SURFIVAL, DOMINASI RANTAU DALAM GARAPAN FILM

PANJAGO KAMPUANG - POSTER 1.0Bagaimana, saya selaku penonton ‘aktif’, memperlakukan film dalam tahapan kuratorial? Pertanyaan ini menjadi persoalan yang terus saya kembalikan pada diri sendiri ketika hendak menghadapi film-film hasil seleksi awal dari penyelenggara Sumbar Film Festival (Surfival) berdasarkan sarat ketentuan yang sudah mereka terakan pada formulir pendaftaran. Laku kuratorial tentu tidak saja hanya sekadar ‘memilah’, menata, atau menentukan hasil para kreator, melainkan juga melakukan pembacaan wacana bahkan mencari benang merah isu-isu apa saja yang berkembang dalam sebuah karya.


Saya berusaha masuk dalam situasi ‘kosong’ pada tahapan pertama menonton. Dengan harapan pada tahapan awal ini saya dapat melihat sekilas bagaimana narasi dari film-film dihadirkan para kreator membentuk sebuah jalinan pengisahan atau struktur penceritaan. Tahapan ini penting bagi saya, karena basis produksi karya seni sudah tentu, menanggung beban narasi utama yang menjadi elemen penting untuk menjalankan kesatuan ‘tubuh’ dalam karya. Dari tahapan ini saya mengabaikan sebagian besar pengetahuan saya tentang ke-Minangkabau-an supaya khadiran kritik personal tidak datang lebih dulu. Saya memosisikan diri saya sebagai orang awam terhadap kebudayaan Minangkabau yang saya tahu sudah pasti akan menjadi titik tolak, atau titik pijak, dari para kreator. Dari tahapan ini saya mendapat gambaran utuh untuk kemudian saya bawa pada tahapan kedua.

Pada tahapan selanjutnya itu saya membawa kembali pengetahuan saya mengenai Minangkabau. Pengalaman personal dan referensi bacaan mulai saya hadapkan pada narasi dalam film-film. Saya memutar kembali film-film dengan melakukan pembacaan kritis, bagaimana narasi dalam film tersebut dipilih oleh para kreator, dan dianggap penting untuk dihadirkan visualnya dalam bentuk fiksi berangkat dari kondisi masyarakat dari wacana yang mereka garap.

Dari pembacaan pertama saya mendapat dua wacana besar yang digarap oleh para kreator. Pertama persoalan tarikan rantau-kampung dan kedua persoalan pariwisata. Dari narasi ini saya mulai mempertanyakan, adakah wacana ini kehadirannya hanya sekedar pelengkap atau sekadar bentuk-bentuk artifisial, atau kreator benar-benar ingin masuk ke dalam kondisi wacana yang sedang mereka garap? Saya mendapati kedua-duanya, baik itu yang artifisial, dan kehendak untuk menggarap dan masuk ke ‘darah-daging’ wacana yang sedang dihadirkan. Persoalan rantau ini juga seebenarnya menjadi masalah bagi diri saya sendiri ketika menghadapi hampir sebagian film mengangkat wacana rantau. Saya bertanya-tanya pada diri sendiri, dari sekian tema disodorkan oleh panitia, kenapa tema rantau yang hampir keseluruhan mendominasi? Adakan ini menjadi semacam trend atau malahan memang ‘ke-Minangkabau-an’ itu dalam pikiran para kreator sudah identik dengan perantauan?

Tarikan antara kampung dan rantau memang menjadi wacana seksi bagi hampir seluruh kalangan seniman dari basis kebudayaan Minangkabau. Masyarakat di luar kebudayaan Minangkabau sendiri setidaknya juga mengetahui bahwa rantau seakan menjadi keterwakilan bagi gambaran Minangkabau. Tapi dalam sebagian besar film-film yang saya tonton saya malah melihat bagaimana situasi rantau, atau proses merantau, sangat artifial sekali. Situasi perantauan selalu dihadapkan pada upaya untuk merubah nasib, ‘mambangkik batang tarandam’, lari dari situasi kemiskinan di kampung, harapan-harapan untuk mengumpul pundi-pundi keuangan di rantau untuk kemudian dibawa ke kampung. Ada persoalan menarik lain sebenarnya belum teregadap penuh mengenai rantau. Taufik Abdullah dalam School and Politics : The Kaum Muda Movement in West Sumatera (1927-1933) membahasakan bahwa rantau bertindak sebagai alat memudahkan ketegangan yang muncul dari ketidakcocokan antara konsepsi Minangkabau tentang hubungan antara individu dan masyarakat, pada satu sisi, dan tuntutan struktur sosial matrilinealnya, pada sisi lainnya.

