PERKARA LAMA YANG TAK PERNAH SELESAI (“MEMBACA” SAJAK PERKARA LAMA GUNAWAN MARYANTO)

Tulisan ini merupakan periode awal saya belajar menulis puisi dan artikel, tahun 2007. Tidak disunting dan dihadirkan sebagaimana versi awlanya.

Bau tubuhmu yang tak bersalin kembali dibawa angin
Mengganggu dengan kenyataan lain
:malam, kaki gunung, gitar dan lagu-lagu, Oalah, sepatah cinta tanpa sepatu, dulu (perkara lama; fragmen satu)

Benarkah kenangan merupakan sebuah perkara lama yang tak akan kunjung selesai. Atau perkara-perkara lama hanya sekelebat kisah yang hadir begitu saja, menggores luka, cinta, dan berbagai pergumulan rasa menimbul dan membekas lalu hilang begitu saja?

Penulis—dalam sajak Perkara Lama—seperti mengingatkan lagi kepada para pembaca (pengapresiasi sajak) bahwasanya berbagai “perkara” yang pernah tiba dan hadir, menghampiri kita akan selalu menggores, berbekas, dan bukan sekedar peristiwa yang selesai begitu saja. Sajak perkara lama merupakan rentetan cerita dari satu ide yang dibelah menjadi enam buah fragmen. Masing-masing fragmen mempunyai perkara masing-masing.

/masa lalu seperti pemijit buta/ mencengram bahu/ (fagmen satu), penulis menghadirkan masa lalu sebagai sebuah perkara yang dibenamkan dalam simbol “pemijit buta” . Dalam fragmen satu ini pun dihadirkan diksi yang melankolis yaitu “cinta”, dimana kata cinta merupakan pengungkapan global dari tumpukan rasa senang yang tak terhingga. Akan tetapi kata “cinta” dalam teks pun berlawanan, saling bakuhantam dengan teks sesudahnya. /…oalah sepatah cinta tanpa sepatu, dulu/ kalimat ini merupakan teks untuk mengungkapkan sebuah kenangan yang pada kalimat sebelumnya dianggap—bahwasanya kenangan—seperti “pemijit buta”. Kalimat melankolis tadi pun dilawankan dengan kalimat:

Pemijit buta terus bekerja
Meraba-raba

yang luka dan tak luka…
aku jatuh cinta sekeras penolakanmu atasnya
pada ranting dan padang pasirmu
pada keras dan rapuhmu
pada angin yang menghadirkan tubuhmu.

Pada fragmen pertama sajak Perkara Lama diakhiri dengan kalimat, /Ini hanya perkara lama yang tak pernah selesai/. “Perkara” pada fragmen pertama pun seperti terkatung-katung, belum terselesaikan, dan “perkara” dilanjutkan dengan sambungan pada fragmen selanjutnya.

Fragmen kedua tidak jauh berbeda dengan fragmen pertama. Akan tetapi, fragmen kedua mempunyai latar tempat penceritaan yang jelas. /Di Lhok Nga yang panas/ dua butir telur/ bersisian dan kedinginan/ dengan latar yang dihadirkan, perkara yang dimaksudkan oleh teks pun memuncul di pikiran pembaca. Dalam sebuah karya sastra, memang—tidak terkecuali untuk puisi—latar tempat akan membentuk sebuah pola penceritaan menjadi jelas, latar bisa mengiring pembaca untuk “membaca” sebuah kejadian, dan berlanjut pada struktur sosial masyarakat yang secara tidak lansung dihadirkan dalam teks. Kalimat selanjutnya yang memperjelas lagi bahwa ada sebuah kejadian (perkara) yang pernah hadir dalam latar tempat adalah: /Bahkan sisa-sisa rumah di sepanjang pantai ini sama sekali tak mendebarkan bagi: cangkang yang kadung lobang/.

Kalimat yang berbunyi keras terlihat pada fragmen ketiga, /”cepat temui aku di gudang itu, bangsat/ di mana dulu kau (pernah) membuatku sekarat!”/ fragmen ketiga ini merupakan kelanjutan cerita dari fragmen sebelumnya. Pada fragmen ini (memang) tidak ada latar yang jelas seperti fragmen kedua, akan tetapi fragmen ini jelas merupakan pertautan “perkara” dari fragmen sebelumnya.

Pada fragmen keempat, kelima, dan keenam, ada beberapa ide pokok yang memperjelas bahwa cerita dalam fragmen-fragmen ini merupakan kelanjutan dari fragmen sebelumya, kalimat yang memperjelas itu adalah:

Sampai suatu saat kita terpaksa merapat
Tragedi itu tercipta lagi dengan cepat
aku meraba-raba kelelahan di tubuhmu
Kau mencabuti uban di rambutku
-bocah-bocah tua bermain api masa lalu
(fragmen kelima)

Pola penceritaan yang jelas diungkapkan penulis dengan beberapa fragmen yang dihadirkan dalam sajak “Perkara Lama”, sajak yang membawa kita untuk kembali melihat dan mengingat kejadian yang sudah berlalu, kejadian yang akan tetap menjadi sebuah “perkara” yang tidak akan pernah selesai. Sajak ini—seperti yang tertera pada penanggalannya—ditulis sepanjang perjalanan Banda Aceh-Yogyakarta tahun 2006. Dan pada bagian terakhir sajak (fragmen enam) dengan kalimat pendeknya penulis seperti menunggu sebuah “perkara” (lagi) untuk muncul, dan ia menunggu.

Kini ponselku sepi lagi
Tak ada sms yang menggetarkan lagi 🙂
(fragmen enam)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s