KUPU-KUPU BANDA MUA: SEBUAH PEMBACAAN AWAL

Persoalan sosio-kultural Minangkabau agaknya tetap menjadi perhatian utama bagi pengarang dengan basis penciptaan dari Minangkabau. Dialektika antara rantau dan kampung terus menerabas batas-batas posisi geografis mereka. Tubuh boleh jadi berada pada ruang lain, tapi pikiran tetap menyentuh dusun-dusun tersuruk di pedalaman Minangkabau. Kita dapat melihat beberapa pengarang yang melalui proses penciptaan di rantau tapi tetap berusaha menggapai persoalan kampung. Di saat beberapa penulis lain menggap isu-isu seputar kosmopolitan, pluralisme, atau interaksi lintas budaya saat mereka berpindah secara georafis. Wacana mengenai dialektika Minangkabau tetap menjadi pilihan bagi penulis dengan basis penciptaan Minangkabau. Pilihan tersebut barangkali sebagai penanda bahwa dalam ruang lingkup domestik terdapat wacana kebudayaan yang belum tuntas dibahas.


Raudal Tanjuna Banua, misalnya, narasi dalam prosa dan puisinya terus bertualangan dari satu daerah ke daerah lain, sebagaimana pengarang tersebut juga menggemari perjalanan. Namun pola pengucapan prosanya terasa kental cara bertutur orang Minang. Kerap, petualangan rantau malah membuat garapan prosanya menyentuh lagi dongeng-dongeng kecil yang biasa dikisahkan oleh orang-orang tua di kampung. Tak jarang juga ia menggarap bagaimana kebiasaan masyarakat Minangkabau memanfaatkan perumpamaan, kegemaran menggunakan simbol, untuk meraih apa yang dianggap tidak pantas diungkapkan pada kahalayak ramai. Dalam Parang Tak Berulu (Gramedia, 2005) misalnya, dapat kita temukan betapa sebuah perumpamaan dapat dimanfaat begitu baik dalam sebuah prosa.

Damhuri Muhammad tidak jauh berbeda dengan Raudal Tanjung Banua dalam mempersoalkan dialektika antara rantau dan kampung. Dalam kumpulan prosa terbarunya Anak-anak Masa Lalu (Marjin Kiri, 2015), ia juga menggarap mitologi yang barangkali hanya akan diketahui oleh mereka yang tumbuh besar di kampung. Bagaimana kisah mengenai kepala-kepala yang dipotong untuk dijadikan pasak penguat konstruksi jembatan, bagaimana suasana surau bersabung dengan dunia mistik, bagaimana penghambaan terhadap materi dipertegas dalam prosa. Dalam pengantar kumpulan prosa tersebut pengarang juga menegasi bahwa kenangan masa kecil di kampung telah membuatnya merasa harus bertarung dengan ‘rezim keluarga’ (kaum).
Dialektika seperti ini barangkali akan berlangsung terus-menerus dengan kadar penciptaan tentu berbeda tiap tiap pengarang. Sebagaimana istilah Damhuri, hal tersebut merupakan sebagai bentuk perlawanan atau ikhtiar untuk melawan ‘rezim keluarga’ sendiri. Tentu bentuk perlawanan tersebut dapat ditarik sebagai perlawanan terhadap sebagai rezim kuasa dalam konteks yang lebih luas. Bahwa hingga hari ternyata terdapat sebuah stigma yang membuat kampung begitu udik dan jauh tertinggal dari rantau. Sehingga mereka yang di rantau dianggap mempunyai peradaban lebih maju dibanding peradaban kampung.

Karya sastra, prosa khususnya, tentu menjadi salah satu ruang untuk bicara soal ‘kuasa’, memberi kemungkinan pilihan-pilihan pada pembaca terhadap berbagai macam konflik keputusan. Sebagaimana tubuh secara fisik boleh jadi berjarak antara kampung dan rantau, tapi pikiran dan ruang batin tetap melakukan tarik-menarik. Sebab di ruang batin, menurut Mudji Sutrisno (1999) manusia bergulat dengan dirinya ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan hidup dan konflik-konflik keputusan untuk memilih mana yang baik dan mana yang benar. Kesadaran gerak pada ruang fisik bersifat subordinatif dan ruang batin menjadi tempat pembebasan bagi manuia agar terbebas dari rezim kuasa.

Pola pengisahan prosa dua pengarang di atas dapat kita temukan kembali dalam prosa karangan Elly Delfia berjudul Kupu-kupu Banda Mua (Kabarita, 2018) dengan kapastitas pengisahan yang berbeda tentunya. Terdapat dua puluh prosa dalam kumpulan tersebut dan hampir sebagian besar berusaha untuk menggarap konflik-konflik sosio-kultural Minangkabau. Keterwakilan kampung dan rantau terlihat dari bagaimana narasi dalam prosa Elly Delfia berusaha membenturkan antara kampung dan kota. Kota sebagai simbol dari modernitas dan kampung dipenunuhi dengan kesuraman dan ketertinggalan. Konstruksi mengenai bagaimana perempuan Minang diposisikan juga berusaha digarap dalam prosa-prosa Elly Delfia. Di balik beragam persoalan mengenai Minangkabau dibahas dalam prosa-prosa tersebut, sebuah pertanyaan muncul ketika saya selesai membaca: benarkan ini representasi dari sosio-kultural masyarakat Minangkabau, atau sebuah hasrat besar untuk menganulir modernitas, mengidentifikasi Minangkabau ke dalam konstruksi narasi baku oleh sebuah ‘rezim’?

