FORUM PENYAIR MUDA: SEBENTUK EMBRIO

Tulisan ini merupakan catatan saya setelah mengikuti Temu Penyair Empat kota di Yogyakarta, 2006.

“Kawanku yang baik, terima kasih untuk pemberianmu, sebuah antologi puisi berjudul Herbarium yang kau kirimkan kepadaku beberapa jam lalu. Ah, sudah terlalu lama aku tak mencermati perkembangan puisi dengan baik; mataku seakan kian rabun saja terhadap munculnya generasi-generasi baru kepenyairan kita.” Begitulah ucapan dari Muhammad Al-fayyadl ketika membacakan makalahnya yang berjudul “Kitab Murung Sendu: Surat Imajiner (kepada) Seorang Pembaca” pada pembukaan acara forum penyair muda 4 kota di Taman Budaya Jogja. Seketika itu Taman Budaya Jogja tengah didatangi oleh puluhan “penyair muda” yang terdiri dari 4 kota; Jogja, Denpasar, Bandung dan Padang (Sum-bar), dan para penggiat sastra dari berbagai daerah lain yang menyaksikan peluncuran dan bedah buku antologi puisi 4 kota (Herbarium).

Acara temu penyair muda 4 kota yang bertempat di Taman Budaya Jogja berlansung selama dua hari—2-3 februari 2007, acara ini digagas oleh komunitas Rumah Poetika, Jogja—itu membahas segala problematika penyair muda dari masing-masing perwakilan daerah. Adapun tema yang diusung dalam acara ini adalah “Apa Kabar Penyair Muda Daerah?”. Acara ini merupakan sebuah kelanjutan dari acara temu penyair muda Jawa Barat-Bali yang sebelumnya diselenggarakan di Bandung pada 20-21 Agustus 2005. Selain peluncuran antologi puisi,  pembukaan acara juga diisi oleh pembacaan puisi dari beberapa penyair muda yang juga masuk dalam antologi tersebut.

Hari kedua acara temu penyair empat kota, diisi dengan diskusi dalam dua sesi. Sesi pertama yaitu, pemetaan sastra di daerah masing-masing. Pembicara pada sesi pertama adalah masing-masing koordinator dari 4 daerah tersebut diantaranya, Raudal Tanjung Banua (Jogja), Muda Wijaya (bali), Widzar al Ghifari (Bandung), dan dikarnakan koordinator Padang Koko Sudarmoko berhalangan hadir, digantikan oleh Haryanto Prasetyo. Permasalahan yang paling disorot dalam sesi ini pada umumnya adalah masalah perkembangan proses kreatif para penyair muda, dan “membaca peta” kepenyairan di daerah masing-masing yang bagi para pemakalah adalah suatu yang sangat sulit, dikarnakan kebanyakan dari penyair muda itu sendiri berproses secara personal, dan membaca “daerah” merupakan suatu cakupan yang cukup luas untuk membuat sebuah “peta”—dikarnakan masalah proses secara personal tersebut. Kemudian masalah kedua yang dibicarakan yaitu masalah ruang publikasi media yang sangat sempit, dan kuatnya dominasi penyair senior dalam permasalahan publikasi media.

Pada diskusi sesi kedua wacana yang dilontarkan lebih melebar lagi. Pembicara pada diskusi kedua yaitu, Afrizal Malna, Saut Situmorang, Dr. Faruk. Jika pada diskusi pertama wacana yang diangkatkan lebih ke wilayah daerah, pada diskusi sesi kedua pembacaan peta kesusastraan lebih dilebarkan lagi ke wilayah Indonesia. Seketika itu timbul pertanya dari salah seorang peserta yang mengikuti diskusi dan pertanyaan tersebut menjurus ke wilayah Sumbar (baca; Minangkabau), dimana Sumbar  (dulunya) mempunyai peranan yang kuat dan sangat penting dalam perkembangan kesusastaraan Indonesia. “Apakah para penyair dan penulis  muda Sumbar merasa terbebankan ketika menyandang sejarah itu?”. “Memang sejarah mencatat sumbar (minangkabau) sangat mempunyai peranan penting dalam kesejarahan perkembangan kesusastraan di Indonesia, akan tetapi jika kami terus terlena dengan romantisme kesejarahan tersebut, kapan lagi kami bisa menunjukkan bahwa kami itu ada dan bisa membuktikan bahwa sejarah itu terus berlanjut dan sampai kepada kami”, begitulah kesimpulan jawaban yang diberikan oleh beberapa orang penyair muda dari Sumbar yang seketika itu ikut dalam acara tersebut.

Wacana pun terus berkembang seketika ada yang mempertanyakan tentang penyebutan “muda” dan tua” akan tetapi itu kan hanya nama, yang jelas mereka terus melakukan proses dan yang menentukan keberadaan itu tetap karya. Kebanyakan permasalahan yang dibicarakan pada sesi kedua ini tentang “keberadaan”, seketika Afrizal  Malna (dkk) menyatakan diri mereka—di era 80-an—generasi yang hilang, bagaimana dengan generasi sekarang, tentunya lebih hilang lagi (?). “Sangat disayangkan sekali para mahasiswa sastra—dari berbagai Universitas yang ada di Jogja—dan para pemerhati sastra tidak begitu peduli dengan peristiwa budaya seperti ini”tutur Saut yang  mengungkapkan kegelisahannya di akhir diskusi kedua.

Acara terus berlanjut dengan serangkaian apresiasi puisi; musikalisasi, dramatisasi dan pembacaan puisi yang dipersembahkan oleh berbagai komunitas yang ada di Jogja dan Bandung. Di akhir acara para tamu dan undangan berkumpul dalam sebuah diskusi lepas membicarakan langkah ke depan acara forum penyair muda. Setelah berbagai pembicaraan, pertimbangan, dan sebuah pengharapan, Padang (baca; Sumbar) pun ditunjuk sebagai tempat untuk melanjutkan acara ini pada tahun depan.

Semoga saja acara forum ini bisa terlaksana di Sumbar, dan semoga (lagi) dengan ditunjuknya Sumbar sebagai tuan rumah, gairah kepenulisan terus semarak dan memunculkan banyak penyair dan penulis muda di ranah tercinta ini. Semoga saja.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s