N.V. NUSANTARA DAN TRADISI INTELEKTUAL SUMATERA BARAT

pertjobaan setiaLembaga penerbitan di daerah dalam historiografi Indonesia berperan penting dan berkedudukan khusus dalam perkembangan tradisi intelektual. Dorongan-dorongan lembaga penerbitan untuk menghadirkan bacaan bermutu bagi masyarakat kemudian hari berefek pada kemunculan intelektual-intelektual baru. Selain itu, lembaga penerbitan di berbagai daerah pada masa pergerakan nasional juga merupakan semangat perlawanan terhadap penerbit Balai Pustaka sebagai badan resmi penerbitan kolonial.

Kemunculan penerbit Balai Pustaka yang pada awal pendirian diberi nama Commissie voor de Inlansche School en Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakyat) pada 14 September 1908 memang ditujukan untuk pengembangan bahasa-bahasa daerah utama di Hindia Belanda. Namun tujuan lain dari penerbit resmi juga sebagai upaya untuk mengurangi gejolak perlawanan bangsa Indonesia melalui tulisan-tulisan yang dianggap sebagai bacaan liar. Di Sumatera Barat sendiri, lembaga-lembaga penerbitan alternatif berdiri secara masif sejak periode pergerakan ke arah kemerdekaan Republik Indonesia. Kehadiran tersebut beriring antara penerbitan koran, majalah, tabloid, buletin, serta penerbitan buku-buku ilmu pengetahuan (sosial, politik, ekonomi, dan sastra). Khairul Jasmi (2002) mencatat setidaknya sejak 1859, atau 25 tahun seusai Perang Paderi, tercatat setidaknya 81 lembaga penerbitan di Sumatera Barat (Minangkabau). Ruang-ruang ini kemudian melahirkan banyak sekali intelektual di Sumatera Barat.

Kota Bukittinggi, selain Padang dan Payokumbuh, merupakan salah satu tempat munculnya lembaga penerbitan di Sumatera Barat. Bukittinggi dengan kesejarahannya tidak dapat dimungkiri menjadi salah satu kota di dataran tinggi Minangkabau tempat berkembangnya tradisi intelektual. Di kota tersebut Belanda mendirikan benteng Fort de Kock, sebagai kubu pertahanan Belanda untuk melawan kaum Paderi, dan kemudan hari ditingkatkan perannya dalam ketatanegaraan sebagai Afdeeling Padangscehe Boven landen dan Onderafdeeling Oud Agam. Bukittinggi dipersiapkan sebagai kota tempat plesiran dan berleha-leha oleh pemerintahan kolonial Belanda. Selain itu, faktor kehadiran lembaga pendidikan Barat (sekolah), menurut Zulqayyim dalam bukunya Bukitinggi Tempo Doloe (2006), turut mendorong aktifitas intelektual yang berdampak kultural-ideologis, sosial, politik, dan ekonomi bagi masyarakat luas.

Tradisi intelektual dan posisi penting kota Bukittinggi, yang pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (1948-1949) menjadi sebagai Ibukota Indonesia dan pernah menjadi Ibukota Provinsi Sumatera dan Sumatera Tengah, membuat Bukittinggi strategis bagi lembaga penerbitan. Sudarmoko (2008) mengungkapkan bahwa penerbitan di Bukittinggi memang tidak dapat dilepaskan dari pembangunan kota tersebut pada masa kolonial, sebagaimana penelitiannya tentang penerbit Penjiaran Ilmoe—pendiri penerbit Penjiaran Ilmoe Sjamsoedin Datoek Pamoentjak merupakan wakil direktur Bank Nasional tahun 1934-1941 dan menjadi direktur pada tahun 1947-1953. Pada masa berikutnya, salah satu lembaga penerbit besar yang muncul di Bukittinggi pasca kemerdekaan Republik Indonesia adalah N.V. Nusantara. Kesejarahan penerbit ini bertautan dengan perkembangan revolusi Indonesia di Sumatera Barat termasuk dengan penguatan politik dan ekonomi daerah. Pendiri penerbit N.V. Nusantara sendiri, Anwar Sutan Saidi selaku presiden direktur dan anaknya Rustam Anwar selaku direktur, memang adalah golongan intelektual dan ekonom termuka dari Sumatera Barat.

Menurut Audrey Kahin (2005:28) sewaktu Mohamad Hatta tinggal di Bukittinggi pada November 1932, Anwar Sutan Saidi adalah orang yang memperkenalkan Mohamad Hatta dengan beberapa tokoh Partai Republik Indonesia (Pari) utusan Tan Malaka, dan kelak Anwar Sutan Saidi dan Mohamad Hatta menjadi sahabat dekat. Anwar Sutan Saidi sendiri merupakan adik kandung dari Djamaluddin Ibrahim, mantan guru di Padang Panjang yang periode itu menjadi penghubung utama Pari untuk Singapura dan Jawa. Anwar Sutan Saidi dikenal juga sebagai salah seorang saudagar Minangkabau yang kelak membawa dampak besar terhadap aspek ekonomi dan politik pergerakan nasionalis di Sumatera barat sampai periode kemerdekaan. Ia merupakan salah seorang saudagar muda pada periode 1930-an yang namnya dilambungkan oleh Himpunan Saudagar Indonesia (HSI) yang didirikan oleh Mohamad Thaher Marah Sutan.