Relasi Kampung dan Kota
Relasi antara “kampung” dan “kota” menjadi konteks penting dalam prosa Elly Delfia. Hampir sebagian besar dari prosa dalam Kupu-kupu Banda Mua berbicara mengenai bagaimana kampung begitu suram dan penuh kesakitan sementara kota dipandangan sebagai sebuah ruang pencerahan. Kota menjadi perwakilan modernitas sementara kampung menjadi ruang di mana tradisi harus dijaga dengan tertib. Sebuah model pembebasan dikonstruksi dari relasi kampung dan kota tersebut. Bahwa, mereka yang menginginkan pembebasan dan penecerahan harus beranjak dari kampung. Dalam sejarah wacana sastra dan kebudayaan, menurut Faruk (2001), memang terdapat ambivalensi dan bahkan kontradiktif ketika orang-orang memaknai dan memperlakukan tradisi. Di satu sisi, tradisi diberi makna sebagai sesuatu yang lampau dan menghambat kemajuan. Sementara di sisi lain tradisi dianggap sebagai kekuatan yang emansipatoris, kekuatan yang dapat memberikan identitas dan harga diri, sebagai kekuatan untuk membentung keasiangan budaya luar yang mengancam solidaritas dan harga diri dari masyarakat tradisi. Pada akhirnya ambivalensi tersebut menjadi bangunan konseptual dan membentuk gagasan bersama yang terus membenturkan antara tradisi dan modernitas.

Kita dapat merunut bagaiamana ambivalensi pandangan mengenai kampung dan kota hadir dalam sebegian besar prosa dalam Kupu-kupu Banda Mua. Dalam prosa pertama berjudul “Arik” (hlm. 1-9) dapat kita lihat betapa kampung tempat tinggal Mangkuto sebagai tokoh utama dalam prosa tersebut seakan-akan merupakan kampung suram dan tidak lagi memberi berkah pada penghuni semacam Mangkuto. Orang-orang hidup dari hasil penebangan kayu hutam. Para lelaki berceloteh di lepau, membanggakan senjata mereka masing-masing, dan lebih mengutamakan adu otot dibanding bertukar pikiran. Para lelaki kampung seolah-oleh diidentifikasi dari hal-hal yang berhubungan dengan otot dan senjata. Hal tersebut dapat kita lihat pada kutipan berikut: Begitulah berzaman-saman, para lelaki akrab dengan senjata di kampung sudah sedemikian akrab dengan senjata. Mereka memahami dengan baik senjata senjata itu layaknya mereka memahami diri sendiri. Jauh sebelum para ahli berteori tentang senjata yang pantas untuk objek yang pantas, mereka telah memulainya. Penghinaan terhadap senjata adalah penghinaan terhadap diri sendiri. Nyawa menjadi taruhannya (hlm. 4-5).

“Arik” Mangkuto dihadirkan sebagai representasi tradisi sementara “sinso” merupakan representasi modernitas. Dua hal ini dibenturkan dalam cerpen “Arik” sehingga memunculkan konflik-konflik lain. Dengan sendirinya, ketika “sinso” dikisahkan menggantikan “arik” dalam proses pengerjaan penebangan pohon, perdebatan antara “yang tradisi” dan “yang modern” menjadi begitu terasa. Tohoh Haji Zaini, meskipun dikisahkan oleh narator sebagai orang baik yang memberi Mangkuto pekerjaan menebang pohon, dengan sendirinya diposisikan sebagai orang yang bertanggung-jawab terhadap Mangkuto dan keluarganya. Ketika Haji Zaini memutuskan untuk memilih menggunakan sinso untuk menebang pohon dengan sendirinya pembaca akan dibuat bersimpati pada Mangkuto yang kehilangan pekerjaannya menggunakan akan arik.

