PAMERAN KHAZANAH MINANGKABAU DALAM MANUSKRIP DAN KARYA INTELEKTUAL: PENGUATAN DATA SENI DAN BUDAYA

IMG_6752

Barang-barang milik sastrawan A.A. Navis (koleksi keluarga A.A. Navis)

Tidak mudah melakukan pendataan kembali, apalagi mengumpulkan, buku-buku para penulis dari Sumatera Barat atau penelitian yang berkaitan dengan basis kultural Minangkabau. Mulai dari buku karya sastra, penelitian sejarah dan budaya, memoar, hingga biografi dan autobiografi tersebar kian-kemari dan tidak ada satu lembaga yang mempunyai data lengkap atau mengoleksi buku-buku tersebut. Tidak hanya itu, makalah-makalah diskusi atau seminar seni dan budaya berikut dengan catatan penting dari diskusi atau seminar yang pernah diadakan di Sumatera Barat sulit untuk diakses kembali.

Kita tidak perlu mundur terlalu jauh beberapa dekade untuk membuktikan ketiadaan itu semua, misalnya, adakah yang mendokumentasikan kegiatan diskusi seni dan budaya 10 tahun belakangan mulai dari foto, video, atau makalah dari kegiatan tersebut? Berapa kali kegiatan pertunjukan seni (teater, tari, pameran lukisan) yang diadakan 10 tahun belakangan dan adakah yang melakukan pencatatan? Atau, berapa buku karya sastra yang diterbitkan penulis dari Sumatera Barat atau bertemakan kultur Minangkabau dalam 10 tahun belakangan dan adakah satu lembaga pemberintahan terkait atau komunitas yang mempunyai data dan mengoleksi buku-buku tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul jauh hari dalam diskusi dan perbicangan dengan rekan-rekan di Ruang Kerja Budaya. Bersama Sudarmoko, Dosen Fakultas Ilmu Budaya, yang masih sedang meneliti mengenai infrastruktur kesenian di Sumatera Barat mulai dari karya hingga distribusi wacana, dari beberapa tahun lalu kami mulai melakukan kerja-kerja kolektif semisal “pemetaan” dan mulai melakukan kerja pendataan arsip dan dokumentasi yang dimiliki oleh penulis-penulis di Sumatera Barat. Kerja-kerja kolektif tersebut mula mengantarkan saya dan rekan-rekan di Ruang Kerja Budaya untuk “memimpikan” adanya basis data yang kuat terkait dengan persoalan seni dan budaya Sumatera Barat mulai dari tahun 1900-an hingga sekarang.

Rekan-rekan di Ruang Kerja Budaya mulai mendata lagi beberapa penulis dan seniman di beberapa tempat untuk melihat dokumentasi-dokumentasi yang mereka koleksi secara pribadi. Mulai dari penyair Rusli Marzuki Saria yang pada waktu itu sempat juga dipotret khusus untuk kepentingan buku Parewa Sastra Sumatera Barat sebagai “kado budaya” dalam rangka 80 tahun penyair gaek tersebut. Buku yang diterbitkan Ruang Kerja Budaya tersebut merupakan catatan, ulasan, atau pandangan mengenai perpuisian Rusli Marzuki Saria. Kami sempat juga bertandang ke rumah Akhyar Sikumbang, perupa sekaligus dosen di Jurusan Seni Rupa FBS Universitas Negeri Padang beberapa tahun sebelum beliau meninggal (18 Febuari 2018). Akhyar yang juga merupakan komikus pencipta karakter tokoh “Tan Baro” di Harian Singgalang tersebut menyimpan banyak sekali dokumen mengenai seni rupa. Beberapa di antaranya sempat digandakan untuk dikoleksi oleh Ruang Kerja Budaya.

Selain menyambangi kediaman dari dua seniman tersebut, rekan-rekan dari Ruang Kerja Budaya juga sempat mengunjungi beberapa seniman lain. Terakhir, sebelum pameran Khazanah Pengetahuan Minangkabau dalam Manuskrip dan Karya Intelektual kami sempat mengunjungi kediaman keluarga alm. A.A. Navis. Di sana juga tersimpan ribuan dokumentasi sastrawan dari Sumatera Barat tersebut. Dokumentasi tersebut berupa klipingan koran, buku-buku, pamflet dan booklet acara, disket tulisan, dan beberapa barang yang terkait dengan proses kepenulisan A.A. Navis.

Dari Pameran ke Penguatan Data
Pameran Khazanah Pengetahuan Minangkabau, 1 – 5 Oktober 2018, di Minangkabau Corner, Universitas Andalas, merupakan jalan pembuka untuk niat dari rekan-rekan di Ruang Kerja Budaya yang sudah lama direncanakan. Pameran tersebut merupakan salah satu mata kegiatan Silek Arts Festival, program Indonesiana 2018 di Sumatera Barat, yang dilaksanakan oleh Direktorat Kebudayaan Kemdikbud yang bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Pameran yang menampilkan foto ilustrasi manuskrip dan karya intelektual, buku-buku karya para penulis dari Sumatera Barat, dokumentasi sejumlah sastrawan, dan sejumlah barang yang berkaitan dengan dunia kepenulisan tersebut merupakan pilot project bagi kami untuk melompat pada kerja-kerja berikutnya.

