ENJOY SARAJEVO!

IMG_3336

Vijecnica/Sarajevo City Hall

Di Sarajevo, lonceng gereja berdentang-dentang beberapa kali dalam satu jam, lantunan suara azan terdengar mengalun dari menara-menara masjid setiap waktu salat akan masuk. Musim panas seakan tidak berarti apa-apa bagi kota yang pernah mengalami masa pengepungan terlama dalam sejarah dunia modern dunia–pengepungan selama 1.414 hari dari tahun 1992 sampai 1995. Hujan turun tidak menentu. Suhu bergerak antara 12 C sampai 28 C. Musim panas seperti bukan benar-benar musim panas di Sarajevo.

Sampai di Sarajevo, Jumat malam, 21 Juli 2018, kehendak untuk berkeliling harus saya tahan. Tubuh kelelahan bercampur jet lag, meski mata tidak mau terlelap sesampai di penginapan, dan saya hanya memandang Sarajevo dari ketinggian tempat menginap, tak jauh dari Alifakovac Cementery (pekuburan muslim). Dari sekian film tentang Sarajevo yang pernah saya tonton, potongan adegan “Welcome to Sarajevo” besutan sutradara Michael Winterbottom dan “The Hunting Party” (2007) sutradara Richard Shepard bermain di kepala saya. Salah satu adegan paling saya ingat adalah tembok dengan lubang peluru besar, entah bekas bangunan apa, bertuliskan Enjoy Sarajevo! 1993-1994 dengan motif minuman cola terkenal dalam film “The Hunting Party”.

IMG_3190

Jembatan Latin

Tembok itu membuat saya benar-benar penasaran. Beberapa hari kemudian saya cari dan bertanya pada beberapa orang tapi tak kunjung saya temukan. Tak sulit memang untuk mengelilingi Sarajevo. Hanya saja kontur kota perbukitan dengan jalan menanjak dan menurun membikin gampang lelah untuk jalan kaki. Namun luas Sarajevo kurang dari seperempat kota Jakarta dan kurang lebih sama dengan tiga perempat wilayah efektif perkotaan tempat saya tinggal, Kota Padang. “Barangkali tembok itu pernah ada tapi sudah dihancurkan atau direnovasi jadi bangunan lain,” kata tuan rumah tempat saya menginap. Saya kemudian berpikir, barangkali tembok itu hanya properti untuk film. Namun dari beberapa tempat yang saya kunjungi di Sarajevo, banyak toko pakaian menjajakan desain baju dengan gambar persis seperti tembok tersebut: Enjoy Sarajevo!

 

Latinska Cuprija, Vijecnica, dan Bascarsija

Bascarsija adalah lokasi pertama yang ingin saya kujungi di Sarajevo. Lokasi ini juga merupakan destinasi utama bagi wisatawan. Dari penginapan saya turun lewati pekuburan Alifakovac dan mata saya langsung tertuju pada sebuah bangunan bergaya Austro-Hungorian dengan warna krem dan coklat. Saya langsung menebak bahwa bangunan itu adalah Sarajevo City Hall (Vijećnica). Bangunan yang dibuka secara resmi pada tahun 1896 tersebut merupakan Perpustakaan Nasional dan Universitas Sarajevo dari tahun 1949 hinga terjadi hancur total pada 25 Agustus 1992. Tembakan mortal pihak pengepung Sarajevo mengakibatkan terbakarnya ratusan ribu buku, termasuk buku langka, serta manuskrip unik dari abad pertangahan hingga abad ke-19.

IMG_3141

Sebelumnya, saya memang pernah melihat video terbakarnya gedung tersebut via youtube. Namun selain ingatan tentang terbakarnya gedung tersebut, ingatan saya langsung mengarah pada foto salah seorang pemain cello utama Opera Sarajevo memakai pakaian tradisional hitam dengan kemeja putih yang pernah bermain di bawah reruntuhan gedung tersebut: Vedran Smajlović.

 

Vedran memainkan Adagio Albinoni di G Minor di antara tembakan senjata dan jatuhan mortir Nasionalis Serbia yang mengepung Sarajevo. Ia melakukan hal tersebut selama 22 hari sejak ia menyaksikan 22 orang yang sedang mengantre roti di sebuah toko meninggal akibat jatuha mortir. Satu hari permainan untuk satu orang korban. Vedran berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari kuburan, reruntuhan bangunan, jalanan, di manapun tempat korban berjatuhan. Permainan cello pada waktu itu bagi Vedran adalah hiburan bagi mereka yang menjadi korban pengepungan. Musik penenang bagi mereka yang ketakutan dan menyuruk di persembunyian bawah tanah. Meskipun penembak jitu bersebaran dan jatuhan mortor terus terjadi, Vedran bermain, orang-orang melonton. Foto-foto pertunjukan Vedran tersebut tersebar dan permainan cellonya dianggap sebagai simbol perdamaian.

 

Bascarsija tepat berada di belakang Sarajevo City Hall. Saya mengambil jalan memutar agar dapat melawati Latinska Cuprija (Jembatan Latin). Jembatan yang membentang di atas sungai Miljacka tersebut merupakan lokasi penembakan Franz Ferdinand (28 Juni 1914). Archduke pewaris tahta kekaisaran Austro-Hungaria tersebut ditembak oleh Gavrilo Princip, partisipan Young Bosnia, organisasi Yugoslavia. Kematian Franz Ferdinan itu pula memicu terjadinya perang dunia pertama.

