SASTRA, ARENA, KUASA: SURAT TERBUKA UNTUK PUBLIK SASTRA INDONESIA

Salah satu persoalan kesusastraan Indonesia hari ini adalah praktik pelemahan sistemik dari agensi-agensi sastra untuk melanggengkan ketokohan Denny JA dalam arena kesusastraan Indonesia kontemporer. Agensi-agensi kesusastraan ini bekerja merekrut penulis-penulis untuk bekerjasama membuat apa yang dianggap pembaruan dalam model perpusisian Indonesia, membayar mereka dengan iming-iming honorium besar (benarkan besar?), dan membubuhkan tanda tangan di atas klausul-klausul dalam surat perjanjian bermaterai terkait kerjasama antara kedua belah pihak sebagai bentuk legalitas formal. Permasalahan ini memunculkan kecurigaan antar pelaku kesusastraan, sesama anggota dalam komunitas kesusastraan, dan hubungan-hubungan personal sastrawan di dalam daerah (provinsi) atau antar daerah. Karena pola kerja agensi tersebut tertutup dan menyusup ke dalam komunitas-komunitas sastra di beberapa daerah.

Di Sumatera Barat misalnya, kita dapat melihat bagaimana perempuan penulis bernama Dellorie Ahada Nakatama memberikan pengakuan bahwa ia diajak oleh agensi puisi esai untuk membuat puisi tanpa harus diketahui oleh mentor menulisnya, yaitu Iyut Fitra. Di Pekanbaru, Riau, penyair Marhalim Zaini juga merasa kecolongan, bahwa dua orang aktor teaternya secara diam-diam juga disusupi. Dellorie membuat pernyataan publik bahwa ia tidak mengetahui bagaimana sistem kekuasan di belakang proyek sastra tersebut bekerja dan memberikan keterangan bahwa ia sudah menyatakan mundur dari proyek tersebut. Ia mengembalikan uang pangkal penulisan puisi esai dan membuat surat pernyataan di atas materai. Begitu juga dengan beberapa orang penulis, notabene berusia muda, berupaya untuk menarik diri dan karyanya dari proyek tersebut. Belum lagi bagaimana keterkaitan pihak-pihak (oknum) di Badan Bahasa (pusat) dan menyebar ke Balai Bahasa di dearah-daerah turut melanggengkan pola agensi ini. Oknum tersebut juga memberikan bocoran nama dan alamat peserta Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia 2017 yang kemudian digunakan oleh manajemen Denni JA untuk menirimkan buku tentang dirinya pada para sastrawan.

Mereka yang menjadi agensi, atau ia yang merasa menjadi pembaharu, barangkali tidak sadar bahwa di daerah-daerah sasaran mereka, publik sastra perlahan digerogoti dan bersilang-sengketa oleh kuasa modal mereka. Mereka merasa pro dan kontra adalah hal yang wajar dalam arena kesusastraan, dalam ranah kebudayaan, padahal pro dan kontra hari ini tidak mencerminkan lagi bagaimana polemik penciptaan karya sastra di Indonesia sebagaimana yang sudah-sudah. Polemik beralih pada politik pencitraan tokoh, dengan mengaungkan diri sebagai pembaharu “Puisi Esai”, yang beberapa waktu lalu didukung oleh para sastrawan kenamaan Indonesia, dan para sastrawan tersebut kini meminggirkan diri dan lari dari tanggung-jawab mereka setelah mereka membabtis ketokohan Denny JA melalui pernyataan-pernyataan yang mereka anggap riset ilmiah.

Ketidak-mengertian dan ketidak-pahaman para penulis yang direkrut dalam membaca sejarah dan peta politik kesusastraan di Indonesia adalah permasalahan utama yang musti diselesaikan publik sastra Indonesia. Membaca dan merunut lagi jauh ke balakang, bagaimana kesusastraan sebagai sebuah sistem bekerja, adalah mutlak dilakukan. Bahwa, ada kekuasaan mengiringi di belakang apa yang digaung-gaungkan kreator sebagai “preses kreatif adalah hak setiap kreator”, “mencoba sesuatu yang baru adalah hak setiap kreator”, dan “seorang kreator bebas untuk menulis apapun sesuai kehendak mereka”. Pada tahapan ini kita tidak berbicara pada prinsip kepenulisan personal, di mana seorang kreator sebebas-bebasnya berhadapan dengan mesin ketik mereka, sebebas-besarnya menuliskan kendak pikiran dan imaji mereka ke dalam karya mereka, tapi melihat jauh ke belakang bagaimana kekuasaan turut bekerja di belakang apa yang kreator istilahkan dengan kebebasan menulis itu.

