami sebegai pengertian yang merangkum banyak hal, merujuk pada rangkaian sistem sosial, ekonomi, politik yang muncul di Barat kurang lebih sejak abad ke-18 ke depan. Modernitas dianggap lahir berbarengan dengan Renaisans dan didefinisikan dalam kaitannya dengan Zaman Kuno (Antiquity). Dari sudut pandang teori sosiologi Jerman, yang sangat berpengaruh, modernitas berarti rasionalisasi ekonomi dan administrasi progresif serta diferensiasi dunia sosial. Menurut Weber, Tonnies dan Summel, modernitas adalah proses-proses yang melahirkan negara industri kapitalis modern.

Legitimasi era modern melalui grand-narratives turut diungkap Giddens (2005: 80), dengan memberikan pernyataan penting bahwa perusahaan kapitalis memainkan peran utama dalam menjauhakn kehidupan sosial dari institusi tradisional. Kapitalisme secara inheren sangat dinamis karena adanya kaitan yang terjalin antara perusahaan ekonomi yang kompetitif dengan proses komodifikasi yang digerenalisasi. Salah satu konsekensi fundamental dari modernitas menurut Gidden adalah globalisasi. Proses ini menurutnya lebih dari sekedar difusi institusi Barat ke seluruh dunia, di mana budaya lain dihancurkan. Globalisasi—yang merupakan suatu proses perkembangan tidak seimbang yang runtuh ketika dia berkembang—memperkenalkan bentuk baru kesalingtergantungan dunia, di mana, tidak ada “liyan”. Itu semua menciptakan bentuk-bentuk risiko dan bahaya baru pada saat yang sama ketika mereka mempromosikan bersarnya peluang bagi keamanan global (Giddens, 2005:232).

Pada era modernitas terjadi perubahan (modernitas) sosial-ekonomi yang disebabkan penemuan serta inovasi ilmu dan teknologi, perkembangan industri, yang sangat cepat, pergerakan penduduk, urbanisasi, pembentukan negara-negara dan gerakan politik massa, yang semua didorong oleh meluasnya pasar dunia kapitalis (Sarup, 2008:204). Sebuah gaya kultural dan estetik pun lahir pada era ini disebut sebagai modernisme dan mendominasi pelbagai bentuk seni sampai sekarang. Modernisme, lanjut Sarup, berkembang pada oposisi sadar pada klasikisme; modernisme menekan ekspresimentasi dan tujuan untuk menemukan kebenaran sejati di balik penampakan permukaan. Beberapa tokoh yang sering dikategorikan dalam aliran ini adalah: Joyce, Yeats, Proust, dan Kafka dalam sastra; Eliot dan Pound dalam puisi; Strunberg dan Pirandello dalam drama; Cezanne, Picasso, Matisse, aliran Ekspresionis, Futuris, Dadais, dan Surealis dalam seni lukis; Schoenberg dan Berg dalam musik. Kesadaran diri estetik dan refleksitas menjadi aspek dasar gagasan modernisme dalam seni. Selain itu penolakan pada struktur narasi dan lebih memilih keserempakan (simultaneity) dan montase; eksplorasi sifat realitas yang terbuka, tidak pasti, dan ambigu, serta paradoks; dan penolakan pada konsep personalitas yang utuh dan lebih memilih subjek yang “terbelah” Freudian (Sarup, 2008:204).

Semua bidang seni terkena pengaruh modernisme pada abad ke-20. Periode modernisme tinggi berlangsung selama dua puluh tahun dari 1910 sampai 1930. Menurut Barry (2010:95), unsur-unsur praktik yang tadinya paling fundamental dalam seni ditentang dan ditolak dalam modernisme. Dalam musik, melodi dan harmonisasi disihkan; di bidang lukisan, perspektif dan representasi gambaran langsung ditinggalkan demi mendukung derajat abstraksi; dalam arsitektur, bentuk dan material tradisional (atap serong, kubah dan tiang, kayu batu, dan bata) ditolak dan digantikan bentuk geometris sederhana, yang sering dibangun menggunakan material baru seperti kaca tebal bening dan beton. Akhirnya, dalam sastra ada penolakan terhadap realisme tradisional (plot kronologis, narasi kontinu, yang disampaikan narator mahatahu, ‘akhir tertutup’, dan lain-lain) dan digantikan berbagai jenis bentuk eksperimental.