Pembaca barangkali dibuat bersimpati pada tokoh Mangkuto ketika narasi dalam prosa ini beranjak pada puncak konflik ketika Haji Zaini memutuskan untuk tidak mempekerjakan lagi Mangkuto. Simpati pembaca pada Mangkuto akan kian membahana ketika diketahui bahwa Mangkuto memiliki seorang istri dan sepuluh orang anak yang harus diberi makan. Dalam tahapan ini, pembaca mungkin akan serasa dibenturkan oleh wacana tradisi dan modenitas lewat simbol “arik” dan “sinso”. Namun terdapat kontradiksi dalam prosa “Arik”, di mana gambaran kemuraman kampung dan kondisi-kondisi kehidupan orang-orang kampung terdapat narasi ekologi yang barangkali terkesampingkan. Kita dapat melihat sebenarnya kondisi kehidupan di kampung dalam prosa tersebut tidak begitu suram. Beberapa bagian dalam narasi prosa ini secara tidak langsung dapat mengubah sudut pandang pembaca dari bersimpati ke arah mempertanyakan kembali persoalan pola kehidupan di kampung tersebut:

Menjelang siang saat matahari mendekati ubun-ubun, para lelaki itu bubar dengan membawa serta senjata masing-masing. Mereka pergi ke ladang-ladang, ke sawah-sawah, ke hutan-hutan, dan rimba lebat. Tempat mereka menitipkan pengharapan untuk hidup. Sejak bertahun-tahun lalu, mata pencarian utama orang-orang kampung itu bergantung pada rimba lebat dengan kayu yang besar-besar dan kuat. Sawah ladang mereka kerjakan hanya sebagai selingan saja (hlm. 5).

Di balik pertentangan simbolik antara arik dan sinso, kutipan narasi di atas pada dasarnya menjadi isu utama yang terpinggirkan dalam prosa berjudul “Arik”. Simpati pembaca barangkali akan berubah ketika pembaca menelisik kembali bahwa Mangkuto sebenarnya memiliki lahan seluas 5 hektare warisan keluarganya. Meskipun lahan tersebut, di dalam prosa, dinarasikan sebagai lahan tidak produktif. Namun persoalan inilah yang menjadi isu utama dan mengakhiri prosa tersebut melalui peristiwa galodo.

Dalam prosa berjudul “Kupu-kupu Banda Mua” yang dijadikan kumpulan prosa Elly Delfia kita juga akan dapat menemui bagaimana kampung dikonstruksi sebagai ruang yang tidak menjanjikan. Masyarakat kampung diidentifikasi sebagai masyarakat tradisional yang seolah-oleh menjadikan rantau sebagai muara penyelesaian persoalan. Kontradiksi tokoh “Aku” dan “Amak” dibenturkan antara pilihan merantau dengan pilihan kuliah. Tokoh “Aku” merasa bahwa kuliah akan dapat memperjuangan kehidupan keluarganya. Kampung pun menjadi sumber kemuakan tokoh “Aku” karena hasil panen semangka keluarganya dirundung hama ulat sehingga gagal panen. Ulat bermetamerfosis menjadi kupu-kupu sehingga “Aku” juga membenci kupu-kupu. Perbenturan antara kampung dan kota, merantau sebagai pilihan tradisional dan kuliah sebagai pilihan modernisasi menjadi kontradiksi dalam prosa “Kupu-kupu Banda Mua”. Hal tersebut dapat kita lihat dalam kutipan berikut:

Di zaman yang merdeka ini, di zaman yang tak ada lagi perang, menjadi mahasiswa yang dijuluki kaum intelektual adalah salah satu bentuk perjuangan. Aku ingin menjadi mahasiswa agar aku bisa berjuang seperti Yah Uwo. Demo di jalanan, mengkritik kebijakan pemerintah yang tak adil pada rakyat kecil, atau memperjuangkan keluargaku yang melarat. Aku benci menjadi peladang semangka yang memuakkan ini. Aku benci kupu-kupu yang mulanya adalah ulat, yang merusak ladang semangkaku. Aku benci pasar tempat aku menjual semangka. Pasar yang penuh kekerasan, sia bagak inyo di ateh. (hlm. 19-20)

Pembahasan singkat terhadap dua prosa di atas sebagai salah satu alternatif pembacaan yang dapat dilakukan terhadap kumpulan prosa Elly Delfia. Kontradiksi antara kampung dan rantau atau ‘yang modern’ dan ‘yang tradisional’ sebagai mana dua prosa tersebut tersebut dapat juga dilihat dalam prosa berjudul “Limpapeh”, “Perempuan Menyusuri Subuh”, “Ungku Osen”, “Rumah di Kampung”, “Sebuah Nama untuk Cameroon”, “Idul Fitri dan Rendang Batu”, “Tinggam”, “Urang Abih”. Selain relasi kampung dan rantau dalam buku kumpulan prosa Kupu-kupu Banda Mua kita dapat menyigi dan mempertanyakan kembali bagaimana konstruksi perempuan Minang diperdebatkan. Dalam beberapa prosanya Elly Delfia kerap menggunakan istilah limpapeh rumah nan gadang sebagai gambaran terhadap posisi perempuan dalam memosisikan tubuhnya sendiri atau diposisikan dalam narasi prosanya. Namun istilah tersebut dapat dipertanyakan lebih lanjut, apakah membangun kesatuan stuktur narasi dalam prosa, atau hanya sekedar menjadi sampiran dan menjadikan narasi mengenai kondisi perempuan Minangkabau itu menjadi kontradiktif?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s