KECURIGAAN PADA POLITIK LITERASI

Untuk tidak terlalu jauh menganalogikan proses penerbitan karya-karya penulis muda sebagai bentuk politik literasi, sebagaimana tulisan Muarif bertajuk Politik Literasi, Buku Sastra, dan Penulis Muda (Jurnal Ruang, 1 Oktober, 2017), saya ingin mengemukakan tiga pertanyaan kepada kritikus sastra terseebut: (1) Bagaimana bisa proses penulisan dan perjuangan penerbitan buku penulis muda mutakhir dapat disandingkan dengan penulis yang menerbitkan karya di luar penerbit Balai Pustaka periode 1900-an hingga 1920-an?; (2) Bagaimana dapat menilai kualitas sebuah karya jika hanya bersadar perbandingan proses penerbitan indie (atau self-publishing) dengan penerbit mayor?; Bagaimana pula sebuah buku karya sastra yang dianggap berkualitas tanpa dilektika dengan di luar karya itu sendiri (kritikus, institusi penerbitan, sayembara kepenulisan, dst—arena kesusastraan)?

Seandainya saja kita dapat rujukan penulis muda dan karyanya yang dimaksud Muarif sebagaimana ia dapat memberi rujukan penulis dan karya terbitan di luar Balai Pustaka periode 1900-an hingga 1920-an, tentu kita akan dapat melakukan pembacaan lebih lanjut dan menguji pandangan tersebut—dan sebagaimana ia merunut nama-nama penulis muda yang kehadiran karyanya dianggap tampil secara mengejutkan dan menggembirakan.

Seandainya juga kita dapat rujukan jelas karya dari penerbit indie yang dianggap instan dengan basis intelektual belum teruji itu, tentu kita dapat pula melakukan penelisikan lebih lanjut terhadap penulis-penulis dengan karya-karya dimaksud. Dan persentuhan dialektik karya dengan hal-hal di luar karya itu sendiri, barangkali hal ini yang paling tidak dapat berterima oleh saya selaku pembaca tulisannya Muarif. Sebab persentuhan tersebut terus ada pada karya-karya yang disebut ‘karya besar’ sampai hari ini.

Muarif merujuk beberapa nama penulis, seperti seperti Ayu Utami lewat karyanya Saman, yang menurutnya besar bukan karena karya tersebut sebagai pemenang Sayembara Menulis Novel DKJ 1998—mari kita kenang kembali tulisan Mulyo Santoyo berjudul “Andai Saman Tak Lahir Lewat Sayembara” (Republika, 19 April 1998). Tidak dapat dipungkiri Ayu Utami melalui Saman merupakan generasi yang lahir melalui sayembara. Bahkan beberapa karya penulis generasi sesudahnya segera dikenal luas dalam waktu relatif cepat karena sayembara. Saman sebagaimana ditulis Ibnu Wahyudi[1] menjadi perbincangan bukan karena hanya faktor jatidirinya sebagai sebuah novel, melainkan juga karena efek publisitasnya yang menyertainya. Jumlah pemberitaan dan pembahasan mengenai Saman, selang beberapa waktu penerbitan novel tersebut, dapat dikatakan tidak biasa dari pemberitaan karya-karya sastra penulis sebelumnya[2].

Dorongan-dorongan kritikus dalam mengelaborasi tesk dalam novel tersebut dari waktu ke waktu juga tidak dapat dipungkiri turut membuat Saman menjadi ‘karya besar’. Tidak usah kita merunut sudah berapa kritikus dan akademisi membahas novel tersebut dari sejak novel tersebut terbit hingga kini. Berpegang pada sampul belakang terbitan pertama novel Saman dapat kita lihat deretan nama kritikus dan sastrawan cum kritikus lewat endorsment mereka mengiringi kehadiran novel tersebut. Setidaknya enam nama, yakni Sapardi Djoko Damono, Ignas Kleden, Faruk HT, Umar Kayam, YB Mangunwijaya, dan Pramoedya Ananta Toer hadir di sampul belakang Saman terbitan awal. Veven Sp Wardhana dalam sebuah tulisannya mengatakan bahwa endorsment di sampul belakang novel tersebut sepertinya benar-benar diniatkan untuk kemasan novel itu[3].

