KOTA PUITIK, KOTA DARI DALAM PIKIRAN

padang_javasche-bank-en-wh-greve-memorial

Monumen De Greve, di depan Museum BI kini (di kaki jembatan Siti Nurbaya)

Di mata saya, Kota Padang selalu puitik, tapi pikiran saya juga terus dibikin lelah memandang beberapa ruang kota tersebut. Saya gemar berjalan di antara reruntuhan loji-loji tua di mana kopi dan segala rempah rempah kiriman dari dataran tinggi Minangkabau pernah dihimpun sebelum dinaikkan ke kapal-kapal dagang di Bandar Muaro Padang. Dalam sebuah catatan sejarah, di tahun 1790, sebanyak 2.000 pikul kopi pernah dinaikan ke kapal-kapal dagang. Terdengar fantastis memang, tapi di loji-loji mana kopi tersebut disimpan sebelum dinaikkan ke kapal? Saya hanya dapat mengela napas.

473f078cb8cc16d2a725bdeef24bd685

kota1

Jalur kereta di Barang Arau (1910)

tugu michel

Monumen Michiels dan Gereja Protestan di Padang (1880)

Ketika berjalan, saya membayangkan, barangkali salah satu loji-loji runtuh itu pernah dihumban meriam dari kapal Ville de Bordeaux milik corsairs Prancis di bawah pimpinan Franchois-Thomas Le Meme. Bagimana tidak, pada pertengahan 1793, para bajak laut Prancis yang diberi izin untuk merompak musuh-musuh negara tersebut pernah 16 hari menguasai Kota Padang. Corsairs menuntut 70.000 ringgit ransum namun warga kota hanya dapat menyediakan 25.000 ringgit dan Le Meme pernah membakar rumah mereka yang tidak mau patungan ransum. Sebelum berangkat ke Mauritius, tulis sejarawan Gusti Asnan, lagu Marseillaise sempat dikumandangkan di Padang, dan bendera tricolor dikibarkan. Saya hanya dapat membayangkan dan terus membayangkan bagaimana Padang kini tidak bisa menghimpun masa lalunya.

Saya melangkah ke stasiun kereta di Pulau Aia sebagaimana pernah dikisahkan Ahmad Marzuki dalam Nazam Perang Kamang tentang pemberontakan di Kamang 1908 yang ditulisnya ketika pembuangan. Membayangkan bagaimana kereta mengangkut Ahmad Marzuki sampai di stasiun Pulau Aia tersebut dari Bukiktinggi. Ahmad Marzuki beserta rombongannya berjalan dengan tangan terikat belenggu besi menyusuri rel sampai ke Penjara Muaro. Tapi membayangkan memang hanya sampai di angan-angan, saya hanya mendapati stasiun tua dengan beragam sejarah itu terbiarkan, termasuk rel sepanjang muara ditimbun untuk berbagai kepentingan. Tiap berjalan mengelilingi kota pikiran saya memburu kearah masa lalu. Melewati jembatan Siti Nurbaya, saya merasa kehilangan monumen penghormatan untuk Willem Hendrik de Greve, geolog tersohor dari Belanda yang menemukan kandungan mineral di Sawahlunto. Monumen yang dibangun di abad ke-19 tersebut berada persis di bawah pasak jembatan Siti Nurbaya, di depan Javasche Bank (kini Museum Bank Indonesia)–salah satu demaga di tepian Batang Arau juga dinamakan “De Grevekade”. Entah kebijakan seperti apa yang menghendaki penghancuran-penghancuran sejarah kota.

rumah cb niweenhuis di padang

Rumah dan Workshop fotografer Christiaan Benjamin Nieuwenhuis di Padang

Lelah pikiran yang saya terakan di atas hanya sebagian kecil dari berbagai kelelahan lain. Memasuki sebuah pusat perbelanjaan, dengan niat menonton bioskop di lantai atasnya, pikiran saya dikepung perasaan asing. Saya duduk, menonton, tertawa, di gedung yang dibangun di atas bekas terminal bus dan sebelumnya adalah kuburan Belanda. Barangkali saya tengah duduk santai di atas kuburan Christian Benjamin Nieuwenhuis, salah seorang fotografer Belanda yang selama ini saya cari kuburannya. Entah ke mana nisan-nisan kuburan Belanda tersebut dibuang pada saat penimbunan. Namun saya cukup senang ketika akun arsip Padang Lamo merilis menemukan salah satu nisan dari bekas komplek pekuburan Belanda tersebut. Nisan seroang bocah dengan nama G.H.J. de Leeuw (Mei 1855-Januari1855) tersebut menjadi saksi sejarah bagaimana sebuah kota diremukkan situs-situsnya.

