BUKAN TUTORIAL PENGIRIMAN PUISI

Tulisan ini bukanlah sebuah “panduan” atau “tutorial”. Setiap orang mempunyai cara berbeda dalam mengirimkan karya. Tapi saya dari waktu ke waktu tetap menggunakan format surel yang relatif sama. Meskipun suatu ketika ada perbedaan (dalam hal penjelasan) dan tergantung mood saya. Bagaimanapun juga, menurut pandangan saya, redaksional dalam surel bukanlah pertimbangan utama apakah karya akan dimuat oleh redaktur, tetap karya menjadi pertimbangan utama.

Beberapa tutorial baik komentar di media sosial saya baca menjabarkan ada pula trik-trik tertentu dalam mengirimkan karya ke media massa. Ada yang mengatakan “kirimlah hari Minggu malam, sebab Senin pagi redaktur dalam pikiran tenang seusai liburan”. Ada pula yang berkata, “kirimlah tulisan Anda hari Kamis sore, atau Kamis malam, sebab antara hari Kami dan Jumat deadline persiapan untuk koran Minggu”. Saya tak pernah berlaku begitu, bagi saya, siang atau malam, Senin atau Minggu dan hari lain sama saja.
Tapi redaksional dalam surel bagi saya penting untuk menghantar karya ke hadapan redaksi. Saya berlaku sama, mengirimkan format sama (terkadang redaksional berbeda) pada setiap redaktur media manapun. Meskipun saya mengenal, bahkan di hari saya mengirimkan karya saya bertemu dengan redakturnya. Saya dari waktu ke waktu (mungkin sejak 2009) memberikan penegasan dalan surel, bahwa karya yang saya kirimkan tersebut “belum dimuat di media manapun”. Jadi dengan itu, redaktur dapat mempertimbangan, apabila karya dalam sedang masa antrian pemuatan, redaktur akan tenang menyimpannya sampai tanggal pemuatan. Hingga masa pemuatan, atau setidaknya dalam tenggat waktu karya tersebut akan dimuat atau tidak (tergantung media masing-masing) saya tidak ‘menggilir’ karya tersebut ke media lain. Koran Kompas dan Tempo, khusus untuk puisi biasanya punya tenggal waktu 2bulan hingga 2,5bulan. Redaktur biasanya tidak menyurati apakah karya yang dikirimkan “dimuat” atau tidak “dimuat”, tapi jika karya tersebut sudah dikirim ke redaksi dan tidak  kunjung muncul 2,5 bulan sejak masa pengiriman, berarti belum lolos seleksi redaktur.

Seorang teman, tidak akan saya sebutkan namanya, di masa-masa awal kami mengirim karya ke media pernah tidak dimuat empat tahun sejak ia mulai mengirimkan karya. Meskipun hampir setiap bulan ia mengirimkan karya. Di tahun ke empat, ia kirimkan lagi karyanya, dengan redaksional surel “karya ini tidak untuk dimuat, tapi hanya untuk dibaca-baca saja oleh redaktur”. Ini pengalaman lucu yang saya ingat dari salah seorang kawan. Setelah itu, dia tidak lagi kengirimkan karyanya ke media massa.

Berikut saya lampirkan contoh surel yang saya kirimkan bersama karya:

Untuk puisi, saya mengirimkan lampiran word document, huruf Times New Roman, spasi single (1.0). Saya tidak pernah mengirimkan dalam format huruf lain. Karena Times New Roman kelaziman dalam penulisan karya populer atau ilmiah. Pertimbangan ini hanya semata-mata faktor kebiasaan saya dalam menulis. Ada juga rekan saya yang menulis dan mengirimkan dengan format huruf “garamond” dll. Tapi bagi saya sebaiknya jangan mengiriman dalam format huruf yang aneh-aneh. Agar redaktur akrab dengan format huruf dan tidak susah membacanya di hadapan kayar komputer (barangkali sudah jarang redaktur yang mencetak puisi yang dikirim untuk dibaca).

Berikut contoh screenshot lampiran puisi yang saya kirimkan (contoh pertama kiriman puisi untuk Riau Pos 2015 lalu, dan Padang Ekspres 2016 lalu):



Terkadang biodata saya letakkan di bagian awal, terkadang di bagian akhir, tergantung mood saya. Saya tidak pernah mengirimkan biodata panjang, seadanya dan sekiranya, terkadang diedit oleh redaktur (misalnya Anda menuliskan “…adalah penggemar…” biasanya akan dihapus :). Bagaimana dengan keterangan lain: alamat, nomer telpon rumah, nomer KTP, dan nomer rekening? Saya secara pribadi sudah tidak lagi menuliskan (khususnya) nomer rekening sejak lama. Khusus untuk Koran Kompas dan Tempo, bagian keuangan sudah punya data, apabila karya sudah pernah dimuat di sana. Apabila Anda berganti rekening, biasanya bagian keuangan akan menghubungi Anda saat tulisan Anda dimuat tapi uang yang dikirimkan ke tekeninh Anda tidak dapat terkirim. Prosesnya cukup cepat.

Bagaimana dengan karya? Saya tidak akan berkomentar banyak soal karya, baik kriteria media massa untuk puisi. Saya secara pribadi tidak membedakan mana puisi yang baik dikirimkan untuk media “anu” dan mana yang tidak baik untuk media “anu”. Khusus untuk puisi saya tidak pernah membeda-bedakan.

Salah ketik menurut saya salah satu hal yang harus jadi pertimbangan sebelum mengirimkan karya. Hal ini sering terjadi pada saya. Beruntung, terkadang redaktur sangat jeli dan perhatian, membaca karya yang dikirimkan kata per kata. Pengalaman saya, beberapa redaktur pernah mengirim SMS dan menelpon, untuk memastikan kata yang saya tulis itu “apakah benar itu?” Yusrizal KW, Hasif Amini, Nirwan Dewanto pernah beberapa kali berlaku seperti itu. Pernah suatu kali Nirwan Dewanto membacakan satu puisi saya via telpon untuk memastikan semua kata (karena banyak istilah “Minang”). Tapi sebaiknya memang teliti dulu sebelum mengirimkan.
Mudah-mudahan “yang sedikit ini” bermanfaat bagi mereka yang ingin mengirimkan karya ke media (khusus puisi). Tulisan singkat ini bukan tutorial, tapi pengalaman saya pribadi, seperti kata orang kampung saya: “ambil yang baik dan buang yang buruknya…” Selamat berkarya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s