 

Lyotard, Posmodern, Ketidakpercayaan pada Metanarasi

The Postmodern Condition: Report on Knowledge (1984), sebuah laporan tentang pengetahuan pada masa masyarakat yang sangat maju karangan Jean Francois Lyotard, merupakan buku tipis yang mengangkat nama Lyotard sebagai tokoh dan orang yang berjasa mengangkat posmodern ke tataran pembahasan ilmiah dan filosofis. Lyotard mengatakan bahwa telah terjadi perkembangan dan perubahan yang luar biasa pada status pengetahuan, sains, dan pendidikan pada masyarakat maju. Ia (juga Jean Baudrillard) berpendapat bahwa teknologi komputer dan media dan bentuk-bentuk baru ilmu pengetahuan serta perubahan sistem sosial-ekonomi telah membawa masyarakat maju itu pada kondisi atau era Posmodern (Lubis, 2014:128).

Menurut Lubis (2014:129), Lyotard membahas antara modern dan posmodern secara epistemologis. Ia menyatakan “modern”, untuk menyebut ilmu yang melegitimasi diri dengan merujuk secara eksplisit pada matenarasi tertentu seperti dialektika roh, hermeneutika makna, atau emansipasi subjek rasional. Dalam artian, di mana masyarakat mdoertn merupakan masyarakat yang mendasarkan wacana kebenaran dan keadilan pada narasi atau teori besar (universal). Sedangkan masyarakat posmodern menurut pandangan Lyotard mencurigai dan menolak teori besar (grand-narrative).

Secara khusus dalam gerakan seni, posmodern merupakan gerakan dalam kebudayaan kapitalis lanjut. Dalam The Postmodern Condition, Lyotard menyerang mitos yang melegitimasi zaman modern (“narasi besar”), pembebasan progresif humanitas melalui ilmu, dan gagasan bahwa filsafat dalam memulihkan kesatuan untuk proses memahami dan mengembangkan pengetahuan yang secara universal valid untuk seluruh umat manusia. Menurut Sarup (2008:205), teori posmodern menjadi identik dengan kritik pada pengetahuan universal dan fondasionalisme. Lyotard percaya bahwa kita tidak dapat lagi berbicara tentang gagasan penalaran yang mentotalisasi karena penalaran itu tidak ada, yang ada hanya berbagai macam penalaran.

Dalam seni posmodern terdapat beberapa aspek sentral yang diasosiasikan terhadap seni. Beberapa kecendrungan diantaranya adalah penghapusan batas antara seni dan kehidupan sehari-hari; ambruknya pembedaan hierarkis antara kebudayaan populer dan kebudayaan elit; ekletisisme stilistik dan pencampuran kode. Terdapat parodi, pastiche, ironi, dan semangat bermain-main. Dalam artian, kecendrungan tersebut tampak pada model penciptaan karya seni yang tidak menekankan pada kedalaman, tetapi lebih pada permukaan. Menurut Sarup (2008:206) terjadi pergeseran penekanan dari isi ke bentuk atau gaya; transformasi realitas menjadi citra; fragmentasi waktu menjadi rangkaian masa kini abadi. Terjadi perujukan yang terus menerus pada ekletisisme, refleksitas, perujukan pada diri, kutipan, trik, keacakan, anarki, fragmentasi, pastiche, dan alegori. Terjadi pula sebuah gerakan “mentekstualisasikan” sejarah, filsafat, ilmu hukum, sosiologi, dan disiplin ilmu-ilmu lain dipandang sebagai bentuk-bentuk “tulisan” dan wacana yang optional.

Perkembangan termasuk pergeseran dalam wacana seni dianggap menunjukkan runtuhnya orisinalitas serta pandangan seniman sebagai orang yang memiliki kecerdasan yang istimewa, dan seni dilihat tidak lebih dari daur ulang. Menurut Lubis (2014:130) Lyotard telah mengemukakan tentang perkembangan baru di dunia seni tahun 1980-an, yaitu karya seni sebagai percampuran dari berbagai style (gaya) yang disebutnya dengan “kitch”, sebagai bentuk tantangan terhadap seni modern yang menekankan pada kesatuan, keselarasan dan konsensus dalam masyarakat sosialis dan kapitalis yang sebenarnya penuh dengan paradoks.

 

Teks Modern dalam Perpuisi Indonesia

Dan pada 24 Februari 1942, bertempat di Universitas Glaslow, T.S. Eliot memberikan kuliah dalam mengupas keterhubungan atara ritme dan struktur dalam puisi. Penyair modernis Inggris-Amerika ini percaya, bahwa watak musik yang memesona bagi penyair adalah  pada kepekaanya terhadap ritme dan struktur puisi. Ia juga melihat kemungkinan bahwa puisi mula-mula hadir dalam ritme tertentu yang kemudian membentuk ide dan imajinasi dalam jalinan dalam kata-kata. Prasetyo (2005:5) dalam sebuah ulasan mengenai puisi-puisi Goenawan Mohamad berpandangan bahwa abad ke-20 memang sudah mendengarkan penjelasan para penyair terbaiknya tentang hubungan yang niscaya antara musik dan puisi.