HSI dirikan untuk memperkuat posisi para saudagar di saat kebijakan eokonomi yang diterapkan Belanda banyak berpihak pada saudagar Cinta dan Eropa pasca pemberontakan Silungkang 1927. Pada tahun 1930, ketika usia Anwar Sutan Saidi masih 20 tahun, ia turut mengusahakan pendirian Bank Nasional yang pada tahun tersebut didirikan pertama kali oleh Dr. Sutomo di Surabaya. Meski terkendala beberapa hal, termasuk perdebatan praktir perbankan di kalangan HSI, barulah beberapa tahun kemudian ia bersama kawan-kawan mendapat izin pemerintah untuk mendirikan bank dengan nama Bank Nasional Abuan Saudagar. Pendekatan bank yang beberapa waktu kemudian dikenal dengan Bank Nasional tersebut lebih pada koperasi dari pada bentuk konvensional bank. Bank tersebut kemudian hari menjadi organisasi pembela saudagar-saudagar pribumi dan bersaing dengan saudagar-saudagar Cina (Kahin, 2005:100-104).

“Seri Denai” Hasrat Prestisius
Kehadiran penerbit N.V. Nusantara dari Bukittinggi agaknya memang untuk memasok buku-buku terbitan berkualitas dari daerah, khususnya Bukittinggi, pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Pada tahapan ini, penerbitan sebagai salah satu lini usaha Anwar Sutan Saidi dan Anwar Sutan Saidi, memang tidak terlihat seperti usaha untuk menambah pundi-pundi keuangan mereka. A.A. Navis (1994) dalam otobiografinya yang menuliskan bahwa pada tahun 1956 penerbit N.V. Nusantara mulai memasarkan buku-buku karya sastra dalam ukuran buku saku (pocket book) melalui program Seri Denai. Program ini pun dianggap sangat prestisius, didorong karena alasan idealisme penerbit, dan tidak mengherankan jika penerbitan Seri Denai siap merugi dibanding mendatangkan laba. Hal tersebut juga terlihat atas kesediaan Rustam Anwar selaku direktur penerbitan N.V. Nusantara menerbitkan buku-buku karya Mr. Mohamad Yamin. Di balik motivasi penerbitan seri tersebut, buku-buku Seri Denai selain menambah konten buku sastra di Indonesia juga menambah terbitan buku-buku berkualitas.

Pada periode penerbitan Seri Denai, A.A. Navis dalam otobiografi tersebut juga menjelaskan bahwa ia juga diminta untuk membaca naskah yang akan diterbitkan termasuk menjadi editor untuk beberapa naskah buku. Rustam Anwar yang merupakan sahabat A.A. Navis juga meminta naskah cerpen-cerpennya dan pada tahun-tahun awal tersebut terbitlah kumpulan cerpen Navis yang judulnya diambil dari salah satu cerpen fenomenalnya, yaitu Robohnya Surau Kami. Dalam keterangan Navis (1994:69) beberapa buku yang sempat ia baca naskahnya sebelum diterbitkan adalah naskah NH Dini, Dua Dunia dan Hati yang Damai, termasuk kumpulan cerpen Motinggo Boesye berjudul Keberanian Manusia. Kualitas buku-buku tersebut oleh Navis dianggap sangat baik dan ketika terbit mendapat sambutan hangat dari kritikus. Buku-buku sastra yang sempat dibaca Navis tersebut juga merupakan debut kepengarangan NH Dini dan Matinggo Boesye dalam meyakinkan kepengarangannya dalam dunia sastra di Indonesia.

Sebagai sebuah penerbitan yang hadir pada masa-masa awal dan sesudah terjadinya peristiwa Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI di Sumatera Barat buku-buku terbitan N.V. Nusantara juga sempat mengalami penolakan dari sebagian masyarakat. Pada periode ini pembaca turut secara langsung menghubungkan penulis termasuk konten tulisannya dengan afilitasi penulis pada partai politik atau dukungan pada salah satu kubu pada periode pergolakan daerah tersebut. Soewardi Idris dalam buku otobiografinya Perjalanan Dalam Kelam (2008) mengisahkan bahwa penerbitan dua buku kumpulan cerpennya berjudul Isteri Seorang Sahabat (1963) dan Diluar Dugaan (1963) telah menimbulkan keretakan dalam penerbit N.V. Nusantara. Keretakan tersebut terjadi antara Anwar Sutan Saidi selaku presiden direktur penerbit tersebut sekaligus ayah dari Rustam Anwar yang merupakan direktur N.V. Nusantara. Menurut keterangan Soewardi Idris, Anwar Sutan Saidi menganggap dua buku karya sastra yang bercerita tentang PRRI tersebut belum waktunya untuk diterbitkan. Namun Rustam Anwar menganggap buku tersebut sudah sangat layak diterbitkan.