 

Rantau bukan hanya sebuah pintu gerbang untuk bisa memasuki alam tapi juga satu gerbang melalui mana orang-orang yang tidak puas di Masyarakat alam bisa mendapatkan jalan keluar. Perspektif dalam pandangan Abdullah tersebut yang sebenarnya tidak banyak digarap orang-orang mengenai rantau. Ada ketegangan sosial selain hanya persoalan tuntutan material yang membawa orang-orang berpikiran untuk berangkat ke rantau. Dan sialnya, hampir secara keseluruhan film-film populer yang berbicara mengenai Minangkabau, baik itu ditulis dari naskah yang baru atau reproduksi dari naskah-naskah dari karya sastra yang sudah ada, semua berkaitan dengan rantau. Barangkali efek ini pula yang memberikan perspektif bagi para pekerja film lain yang ingin menggarap mengenai Minangkabau. Bahwa sisi perantau musti terus dibawa jika berbicara mengenai kontan Minangkabau.

Dari salah satu film dalam Survifal saya sebenarnya melihat bagaimana wacana mengenai ketegangan sosial ini mulai dimainkan di dalam narasi film. Bagaimana mitos dari dua buah kampung yang membuat dua anak nagari tersebut tidak dapat menikah dan rantau adalah jalan untuk menghindari atau memberontak dari mitos tersebut. Wacana ini memungkinkan untuk melihat fenomena lain dari proses rantau dan sangat menarik karena tidak banyak yang menggarap mengai mitos-mitos dalam perspektif kekinian.

Harapan untuk dapat melihat bagaimana referensi mengenai Minangkabau yang lain tentu saja muncul di kepala saya ketika menonton. Minangkabau yang tidak selalu dalam perspektif kolonial dimulai dengan gambaran alam molek dan bunyi-bunyi tradisi untuk membawa pentonton menghadapi Minangkabau. Adakah sesuatu yang lain selain itu untuk membawa penonton masuk ke alam Minangkabau selain saluang, gonjong rumah gadang, air terjun lembah anai, jam gadang, dst.?

Pada tahapan ini saya mengatakan bahwa beberapa film yang saya tonton terjebak dalam narasi artifial yang terus mengulang-ulang wacana yang sudah ada tanpa merekonstruksinya kembali. Rantau hanya dijadikan ruang sebagai peluang untuk mengubah nasib, mencari pundi-pundi uang, seebagaimana dipahami secara umum. Tapi tidak memberikan daya tawar lain, tidak ada perspektif lain tentang rautau yang dapat kita saksikan. Tentu, jika perspektif tersebut kita hadirkan, kita sudah barang tentu akan kalah dengan film-film populer yang menggarap rantau juga dalam perspektif umum.

Catatan singkat ini hanya pembacaan umum saya terhadap hampir sebagian film yang menggarap tema rantau dalam kategori umum. Di kategori pelajar saya juga menemukan wacana yang hampir seragam tentang sekolah dan perundungan yang dialami oleh para siswa. Hampir seluruh film didominasi oleh wacana perundungan ini dan dipenuhi dengan nasehat-nasehat yang menggurui penonton. Catatan ini hanya pembuka dari catatan yang akan saya tulis lengkap untuk media massa tentang wacana dan narasi yang dihadirkan film-film peserta Surfival. Saya turut berbahagia dapat menonton film-film garapan dari kawan-kawan di Sumatera Barat. Suatu pengalaman berharga bagi saya untuk melihat bagaimana para kreator terus berupaya menggarap dan mengembangan wacana mengenai Minangkabau dalam perspektif mereka. Tentu, saya secara pribadi berharap kita dapat mengembangkan wacana tersebut tidak dalam kacamata ‘orang luar’, tapi seebagai ‘orang dalam’ untuk memberikan tawaran yang lebih teerhadap penonton.

Pola kuratorial yang saya jalani dengan salah seorang kurator lain, Adi Osman, lebih terkait pada tahapan pembacaan terhadap narasi. Dari mulai membicarakan persoalan ide garapan, bagaimana ide tersebut deksekusi menjadi satu kesatuan bentuk penceritaan dengan beragam ritme yang ditawarkan. Adapun tahapan kuratorial kemudian masuk ke “bilik penjurian” yang barangkali eksekusinya berbeda lagi. Proses kuratorial bisa jadi berbeda pandangan dengan tawaran penjurian dalam melihat perspektif tersebut. Kurator tidak berhak lagi dan sudah melepaskan beban-beban perdebatan antara sesama kurator dari film-film yang mereka pilih dan semuanya diserahkan pada tahapan penjurian. Namun yang jelas, bagi saya pribadi proses Surfival dari awal sampai tahapan malam anugerah sudah menjalani sirkulasi yang baik dalam menilai karya ketika karya diterima oleh penyelenggara. Selamat untuk para pemenang. Semoga di tahun-tahun selanjutnya ada perspektif lain dan kesegaran dalam memandang Minangkabau dari kacama film pendek.

 

Catatan ini pernah disiarkan di halaman Cagak, Padang Ekspres, Minggu, 16 September 2018