Kesejarahan perpuisian Indonesia memang dipenuhi dengan upaya pencapaian estetik menuju pandangan-pandangan kesusastraan modernis. Terlebih, ketika sebuah pernyataan sikap dari sastrawan Indonesia diumumkan dalam bentuk Surat Kepercayaan Gelanggang. Surat ini memberi penanda bahwa kehendak para sastrawan dengan pandangan modernis melawan gejala penghambatan kultural dan kehendak untuk menggapai kebudayaan dunia. Dalam surat tersebut dalam terbaca kehendak tersebut:

 

“Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat baru, kami adalah kumpulan campur-baur dari mana dunia-dunia baru yang sehat dilahirkan. Ke-Indonesia-an kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam, atau tulang pelipis kami yang menjorok ke depan, tapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami. Kami tidak akan memberikan suatu kata ikatan untuk kebudayaan Indonesia. Kalau kami berbicara tentang kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat kepada melap-lap hasil kebudayaan lama sampai mengkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat…. Revolusi bagi kami adalah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan…”

 

Generasi Surat Kepercayaan Gelanggang inilah yang kelak dinamakan sebagai “Angkatan-45” dalam kesusastraan Indonesia yang menghadirkan penyair terkemuka, seperti: Chairil Anwar, Rivai Apin, Asrul Sani, dst. Generasi yang hendak melakukan perlawan terhadap gejala kesusastraan generasi sebelumnya: Poedjangga Baroe. Tiap-tiap generasi kesusastraan di Indonesia memang terus melakukan gerakan-gerakan penolakan terhadap kukuhnya kebudayaan sebelumnya. Surat Kepercayaan Gelang hadir sebagai tahap lanjut dari pendobrakan terhadap tradisi perpusian Poedjangga Baroe untuk memulai tradisi baru dari kesusastraan Indonesia. Dimana pada masa tersebu, menurut Umar Kayam, sajak-sajak Sutan Takdir Alisyahbana, Sanoesi Pane dan bahkan Amir Hamzah yang dinilai sebagai pembaharu yang berhasil dikritik oleh para sastrawan muda yang tampil pada masa pendudukan jepang . Surat Kepercayaan Gelanggang yang ditulis oleh antara lain Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin dan Ida Nasution meletakkan dasar konsep mereka tentang kesusastraan bahkan mungkin juga kebudayaan Indonesia.

Konflik mengenai wacana dalam kesusastraan (dan kesenian secara menyeluruk) turut berlanjut pada saat Manifes Kebudayaan (Manikebu). Sebuah konsep kebudayaan nasional yang dikeluarkan oleh para penyair dan pengarang pada 17 Agustus 1963. Manifestas ini diumumkan untuk melawan dominasi dan tekanan dari golongan kiri, dengan ideologi kesenian dan kesusastraan tergolong pada “realisme universal” melalui Lembaga Kebudayaan Rakyat. Manifes Kebudaaayn terkenal dengan jargon “Humanisme Universal” dan “seni untuk seni”, serta Pancasila sebagai falsafah kebudayaan.

Jika melihat kecendrungan polemik dalam kesusastraan Indonesia maka akan terlihat bagaimana upaya-upaya penyair modernis dalam mengupayakan manjadi warga dunia. Jargon “seni untuk seni” pun seakan terlihat sebagai sebuah ciri dari kesenian modern di mana kesenian adi-luhung mendapat tempat paling atas. Aspek dasar dalam seni modernisme dapat terbaca dalam gerakan kesusastraan Indonesia pada periode awal pasca kemerdekaan Indonesia (Angkatan 45) termasuk pada Poedjangga Baroe. Aspek-aspek tersebut meliputi kesadaran diri estetik dan revleksitas, penolakan terhadap struktur narasi dan lebih memilih keserempakan (simultaneity), dan montase, serta eksplorasi sifat realitas yang terbuka, tidak pasti, ambigu, serta paradoks.

Perihal ini dapat dibaca dalam ulasan Rachmat Djoko Pradopo dalam memperbandingkan dua puisi Roestam Effendi (Poedjangga Baroe) melalui puisi “Bukan Beta Bijak Berperi” dan Chairil Anwar (Angkatan 45) melalui puisi “Hampa”. Apa yang menjadi ciri dari pandangan seni modern dapat terlihat melalui “keserempakan” dalam struktur puisi atau disebut oleh Pradopo sebagai susunan dalam baris sajak:

 

Bukan Beta Bijak Berperi

 

Bukan beta / bijak berperi,

pandai mengubah / madahan syair;

Bukan beta / budak Negeri,

mesti menurut / undangan mair.

