FIKSI POSMODERN CINDUA MATO

Dalam kosmologi Minangkabau Kaba Cindua Mato menempati posisi penting karena menggambarkan keseimbangan, ketertiban, dan struktur dalam masyarakat Minangkabau. Selain penting, kaba tersebut dianggap spesial, berbeda dengan kaba lain.

Taufik Abdullah (2009) mengungkapkan bahwa Kaba Cindua Mato sudah dianggap par excellence, mitos negara, pegangan dan standar rujukan bagi ahli teori dan penjaga adat Minangkabau. Sementara itu Elizabeth E. Graves (2007) memandang kaba tersebut adalah epos dari penggambaran sistem pengorganisasian, kewenangan, dan bagaimana kerajaan Pagaruyung menghormati Raja Adat dan Raja Ibadat serta Basa Ampek Balai yang merupakan pendamping sekaligus perwakilan sub-divisi geografis utama.

Kaba Cindua Mato sudah melewati perjalanan panjang dalam proses alih wahana. Suryadi (2014) mengatakan bahwa proses tersebut dimulai dari dorongan para sarjana Barat (Belanda), salah satunya Van der Toorn, dalam kodifikasi terhadap beberapa Kaba Cindua Mato pada abad ke-18 hinga abad ke-19. Proses itu terus berlangsung ketika kehadiran budaya cetak dan kemunculan penerbit pribumi di Bukittinggi dan Payakumbuh. Kaba kemudian ditulis ulang, diadaptasi, untuk diterbitkan (dalam aksara Jawi dan Latin).

Adaptasi terbaru Kaba Cindua Mato adalah novel Cindua Mato karya Tito Alexi (2015). Tito, salah satunya, menggunakan kaba karya Syamsuddin St. Rajo Endah (1960) sebagai korpus utama. Proses ini menguatkan pandangan Umar Junus (1994) dalam artikel Kaba: An Un-finished (His-) Story, bahwa meskipun kaba berkaitan dengan tradisi lama, tapi arus produksi kaba terus terjadi dalam beragam bentuk.

Perubahan paling mencolok dalam novel karya Tito adalah konteks waktu dan alur peristiwa. Tito menghadapkan kisah heroik Cindua Mato pada masa kehancuran Minangkabau setelah perang nuklir besar-besaran dan efek global warming serta anomali-anomali aneh yang terjadi. Masyarakat bertahan harus membentuk koloni-koloni dan peradaban baru—konsep sama dengan nagari.

Dilihat dari struktur peristiwa, Syamsuddin St. Rajo Endah membagi Kaba Cindua Mato dalam 14 bab terdiri dari peristiwa linear. Sementara Tito membagi novel dalam 32 bagian dengan menjadi peristiwa kilas balik. Tito memulai penceritaan dengan menekankan langsung peran tokoh Cindua Mato dan membawa langsung ke dalam konflik. Pada bagian pertama novel (hlm 1-15) langsung dihadirkan peristiwa ketika Cindua Mato berada di Bukit Tambun Tulang, bertempur dengan beberapa orang peyamun.

Peristiwa baru juga dihadirkan Tito pada bagian kedua novel (hlm. 16-22)—dan beberapa bagian selanjutnya—untuk menjelasan peristiwa yang sebelumnya tidak ada dalam kaba karangan Syamsuddin. Di dalam kaba diceritakan bahwa di tengah percakapan antara Bundo Kanduang dan Dang Tuanku tiba-tiba datang Cindua Mato meminta izin pada Bundo Kanduang untuk pergi ke gelanggang Datuk Bandaro. Dalam novel dinarasikan bahwa sebenarnya Cindua Mato telah jatuh cinta Pada Puti Lenggogeni. Ia sudah pernah pergi sebelumnya ke gelanggang Datuk Bandaro dengan menyamar sebagai orang biasa. Di gelanggang, Cindua Mato hanya ingin melihat permainan permainan menarik dan barang-barang baru yang dijual, dan tidak tertarik untuk memperebutkan Puti Lenggogeni. Namun di sana Cindua Mato bertemu dengan Puti Lenggogeni yang juga sedang menyamar sebagai orang biasa.

Percakapan antara Cindua Mato dan Puti Lenggogeni membuat Cindua Mato mulai tertarik. Sebaliknya, Puti Lenggogeni yang tidak mengetahui penyamaran Cindua Mato juga telah jatuh hati. Cindua Mato baru mengetahui bahwa perempuan yang berbicara dengannya adalah Puti Lenggogeni ketika Datuak Bandaro memberi salam pada orang banyak dari balkon istananya. Ketika itu ia melihat perempuan yang pernah berbicara dengannya berdiri di belakang Datuak Bandaro. Ia bertanya pada orang-orang, barulah ia sadar, yang berbicara dengannya tadi anak Datuk Bandaro.