Beberapa nama di belakang sampul Saman merupakan para juri sayembara menulis novel yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta menyampaikan komentar lebih ”pribadi”, sementara beberapa lainnya tak ada kait mengait dengan sayembara tersebut. Veven bahkan mengindikasikan dalam tulisannya bahwa pola endorment novel Saman-lah yang kemudian hari diteruskan oleh penerbit buku sastra lain, bahkan umumnya buku kini, menggunakan endorsement yang sejak awal diperuntukkan khusus untuk sampul buku. Dalam artian, Saman merupakan pendorong untuk para penulis di kemudian hari turut memamerkan kutipan dari para sastrawan dan kritikus (atau kini selebritis, tokoh publik, dst.) untuk kepentingan pejualan.

Kita dapat melirik juga kontribusi Dami N. Toda sebagai kritikus sastra pada zaman Orde Baru dalam mengukuhkan karya sastra sekaligus statusnya sebagai kritikus sastra. Dami dianggap sebagai salah seorang kritikus, melalui kritik sastra terapan, dengan metode ilmiah taraf pertama yang berambisi menentukan kanon sastra. Salah satu sastrawan yang disebut Muarif, yakni Sutardji Calzoum Bachri, selain melalui kredo puisinya turut dibesarkan melalui pengkajian serius dari Dami N. Toda[4]–dibesarkan lagi dengan penampilannya dalamp pembacakan puisi!. Saya tidak hendak melanjutkan dengan bagaimana pula pola H.B. Jassin, melalui intensitasnya membahas dan memperkenalkan karya sastra, hingga pada suatu masa tulisannya terhadap sebuah karya seakan menjadi legitimasi bagi seseorang untuk menjadi sastrawan.

 

Kecurigaan Tak Bertuan

Kecurigaan dari tulisan Muarif tentang proses penerbitan penulis muda pada penerbit indie dihubungkan dengan politik literasi agaknya memang cuma kecemasan berlebihan. Ketidak-hadiran sampel dari karya penulis muda dan penerbit dimaksud, sementara sampel lain dianggap penulis dengan intensitas kekaryaan yang baik, dan kematangan proses kekaryaan mereka membuat kita tidak dapat memetakan persoalan kecemasan-kecemasan Muarif. Kita tidak dapat membayangkan indie dalam pembicaraan tulisan Muarif tersebut pola penerbitan yang bagaimana (?).

Hal-hal terkait dengan kemandirian karya atau dimaksud untuk menunjukkan karya berkualitas akan hadir sendiri tanpa pembelaan, turut dimuntahkan kembali ketika Muarif merunut nama-nama penulis muda yang dianggap berproses untuk menjadi penulis yang kian matang, penulis yang tidak tergiur politik literasi, penulis yang menolak hegemoni tertentu sebagai basis perjuangan karya. Toh, tetap saja embel-embel “penulis tersebut memenangkan sayembara, penulis pilihan ini dan itu” turut mengiringi Muarif dalam menuliskan nama-nama.

Pembicaraan yang luput dari pembahasan Muarif adalah bahwa dalam arena kesusastraan di Indonesia pola penerbitan hingga distribusi karya tidak bekerja seperti yang dibayangkan—tidak selalu lempang membahagiakan. Banyak penulis memilih untuk menerbitkan karya sendiri bukan karena karyanya tidak dapat bersaing dalam proses seleksi penerbit mayor. Sebaliknya banyak faktor yang membuat penulis mendapat posisi ekslusif tanpa melewati seleksi pembacaan terhadap karya secara ketat dalam proses penerbitan mayor, rekomendasi misalnya. Tentu tidak sedikit juga penulis menerbitkan karya secara mandiri untuk sekedar menguji bagaimana peneriman publik ketika karyanya disebar secara mandiri pula. Tidak sepenuhnya pula hal tersebut dapat diartikan sebagai politik literasi, pencitraan semata, atau hasrat berlebihan untuk menjadi seorang sastrawan.