Proyek puisi esai dan ketokohan Denny JA sudah banyak ditulis dan dibahas jauh hari sejak kemunculan buku 33 Sastrawan Indonesia Paling Berpengaruh dan buku puisi esai yang melibatkan banyak sastrawan, kritikus, akademisi di belakang proyek tersebut. Sebagian besar sastrawan, kritikus, dan akademisi tersebut mundur secara terbuka dan sebagian lagi diam dan tidak lagi mengemukakan pandangan mereka. Pada Seminar Kritik Sastra di Indonesia, 24 – 25 November 2015, di PKKH UGM saya membentangkan kertas kerja membahas persoalan ini dengan tajuk Membangun Ketokohan dalam Sastra: Dari Puisi Esai hingga 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Dalam kertas kerja tersebut saya merunut kembali polemik kehadiran buku tersebut, bagaimana Denny JA dimunculkan sebagai tokoh dengan menganulir karya-karya penulis-penulis garda depan yang menjadi rujukan bagi generasi penulis hari ini. Kertas kerja tersebut memang tidak akan cukup memberikan pemahaman melihat kian masifnya agensi-agensi puisi esai bekerja dan meruntuhkan bangunan komunitas dan hubungan persoalan pegiat kesusastran di daerah-daerah di Indonesia dengan proyek terbarunya, yakni puisi esai 34 provinsi. Dengan proyek tersebut, Denny JA sendiri merasa ditokohkan kembali, karena menganggap 34 provinsi di Indonesia mendukung gerakan pembaharuannya.

Sastra dan Kekuasaan
Tidak susah untuk melihat bagaimana kekuasaan bekerja di belakang kesusastraan. Banyak rujukan-rujukan penelitian ilmiah yang memperlihatkan bagaiaman teks sastra pun tidak luput dari kuasa modal dengan tujuan untuk berkuasa atau melanggengkan kekuasaan. Bagaimana agensi-agensi mendorong kehadiran teks sastra, kehadirkan seorang penulis, untuk melanggengkan stuktur kekuasaan ataupun untuk membentuk semacam dogma. Politik sastra atau gerakan kebudayaan ini bekerja secara halus, diam-diam, dan menghancurkan secara sistemik. Ia dapat mengubah sejarah sebuah negara, bahkan arah politik dapat dibelokkan.

Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi secara global, kuasa modal turut bekerja di belakang gerakan kesusastraan. Kita dapat membaca kembali tulisan Mary von Aue di Vice Indonesia (6 Januari 2017) mengenai buku Finks: How the CIA Tricked The World’s Best Writers ditulis Joel Whitney yang membahas keterlibatan Dinas Intelijen Amerika Serikat (CIA) pada periode 1966 dengan publikasi sastra The Paris Review dan lusinan majalah kebudayaan lainnya. CIA mengembangkan beberapa proyek rahasia, misalnya pendanaan penulis muda yang sedang naik daun dan membuat strategi propaganda budaya menggandeng pelopor kesusastraan dari seluruh penjuru dunia.