Proses kerja pameran tersebut tidak berlangsung singkat dan mudah. Sudarmoko, sekaligus salah seorang kurator dalam Silek Arts Festival merumuskan kembali konsep pameran yang sudah lama kami ancang-ancang untuk diselenggarakan. Saya sendiri bersama beberapa dosen di FIB Unand diminta untuk menyeleksi beberapa karya untuk ditampilkan dalam pameran tersebut. Saya khusus menyeleksi buku-buku sastra yang ditulis oleh pengarang dari Sumatera Barat atau basis kultural Minangkabau. Tak banyak memang pada pameran tersebut sampul buku sastra yang dapat saya seleksi. Terhitung 30 sampul buku dari 26 penulis, tiga buku di antaranya dari penulis yang sama, dan satu merupakan antologi puisi bersama. Konsep penghadiran sampul buku ini pun adalah guna memberikan informasi pada pengunjung, baik itu penikmat karya sastra dan peneliti, mengenai buku-buku yang barangkali luput dari pembacaan mereka.

Sampul-sampul buku yang hadir dari periode 1920 hingga sekarang merupakan representasi dari kerja intelektual dari pengarang yang berasal dari Sumatera Barat atau basis kultural Minangkabau. Meskipun berbagai kendala terdapat dapam proses pencarian dan penyeleksian buku-buku tersebut dari awal proses sampai ke penghadirannya ke ruang pameran, tapi hal tersebut merupakan sebuah upaya untuk memberikan “cermin” pada masyarakat penyuka karya sastra, bahwa banyak fenomena yang dapat dimaknai dari sebuah buku sastra. Dari sampul-sampul buku tersebut kami juga hendak merefleksikan bahwa kerja inteketual dari penulisan hingga penghadiran buku dilakukan secara bersama dan melewati proses yang tidak main-main. Ada penulis, perupa, penerbit, hingga proses distribusi yang terdapat dalam perjalanan sebuah buku. Perihal tersebut yang ingin kami hadapkan pada pengunjung.

Selain itu, khazanah dunia penerbitan dan percetakan di Sumatera Barat juga menjadi tumpuan bagi kami. Banyak penerbit-penerbit yang pernah menghadirkan karya-karya terbaik tapi Sumatera Barat sendiri tidak mempunyai arsip atau data (semacam katalog) dari penerbit-penerbit tersebut. Baik itu terbitan berupa koran, majalah, buletin, hingga penerbit buku (sastra, agama, dan buku sekolah) yang merupakan data sejarah dan bukti pemikiran penting yang seharusnya dimiliki oleh Sumatera Barat. Persoalan terpenting yang sering mengganggu adalah ketika para peneliti harus ke luar negeri untuk mendapatkan data-data yang seharusnya dimiliki oleh daerah itu sendiri. Atau data-data tersebut dikoleksi olek pribadi-pribadi yang tidak dapat diakses secara luas.

Dari konsep awal ini rekan-rekan di Ruang Kerja Budaya punya harapan besar untuk membuat semacam katalog dokumen-dokumen yang dikoleksi oleh sastrawan, seniman, budayawan, dan intelektual di Sumatera Barat. Guna untuk mempermudah para penelitia mengakses dan mencari tahu mengenai data-data yang ingin mereka teliti.

Pameran Khazanah Pengetahuan Minangkabau dalam Manuskrip dan Karya Intelektual tersebut juga menghadirkan benda-benda koleksi dari beberapa penulis. Memang belum banyak yang dapat dihadirkan dalam pameran karena berbagai kendala mulai dari akses, risiko penghadiran, dan ruang pameran yang belum memadai. Namun dari usaha penghadiran tersebut kita dapat melakukan advokasi pada keluarga-keluarga seniman, sastrawan, dan budayawan yang mempunyai dokumentasi dan koleksi untuk melakukan pendataan dan memuka ruang untuk melakukan penelitian.

Salah satu koleksi yang sempat kami lihat dan hadirkan saat pameran, koleksi A.A. Navis misalnya, masih banyak terdapat di rumah keluarga maestro pengarang dari Sumatera Barat tersebut dokumen-dokumen penting yang dengan rapi dikoleksi. Navis dengan baik mengkliping tulisan-tulisan dan menyusun berdasarkan tema dan penulis. Belum lagi buku-buku dan catatan-catatan penting yang terseimpan dan belum sempat terdata dengan baik. Begitu juga dengan koleksi Sarifuddin Arifin, dokumen-dokumen berupa makalah seminar seni dan budaya dari periode 1980-an hingga tahun 2000-an tersimpan dan dibawa pada saat pameran. Saya juga menghadirkan koleksi berupa buku-buku terbitan N.V. Nusantara yang pernah berpusat di Bukittinggi. Karya-karya dari penerbit tersebut juga merupakan bukti bahwa penerbitan buku bacaan satra berkualitas pernah bergairah dan meriah di Sumatera Barat

Banyak lagi koleksi-koleksi dokumen di Sumatera Barat yang belum sempat terdata dan diselamatkan dengan baik. Padahal dokumen tersebut merupakan kekayaan intektual dan data yang kaya sekali untuk dijadikan rujukan dalam melihat distribusi wacana kebudayaan di Sumatera Barat dari satu dekade ke dekade selanjunya. Kerja pendataan, pemuatan katalog, dan digitalisasi merupakan proses yang panjang. Tapi setidaknya dari pameran Khazanah Pengetahuan Minangkabau dalam Manuskrip dan Karya Inteketual tersebut penyelenggara berharap muncul kedasaran baru untuk melakukan kerja bersama dalam proses tersebut. ***

 

Catatan ini pernah disiarkan di halaman Cagak, Padang Ekspres, Minggu, 7 Oktober 2018

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s