HENDAK KE KANDANGPADATI (3): “MAKAN GRATIS, POLEMIK MANTAP, DAN WAKIL GUBERNUR YANG MENANGIS”

Ada tradisi mengucapkan “selamat” ketika tulisan disiarkan di koran, di masa awal saya kuliah di Jurusan Sastra Indonesia Unand. Ucapan selamat berbarengan dengan cemooh “penyair minggu ini”, “cerpenis minggu ini”, “esais minggu ini”. Halaman budaya Padang Eskpres adalah capaian utama ketika dua tahun awal saya berkuliah. Setahun menembus halaman puisi, satu setengah tahun menembus halaman resensi dan esai. Tiga koran di Padang menjadi incaran mahasiswa yang menulis: Padang Ekspres, Singgalang, dan Haluan. Padang Ekspres honornya memang agak lebih memadai dulu dibanding dua koran lain. Siasat demi siasat dijalani termasuk ketika mengirimkan puisi ke Haluan dan bagaimana supaya mendapat honor lebih besar.

Tahun 2006 (atau 2007?) masa-masa terakhir Papa Rusli Marzuki Saria menggawangi halaman puisi Haluan, saya turut mengirim ke sana karena melihat puisi Deddy Arsya muncul delapan judul. Puisi pendek sekali. Saya pikir ini siasat dia untuk mendapatkan honor lebih besar. Satu puisi dihargai 10.000 rupiah. Saya turut mengirim puisi ke sana, enam judul, disiarkan enam pula: 60.000 rupiah.

Ucapan selamat, tradisi baik (meski tetap beriringan dengan ejekan) di Kafe Uniang. Saya juga pernah mengikuti beberapa sesi diskusi Komunitas Daun (digawangi Yetti AKA, Sondri BS, Sudarmoko, dll–sesekali muncul Tuan Agus Hernawan) di Kedai Komik Ilham Yusardi. Karena tulisan saya sudah disiarkan di Padang Ekspres beberapa kali, saya memberanikan diri ikut diskusi. Hampir semua yang ikut dalam diskusi itu adalah mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Unand dan alumni. Komunitas ini pernah menerbitkan beberapa kali buletin. Apresiasi yang baik untuk penulis-penulis pemula datang dari komunitas ini. Hampir setiap sesi diskusi pembahasannya adalah karya-karya yang terbit di koran Minggu, terutama karya penulis Sumatera Barat.

Dua atau tiga tahun awal saya berkuliah adalah masa-masa baik menurut saya bagi iklim kepenulisan di kampus. Selain ucapan selamat dari rekan-rekan sesama penulis, kampus (jurusan dan fakultas) juga memberikan hadiah untuk para penulis. Seingat saya, tulisan yang disiarkan di koran daerah akan dihargai 50.000 rupiah dan 100.000 rupiah untuk tulisan yang disiarkan di media nasional. Sembari menunggu honor di koran cair, hadiah dari kampus dapat dinikmati.

Dua tahun berturut-turut Fakultas Sastra Unand juga memberikan award terhadap penulis, ada dua kategori: penulis nasional dan intensitas penerbitan karya di koran daerah. Saya pernah dapat dua kali, dan bersyukur, hadiahnya adalah pembebasan SPP selama dua semester dan uang tunai.

Dorongan-dorongan untuk menulis juga datang dari beberapa dosen. Saya teringat Bapak Ivan Adilla, membuat sebuah tradisi, bagi siapa saja yang karyanya terbit di koran nasional akan dapat makan gratis selama seminggu di Kafe Uniang. Bulan April 2007, saya memperlihatkan puisi saya yang disiarkan di Koran Tempo dan saya dapat makan gratis seminggu (kecuali rokok). Ivan Adilla juga merupakan salah seorang dosen yang membuat saya untuk pertama kali menulis ulasan buku. Ia menyerahkan buku puisi Joko Pinurbo “Kepada Cium” untuk saya ulas dan kirim ke koran–dia bilang kirimkan photocopy tulisan tersebut ke penerbit maka akan mendapat honor pula.

Selain Ivan Adilla, Fadlillah, Sudarmoko, dan Noni Sukmawati adalah beberapa dosen yang cukup memperhatikan para mahasiswa yang menulis. Ada-ada saja yang mereka berikan, buku, makan gratis, dll. Saya kehilangan iklim seperti ini dari tahun 2009 hingga 2012, ketika saya selesai kuliah. Menariknya, beberapa dosen menjamin nilai “A” bagi mereka yang rajin menulis di koran. Praktik seperti ini juga yang diterapkan oleh Bapak Zayyardam Zubir dari Jurusan Sejarah. Pernah satu atau dua tahun beturut-turut halaman minggu koran Singgalang menjadi langganan rekan-rekan jurusan sejarah.

Iklim kepenulisan pada waktu itu dapat saya bilang dalam kondisi menarik. Polemik berkepanjangan di koran-koran daerah. Dari polemik itu saya mengenal rekan-rekan dari kampus lain, UNP, dan IAIN. Romi Zarman adalah salah seorang yang gemar berpolemik waktu itu, saya kerap membalas, padahal tiap hari bertemu. Kami sering bertengkar tapi pertengkaran itu tidak sampai lama. Dengan Fadli Akbar, dari Komunitas Ruang Sempit UNP saya juga pernah berpolemik, dan dari peristiwa itu saya mengenal Fadli dan kawan-kawan lain. Polemik seperti itu memang lebih baik dari pada ‘bicara di belakang’.

Buya Nurul Fahmi (mengingat ini saya ingin tertawa terpingkal-pingkal) sang esais kebanggaan kami waktu itu pernah ‘menghajar’ seorang profesor dari UNP di Koran Padang Ekspres. Fatris MF turut ‘menghajar’ gubernur di koran yang sama karena dianggap sesat pikir. Bahkan Darman Moenir pernah ‘dihajar’ habis-habisan oleh banyak penulis di beberapa koran karena dianggap tidak menggunakan data valid ketika menulis. Tapi tetap saja iklim baik muncul, bukan? Menjadi tidak mengenakkan ketika sebuah tulisan dibalas dengan gertakan. Saya pernah membahas sebuah pertunjukan teater yang tampil di Taman Budaya untuk koran Haluan. Karena judul tulisan tersebut diubah oleh redaktur (Nasrul Azwar) saya digertak oleh sutradara sewaktu akan diskusi di galeri Taman Budaya. “Kalau di tahun 80-an mengkritik seperti itu akan kena tampar…” kata sutradara itu. Saya ingin balas menjawab, tapi buat apa? Ya, tinggal diniatkan untuk tidak lagi menulis pertunjukan-pertunjukannya sampai kapanpun. Saya tidak marah secara pribadi, tidak, karena sesudah peristiwa itu hubungan kami tetap baik. Hanya saya sudah meniatkan diri untuk tidak akan lagi menulis pertunjukan teaternya.

Hal lucu lainnya mengenai iklim kepenulisan di Fakultas Sastra Unand (kini FIB). Fakultas Sastra waktu itu pernah didatangi wakil gubernur (mantan rektor Unand). Beberapa penulis mahasiswa sastra meminta pertanggungjawaban dari komentar wakil gubernur tersebut mengenai tidak pentingnya kuliah sastra (Ya. Sebenarnya apa pentingnya?). Wakil gubernur itu meminta maaf sambil menangis di hadapan mahasiswa sastra. Kelucuan yang pantas untuk diingat!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s