HENDAK KE KANDANGPADATI (1): “KEHENDAK MERANTAU DAN HASRAT UNTUK PULANG”

Dari pada catatan mengenai saya hingga sampai ke Kandangpadati ini tercecer. Ada baiknya saya bagikan. Saya mulai bercerita dari rantau, kampus, sampai Kandangpadati. Banyak nama barangkali akan luput. Sebagaimana ingatan tidak pernah dapat diraih semuanya.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa rantau akan menyelamatkan diri dari hari buruk dan kesunyian kampung. Pikiran untuk kuliah harus saya buang jauh-jauh setelah tamat sekolah di salah satu SMA negeri Kota Solok tahun 2003 (saya dikeluarkan dari SMA 1 X Koto Singkarak). Saya pernah menempuh ujian masuk Jurusan Arsitektur di salah satu kampus swasta di Padang. Lulus ujian tapi tidak mendaftar ulang setelah mendengar jumlah uang yang harus saya keluarkan untuk biaya masuk. Saya memang sengaja tidak mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri di tahun itu. Tidak ikut bimbingan belajar seperti kebanyakan rekan-rekan seangkatan saya. Karena kondisi keuangan pada saat itu benar-benar tidak memungkinkan.

Rantau adalah pilihan terbaik sekaligus terberat. Meski saya tidak mempunyai niat kuat untuk kuliah, tetapi orang muda banyak ragamnya, tetap saja saya terpikat karena melihat rekan-rekan seusia saya beramai-ramai bimbingan belajar di Padang. Lalu mereka lulus di perguruan tinggi negeri dengan jurusan yang mereka harapkan. Karena itu pula saya merajuk agar orang tua memberi saya uang untuk membeli formulir ujian masuk di perguruan tinggi swasta dan memilih Jurusan Arsitektur. Entah kenapa jurusan itu terdengar ‘gagah’. Tapi sewaktu mendaftar masuk saya tidak menginginkan lagi. Setalah saya pikir-pikir, seperdelapan uang masuk dapat saya pakai untuk ongkos ke Jakarta atau Bandung menyusul rekan-rekan sekampung saya. Hal itulah yang saya lakukan.

Tapi rantau tetap tidak memberikan apa-apa pada saya. Nasib memang telah ditentukan jauh hari dan tinggal bagaimana menyiasatinya. Dari tahun 2003 sampai 2005 beberapa pekerjaan saya lakoni mulai dari Bandung hingga Jakarta. Saya pernah menjadi penunggu depot jamu di daerah Bandung dan Depok, penunggu kedai nasi di daerah Limbangan (Garut), berdagang plastik di Pasar Minggu, menjadi buruh “pencabut benang” konveksi di Warung Buncit—mulai dari terjaga hingga terjungkang, kerja saya hanya mencabut benang-benang yang berlebih dari pakaian selesai dijahit. Pernah pula ikut menjadi loper baju anak di pasar Tanah Abang, Cipulir, hingga beberapa daerah di Jawa Tengah selama dua bulan suntuk.

Tahun 2004, saya keluar dari rumah bos tempat saya menjadi tukang cabut benang karena upah yang tidak layak. Saya menjadi pengangguran. Di tahun itu keinginan saya untuk kuliah mulai timbul. Sekali lagi, orang muda banyak ragamnya, saya ingin berkuliah karena melihat orang-orang seusia saya sepertinya berbahagia kuliah. Saya melihat itu dari raut wajah mereka. Hampir setiap hari pada masa-masa saya menganggur–saya menumpang di rumah saudara di daerah Citayam–saya menaiki kereta dari Pasar Minggu menuju Citayam setiap hari. Waktu itu saya masih membantu teman saya yang berdagang plastik di Pasar Minggu. Pagi saya berangkat dari Citayam ke Pasar Minggu dan sebaliknya sore hari.

Setiap sore saya melihat mahasiswa-mahasiswa naik kereta dari stasiun Universitas Pancasila dan Universitas Indonesia. Saya ingin seperti mereka. Keinginan besar tapi uang di saku hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari. Hampir setiap hari sepulang dari Pasar Minggu ke Citayam saya memanjat atap kereta. Bergabung bersama pedagang asongan dan para pemuda lain yang entah bekerja apa. Naik di atas atap kereta waktu gratis, turun tinggal melompat, saya tahu itu sangat berbahaya.

Naik ke atap kereta terus saya lakukan setiap hari untuk berhemat. Meski beberapa kali pernah tertangkap razia gabungan tapi naik di atas atap kereta bagi saya dapat dengan khidmad menikmati hidup sebagai pengangguran di Jakarta. Saat itu, setiap sore, saya dipikat rasa ingin kuliah karena melihat senyum bahagia anak-anak kuliah (hanya bagian bahagia yang saya lihat).
Daya pikat itulah yang membuat saya mencari uang untuk membeli formulir mengikuti unjian seleksi masuk perguruan tinggi negeri di tahun 2014. Saya membeli formulir (waktu itu saya telat membali formulir, tinggal formulir IPC padahal jurusan saya di SMA adalah IPS) di kampus IPB. Saya memilih tiga jurusan, semuanya di Universitas Indonesia: Arsitektur, Hukum, dan Filsafat. Tentu tidak lulus.

Di tahun 2014 itu pula saya pernah mengikuti tes masuk di Universitas Nasional (tapi saya lupa memilih jurusan apa waktu itu). Saya lulus, tapi tidak mendaftar ulang karena pada waktu tim seleksi memanggil saya dan menanyakan satu pertanyaan: “dapatkah kamu membayar uang kuliah tepat waktu?” Saya menjawab, “dapat”. Saya tidak yakin dengan jawaban saya itu.

Dua tahun, 2003 hingga 2005, saya punya modal. Bukan modal uang tapi modal pergaulan hidup. Barangkali ini hal terbaik yang saya dapat dari rantau. Hal terbaik ini yang saya bawa ke Padang. Saya mendaftar lagi ujian seleksi perguruan tinggi negeri tahun 2005 dan ujian di Padang. Saya memilih dua jurusan: Sastra Indonesia Unand dan Sendratasik UNP. Dua jurusan ini yang waktu itu saya rasa memungkinkan untuk kebaikan saya. Dua tahun menganggur, tidak punya strategi bagaimana tata-cara menjawab soal ujian yang baik, dan tentu karena dua jurusan tersebut waktu itu akreditasinya paling rendah.

Dua hari saya ujian di kampus ekonomi Unand di daerah Jati dalam kondisi demam tinggi. Menumpang di kontarakan teman saya di bekalang kampus teknik Universitas Bung Hatta, Jalan Gajah Mada. Dan seetelahnya, saya dinyatakan lulus di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas. Saya membawa bagian dari koran Singgalang yang waktu itu menampilkan daftar kelulusan dan memperlihatkan nama saya pada orang tua. Saya melihat kebahagian mereka tapi jalan sunyi setelah itu lebih banyak lagi.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s