 

Syarat sarat / saya mungkiri,

untaian rangkaian / seloka lama;

Beta buang / beta singkiri,

sebab laguku / menurut sukma.

 

Susah sungguh / saya sampaikan

degap-degupan / di dalam kalbu.

Lemah laun / lagu dengungan

matnya digamat / rasain waktu.

 

Sering saya / susah sesaat,

sebab madahan / tidak nak datang.

Sering saya / sulit menekat,

sebab terkurung / lukisan mamang.

 

Bukan beta / bijak berlagu,

dapat melemah / berbuat baru,

Bukan beta / berbuat baru,

hanya mendengar bisikan alun.

 

Dalam puisi Roestam Effendi berjudul “Bukan Beta Bijak Berperi”, Pradopo mengungkapkan bahwa korespondensi berupa pembaitan, tiap bait terdiri dari 4 baris terdiri dari dua satuan sintaksis (kelompok kata atau gatra) dari bait pertama sampai ke bait terkahir. Pada umumnya dapat dikatakan lebih dari 90 % atau bahkan 95 %, puisi-puisi Poedjangga Baroe berkorespondensi dan berperiodisitas teratur seperti itu. Sifat-sifat seperti itu tampak jelas pada puisi lama (pantun dan syair) serta puisi Poedjangga Baroe pada umumnya (Pradopo, 1987:9).

Afrizal Malna (2000:509) berpandangan bahwa dalam sastra Indonesia, puisi Roestam Effendi merupakan salah satu pemberontakan yang pernah dilakukan terhadap dunia lama, dan khas tampil dengan semangat modernisme yang belum mendapatkan bentuknya. Selain itu, menurut Afrizal (2000:360), puisi Roestam Effendi di atas adalah pernyataan tentang pembangkangan untuk mulai memilih diri sendiri daripada jadi instrumen masa lalu. Ia memenuhi prosedur modernisme dengan memberontak pada konvensi, dan mulai memberi tempat tinggi untuk ruang individu. Pembangkangan jadi pembuktian bahwa aku ada.

Selanjutnya bisa dilihat pula puisi berjudul “Hampa” karya Chairil Anwar yang lahir dari generasi yang berharap menjadi pemilik sah dari kebudayaan dunia. Generasi yang turut mengaungkan modernisme dan menginginkan terbebas dari belenggu kebudayaan-kebudayaan lama dan tradisi:

 

Hampa

kepada sri

 

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.

Lurus kaku pohonan. Tak bergerak

Sampai ke puncak. Sepi memagut.

Tak satu kuasa melepas-renggut

Segala menanti. Menanti. Menanti.

Sepi

Tambah ini menanti jadi mencekik

Memberat-mencekung punda

Sampai binasa segala. Belum apa-apa

Udara bertuba. Setan bertempik

Ini sepi terus ada. Dan menanti.

 

Dalam puisi “Hampa” karya Chairil Anwar, Pradopo beranggapan, masih memperlihatkan korespondensi yang berupa susunan baris; tiap baris terdiri dari dua satuan sintaksis, begitu juga periodesitasnya, hanya saja tidak ajeg (Pradopo, 1987:9).

 

Korespondensi, susunan baris, atau keserempakan yang menjadi ciri dari kaum modernis dapat dilihat dari dua sajak dari dua penyair zaman berbeda di atas. Ciri yang berupaka keserempakan tersebut akan terus terlihat dalam perpuisian Indonesia mutakhir, tetapi akan terdapat beberapa kecendrungan nantinya, di mana akan terlihat gerakan atau ciri dari gerakan posmodernisme berupa parodi, pastiche, ironi, dan semangat bermain-main.

Puisi-puisi Goenawan Mohamad, jika ditilik dari ciri dan pembahasan Prasetyo (2005:9) terang memperlihatkan kecendrungan penyair modernis. Goenawan Mohamad merupakan salah seorang penyair pasca Manifesto Kebudayaan dan hari ini tetap produktif berpuisi dengan kecendrungan lirisme yang menjadi ciri utama dalam karyanya. Kekuatan medan musikal, yang juga menjadi salah satu ciri dari kekuatan puisi modern dalam pandangan penyair modernis T.S. Eliot begitu kentara dalam puisi-puisi Goenawan Mohamad. Pada tahapan ini, kecendrungan gerakan modern atau posmodern dalam puisi akan terlihat gairah yang dibawa oleh masing-masing penyair. Goenawan Mohamad, menurut Prasetyo dalam puisi “Aungsang Su Ky” sangat bagus menggambarkan betapa makna, hubungan kausalitas antar-makna dan unsur-unsur musikal bersinergi dengan efektif mewujudkan keindahan paipurna sebuah puisi.  Prasetyo juga mengungkapkan, dalam puisi tersebut, terdapat adanya semacam takrif yang membatasi ruang gerak permainan imajinasi, efek psikis yang ditimbulkan oleh bunyi repetitif bukan hipnose, melainkan justru sebaliknya: kesadaran, Pembebasan.