Joel Whitney sendiri dalam wawancaranya dengan Whitney mengungkapkan hasil penelitiannya bahwa CIA menggerogoti proses demokrasi di setiap negara sasaran dengan dalih mendukung upaya memberantas komunisme. Melalui Congress of Cultural Freedoms (CCF), CIA membangun stategi editorial untuk setiap tokoh kesusastraan terpilih, mendukung mereka mengatur dan menguasai pembicaraan soal isu kebudayaan di negara-negara yang segmen pembaca bukunya menolak perspektif pro-Amerika. Gabriel Garcia Marquez, penulis idola semua bangsa juga tidak luput dari susupan CIA. Cara yang digunakan CIA memang adalah dengan memanfaatkan figur budayawan kiri seperti Gabriel Garcia Marquez, mempromosikan karya-karya kreatif mereka mirip trik kuda troya. Penulis sastra dibina CIA akan terus menguasai perbincangan kebudayaan, menurut Whitney, contohnya selama Revolusi Kuba. Pembentukan tersebut seakan alamiah, tapi tidak akuntabel, dan tidak demokratis. Pola ini memperlihatkan pada publik sastra bahwa kesusastraan tersebut rentan disusupi oleh kekuasaan. Dengan kuasa modalitas, pegiat sastra seakan-akan dibuat tidak sadar, bahwa modal yang digunakan untuk menghasilkan sebuah karya tersebut sebenarnya mempunyai tujuan tertentu.

Bagaimana dengan Denny JA dan gerakan puisi esai yang digaung-gaungkan? Saya tidak akan membahas jauh dan mengulik lebih dalam sampai kemudian hari memperlihatkan apa tujuan ia sebenarnya. Sejauh ini, saya melihat bahwa ia tampak ingin melenggang dengan mudah melalui ketokohannya dan apa yang ia anggap sebagai pembaharuannya melalui puisi esai. Dengan pola survei politik yang digunakan Denny JA di dunia politik, pola tersebut juga digunakan dalam kesusastraan, melalui responden siswa di sekolah-sekolah, ia kemudian menganulir keterbacaan siswa terhadap puisi yang hadir pada tahun 2011 ke atas untuk kemudian memantapkan jalannya puisi esai. Hal tersebut dapat dilihat dalam tulisan Denny JA bertajuk Puisi Esai, Apa dan Mengapa?.

Tulisan tersebut kian memperlihatkan betapa publik sastra, dalam pandangan Denny JA tidak berbeda dengan responden politik, sebagaimana dalam survei-survei politik yang dilakukannya lewat lembaga yang didirikannya, yakni Lingkaran Survei Indonesia (LSI). Sebuah lembaga survei yang dinyatakan oleh Denny JA mampu memprediksi apa yang belum terjadi, semisal pemenang pemilu legislatig dan presiden 2009 lalu. Prediksi ini pula yang agaknya dikembangkan polanya oleh Denny JA dalam memasuki dunia kesusastraan Indonesia. Untuk menyandingkan dirinya sebagai tokoh, ia menganulir terlebih dahulu penyair seperti Chairil Anwar dan WS Rendra melalui surveinya di tahun 2011 untuk kemudian hasil survei tersebut menjadi kekuatannya mengukuhkan puisi esai, di mana ia menganggap dirinya sebagai pembaharu.

Bagaimana Denny JA melakukan survei dan mengukuhkan puisi esai? Menurutnya, ia memilih secara random lima puisi yang dimuat koran paling ternama Indonesia untuk rentang waktu bulan Januari 2011–Desember 2011. Sampel itu dianggap sebagai representasi dari puisi yang diseleksi oleh koran yang paling besar oplahnya. Sampel tersebut kemudian ia berikan kepada tiga kelompok pembaca: pendidikan tinggi (sarjana ke atas: S1, S2, S3), pendidikan menengah (hanya tamat SMA dan SMP), dan pendidikan rendah (hanya tamat SD). Masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang, di mana pada responden tersebut juga diberikan perbandingan puisi karya Chairil Anwar (“Aku”, 1943) dan WS Rendra (“Khotbah”, 1971)