Kota dari Dalam Pikiran
Dalam memandang kota, pikiran saya mula dibangun dari narasi sastra, lalu berlanjut pada histori-kultural. Kerap saya mampir ke kuburan A.A. Navis, salah seorang sastrawan besar dari Sumatera Barat, setiap saya lewat di pekuburan Tunggul Hitam. Hanya sekedar singgah, berdoa sebentar, tanda penghargaan saya pada sastrawan yang bertahun-tahun memberikan sumbangan pemikiran bagi Sumatera Barat. Tapi tahukah orang-orang siapa A.A. Navis, karyanya, apalagi kuburannya? Barangkali tidak. Saya bahkan sempat berkeliling di daerah ranah mencari rumah kelahiran Idrus salah seorang eksponen prosa modern Indonesia kelahiran Padang. Tidak hanya sekedar berkeliling, saya menghubungi anak tertua Idrus, Prof. Nirwan Idrus salah seorang dosen di Monash University untuk mengetahui letak persis rumah kelahiran Idrus berikut pandam-pekuburannya. Saya ingat, 2 Januari 2017, saya berhenti di bangunan persis dikatakan Prof. Nirwan Idrus, tak ada lagi rumah kelahiran Idrus melainkan ruko bertingkat, bengkel reparasi mobil. Orang-orang barangkali juga tidak mengetahui, bahwa untuk menghormati idrus, namanya disematkan untuk komplek Taman Budaya Sumatera Barat. Keputusan tersebut telah di-Perda-kan tapi tidak pernah direalisasikan.

Ongeveer op deze lokatie, met op de achtergrond de Apenberg, werd het monument geplaatst.

Taman di tepi pantai Padang, tampak Gunung Padang 

Tugu jam di padang

Tugu jam di persimpangan Kampung Jawa, Padang

Namun di balik kelelahan saya memandang ruang-ruang Kota Padang saya terus mencari siasat mengobatinya. Di kepala saya terbangun narasi-narasi kecil tentang sudut-sudut kota dari berbagai literatur kesusastraan berlanjut pada data kesejarahan. Saya menuliskannya dengan cara saya. Membikinnya jadi puisi sembari terus merekam lapisan-lapisan peristiwa dalam ruang, bangunan, dan tingkah orang-orang dalam kota. Sejauh ini hal tersebut mujarab untuk mengobati pikiran lelah saya setiap mengelili Kota Padang. Rekaman dalam pikiran mebuat saya mempunyai sudut-sudut terbaik kota dalam pikiran saya. Sudut tersebut lengkap dengan timbunan sejarah, narasi sastra, dan saya dapat mengungkapkan kembali pada kawan-kawan saya dari daerah lain yang berkunjung ke Padang.

Barangkali sebagian besar kawan dekat saya tahu mengenai cara saya mencintai kota tempat saya merasa dilahirkan kembali itu. Setiap mengunggah potret tentang padang kerap saya sisipkan tagar #padangunfinishedpoem. Bagi saya Padang memang adalah puisi yang belum selesai dan tidak akan pernah usai dituliskan. Selalu ada saja gairah tumbuh di antara timbunan-timbunan sejarah yang diabaikan. Bersama beberapa rekan di Ruang Kerja Budaya kami berusaha membikin gerakan kolektif bernama #padangkotakata yang dicetuskan Sudarmoko, salah seorang dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Gerakan tersebut kami anggap tidak akan pernah selesai dan akan terus bergulir sebagai sebuah kampanye.