Teks-teks puisi modern turut dapat terlihat dari puisi-puisi berupa kesaksian (sekaligus peringatan) pada pertumbuhan kota yang mengabaikan soal-soal lingkungan. Kecenrungan ini dilihat oleh Afrizal Malna yang menyatakan bahwa kota membangun dirinya dari modernisme yang merepresentrasi dirinya tidak lagi sebagai bagian dari masa lalu, juga tidak lagi sebagai cerminan alam (Malna, 2000:360-361). Selanjutnya, Afrizal Malna mengungkapkan bahwa dunia agraris (sebagai ciri dari tradisi) lenyap begitu saja dari wajahkota berganti wajah industri. Sama seperti gambaran puisi-puisi lama yang lenyap dari puisi modern. Afrizal Malna memberi gambaran puisi Chairil Anwar berjudul “Aku Berkisar Antara mereka” dapat dilihat sebagai representasi dari kehidupan kota yang seperti itu: Aku berkisar antara mereka sejak terpaksa. Bertukar rupa di pinggir jalan, aku pakai mata mereka, pergi ikut mengunjungi gelanggang bersenda: kenyataan-kenyataan yang didapatnya. (Bioskop Capitol putar film Amerika, lagu-lagu baru irama mereka berdansa… Semoga sipilis dan segala kusta (sedikit lagi bertambah derita bom atom pula). Ini buktikan tanda kedaulatan bersama.

 

Teks Posmodern dalam Puisi Indonesia

Zaman modern memang telah menghasilkan identitasnya dan mereproduksi tanda-tanda dari identitas itu melalui mekanika teknologi. Modernitas telah mempercepat perubahan-perubahan melalui pengembangan-pengembangan teknologi-teknologi produksinya—asal-muasal dan landasan material simulacra yang dikaitkan dengan post-modernitas (Jenks, 2013:129).

Posmodern, dalam tahapan ini adalah seni, bukan tidak mempunyai soal atau ironi. Prosedur-prosedur dalam seni garda depan dengan tujuan antiartistik dianggap justru kini digunakan oleh kaum posmodern sebagai tujuan artistik. Seni garda depan tidak mengembangkan gaya; tidak ada gaya Dadais atau Surealis. Salah satu ciri seni garda depan adalah keterbukaan atas teknik-teknik artistik epos masa lalu. Melalui upaya seni garda depan, suksesi historis teknik dan gaya digantikan dengan keserempakan teknik dan gaya secara radikal (Sarup, 2008:220). Ciri tersebutlah secara tidak langsung digunakan oleh kaum posmodernis untuk tujuan artistik.

Salah satu ciri yang dapat dipakai untuk membedakan puisi-puisi modern dan posmodern di Indonesia dapat dirujuk pada Concise Glossary Of Contemporary Literary Theori karya Jeremy Hawthorn (Edward Arnold, 1992; dalam Peter Barry 2010:98-99). Modernisme dan posmodernisme, menurut Hawthorn, sangat menonjolkan fragmentasi sebagai salah satu ciri seni dan sastra abad ke-20, tetapi melalui modus yang berbeda. Kaum modernis menggunakan fragmentasi dengan cara sedemikian rupa demi menunjukkan nostalgia yang mendalam akan zaman sebelumnya, ketika keimanan masih utuh dan pihak otorita belum diganggung gugat. Selanjutnya, kontras dengan itu, kaum posmodern, menganggap fragmentasi adalah fenomenon yang menggairahkan dan membebaskan, sebuah gejala lilosnya kita dari dekapan sistem kepercayaan tetap yang klaustrofobis. Dalam artian, kaum modernis meratapi fragmentasi sementara kaum posmodernis merayakannya.

Puisi Afrizal Malna berjudul “bungkus kesunyian” dalam buku kumpulan puisi berjudul berlin proposal (Nuansa Cendikia, 2015) barangkali dapat menunjukan sebuah gejala posmodernisme dalam perpuisian Indonesia. Lihat kutipan berikut:

bungkusan-kesunyian

Enter a caption

aku terbang, melayang, menjadi burung

mematuki bayang-bayang sendiri

seakan ada biji-biji kehidupan dalam gelapnya

Keterangan Foto: seorang perempuan pelajar dihukum cambuk di Aceh, karena didapatkan tidak puasa. Dikutip dari harian Berliner Zeitung: Peitsche fur die Armen, edisi 17 November 2014. Foto: Reuters/Tarmizi Harva