Ia mengatakan bahwa publik sastra, siswa, bahkan yang sudah tamat perguruan tinggi tidak mengerti dengan puisi yang terbit di koran-koran tahun 2011 ke atas. Sementara itu puisi Chairil dan Rendra respondennya masih beragam. Dengan hasil survei tersebut Denny JA menyimpulkan bahwa responden rindu dengan puisi yang mudah dipahami publik luas. Untuk itulah ia mengeluarkan puisi yang disebutnya sebagai puisi esai bertajuk Atas Nama Cinta (2012). Buku inilah yang kemudian menjadi pembuka jalannya untuk menjadi tokoh kesusastraan paling berpengaruh dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Di samping ia menganggap telah menemukan genre puisi yang baru, ia tegaskan gere puisi tersebut telah diikuti oleh banyak penyair di Indonesia, dibuktikan dengan beberapa buku kumpulan puisi bersama yang ditulis oleh banyak penyair Indonesia. Buku Atas Nama Cinta sendiri, menurut Denny JA, oleh sebagian pengamat telah dianggap sebagai: “tonggak yang membawa sastra ke era sosial media. Hanya dalam waktu sebulan, HITS di web buku puisi itu melampaui satu juta. Ini tak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah buku puisi, buku sastra, bahkan buku umum sekalipun,” sebagaimana ditulis Denny JA.

Publik Sastra mungkin tidak sadar hanya menjadi responden dalam proyek puisi esai Denny JA. Proyek yang sudah mengorbankan retakan-retakan dan kecurigaan dalam komunitas-komunitas sastra Indonesia dan hubungan persoalan sastrawan di Indonesia. Bahkan sampai hari ini, tim awal yang memilih Denny JA sebagai salah seorang tokoh berpengaruh lewat buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh hanya bisa bungkam dan tidak mampu lagi memberikan pandangannya. Proyek Denny JA juga telah mengorbankan banyak penelitian ilmiah dalam bidang kesusastraan, pola responden yang diterapkannya melalui puisi yang terbit di koran-koran periode tahun 2011 ke atas (termasuk puisi Chairil dan Rendra), sudah dianggap benar oleh sebagian orang, dan model ini mengabaikan pola telaah ilmiah dalam bidang ilmu sastra.

Kehadiran Denny JA, pola ketokohanya dengan mengandalkan politik uang memang baru kali ini dialami kesusastraan Indonesia, sehingga kita pun kaget dibuatnya. Kesusastraan Indonesia, di mana sebagian besar penulis-penulis terutama di daerah, selalu bermasalah dengan keuangan, bisa jadi seperti leher ceking yang dapat dicekik oleh agensi proyek ambisius Denny JA. Sebuah pertanyaan muncul dari publik: “maukah penyair atau penulis menuliskan puisi yang dianggap bergenre puisi esai itu, sebanyak 40-an halaman, tanpa diberi imbalan 5 juta (atau lebih) dan hanya bersandarkan pada ingin mencoba sesuatu yang baru?” Perihal ini tentu kita kembali pada mereka yang turut dalam agenda puisi esai 34 provinsi tersebut.

Saya turut tertegun membaca pandangan Dedy T Riyadi mengenai hitung-hitungan proyek ambisisus Denny JA. Sebanyak 170 penyair dari 34 provinsi dibayar masing-masing 5 juta rupiah, total berarti 850 juta rupiah—bisa jadi lebih jika penyair menawar puisi dengan harga lebih. Untuk eksposure selama berbulan-bulan di tingkat nasional dibandingkan dengan beriklan di televisi nasional di jam prime time, besaran itu tidaklah mahal. Menusut Dedy T Riyadi, harga satu spot iklan 30 detik di sinetron dunia terbaik salah satu stasiun tv swasta itu 90 juta rupiah. Jadi 850 juta rupiah itu jika dibelikan spot iklan 30 detik di sinetron tersebut itu sekitar 10 spot saja.

Atau hanya akan habis dalam 5 menit saja dalam hidup kita. Itu pun kalau kita menonton Bayangkan kita menulis 1 puisi berhari-hari, 40-an halaman lebih, dengan genre puisi esai dan hak ciptanya dibayar 5 juta rupiah dianggap mahal atau murah? Sementara tokoh yang mengangap dirinya pembaharu dari puisi esai dan yang memberikan modal buku tersebut berhasil melambungkan pengaruhnya selama buku tersebut dibaca orang-orang dan tercatat terus dalam kesejarahan kesusastraan Indonesia. Kesadaran publik sastra dibutuhkan untuk membaca bagaimana kekuasaan turut berbarengan di belakang apa yang kita agungkan sebagai proses kreatif.

 

Catatan: Tulisan ini telah dimuat di halaman budaya koran Padang Ekspres, Minggu, 21 Januari 2018

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s