IN MEMORIAM: HURIAH ADAM

Tulisan disalin (tanpa suntingan) dari Majalah Aneka Minang edisi perdana, Januari 1972. 

IMG-8924 (1)

HURIAH ADAM berpakaian Minang (Sumber: Majalah Aneka Minang)

Djarang tersua ada seorang wanita jang telah berpredikat Ibu dengan mengemban 5 orang anak jang masih bersedia untuk mentjurahkan seluruh hidupnja pada dunia kesenian. Apalagi untuk seorang wanita Minang jang langkah kewanitaannja sangat terkungkung oleh berbagai matjam “fatwa” dan “tradisi”. Maka hadirnja protitype seniwati murni sematjam Huriah Adam ini sudah terang menimbulkan pro dan kontra dikalangan masjarakat Minang sendiri.Tantangan ini telah diterimanja sedjak ia pertama kali naik ke atas pentas di beberapa kota di Sumatera Barat dan dalam menari mengangkatkan kakinja lebih tinggi dan mengangkangkan ketiak lebih lebar dari ukuran jang seharusnya menurut “adat” diperkenankan untuk dilakukan oleh seorang perempuan Minang. Tantangan itu djuga diterimanja ketika ia mentjiptakan dan mengembangkan “tugu pahlawan tak dikenal” di Bukittinggi tahun 1961, karena motif reliefnja jang “tidak dimengerti” oleh orang banyak. Tantangan jang paling pahit diterimanja ketika ia digosipkan “Lekra” pada masa Epilog Gestapu karena di zaman Orla sering mendapat kesempatan menari di hadapan menteri2 rezim Sukarno di Istana. Kemudian tantangan jang sempat dibawanja bersama mencebur ke dalam laut dan mungkin tidak akan selesai2nya untuk diperkunjahkan orang-orang jang “merasa ahli tari” di Minangkabau, bahwa ia telah merusak pola2 tari Minang karena ia memasukkan berbagai matjam gerak tari dari daerah2 lain ke dalam tari2 tjiptaannja jang diberi judul “tari Minang”.

Ja, itulah nasib jang telah diterimanja sebagai seorang wanita jang telah memilih lapangan kesenian sebagai tjita2 hidupnja. Dan sesuai dengan profesi tsb jang sampai sekarang tidak atau belum memberikan djaminan materiel kepada senimannja, maka sama dengan nasib seniman2 murni Indonesia lainnja ia tetap berkuntal kantil dalam rongrongan berbagai matjam kesulitan hidup di balik sekelumit kecemerlangan namanja sebagai penari jang mencapai reputasi nasional.

SIAPAKAH HURIAH ADAM?

IMG-8923

HURIAN dan DJUSNA RUSTAM (Sumber: Majalah Aneka Minang)

Ia dilahirkan pada tanggal 6 Oktober 1936 sebagai anak ketiga putri pertama dari seorang ulama besar jang terkenal di Sumatera Barat, jaitu Sech Adam BB di Padangpanjang. Ajahnja inilah jang pada tanggal 10 November 1929 mendirikan suatu perguruan Islam terkenal di Padangpanjang jaitu Madrasah Irsadin Naas jang di dalam mata peladjarannja memasukkan peladjaran kesenian untuk murid2nya. Dua kakaknya jaitu Bustanul Arifin Adam dan Irsjad Adam telah berhasil menamatkan peladjaran di Conservatorium Musik di Belgia. Huriah Adam sendiri dalam usia 4 tahun sudah muntjul di hadapan publik di atas pentas. Dan pada tahun 1954 telah menamatkan pendidikan jang ditempuhnja selama 3 tahun dalam soal2 tari Minang asli dari seorang guru silat dan tari jang terkenal di Luak Nan Tigo jaitu Dt. Tumangguang atau populer dengan panggilan Pakih Nandung. Lebih dari selusin djenis tari Minang asli telah dipeladjarinja dan diwarisi dari guru jang sudah hampir mentjapai usia 1 abad itu, di antaranja ialah Tari Sewah, Tari Sidjundai, Alang Bentan, Adau Adau, Pado2, Tari Adok, Tari Padang, Tari Piring, Tari Sibadindin, Galombang dll. Semua itu dikuasainja dengan baik sehingga guru tua Pakih Nandung dalam diploma jang diberikannja pada Huriah Adam memberikan catatan sbb.: “Ia telah mencapai nilai yang terbaik dari selama pengalaman saya mengajar sejak 1901-1954”.