Sarajevo menyimpan berbagai lapisan sejarah unik. Vijećnica, Latinska Cuprija, dan Bascarsija berada pada lokasi berdekatan. Terlebih sejarah Bascarsija, sebagaimana pusat kota lama yang mempunyai peran penting dalam sejarah kemajemukan kota tersebut. Karena kemajemukan itu pula Sarajevo dianggap sebagai “Jerusalem of Europe” atau “Jerusalem of the Balkan”. Kota di mana masjid, sinagog, gereja katolik dan gereja ortodok berdampingan dalam satu lokasi, dan lokasi tersebut di sekitar Bascarsija.

 

Bulan Juli hingga Agustus dianggap sebagai bulan paling ramai bagi destinasi wisata Sarajevo. Turis berdatangan dari berbagai penjuru Eropa dan dari jazirah Arab. Menurut informasi, orang-orang Arab menganggap Sarajevo sangat strategis untuk tempat istirahat sebelum ke Eropa lainnya. Terlebih karena Sarajevo punya mata air bersih dan makanan halal di mana-mana. Tak salah kota tersebut didapuk oleh Lonely Planet “Top Ten Cityes to Visit” di tahun 2010.

 

Di sekitar Bascarsija, Jalan Ferhadija, sebentang penanda bertuliskan “Sarajevo Meeting of Culture” tampak dilewati oleh orang-orang. Titik ini dianggap sebagai lokasi pertemuan kebudayaan Ottoman dan Austro-Hungaria. Dua budaya yang paling dominan membentuk Sarajevo. Penanda tersebut berupa marka dengan tulisan dan di tengah-tengahnya simbol mata angin “E” (timur) dan “W” (barat). Terang saja, bila memandang ke arah Barat maka bangunan toko-toko klasik bergaya Austro-Hungarian dan ke arah Timur maka bangunan Bezistan Gazi Husrev Bey bergaya Ottoman.

IMG_3460

Di pusat keramaian Bascarsija ini pula terdapat bangunan Sebilj, air mancur kayu arsitektur pseudo-Ottoman yang dibangun Mehmed Pasha Kukavica di tahun 1753 dan direlokasi oleh arsitek Austria Aelxander Wittek di tahun 1891. Bascarsija pernah mengalami masa-masa sulit. Di alun-alun kota yang dibangun Isa-Beg Isakovic pada abad ke-15 tersebut pernah berdiri sekitar 12.000 bangun komersil, bazar, dan tempat kerajinan tangan pada abad ke-16. Namun gempa bumi pada 1640, kebakaran tahun 1644, 1656, dan pembakaran Sarajevo oleh Pangeran Eugene dari Savoy di tahun 1697, dan kebakaran di tahun-tahun selanjutnya membuat banyak bangunan hancur.

 

Di Bascarsija, sumber-sumber air segar mengalir dari pancuran. Pelancong tidak perlu takut kehausan dan repot-repot membeli air mineral bila berkunjung. Cukup menyadiakan botol kosong dan mengisi air mineral siap minum dari pancuran-pancuran sekitar Bascarsija. Saya sempat mengisi botol kosong air mineral di pancuran depan Masjid Gazi Husrev-Beg. Masjid tersebut menyimpan sejarah Bascarsija. Masjid di mana pintu gerbangnya selalu terbuka untuk para pelancong dan peziarah. Ruang dalam masjid dibuka ketika salat. Selebihnya, muslim yang ingin melaksanakan ibadah salat bisa melakukannya di bagian luar masjid.

 

Gazi Husrev-Beg orang yang berjasa dalam membangun komplek perkotaan Sarajevo. Ia gubernur berdarah Bosnian-Ottoman yang juga dikenal denan sekian banyak penaklukan ke berbagai daerah di Balkan (termasuk ekspansi ke Kroasia). Di sekitar Bascarsija, Gazi Husrev-Beg juga membangun madrasah yang kini dijadikan museum. Di lokasi ini sejarah keragaman Sarajevo benar-benar terasa. Katedral, sinagog, masjid berbadu dalam satu komplek bangunan dan peziarah datang dari berbagai suku bangsa dan beragam agama.

 

Musim panas Sarajevo memang benar-benar tidak terasa seperti musim panas. Para wisatawan, pelancong, memenuhi Bascarsija untuk kemudian mengunjungi daerah-daerah lain di negara Bosnia-Herzegovina. Perang dan pengepungan Sarajevo 1992-1995 adalah paling teringat dalam kepala saya. Bascarsija tida luput dari penghancuran demi penghancuran, sebagaimana masih terlihat belask-bekas tembakan peluru di dinding-dinding bangunan lain sekitar Sarajevo.Bascarsija hanya awal perjalanan saya selama sebulan di Bosnia-Herzegovina. Masih banyak tempat lain di negara Semenanjung Balkan tersebut yang hendak saya datangi.

 

Hari-hari di Sarajevo memang membuat saya terkesan. Tak ada tipuan untuk pelancong. Harga untuk barang-barang belanjaan dituliskan dengan baik. Benar kata orang-orang, harga makanan dan minuman di Sarajevo (barangkali Bosnia-Herzegovina keseluruhan) hampir sama dengan Jakarta. Tiap saya mengabarkan akan berjalan ke sebuah tempat pada tuan rumah dan pihak KBRI Sarajevo yang saya kenal, mereka selalu berkata, “Enjoy Sarajevo!” Dan saya membalas, “Hvala puno!”

 

Mostar, 27 Juli 2018

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s