MONOPOLIS & TUBUH PANGGUNG

DSC_2440 - ed

Pertunjukan teater Komunitas Seni Hitam Putih berjudul Monopolis (Sabtu, 25 Maret 2017) lebih terlihat seperti sebuah usaha untuk “mempertanyakan” kembali tema Helateater Komunitas Salihara 2017 mengenai teater non-verbal (teater tubuh). Apakah non-verbal hanya dimaksud untuk teater tanpa kata-kata, tanpa dialog, dan seutuhnya mengandalkan dramaturgi tubuh? Atau malahan ketika bagian dari pertunjukan tersebut tidak lagi menggunakan kata-kata dan dialog, tubuh malah hadir secara verbal?

Monopolis yang disutradarai oleh Kurniasi Zaitun mengaplikasikan konsep permainan ular tangga ke dalam bentuk teater. “Permainan” menjadi salah satu kata kunci dalam konsep pertunjukan tersebut. Sebab dengan pola permainan, bisa jadi tubuh aktor dan bangunan di atas panggung itu sendiri dapat terbebaskan dari segala macam bentuk represi dari luar ketika tubuh itu bekerja di panggung. Dalam sebuah permainan, jika pun ada bentuk represi, tentu tidak lagi datang dari luar melainkan dari dalam permainan itu sendiri.

Monopolis dibuka dengan kehadiran seorang aktor di sudut kanan bagian belakang panggung. Aktor memakai baju kemeja dengan kancing dibiarkan tak terpasang, jas hitam melapisi kemeja, dan dasi melilit leher. Kepala aktor telah tergantikan sebuah dadu. Dadu itu bergasing selama beberapa menit. Sementara tatanan cahaya mulai membentuk beberapa persegi pada lantai panggung. Lantai tersebut kemudian lebih mirip seperti alas permainan ular tangga atau lebih tepat seperti papan catur.

Beberapa saat kemudian permaian aktor pertama digantikan dengan dua aktor selanjutnya. Dua aktor yang terlihat memakai baju kemeja berwarna merah dan biru tampak terkapar di atas sebuah dadu besar di sudut kanan panggung bagian depan. Dua aktor tersebut terjaga, kemudian melakukan pergerakan, mereka seperti saling merebut posisi siapa yang lebih pantas berdiri di atas dadu tersebut. Perebutan itu terlihat seperti usaha untuk menguasai dadu. Mereka selanjutnya lebih terlihat beruapa untuk saling memantaskan diri, tidak hanya hanya untuk menguasai dadu, melainkan memiliki properti utama dalam pertunjukan itu.

DSC_9464 - ed

Dadu memang menjadi benda utama dan diutamakan dalam Monopolis. Keterikatan aktor pada dadu merupakan keterikatan sebuah peristiwa terhadap konflik. Dari awal hingga akhir pertunjukan, dadu mengambil peranan penting, bukan hanya sebagai sebuah benda penunjang pertunjukan melainkan menjadi bagian dari tubuh para aktor. Pada sebuah adegan dalam pertunjukan aktor mengeluarkan dua buah dadu berukuran lebih kecil dari dadu utama. Dadu-dadu itu kemudian terlihat diperebutkan kembali. Aktor berupaya untuk menjadi pamuncak dari kepemilikan dadu. Tentu dengan memperebutkan dadu utama.

Di adegan lain juga hadir peristiwa di mana masing-masing aktor muncul dengan kepala dadu seperti awal pertunjukan. Mereka melakukan pergerakan ke tatanan pencahayaan yang sejak semula memang dihadirkan untuk membuat semacam pola permainan ular tangga. Sebagaimana sebuah permainan, Monopolis juga berakhir dengan konsep “menang” dan “kalah”, “yang satu” menumbangkan “yang lain”. Peristiwa ini terlihat di bagian terakhir pertunjukan di mana salah seorang aktor menempati posisi berdiri paling tinggi dibanding aktor-aktor lainnya.

Mempertanyakan Teater Tubuh
Saya memang lebih melihat Monopolis adalah sebuah usaha untuk “mempertanyakan” dibanding “menjawab” persoalan teater tubuh. Konsep teater tubuh sampai hari memang masih menjadi tema menarik terus-menerus dipertanyakan. Jika Rendra, pada periode 1980-an menghadirkan “Bib-Bop” melalui konsep mini kata, wacana itu kemudian terus bergulir menjadi fenomena lain di atas panggung. Hingga keterpengaruhan terhadap Butoh tidak dapat dielakkan dari perkembangan teater tubuh dalam pertunjukan teater di Indonesia.

