KE GELANGGANG MENCARI LENGGO GENI

Di tunggul terbakar
ketika malam muda mengaitkan tulang belikatku
dengan lengan matangmu

debu-debu akan ada
debu-debu lantas terbang
debu-debu lalu hilang
dilahap mambang tujuh penjuru
dilarikan hantu penjaga pintu rimba raya

Dan di Sungai Torok, pada sebuah gelanggang ramai
sebelum sampai mabuk terbaik
telah lebih dulu aku tunaikan hasratku padamu
hasrat kuda jantan
ketika bulan bulat sempurna
tegak berjaga tepat pada pungungnya.

Sudah kuhitung-hitung berapa mata tergeriap
ketika kainmu sebentar tersibak
betis ubi dikubak
leher tiang ulin tegak membengkak

dan serasa sudah di bibir tepi cawan

tuak belum direguk
tapi mabuk tertunaikan sudah.

Di gelanggang, semua kuserahkan pada taji ajam jantan
segala macam ketakutan sudah diasahkan
segala nama racun sudah dibasuhkan
daging lawan aduan akan terkubak
urat paling liat akan mengena
darah paling pekat akan muncrat dalam sekali hentak

hingga gelanggang
hanya tersisa suara: keok…

Tidak, Lenggo. Pada mata, aku tidak bersutan
pada hati, aku tidak beraja
lahirku sudah disuratkan
hilangku juga sudah ditentukan
setiap ayun lengan dan langkah tungkaiku sudah disiasatkan

gelanggang bagiku hanya api membumbung tinggi
kampung terbakar perlahan
sisa pohon tumbang
dan tunggul hangus

di mana debu-debu akan ada
debu-debu lantas terbang
debu-debu lalu hilang

dan debu-debu membahasakan setiap bagian tubuhku
segala hantu segala mambang akan membawa aku

ke dalam kitab
ke sebuah traktat tak tergugat.

Depok, 2017

 

Dimuat di Padang Ekspres, Minggu, 17 Juli 2017

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s