 

Puisi “bungkusan kesunyian” merupakan salah satu puisi Afrizal Malna dalam kumpulan puisi berlin proposal di mana sebagian besar (atau mungkin keseluruhan) puisi dalam buku tersebut ditulis selama di Berlin, Jerman, dari pertengahan Agustus sampai Desember 2012 dilanjutkan Mei 2014 sampai Mei 2015—Afrizal Malna mendapat program “artis residen” dari DAAD (Deutscher Akademischer Austauschdienst). Afrizal menganggap, dalam kata pengantar buku tersebut, ia seperti kehilangan dinding-dinding lamanya, kehilangan makna di luar bahasa. Dikarenakan dirinya yang terbiasa hidup dalam Bahasa Indonesia dan bahasa tersebut kehilangan tekstur ketika berhadapan dengan publik di Berlin yang sistemnya sudah jadi.

Pada puisi “bungkusan kesunyian” Afrizal Malna secara sadar atau tidak seakan menggunakan sitematika teks posmodern melalui perujukan perujukan pada diri, kutipan, anarki, fragmentasi, dst. Ia memotret bagian dari sebuah harian di Berlin di mana dalam bagian dari harian tersebut terdapat potret salah seorang perempuan yang dihukum cambuk di Aceh karena kedapatan tidak berpuasa. Kutipan secara ironik tersebut dimasukkan oleh Afrizal Malna dalam puisi tersebtu sebelum memulai membuat teks lain (kata-kata). Ia seakan melihat ke dalam diri (Indonesia) melalui potret tersebut, dan barangkali publik Berlin akan memandang hukum syariat di Aceh tersebut adalah sebentuk tindakan anarkisme.

Gejala posmodern menurut pandangan Lyotard memang tampak pada puisi ini. Di mana di zaman teknologi, komputerisasi, batasan ruang tersebut tidak adala lagi. Publik dengan cepat bisa mendapat bahkan menilai sebuah kejadian di belahan dunia lain dalam tempo cepat. Afrizal Malna barangkali, melalui puisi tersebut melihat secara getir proses tersebut. “Aku”-lirik dalam puisinya seakan menjadi seseorang yang bagian tubuhnya terbelah, hanya bisa melihat dari jauh kejadian di Tanah Air yang ia sendiri barangkali tidak memahami secara penuh.

Afrizal Malna juga dianggap salah seorang penyair dengan teks-teks memunculkan puisi  skizofrenia, di mana ia menyajikan  narasi yang terpenggal-penggal. Model-model pengucapan penderita skizofrenia, menurut Ribut Wijoto (2009) diadopsi oleh para pemikir postmodernisme dalam mencari alternatif logika berbahasa. Jacques Lacan (1901-1981), seorang ahli psikoanalisa postmodernisme, mendefinisikan skizofrenia sebagai putusnya rantai penandaan, yaitu rangkaian sintagmatis penanda yang bertautan dan membentuk satu ungkapan atau makna. Seseorang telah menggunakan bahasa di dalam bawah sadarnya. Artinya, di dalam proses otak telah terjadi proses berbahasa, atau ada sebuah struktur yang mirip bahasa. Pemikiran-pemikiran tentang skizofrenia ini menandai kritik—mungkin keruntuhan—model oposisi biner bahasa dari Saussure. Lebih jauh lagi, skizofrenia menandai bangkrutnya logika pemikiran strukturalisme, berganti dengan post-strukturalisme.

 

Puisi berikutnya dapat terlihat juga bagaimana gejala skizofrenia dalam proses prepuisi Afrizal Malna:

istrahat di pinggir jalan

 

aku ingin tersesat dalam sebuah renovasi waktu

untuk pulang: jangan mati di sini. jangan mati di sini,

kata lelaki itu berulang. dia menatap mataku seperti

kabel listrik yang putus, batas antara pertukaran

mata uang dan semacam racun etnologi dalam

tubuhku. bau bumbu masak dan sepeda berkarat

pada bahasanya. malam di atas sungai maas, bukan

cahaya gothik yang mengalirkan mimpi untuk

kegelapan di luar pesta. seekor camar mengambil

mataku untuk melihat buta, di antara 7 milyar

penduduk dunia: melahirkan untuk menguasai.

dan lelaki itu berlalu. garam berjatuhan dari

punggungnya, dari kruisstraat hingga rasa asin

pada tatapannya. kota dari tumpukan batu bata

di maastricht, wayang kulit dalam kenangan

hindia belanda. gelombang migrasi setelah…

klik

seekor laba-laba membuat jaring-jaring halus

lengket, peka

cairan etnologi yang gemetar

dalam rumah pasir para imigran

 

Tampak penolakan arus linear dalam puisi “istrahat di pinggir jalan” di atas. Pengisahan terusun dari larik-larik dengan komunikasi patah-patah. Terdapat keterputusan dalam larik-latik di atas. Sebab cara komunikasi dan keterputusan itulah salah satu ciri dari penderita skizofrenia. Hampir keseluruhan puisi Afrizal Malna memakai teknik tersebut. Secara tak langsung pola tersebut dalam dikategorikan dalam pembacaan gejala posmodernisme.