Sungguh tidak tepat bahwa dari seorang wanita jang telah mengikuti dan menguasai seluruh tari asli Minang ini ditimpakan tuduhan bahwa ia telah merusak pola2 tari Minang asli, hanja karena ia berusaha untuk mendinamisir tempo dan gerak tari Minang jang ditjiptakannja.
Banyak orang jang mengenalnya sebagai penari tok. Tapi Huriah Adam bukanlah hanja itu. Sebagai seniwati ia mempunyai prinsip2 dan tjita2. Prinsip dan tjita2 inilah jang dipertahankannja dengan segala kesengsaraan sampai pada achir hajatnja.

MEMBINA PRIBADI

IMG-8925

HURIAH ADAM menari (Sumber: Majalah Aneka Minang)

Pada tahun 1961 ketika Tanah Air kita jang tercinta ini dilanda oleh sematjam kelatahan mentjari apa jang disebut “Kepribadian Nasional”, Huriah Adam telah menjusun suatu konsep sepandjang 28 folio tik rapat jang diberinja judul MEMBINA PRIBADI. Konsep ini pernah dikirimnja kepada alm. Sukarno Presiden RI ketika itu, dan karena “tadjamnya” tidak pernah sempat dipublisir.

Pada halaman pertama ia menuangkan pikirannja terutama tentang SENI dan KEPRIBADIAN NASIONAL all. Sbb.:

“…pada masa sekarang, sudah seharusnja kita dapat membedakan dengan pancaindera jang tadjam, mana yang seni dan mana pula jang seni2-an. Djuga mana jang Nasional dan mana jang nasional2-an. Tidak semua jang berupa Seni itu adalah Seni. Nasional djuga. Sebab kita acapkali tertipu oleh lakai2 atau petruk djadi pemimpin. Untuk melahirkan ksenian kita harus menghaluskan perasaan (mempertinggi dimensi) dan untuk penghalus djiwa itu adalah Seni. Djadi andaikata kita bertemu dengan hasil pekerdjaan jang berupa Seni, sedangkan hasil Seni itu dibuat2nja saja (seni2-an) arti tidak mendjelma dari djiwanja atau se-mata2 meniru (na-apen) sungguh kita tak dapat menamakan hasilnja itu “Seni”, karena seni adalah manifesta oleh perpaduan atau pertjampuran mesra antara seniman dengan alam sekelilingnja. Begitu pula seniman, pun pemimpin2. Kalau ada jang meniru2 seperti pemimpin atau seperti seniman tapi djiwanja tak bergetar melihat nasib bangsanja jang hidup dineraka ini, dan air mukanja djernih sadja sebab bathinnja tidak menangis melihat kenjataan, jaitu nasib rakjat, dan nasi jang dimakannja tidak rasa sekam, air jang diminumnja tidak rasa duri, sungguh tidak boleh kita menamakan orang jang sematjam ini pemimpin atau seniman. Karena air muka seniman/pemimpin adalah air muka bangsanja. Menderita bangsanja, maka menangislah air muka seniman/pemimpin itu. Begitulah seni, baik berupa tari, lukisan, sastera dan lain2, betul2 tak dapat diartikan hiburan/pelipur lara, hiasan ataupun permainan sebab Seni adalah Manifestasi dari pribadi. Dengan kata lain adalah perwudjudan dari sekeluruhan pergolakan lahir dan bathin kita, atau keseluruhan pikiran dan perasaan serta kemampuan EGO kita…”