Saya memberikan contoh terdekat dari saya, dua penyair muda dari Sumatera Barat. Pertama, Deddy Arsya yang kini tinggal di pinggang gunung Singgalang sana. Kedua, Heru Joni Putra yang kini memilih tampil di arena Jakarta karena kepentingan studinya dan hal-lainnya. Intensitas kekaryaan dua penyair ini boleh dibilang jauh mendahului penyair Adimas Imanuel yang disebutkan Muarif dalam tulisannya. Deddy Arsya seperti pernah saya bahas suatu ketika melakukan pembacaan terhadap puisinya dalam rentang tahun 2005 hingga 2013, banyak sudah pola perubahan puitik yang dilakukan Deddy Arsya. Suatu kali ia membuat puisi seperti gumam traumatik masa-lalu, seakan memasuki ruang mimpi buruk. Setiap baris gumam tersebut dibingkai seluruhnya melalui tanda petik (“”). Tanda petik yang seharusnya memberi penanda ucapan, kutipan, kata, atau frasa, dalam puisi Deddy Arsya dibikin lain. Bangunan kalimat dalam tanda petik masing-masing berdiri sendiri sekaligus padu dalam kesatuan puisi. Bangunan yang boleh jadi saling mengakuisisi unsur lain di dalam tanda petik lain.

Sementara itu Heru Joni Putra lewat buku puisi pertamanya Badrul Mustafa, Badrul Mustafa, Badrul Mustafa (BM, BM, BM) setidaknya memperlihatkan bentuk lain. Ia hadir di antara ketegasan dan keraguan pola perpuisi lirik. Ia menegasi sikap sekaligus meragukannya. Ia “menghampang” tradisi lirik sekaligus “melepaskannya”. Kita dapat melihat bagaimana pengisahan tokoh Badrul Mustafa tentang tubuhnya yang tetap dihuni oleh haru-biru. Pada satu ketika ia menjadi tokoh yang tegas dengan sebilah pedang seolah bisa menebas apa saja. Badrul Mustafa cukup beruntung ketika menjadi simpul untuk keseluruhan buku puisi BM, BM, BM, dan Heru Joni Putra turut terbantu untuk menentukan sikap dalam menentukan wilayah perpuisiannya.

Tapi di balik pencarian-pencarian puitik dua penyair muda yang saya sebut dapatkah kita tahu bagaimana proses penerbitan dan distribusi karya mereka hingga sampai menjadi buku di tangan pembaca? Deddy Arsya lebih memilih menerbitkan buku puisi pertamanya berjudul Odong-odong Fort de Kock pada penerbit Kabarita (2013) di Padang sana—buku ini mecapai daftar singkat Katulistiwa Literary Award dan Buku Puisi Pilihan Tempo. Meskipun dengan intensitas penyiaran puisinya di koran-koran terbitan Jakarta sebenarnya ia dapat membuat karyanya dipertimbangkan untuk diterbitkan pada penerbit mayor—baru tahun 2017 Deddy Arsya menerbitkan buku puisi berjudul Penyair Revolusioner di penerbit Grasindo. Begitu juga dengan Heru Joni Putra memilih berhati-hati mengumpulkan puisi yang disiarkannya sepanjang 10 tahun berproses untuk disatukan dalam buku BM, BM, BM (2017)—buku ini belakangan menjadi nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa ke-17. Ia memilah puisi yang dirasa tidak layak untuk digabungkan dalam buku, mengedit kembali puisi-puisi yang sebenarnya sudah pernah disiarkan agar padu secara tematik, dengan segela risiko. Heru tentu jauh hari bisa pula menerbitkan puisinya dari Sumatera Barat sana, tapi tidak dilakukannya. Ia baru belakangan menerbitkan buku atas kerjasama Studio Hanafi dengan salah satu penerbit di Bandung setelah beragam proses ia jalani.

