SUBURBIA DAN KEGAGALAN MEMBACA TUBUH TRADISI

“Tubuh tradisi harus dipulangkan pada asalnya. Apa manfaat mengadakan pertunjukan dengan kerangka tradisi di ekosistem urban bagi pemilik kerangka tubuh tradisi itu sendiri?” Pernyataan sekaligus pertanyaan itu, meskipun tidak persis benar, diungkapkan seorang pelaku teater pada seorang direktur festival di ruang komentar media sosial. Saya menyimak, dan hanya bisa menyimak, perdebatan mereka yang berangkat dari dua perspektif.

Pertama, perspektif si pelaku teater sekaligus aktor merasa bahwa tubuh keaktoran atau garapan pertunjukannya harus dipulangkan pada ruang di mana tubuh berawal. Karena ia menganggap sebagian besar seni pertunjukan durhaka, mengambil tubuh tradisi, mengekplorasi, membungkus melalui modus pertunjukan kontemporer, lalu mempertontonkan di hadapan manusia urban yang hanya menganggap pertunjukan sebagai sarana untuk menghilangkan kesuntukan belaka. Kedua, perspektif si direktur pertunjukan, menganggap perihal tersebut wajar adanya karena proses garapan terkadang menjadi situasional. Tubuh tradisi yang sudah melewati proses kodifikasi melalui serangkaian term kontemporer juga akan dapat membingungkan pemilik asal tubuh tradisi tersebut.

Penjabaran dari dua perspektif di atas hanya sebagian dari persoalan lain dalam perdebatan antara pelaku teater dan direktur festival tersebut. Beberapa kemungkinan lain kemudian juga turut muncul. Ada anggapan bahwa upaya pengembalian tubuh tradisi hanya alasan bagi pelaku teater karena eksplorasi terhadap tubuh tradisi tersebut tidak memberikan kebaruan dalam pergerakan seni pertunjukan kontemporer. Dalam artian, tubuh tradisi hanya menjadi pakaian agar dapat dianggap mempunyai basis tradisi, padahal gagal belaka. Sementara si pelaku teater menganggap kemurtadan bin kedurhakaan pelaku seni kontemporer adalah apa yang diambil dari tubuh tradisi tidak memberikan kemanfaatan pada masyarakat tradisi.

Saya malah berpikir, perdebatan tersebut hanyalah parafrase, untuk tidak menyebut bahwa pelaku teater dan direktur festival yang sedang berdebat tidak menemukan titik temu dari persoalan bagaimana memperlakukan tubuh tradisi dalam seni kontemporer—atau malah tidak pernah mancari. Sebaliknya, soal bagaimana memberikan proses pemaknaan kodifikasi kontemporer pada masyarakat tradisi. Bisa jadi pelaku teater itu sendiri merasa garapan (dari tubuh tradisi) ternyata sejauh ini hanya menampakkan kesia-siaan, tidak dapat dimaknai oleh penonton urban, hanya berupa modifikasi dari tubuh tradisi belaka. Apakah eksplorasi tubuh tradisi mutlak musti dipulangkan pada masyarakat tradisi? Atau malahan hasil eksplorasi tersebut jika dipulangkan hanya akan mendatangkan kekecewaan bagi masyarakat tradisi alih-alih mereka akan bertepuk tangan kegirangan karena menggarap ‘yang tradisi’ dalam kerangka kontemporer?

Bersembunyi di suburbia
Dari perdebatan tersbut saya jadi berpikir-pikir, bahwa sebenarnya seni, pelaku seni, berumah di suburbia—boleh jadi peerumpamaan atau suburnia dalam artian sbenarnya. Suburbia dijadikan benteng pertahanan agar ia dapat bermain aman pada proses garapannya. Ia dan garapannya akan tetap dianggap manusia urban dengan membungkus diri melalui pakaian kontemporer. Ia juga bisa menjawab bahwa tubuhnya mempunyai akar wilayah rural (tradisi). Gagal atau berhasil sebuah garapan ia akan tetap bisa mengelak, beralih secara penuh ke wilayah urban jika berhasil, atau malahan seoalah-olah menampakkan muka iba pada rural.

