HENDAK KE KANDANGPADATI (2): “BAGAIMANA KALIAN KENAL DENGAN PINTO?”

Saya tidak tahu pada siapa orang tua saya meminjam uang waktu itu. Dua setengah juta rupiah saya bawa ke Padang untuk mendaftar ulang. Untuk penginapan, saya tidak perlu berpikir banyak karena rekan sekampung saya bersedia menampung untuk beberapa bulan ke depan sampai saya mampu untuk menyewa kamar sendiri. Hampir dua bulan saya tinggal di belakang kampus Teknik UBH di Jalan Gajah Mada. Tiga kali berganti kendaraan umum sampai ke kampus. Saya masih sanggup membayar ongkos sampai harga BBM pada waktu itu naik. Sial benar.

Saya kemudian bersiasat, karena saya dengar ada penginapan gratis di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Andalas, dan saya berusaha bergabung dengan mereka yang juga mempunyai masalah keuangan. Saat itu saya mendaftar di Teater Rumah Teduh, subdivisi Unit Kegiatan Seni, setelahnya tempat itu menjadi rumah kedua bagi saya. Dengan orang-orang yang senasib-sepenanggunggan. Tiga atau empat semester saya tinggal di sana. Makan beralaskan talam beramai-ramai. Memungut rokok di sepanjang jalan (kepiawaian ini saya dapat dari Zulham yang pada saat itu turut membantu saya belajar menulis).

Rumah Teduh UKS Unand adalah bagian lain dari kehidupan saya di kampus Unand. Tapi keluarga jurusan Sastra Indonesia bagian lain pula. Saya benar-benar tidak tahu apa-apa ketika berkuliah. Dari 45 orang rekan seangkatan barangkali saya orang yang benar-benar tidak tahu apa-apa mengenai tujuan perkuliahan yang akan saya jalani. Sebulan atau mungkin dua bulan masa perkuliahan semua rekan seangkatan saya ikut menulis dalam buku antologi bersama angkatan (cerpen, puisi, esai) tapi saya tidak diikutkan karena saya tidak bisa menulis apa-apa.

Di dinding jurusan tertempel guntingan cerpen salah seorang teman seangkatan saya, cerpen pemenang utama lomba cerpen remaja Balai Bahasa, lalu dimuat koran Padang Ekspres. Saat itulah saya berpikir barangkali menulis adalah jalan bagi saya. Jalan berat, berawal karena disisihkan, berawal karena merasa asing sendiri.

Bagaimana hendak menulis sedangkan untuk menghidupkan komputer saja saya tak tahu? Apalagi mencari “word document”. Masa SMA saya memang tidak terbiasa dengan komputer. Di kampung juga dapat dihitung dengan jari kepemilikan komputer. Saya mulai menulis catatan di buku (sebenarnya kertas A4 yang saya gunting menjadi dua bagian dan saya jahit hingga menjadi buku) lalu memindahkannya ke komputer. Buku yang masih saya simpan sampai sekarang. Seingat saya, yang mengajarkan saya mengetik di komputer adalah rekan saya Afrizal Bantra dengan menggunakan komputer teman sekamarnya (Ucok, mahasiswa Politeknik Padang).

Saya mulai mendekati senior-senior di kantin, di Kafe Uniang. Saya mendengar banyak penulis yang sudah menulis di koran-koran duduk ngopi di sana. Saat itulah saya bertemu Pinto Anugrah, senior di atas saya dua angkatan (2003) yang saya tahu dia adalah seorang penulis. Bagi saya, dia sangat banyak membantu mahasiswa-mahasiswa baru yang ingin belajar menulis, termasuk saya. Banyak senior lain yang saya kenal waktu itu, rata-rata mereka semua menulis di koran-koran daerah. Seingat saya ada Nurul Fahmi (Buya), Romi Zarman, Ganda Cipta, Ilham Yusardi, dll. Beberapa senior lain, yang menulis, di antara mereka ada juga yang jarang saya temui di kantin (termasuk Ragdi F Daye, Azwar, dll).

Pinto Anugrah cukup banyak membantu saya waktu itu. Selain senior lain. Dia meminjamkan beberapa buku bacaan pada saya. Memang tidak mudah berhadapan dengan para senior itu. Kekonyolan barangkali. Kau akan lebih muda meminjam buku atau ditraktir ngopi apabila tulisanmu sudah muncul di koran. Merka juga menunjukkan bagaimana tata cara mengirim karya ke koran. Seingat saya, kekonyolan Pinto Anugerah, menyuruh teman saya menatap lemari bukunya selama 15 menit sebelum dapat meminjam buku padanya. Entak karena kami junior sehingga kami dikerjai.

Barangkali satu semester perkuliahan, saya melewati satu ujian dari mereka, para senior itu. Satu puisi saya terbit di halaman remaja Padang Ekspres. Dengan nama samaran “Struk”. Saya tidak tahu puisi terbit, tapi sesampai di kantin, beberpa senior mengubapkan selamat, meskipun berbarengan dengan ejekan “penulis minggu ini” dan “penulis puisi remaja”. Saya berbahagian sekaligus geram. Tapi setelahnya jalan lempang menunggu. Setalah tulisan terbit hubungan saya dengan senior lebih gampang. Traktir kopi, pinjam buku, dan memakai komputer mereka bisa lancar.

Iklan

3 thoughts on “HENDAK KE KANDANGPADATI (2): “BAGAIMANA KALIAN KENAL DENGAN PINTO?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s