Agaknya, tidak ada intensitas politik literasi macam yang dicemaskan Muarif ketika kita melirik pola penerbitan karya-karya penulis muda yang benar-benar berjibaku dalam dunia kesusastraan (berhubung Muarif tidak memberikan sampel penulis muda yang ia maksud). Meskipun dapat kita lihat dua penyair yang saya contohkan di atas tetap memampangkan sampul buku mereka di laman media sosial milik mereka, barangkali hal tersebut merupakan salah satu cara menghidangkan karya ke hadapan banyak pembaca, atau salah satu model promosi agar pembeli mendapat informasi cara mendapatkan buku mereka—berhubung sebagian karya dimaksud tidak dijual di toko-toko buku besar.

Kita juga bisa melirik beberapa contoh lain, di mana penulis-penulis muda, ketika menerbitkan sebuah buku meski dengan pembiayaan sendiri tidak hanya dalam rangka mencari legitimasi sebagai sastrawan. Tidak sedikit juga penulis mapan memilih untuk menerbitkan karyanya di penerbit mayor bukan karena karyanya tidak dapat bersaing. Melainkan karena dengan menerbitkan sendiri, mereka dapat mengatur prses distribusi sendiri, dengan harapan bahwa keuntungan dari penjualannya lebih besar dari sistem royalti.

Pembacaan mengambang dan klaim tidak berdasar dari Muarif memang membuat kita susah menganalisa persoalan posisi penulis muda dalam penerbitan. Tidak adanya sampel karya yang dianggap instan tersebut tidak berimbang dengan penghadiran sampel karya-karya yang dianggap bermutu. Satu hal terpenting, Muarif mungkin dapat melakukan pembacaan ulang terhadap bagaimana posisi penulis muda dalam arena kesusastran di berbagai daerah di Indonesia dan aksees mereka terhadap jaringan penerbitan.

Jangan-jangan ketakutan Muarif tersebut malah tidak cocok dibicarakan untuk konteks penulis muda. Bayangkan persoalan lain, misalnya mengenai 230 judul buku puisi diikutkan dalam lomba Hari Puisi Indonesia tahun 2017, hampir sebagian besar buku tersebut tidak dapat diakses secara luas, dan barangkali penerbitannya hanya dikhususkan untuk lomba tersebut. Fenomena surplus karya seeperti ini seharusnya menjadi perhatian penelitian Muarif ketimbang mencurigai penulis-penulis muda dengan memautkan embel-embel politik literasi dalam proses penerbitan karya mereka.

 

CATATAN AKHIR

[1] Lihat tulisan Ibnu Wahydi, “Wanita Pengarang di Indonesia Kini: Sebuah Dominasi Semu?” Jurnal Susastra, Vol 1 (2), 2005 (hlm. 1—23)

[2] Lihat tulisan Ibnu Wahyudi, “Kritik Sastra di Media Massa Indonesia,” kertas kerja dalam Seminar Kritikan Sastera Melayu Serantau, Kuala Lumpur, 24—26 Spetember 2001.

[3] Veven Sp Wardhana, “Kritik Sastra Sampul Belakang”, Kompas, 23 Januari 2013.

[4] Lihat Hamzah Muhammad, “Ambisi Kritikus Mencari yang Baru: Sekilas tentang Dami N. Toda”, kertas kerja dalam Seminar Politik Kritik Sastra di Indonesia, 24—25 November 2015, PKKH UGM.

 

Tulisan ini pernah dimuat jurnalruang.com, 3 Desember 2017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s