HENDAK KE KANDANGPADATI (4): “PUISI MENCUCI PIRING, MENYAPU RUANGAN, DAN BERSOLEK DI DEPAN CERMIN”

Pamflet ini saya potret tahun 2015 dan masih tertempel di dinding Kandangpadati sampai hari ini.

Sekira bulan Agustus 2007, Pinto Anugrah mengabarkan pada bahwa Beni Sumarna sudah menemukan rumah kontrakan murah di sekitar Jalan Tunggang. Saya tertarik untuk ikut patungan membayar sewa rumah tersebut, 5 juta rupiah selama satu tahun. Waktu itu sudah tujuh orang sepakat akan ikut patungan: Beni (Sastra Indonesia, 2003), Rama (adik Beni—belum kuliah), Pinto Anugrah (Sastra Indonesia Unand, 2003), Andri Andha Saputra (Sastra Indonesia, 2006), Eka Satiawan (Pertanian, 2005), Delvi Yandra (Hukum, 2005). Setelah kami perhitungkan benar, sewa tersebut benar-benar murah, dan Beni membayar uang muka. Rumah dengan lima kamar, empat kamar disewakan dan satunya dijadikan gudang. Kami berjanji akan menyicil sisanya pada pemilik rumah—saya dan kawan-kawan sampai hari ini tentu masih akan berterima kasih pada kebaikan Uni Hafiza dan alm. suaminya.

Saya ingat pertama kali masuk rumah, yang kelak kami sebut Kandangpadati, Pinto bersama Andri pertama memilih kamar dan mereka yang pertama pula menghuni rumah tersebut. Sebagai orang pertama, Pinto memilih kamar stategis menurut dia untuk menulis. Kamar dengan jendela menghadap sawah dan bonus cermin berbingkai kayu usang. Cermin yang jika dipandang-pandang terkesan menakutkan. Beni memilih sekamar dengan adiknya dan Wawan (Eka Satiawan) dengan Kudil (Delvi Yandra). Saya sendiri mendapat kamar paling sudut dan tidak punya pilihan lain. Kudil, tentu saja dia memilih kamar dekat dengan halaman dan bisa memandang bunga-bunga.

Tidak ada niat untuk membuat sebuah komunitas pada awal kami menyewa rumah tersebut. Sampai pada tahun-tahun berikutnya Kandangpadati memang tidak menjadi sebuah komunitas sebagaimana layaknya. Kandangpadati semacam “persekongkolan baik-baik”—meminjam istilah Nurul Fahmi—dari beberapa mahasiswa yang ingin punya ruang produksi. Hampir semua penghuni pertama Kandangpadati sedang kecanduan menulis, kecanduan berteater. Untuk itulah Kandangpadati difungsikan beberapa waktu kemudian.

Kandangpadati, bagi saya pribadi seperti ruang untuk menenangkan diri. Pada suatu saat adakalanya saya menghilang karena berbagai persoalan berkecamuk dalam pikiran saya. Tapi saya benar-benar merasakan betapa Kandangpadati membangun kultur kebaikan dalam diri saya. Kultur tersebut terbangun dari beragam konflik: sebagaimana sebuah keluarga.

Di Kandangpadati kami bertengkar urusan kesenian, melihat bagaimana para jomlo termenung di sofa tiap malam minggu, menyaksikan cinta yang membana hingga cinta karam sendiri. Kemudian hari kami turut merasakan kesedihan, beberapa ponsel dan laptop digasak maling, saya berhutang sampai empat tahun kemudian setelah kehilangan laptop.

Saya ingat Beni pada masa-masa awal adalah orang yang paling rajin membersihkan Kandangpadati. Kandangpadati punya ruang tamu yang sangat lapang. Beni menempel beberapa puisi yang ditulisnya di setiap sudut ruangan. Misal di tempat cuci piring, ia menulis puisi tentang bagaimana kami harus tertib mencuci piring. Di ruang tamu, ia tulis puisi tentang sapu. Di depan cermin, ia tulis puisi tentang bersolek. Ya, pokoknya dia ingin ruangan tersebut bersih. Itu pada masa-masa awal dan tetap saja Kandangpadati pada akhirnya centang-perenang. Sekali waktu saya pernah menyaksikan Beni memecahkan piring di hadapan saya dan kawan-kawan. Beni marah dan saya juga tidak ingat siapa yang tidak mencuci piring sesudah makan. Saya tidak suka tindakan Beni waktu itu. Tapi ketidak-sukaan itu sudah lalu.

Satu orang lagi yang paling tidak suka ruangan Kandangpadati kotor adalah Chairan Hafzan Yurma (Azan). Azan masuk ke Kandangpadati tahun 2008. Saya selalu ingat bagaimana gaya Azan marah apabila melihat ruang tamu atau piring kotor. Dia akan bercarut-carut sendiri, berkata “PANTEK, dst…” tapi piring tetap dia cuci dan ruangan tetap dia sapu.

Saya selalu ingat, pertama kali menghuni kamar sendiri di Kandangpadati. Saya membeli dua meter karpet plastik ukuran 120 x 180, satu kasur busa tipis, honor dari pemuatan puisi saya di Koran Kompas pertama kali. Bantal saya bawa dari kampung.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s