RATAP MAHALI

Sudah kusebut segala yang patut disebut
kurunut segala yang pantas dirunut
tapi kota di mana angin terus berpusar 24 jam ini
membuat aku terus jatuh terduduk dalam berjalan.

Di Kasablanka, sebelum kelam raya
sebelum kilau terakhir laser dari ketinggian menara
membikin sisik pada udara
kupatut-patut terompah putus sebelah
kugusuk-gusuk daki melekat pada kerah
lalu kubenarkan hidup adalah ayun bandul
dari sial ke untung, dari untung ke sial.

Dan di Kasablanka, sebelum kelam benar-benar raya
di antara gaung klakson tiba timpa-bertimpa
di antara kalimat buruk orang-orang duduk berhimpitan
kupatut-patut lagi terompah putus sebelah
kuurut-urut betis yang tegang sebelah

lalu kubenarkan, nasib buruk, serupa tukak
tersangkut dalam perut
sementara nasib baik
serupa ratap tak sudah pada badan.

Mahali, 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s