Selanjutnya gejala posmodern dalam puisi Indonesia dapat dilihat dalam puisi-puisi Nirwan Dewanto dalam buku puisi “Buli-buli Lima Kaki” (Gramedia, 2010). Nirwan Dewanto dalam sebagian besarnya seakan berupaya memiuh lagi khazanah kebudayaan lama, yang merupakan “narasi kecil” yang tidak diacuhkan dalam modernisme. Gerakan posmodern barangkali hadir juga untuk melakukan kritikan terhadap modernisme yang terlalu mengelukan “narasi besar”. Puisi Nirwan Dewanto berjudul “Dahaga” barangkali dapat menjadi contoh bagaimana penolakan terhadap simbol-simbol modernisme:

Dahaga

—kepada Andy Warhol

 

Kau mencuri dari lidahku

Merah muda belia

Atau putih semenjana

Untuk melunakkan coklatmu.

 

Kau hidup berkalang es

Untuk menyelamatkan aku

Dari kentang goreng Prancis

Pencengkraman urat leherku.

 

Betapa daging bakar Argentina

Gagal (lagi) berjodoh denganmu

Tapi bakmi keriting Shanghai

Bisa masuk ke perangkapmu.

 

Meski (masih) tumbuh dewasa

Oleh kopi pahit Sidikalang

Lidahku belajar berkhianat juga

Oleh rasa jejarum manismu.

 

Kau rajin mencabuti akarku

Supaya aku membumbung tinggi

Ketika puisi ini kering bertanya

Coklat itu darahmu atau hujanmu.

 

Tapi (diam-diam) masukilah aku

Seperti sayap dari Timbuktu

Jadikan puisi ini ringan belaka

Seperti kaki gila pemain bola.

 

Namamu Coca Cola bukan?

 

(2009)

 

Puisi tersebut ditujukan pada Andy Warhol yang dianggap merupakan pendahulu untuk gerakan Pop Art di Amerika yang juga merupakan seniman dengan kegairahan posmodernisme. Andi Warhol menghadirkan benda-benda sehari dalam karya seni dan ikon-ikon yang ada di sekitar kita. Ia menghadirkan orang-orang terkenal dalam karyanya, kaling minuman, iklan, tokoh komik, boneka mainan, serta poster film. Gerakan Pop Art tersebut kerap juga disebut sebagau “lowbrow” atau “surealisme pop”. Namun pada dasarnya Pop Art juga dikelompokkan dengan seni Neo Avant Garde, dimana gerakan estetik mereka radikal dan memandang jauh ke depan. Gerakan tersebut juga merupakan kritikan terhadap masyarakat yang bergaya hidup konsumtif hasil dari modernisasi. Kita dapat melihat beberapa karya Andy Warhol berkaitan dengan Pop Art:

warhol-1

Andy Warhol, Green Coca-cola Bottles, 1962

warhol-2

Andy Warhol, Campbells Soup II, 1969

Dalam puisi Nirwan Dewanto berjudul “Dahaga” memang muncul beberapa simbol-simbol masyarakat konsumerisme di mana Andy Warhol juga melakukan kritikan terhadap hal tersebut. Barangkali karena itulah Nirwan Dewanto menujukan puisi tersebut kepada Andy Warhol. Misalkan “kentang goreng Prancis”, “bakmi keriting shanghai”, atau lebih jelasnya “Coca Cola” merupakan produk-produk konsumerisme hasil dari zaman modern. Pada bagian tersebut Nirwan juga hendak melakukan penolakan terhadap modernisme yang hendak merambah pada kebudayan-kebudayaan daerah yang secara tidak langsung hendak ‘dilawan’ dalam puisi.

Selain Afrizal Malna, Nirwan Dewanto, banyak lagi penyair-penyair Indonesia yang terpengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap gejala posmodernisme dalam arya-karya mereka. Namun pada tulisan ini hanya dua penyair tersebut saja yang dijabarkan secara ringkas untuk memperlihatkan gambaran seperti apa corak, dan pada bagian manakah, gejala posmodernisme tersebut mempengaruhi karya-karya mereka.