Tapi bagaimana kehendak manusia tradisi, apakah benar mereka menginginkan tubuh tradisi dalam wacana kontemporer akan memberikan pengayaan pada mereka? Jangan-jangan mereka tidak menginkan itu? Saya berupaya mengembalikan pertanyaan ini pada diri saya seendiri. Melihat kembali ke belakang, ketika saya sekolah dasar hingga sekolah menengah akhir di kampung, dan menjalani aktifitas apa yang kini dalam wacana seni kontemporer dapat dihidangkan di atas panggung urban.

Saya teringat ketika memegang lampu petromaks mengiringi prosesi manjalang—hal ini kereap saya lakukan. Sebuah prosesi mengunjungi rumah bako (ayah) bagi mempelai yang baru selesai melewati prosesi baralek (pesta perkawinan). Prosesi ini merupakan akhir dari sebuah rangkaian yang panjang dari prosesi baralek dan tak main-main digarap oleh dua keluarga, kaum, karib-kerabat, ninik-mamak, dan orang-orang di kampung. Mereka bisa habis-habisan mengeluarkan uang pencarian bertahun-tahun di perantauan untuk rangkain prosesi tersebeeut.

Banyak rangkain prosesi melelahkan untuk sampai pada tahapan manjalang tersebut. Dan hanya sebagai seorang tukang membawa lampu petromaks, untuk menerangi perjalanan rombongan pengiring mempelai yang sebagian besar adalah ibu-ibu, sudah alangkah girangnya hati saya. Saya merasa tubuh saya ikut menjadi bagian dari tradisi manjalang tersebut. Turut merasa bahwa dengan membawa lampu petromaks, saya adalah penting dalam penuntasan peristiwa tersebut.

Kian ke sini saya kian sadar, tubuh saya hampir setiap saat menjalani proses seni di ruang tradisi saya ketika di kampung. Baralek dan rangkaian prosesinya lainnya itu hanya sebagian dari sekian banyak peristiwa dalam sudut pandang seni kontemprer yang saya alami dari hari ke hari. “Uuaaaaa… uuaaaaa… uuaaaaa…,” jerit saya di sawah ketika menghalau burung sambil menguncang-guncang kaleng susu diisi batu kerikil. “Uuuuuu… hooiiihhh…” suara saya menggaung di ceruk ladang menyaru orang-orang dan dibalas dengan nada serupa oleh mereka yang mendengarkan.

Peristiwa tersebut hanya sebagian dari seekian banyak peristiwa tradisi selain silek, randai, dan tradisi oral yang turut saya ikuti. Meski tidak sebagai pelaku tapi sebagai penonton pun saya merasa ikut terlibat sebagai kesatuan tubuh tradisi. Bukankan penonton dalam laku tradisi menempati posisi penting, selain sekedar menikmati? Ia dapat merespon, sebab ruang dalam laku seni tradisi menjadi tak terhingga. Ia dapat juga mengubah suasana dan laju peertunjukan melalui berbagai respon selaku penonton. Tubuh-tubuh seperti ini barangkali sampai hari ini terus dijalani oleh masyarakat tradisi tanpa harus menyebutnya sebagai sebuah pertunjukan seni. Mereka menjalani dari hari ke hari.

Tapi ketika kegagalan pelaku seni kontemporer dalam menggarap tubuh tradisi, lalu beralasan harus mengembalikan tubuh tradisi, dengan cara mempertontonkannya pada masyarakat tradisi saya pikir malah memunculkan egoisme seniman itu sendiri. Alih-alih peduli pada akar tradisi yang ia garap tapi malah mendiadakan laku seni yang dijalani setiap masyarakat tradisi setiap hari. Ya, saya pikir pelaku seni kontemporer kerap menganggap pelaku seni tradisi bertahan pada wilayah rural adalah kemandegan. Maka dengan berumah di wilayah suburbia ia dapat meembentengi diri atas kegagalan ekplorasi bentuk dan wacana tradisi. Ia dapat dengan cepat menyebut diri berakar pada tradisi dan ia dengan cepat pula mengubah pakaiannya dengan baju kontemporer ketika melangkah ke wilayah urban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s