SETELAH GELANGGANG ITU

Aku akan pergi, Lenggo
gelanggang lain sudah menunggu
sehelai kain kutinggalkan
sebagai bengkalai
tanda mata belum memandang dengan tunai
tapi setelah ini hanya akan ada kemalangan lain

dan ketika suatu malam kau dengar
murai hitam memekik-mekik
di tandan buah kelapa
memekik tiga malam beruturut-turut lamanya

bengkalai musti dibakar
bengkalai harus dilindapkan
jadikan abu serupa debu
terbangkan abu serupa debu
tiup pada pangkal jenjang rumah

tanda segala sudah tunai
semua telah selesai
aku akan hilang dalam sebuah gelanggang
tapi tidak pada kitab itu.

Maka kini kutunggangi seekor kuda muda
dengan ketipak kaki membuat air pasang menjadi surut
lenguh membikin pohon-pohon gadang bertumbangan
gerak ekor membuat angin bersipusu kian menggila.

Juga seekor kerbau tambun
pada jangatnya besi lekat timpa-bertimpa
pada gelambir lehernya segala mantra terpaut erat
matanya adalah suluh paling abadi
di mana ada api
tak terpadamkan bermalam-malam hujan badai.

Apa yang dirisaukan dari sebuah kepergian, Lenggo
di tiap lekuk garis tangan nasib sudah ditentukan
hidup akan terus abai
sementara gelanggang tidak menunggu lengang

dan pagi
belum akan membebas kita
dari berabad kutukan itu

Depok, 2017

 

Dimuat di Padang Ekspres, Minggu, 17 Juli 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s