Seperti terlihat dalam beberapa karya puisi di atas, tampak wacana kesadaran dalam posmodernisme memang berupaya mempertanyakan kembali batas-batas maupun implikasi dan realisasi atas pandangan-pandangan modernisme; kegairahan untuk memperluas cakrawala estetika, tanda dan kode seni modern; wacana kebudayaan yang ditandai dengan kejayaan kapitalisme, penyebaran informasi dan teknologi secara massif, meledaknya konsumerisme, lahirnya realitas semu, dunia hiperrealitas dan simulasi, serta tumbangnya nilai-guna dan nilai-tukar oleh nilai-tanda dan nilai-simbol.

Karya seni posmoderni hadir dengan gairah yang bukan tanpa alasan. Gerakan tersebut turut hadir berdasarkan kritik terhadap paradigma modernisme yang dianggap telah gagal dalam menyelesaikan konsep pencerahan dan menyebabkan munculnya patologi modernitas. Menurut Pauline M. Rosenau (1992: 10) setidaknya adala lima alasan penting kenapa modernisme mengalami krisis. Pertama, modernisme dipandang gagal mewujudkan perbaikan-perbaikan ke arah masa depan kehidupan yang lebih baik sebagaimana diharapkan oleh para pendukungnya. Kedua, ilmu pengetahuan modern tidak mampu melepaskan diri dari kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan otoritas keilmuan demi kepentingan kekuasaan. Ketiga, terdapat banyak kontradiksi antara teori dan fakta dalam perkembangan ilmu-ilmu modern. Keempat, ada semacam keyakinan bahwa ilmu pengetahuan modern mampu memecahkan segala persoalan yang dihadapi manusia. Namun ternyata keyakinan ini keliru dengan munculnya berbagai patologi sosial. Kelima, ilmu-ilmu modern kurang memperhatikan dimensi-dimensi mistis dan metafisis manusia karena terlalu menekankan atribut fisik individu.

 

Kesimpulan

Dalam proses perpuisian di Indonesia gejala gerakan modernisme hingga posmodernisme turut hadir. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan hadirnya polemik-polemik kesusastraan mengenai wacana-wacana kesenian terkini dan termutakhir, mulai dari zaman pra-kemerdekaan, pasca-kemerdekaan, hingga reformasi. Gerakan narasi besar dalam modernisme turut membawa pikiran-pikiran sastrawan Indonesia pada awal kemerdekaan untuk menjadi warga dunia dan memiliki kebudayaan dunia, membuang tradisi, dan membebaskan mereka dari belanggu tradisi. Sementara itu, gerakan posmodernisme terlihat dari puisi-puisi terkini yang memunculkan karya seni sebagai percampuran dari berbagai style (gaya) yang disebutnya dengan “kitch”, sebagai bentuk tantangan terhadap seni modern yang menekankan pada kesatuan, keselarasan dan konsensus dalam masyarakat sosialis dan kapitalis yang sebenarnya penuh dengan paradoks. Hadir pula puisi-puisi dengan gaya skizofrenik, di mana karya-karya tersebut dengan sengaja atau tidak dihadirkan pada masyarakat untuk membebaskan masyarakat pembaca mengarikan sendiri keterputusan kode dan simbol dalam karya sastra.

 

DAFTAR PUSTAKA

Barry, Peter. 2010. Pengantar Komprehensif Teori Sastra dan Budaya (edisi terjemahan dari

Beginning Theory, an Introduction to Literary an Culture Theory, Mancester University Press: Manchester, 1995). Yogyakarta: Penerbit Jalasutra.

Dewanto, Nirwan. 2010. Buli-buli Lima Kaki. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Giddens, Anthony. 2005. Konsekuensi-konsekuensi Modernitas (edisi terjemahan dari The

Consequences of Modernity, Polity Press ltd., Cambridge, 2004). Yogyakarta: Penerbit Kreasi Wacana.

Jenks, Chris. 2013 Culture: Studi Kebudayaan (edisi terjemahan dari Culture, Routledge,

1993). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Lubis, Akhyar Yusuf. 2014. Teori dan Metodologi Ilmu Pengetahuan Sosial Budaya

Kontemporer. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Malna, Afrizal. 2000. Seuatu Indonesia. Yogyakarta: Bentang Pustaka.

____________. 2015. berlin proposal. Bandung: Nuansa Cendikia.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Prasetyo, Arif Bagus. 2005. Epofenomenon (Telaah Sastra Terpilih). Jakarta: Grasindo.

Sarup, Madan. 2008. Panduan Pengantar untuk Memahami Postrukturalisme dan

Posmodernisme (edisi terjemahan dari An Indtroductory Guide to Post-Structuralism and Posrmodernism, The University of Georgia Press, 1993). Yogyakarta: Penerbit Jalasutra.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s