MOTIF FIKSI POSMODERN
Perubahan konteks waktu masa lalu ke imaji tentang masa depan membuat gambaran Minangkabau ideal dalam kaba berbeda dari novel. Tito tampak membangun teks novel melalui motif fiksi posmodern. Motif tersebut terbaca dari upaya menggunakan teks kaba untuk kemudian disimpangkan (used and misused)—parodi. Tito membangun struktur baru dalam novel dengan memberi penekanan dan memusatkan ketokohan Cindua Mato—dalam posmodern struktur tidak harus didestruksi (dihancurkan) melainkan didekonstruksi (dipertanyakan dan dipersaingkan). Motif utama fiksi posmodern dalam novel Tito tampak dari kontekstualisasi kaba dengan lingkungan penciptaannya (aspek sosial, historis, dan politisnya) karena karya sastra posmodern tidak nostalgis tapi kritis dan mengkritisi.

Dalam kaba, Minangkabau digambarkan secara ideal melalui batasan-batasan daerah secara metaforik. Sementara itu dalam novel Tito berusaha ‘menggugat’ gambaran ideal tersebut. Hal itu terlihat dari salah peristiwa ketika Cindua Mato melewati hutan-hutan sebelum memasuki Bukit Tambun Tulang. Dinarasikan bahwa Cindua Mato melewati “bekas jalan beton” yang “retak dimana-mana”, “pohon-pohon tumbuh dari abu peperangan bercampur radiasi nuklir”, dan “rumput-rumput tumbuh di antara bangkai kendaraan”. Situasi Minangkabau hadir melalui imaji-imaji daerah pasca perang nuklir yang sudah lama tidak terjamah oleh manusia.

Dalam novel, Cindua Mato selain mempunyai kekuatan mistik, dinarasikan gemar melakukan percobaan teknologi. Peristiwa tersebut terlihat ketika masa pengasingan Cindua Mato di Indopuro. Untuk mengisi waktu luang dan rasa kangen pada Puti Lenggogeni, Cindua Mato melakukan beberapa percobaan dengan portal elektromagnetik.

Perubahan latar waktu yang dilakukan Tito telah membuat tempat, peristiwa, dan motif-motif kejadian dalam novel berbeda jauh dari kaba. Tito juga menggambarkan dua binatang sakti, “Gumarang” dan “Binuang” berbeda dengan gambaran dalam kaba. Di dalam kaba, Binuang digambarkan berukuran besar “tinggi gapuak”, “tanduknyo sapanjang ruang tangah”, “naniang basarang di lihia”, “labah basarang di paruiknyo”, “matonyo merah”, berlari seperti “angin limbubu”, “jika memijak tebing maka akan runtuh”, “jika memijak bukit maka akan terban”.

Gambaran Gumarang dalam novel saat dilihat pada peristiwa ketika kuda tersebut membantu Cindua Mato dalam perkelahian di Bukit Tambun Tulang. Seperti kutipan berikut: 

“Seorang penyamun menaiki pelana si Gumarang, ketika kakinya berada di sanggurdi dan tangannya memegang punggung kuda putih itu, sensor DNA berkedip, solar cell di bagian atas leher si Gumarang mengalirkan listrik ke tubuh penyamun malang tersebut…. Gumarang mengamuk. Menerjang siapapun yang berada di depannya, keempat kakinya yang terbuat dari logam keras, menghantam semua penyamun yang berada di dekatnya…” (Alexi, hlm.7). 

Sementara itu Binuang digambarkan sebagai kerbau raksasa hasil mutasi genetik di mana pori-pori tubuhnya mengeluarkan uap zat kamia.

Pembahasan ringkas di atas memperlihatkan motif-motif novel posmodern dalam adaptasi kaba yang dilakukan Tito dalam novel. Motif tersebut terus berkembang dari awal sampai akhir novel dipicu dari perubahan konteks waktu dalam proses adaptasi. Parodi menarik lain dalam novel Tito adalah proses ‘mengirab’ Bundo Kanduang, Dang Tuanku, dan Puti Bungsu. Mereka dinarasikan ‘mengirab’ melalui pintu limbo dari portal elektromagnetik bikinan Cindua Mato.

DAFTAR PUSTAKA
Buku dan Jurnal
Abdullah, . (2009). Beberapa Catatan Tentang Kaba Cindua Mato: Satu Contoh Sastera Tradisional Minangkabau. Jurnal Terjemahan Alam & Tamadun Melayu, (1), 119-131.
Alexi, T. (2001). Cindua Mato. Jakarta: Kakilangit Kencana
Endah, S. S. R. (1960). Kaba Cindua Mato (Kaba Klasik Minangkabau). Bukittinggi: Pustaka Indonesia
Graves, E. E. (2007). Asal-Usul Elite Minangkabau Modern: Respons Terhadap Kolonial Belanda. Jakarta: Buku Obor
Hutcheon, L. (2004). A Poetics of Postmodernism: History, Theory, Fiction. Newyork & London: Routledge.
Junus, U. (1994). Kaba: An Un-finished (His-) Story. Southeast Asian Studies, 32 (3), 399-115.
______. (2001). Malin Kundang dan dunia kini. SARI: Jurnal Alam dan Tamadun Melayu, 19, 69-83.
Supriyadi, S. (2016). Posmodernisme Linda Hutcheon: Poetics of Postmodernism (1989) dan Politic of Postmodernism (2002). Jurnal POETIKA, 4 (2), 129-133.
Koran
Kaba: Cerita yang Belum Berakhir. (104, Januari 19). Padang Eskpres.


Catatan gambar: Yudhi Dharmawan & Anggoro Prasetyo (konsep & animasi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s