Dengan tidak canggung suatu ketika saya menuliskan di media massa bahwa #padangkotakata beranjak dari referensi tentang Dublin, Edinburgh, Melbourne, Iowa, Reykjavik, dan Norwich yang tergabung dalam jaringan City of Literature UNESCO. Barangkali sampai hari ini pembaca tentu akan menyangkal bahwa pikiran tersebut utopia belaka. Semisal Dublin, salah satu kota impian kesusastraan dunia. Ibu kota Republik Irlandia tersebut hadir, dimunculkan, dan ditasbihkan untuk menjadi salah satu tujuan berkunjung bagi peminat kesusastraan. Beberapa penulis karya sastra besar seperti Oscar Wilde, James Joyce, dan Jonathan Swift sengaja ditera menjadi ikon kota tersebut. Setidaknya hingga kini empat hadiah Nobel Sastra dari Akademi Swedia diterima oleh beberapa penulis diaspora atau berhubungan langsung dengan Dublin, Irlandia secara umum: George Bernard Shaw, WB Yeats dan Seamus Heaney, dan Samuel Beckett.
Pemerintah kota Dublin dengan bangga menyebutkan bahwa kota mereka adalah rumah bagi beragam lembaga kebudayaan, termasuk Perpustakaan Nasional, Galeri Nasional, Teater Nasional, Musium Penulis Dublin. Kota tersebut benar-benar berusaha membuat warga dunia yang berkunjung bisa meresapi warisan sastra mereka. Untuk memacu gairah kepenulisan di Dublin, dewan kota mengambil kebijakan peghapuskan pajak bagi karya-karya penulis yang terbit, memberikan beasiswa, lembaga semisal dewan kesenian memberikan anuitas (pembayaran tetap) selama lima tahun bagi penulis mereka yang ingin terus melakukan riset dalam berkarya. Media cetak dan komisi penyiaran mereka aktif dalam mempromosikan kehidupan sastra dan budaya mereka.
Universitas Dublin selaku institusi pendidikan negeri ikut amenyemarakkan penerbitan-penerbitan buku, mengkoneksikan antara pelaku dan lembaga budaya di segala tingkat, melakukan riset terhadap perkembangan sastra-seni-dan budaya kontemporer, dan dengan itu mereka memunculkan citraan kuat sebagai kota sastra dunia. Satu hal lain yang dibanggakan Dublin, tiga jembatan dibangun di atas sungai yang membentang di kota tersebut mereka terakan nama tiga sastrawan tersohor dunia kelahiran atau diaspora Dublin: Jembatan James Joyce , Jembatan Sean O’Casey, dan Jembatan Samuel Beckett.
Saya memang tidak berniat membandingkan. Tapi sebagai strategi untuk memacu agar penduduk, pemangku, serta dewan kota agar peduli terhadap keberlanjutan kota melalui misi kebudayaan: kota yang mempunyai tujuan. Tapi setiap berkeliling kota saya terus dibuat lelah dan terus pula saya usahan mengobatinya dengan menuliskan tentang Padang dalam berbagai cara.

Dari beragam kelalahan dalam memandang wajah kota terkadang saya sempat merasa janga-jangan saya menjadi bagian dalam manusia dengan ketaksadaran kolektif. Dalam istilah psikoanalis Carl Gustav Jung, ketaksadaran kolektif serupa ‘alam yang dimiliki bersama’ (shared unconscious realm) oleh manusia di bumi. Saya bagian dari akumulasi-akumulasi dari tematik kota yang terus disiarkan dan dipoles atas dasar pembangunan, untuk menjadin kota maju, terkemuka, dan meraih beragam penghargaan. Dengan begitu saya personal dari kolektif yang meluputkan timbunan-tumbunan sejarah kota. Memahfumi bahwa kota adalah apa terlihat kini dengan wujud instagramable. Saya bagian dari ruang kolektif yang segera terkesima melihat salah satu sudut kota tampak menarik dalam potret persegi, memberi love, lalu esoknya mendatangi sudut tersebut. Saya menjadi turut abai pada penel parkir digital yang dipasang entah berapa banyak tapi tidak pernah digunakan. Saya abai, bahwa bisa jadi ratusan juta atau mungkin milyaran uang pembelian panel parkir digital tersebut merupakan akumulasi dari pajak dan retribusi ini-itu yang saya bayarkan tiap hari. Saya abai bahwa plang besar seharga milyaran rupiah dibangun hanya sekedar untuk mempersolek kota. Padahal milyaran teersebut dapat digunakan untuk merevitalisasi dan meempertegas kesejarahan kota.

Memandang kota, tiap kali saya merasa jerih, tiap kali itu pula saya mencari obatnya. Saya terus membangun kota dari dalam pikiran untuk kemudian saya tuliskan dalam berbagai bentuk. Begitulah tiap saya merasa dibuat sakit memandang kota yang tidak pernah pudar saya cintai. Terkadang saya merasa harus mencari banyak kawan untuk memikirkan bagaimana kota menjadi benar-benar ideal bagi penghuninya, bagi orang-orang datang, atau sekedar singgah. Sebuah konsep beranjak dari literatur kesusastraan, historis-kultural, dan tidak ketinggalan dengan teknologi dan jejaring sosial yang sudah mendarah-daging bagi orang-orang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s