BERAPA TALAK YANG DIJATUHKAN BADRUL MUSTAFA UNTUK LIRISISME?

Kita bisa saja berangkat dari judul-judul 41 puisi dalam BM, BM, BM, mengabaikan dulu bagian isi dan struktur, untuk menguji indikasi yang saya maksud: “Ada Garam Ada Semut” (hlm.11), “Katak di Atas Tempurung” (hlm.12), “Gajah di Seberang Lautan dan Semut di Seberang Lautan” (hlm.13), “Udang di Depan Batu” (hlm.16), “Balada Rusa Patah Kaki” (hlm.27), “Balada Tunggul Kayu” (hlm.33), “Balada Beruk Mendapat Permainan” (hlm.35), “Balada Kain Buruk Bersulam Emas” (hlm.38), “Sudah Padam Suluh di Tangan” (hlm.42), dst. Judul-judul tersebut ditemukan oleh mereka yag gemar menyisir petuah-petitih, mereka yang gemar menangkap momen-momen puitik, dari perumpamaan yang muncul dalam percakapan sehari-hari. Di Minangkabau, mulai dari bangun hingga terjaga lagi di kemudian hari momen-momen puitik tersebut terus muncul. Orang-orang selalu gemar menyimpan maksud mereka dalam pengandaian, dalam “umpama”, kerap bagian ini akan kita temukan dalam BM, BM, BM. Untuk itulah saya menyebut BM, BM, BM, bergerak di antara modal kultural yang dimiliki penyairnya, dari pola lirisisme, untuk kemudian dikembangkan ke dalam model perpuisian lain. Heru Joni Putra tidak sepenuhnya meninggalkan lirisisme, ia mengambil dan menyerap bagian dasar dari struktur lirisisme.

 

Sila diunduh:

Tentang Badrul Mustafa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s