DSC_2863 - ed

Komunitas Seni Hitam Putih saya kira punya perspektif lain mengenai konsep teater tubuh. Dari beberapa pertunjukan, baik disutradarai oleh Yusril Katil dan Kurniasih Zaitun, tetap berupaya tidak melepaskan tatanan ‘kelisanan’ di mana komunitas tersebut sadar berada pada sebuah ruang produksi kebudayaan. ‘Kelisanan’ di sini tidak selalu berarti dalam penggunaan kata-kata, tapi lebih pada bagaimana bagaimana tubuh tersebut bekerja, tubuh yang tidak pernah bisa lepas dari benda-benda rekayasa kebudayaan. Untuk itu, dalam pertunjukan Monopolis saya lebih melihat tubuh itu bukan “tubuh aktor” yang berkerja di panggung, aktor menjadi bagian dari “tubuh panggung”.

Konsep semacam ini memang kemungkinan besar akan menghadirkan bentuk-bentuk penggunaan simbol verbal. Pertunjukan Monopolis berupaya untuk menyiasati persoalan tersebut. Meskipun dari beberapa bagian kehadiran simbol verbal tidak dapat terelakkan. Dalam pertunjukan tersebut dapat terlihat bagaimana aktor dalam sebuah adegan dengan pakaian menepel uang. Atau bagaimana seorang aktor terlihat melakukan adegan mengetik, kertas-kertas berhamburan, lalu terlontar satu kata: “anjlok!”.

DSC_9265 - ed

Pada bagian tersebut saya teringat pandangan Foucault mengenai relasi tubuh dakn kekuasaan. Tubuh sebagai medium penghubung ruang-ruang tidak terbatas dalam memvisualisasikan identitas diri tidak dapat mengelak perwujudan dari kekuasaan. Pementasan Monopolis juga berkerja dalam wacana tersebut. Di satu sisi berupaya untuk mengelak dari tubuh yang sudah diberi identitas, di sisi lain tidak dapat mengelak dari identitas tersebut. Pada akhirnya memang tidak dapat terelakkan ada bagian-bagian pementasan memperlihatkan tubuh-tubuh yang terepresi dan termanipulasi. Untuk itu saya lebih melihat pementasan Monopolis sebagai usaha “mempertanyakan” kembali konsepsi tentang tubuh dibanding “menjawab”. Sebab pertunjukan tersebut mulai dari awal sudah dibangun melalui konsep permainan. Konsep tersebut dapat membebaskan tubuh dari wacana kekuasaan yang membentuknya dari luar.

Selaku penonton, bagi saya pementasan Monopolis juga merupakan sebuah upaya mengajak penonton untuk mempertanyakan tubuh itu sendiri. Kedasaran saya mengenai relasi tubuh dan kekuasaan yang tidak tanpa disadari terus-menerus membentuk identitas pada tubuh tidak dapat terelakkan. Setiap pergerakan simbol dalam pementasan tersebut terus menyeret saya pada relasi tubuh dan kekuasaan. Terlebih pada bagian akhir pertunjukan tersebut. Tubuh dengan pakaian berwarna kuning, merah, dan biru yang saling berebut menaiki dadu utama. Saya terus merasa dihantarkan pada bagaiamana cara kekuasaan bekerja.

Pertunjukan Monopolis makin menunjukan bagaimana Komunitas Hitam Putih turut memberi gairah dalam wacana perteateran di Indonesia. Beberapa ‘kejutan’ dalam pertunjukan tersebut menjadi keasikan tersendiri bagi saya. Termasuk bagaimana pola pencahayaan bekerja dalam pertunjukan. Pola tersebut kian meyakinkan saya bahwa yang terus disasar oleh Komunitas Seni Hitam Putih bukanlah “tubuh aktor” melainkan “tubuh panggung”.

 

Tulisan ini dimuat di halaman budaya “Cagak”, Padang Ekspres, Minggu, 2 april 2017

FOTO: WITJAK WIDHICAHYA/ KOMUNITAS SALIHARA

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s