Soewardi Idris pada waktu itu juga bekerja sebagai editor untuk penerbit N.V. Nusantara pasca keikutsertaan dirinya dengan PRRI terpaksa harus hengkang dari penerbit tersebut. Hal itu menurut dirinya untuk menjaga persahabatannya dengan Rustam Anwar dan hubungan baik dengan penerbit N.V. Nusantara. Di sisi lain, terjadi reaksi dari masyarakat atas tersebitnya dua kumpulan cerpen Soewardi Idris tersebut, khusunya dari para pendukung PRRI. A.A. Navis (1994:7) dalam catatannya menjelaskan bahwa karena protes tersebut sisa buku Soewardi idris yang sudah didistribusikan terpaksa dibakar oleh pihak penerbit. Reaksi tak resmi juga sebelumnya terjadi untuk buku Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Seorang pemuka agama di Bukittinggi pernah mendatangi Rustam Anwar dan mempertanyakan: “mengapa buku pendukung Partai Murba diterbitkan oleh N.V. Nusantara?” Padahal menurut Navis ia tidak berpartai dan pendukung Murba itu sendiri adalah ayahnya Rustam Anwar, yaitu Anwar Sutan Saidi.

Proses keberlangsungan penerbitkan N.V. Nusantara mendistribusikan bacaan-bacaan bermutu melalui konten sastra memang melalui banyak rintangan. Selain hasrat prestisius penerbit yang dianggap oleh A.A. Navis sebagai proyek merugi, penolakan-penolakan dari masyarakat, persoalan antara penerbit dan penulis pun terjadi perihal profesionalitas penerbitan karya. Hal tersebut dicatat oleh NH Dini dalam biografi singkatnya yang disimpan di Pusat Dokumentasi H.B. Jassin. Ia mengungkapkan bahwa penerbitan salah satu bukunya berjudul Hati yang Damai dengan penerbit N.V. Nusantara bermasalah. NH Dini mengisahkan bahwa sepeninggal dirinya bekerja sebagai pramugari pada periode akhir 1950-an, ia menulis roman Hati yang Damai, sebagai kenangan mesra pada dunia penerbangan, termasuk dunia kemiliteran. Roman tersebut dimuat secara bersambung di Mimbar Indonesia oleh H.B. Jassin.

Pada waktu yang sama ia juga memberikan naskah kumpulan cerpen Dunia Dunia untuk diterbitkan di N.V. Nusantara oleh bantuan Motinggo Boesye. Sedangkan roman Hati yang Damai, Ajib Rosidi dalam surat-menyuratnya dengan NH Dini meminta persetujuan untuk menerbitkan roman tersebut. Namun surat dari Motinggi Boesye turut datang mengatakan bahwa roman tersebut sudah selesai proses penerbitannya di penerbit N.V. Nusantara dan akan keluar dalam beberapa hari. Hal ini menimbulkan ketidak senangan dari NH Dini, ia dan suami berpikir untuk memperkarakan proses penerbitan tersebut, tapi pada akhirnya ia memutuskan membiarkan penerbitan tersebut dan menganggap proses penerbitan tersebut adalah sebuah kelancangan.

N.V. Nusantara dalam perkembangannya telah menerbitkan banyak sekali bacaan dalam konten sastra, bacaan anak, politik, seni, dan ilmu pengetahuan lain. Di lembaga penerbitan N.V. Nusantara muncul buku-buku Mohamad Hatta, Muhamad Yamin, Hamka, Pramoedya Ananta Toer, A. Bastari Asnin, Ali Auda, W.S. Rendra, Ajib Rosidi, Nasjah Djamin, Soeman HS, dst. dan beberapa buku terjemahan. Lembaga penerbitan tersebut seperti angin segar bagi tradisi intelektual dari kota yang kesejarahannya sangat penting bagi keberlangsungan pergerakan revolusi di Indonesia.

Selain di Bukittinggi, pemilik lembaga penerbitan N.V. Nusantara kemudian hari turut membuka cabang penerbitan mereka di kota Medan dan Jakarta untuk mempermudah distribusi buku-buku terbitan mereka. Namun, sebagaimana catatan A.A. Navis di atas, penerbit tersebut terasa prestius dan ideologis sehingga konten terbitan mereka berbanding terbalik dengan penghasilan yang dihasilkan penerbit tersebut. Hingga pada akhirnya penerbit tersebut pada periode 1970-an diambil alih oleh pemerintahan Provinsi Sumatera barat untung dijadikan Badan Usaha Milik daerah dengan nama PT Grafika. Tapi bagaimanapun, N.V. Nusantara dalam historiografi perkembangan intelektual dari Sumatera Barat sudah menorehkan catatan penting.

 

Dimuat di Padang Ekspres, Minggu 18 Maret 2018

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s