MINANG INDONESIA
Kritik2 jang ditundjukkan oleh sebagian masjarakat Minang terhadap tari2 tjiptaannja, ternjata telah dihadapinja setjara sadar dan konsekwen. Dalam konsenja itu pada halaman 18 ia menulis sbb:

“….bagi Minangkabau, disetiap kampung dan desa mempunjai tari masing2, begitupun lagu2nja dan lain2. Umpama tari Adau2, pado2, tari Sewah, Tari Piring dsbnja. Semua itu kita selidiki. Research. Kita ambil djadi unsur2 pokok lalu diassimilasi dengan unsur2 daerah lain jang mungkin meninggikan mutu itu. Diolah dalam laboratorium kesenian, sampai mendjadi suatu Tari lalu dipolakan dengan tjerita2 rakjat umpama Malin Deman, Sabai nan Aluih, Tjindua Mato dll. Maka djadilah tjerita/tari Minang Indonesia. Dan disamping itu harus dipolakan dengan hasil2 pamuntjak sastra sekarang jang djiwanja mengagungkan Pahlawan Bangsa, maka demikian modernlah tari Nasional itu, tapi hubungan djiwa ibunja tidak putus (tidak kehilangan kepribadian), dan apabila dipolakan pula dengan hasil sastera dunia, akan Internasinallah nilai tari itu. Djuga djiwanja tidak putus. Tjara ini ialah pengaruh mempengaruhi untuk hidup kebudajaan kita, atau dari daerah menudju nasional dan meningkat Internasional…”

SEDERHANA & ICHLAS
Walaupun sebagai seniwati ia mempunjai prospect Nasional, bahkan Internasinal, tapi sebagai wanita Minang setjarah phisik ternjata ia takluk pada adat istiadat kampung halamannja. Ialah perempuan jang walaupun dalam kariernja sebagai penari telah membawanja melawat keluar negeri, namun dalam kehidupan se-hari2 sebagai Wanita Minang selalu membungkus tubuhnja rapat2 dengan badju kurung dan menutup rambutnja dengan selendang.

Sederhana dan ichlas itulah tjermin pribadinja jang sebenarnja. Kerendahan hati itu tercermin dalam tjara ia memilih nama2 jang diberikan pada anak2 jang dilahirkannja, jaitu: MOHAMMAD ICHLAS, MURNIATI, MOHAMAD DJUDJUR, RELAHATI DAN SUTJIATI.

IMG-8921

HURIAH dan SUKMAWATI (Sumber: Majalah Aneka Minang)

WHAT NEXT?
Nasib jang dialami oleh Huriah Adam. Sama dengan nasib seniman2 besar lainnja. Ia baru dibitjarakan dan dihargai orang setelah wafat. Hampir semua koran dan madjalah telah memuat berita tentang dirinja sebagai salah satu korban diantara 69 penumpang pesawat MNA jang lenjap dilaut Padang tgl 10 Nopember 1971. Taman Ismail Marzuki mengabadikan namanja untuk bengkel tari di kompleks Kesenian Ibukota tsb. Jajasan Pembina Pembangunan Sumatera Barat dibwah pimpinan Ibu N. Adam Malik membuka sematjam bea siswa “Huriah Adam” jang diberikan setjara tetap tiap tahun kepada puteri2 Minang jang berbakat dan ingin meneruskan pendidikannja dibidang Seni Tari.

IMG-8929

“Tabek Patah” lukisan cat minyak karya HURIAH ADAM (Sumber: Majalah Aneka Minang)

Semua itu memang lajak untuk diterimanja sebagai seorang puteri Minang jang hampir sepandjang hidupnja jang singkat mengabdikan diri pada dunia kesenian. Memang benar sebagai apa jang dikatakan Bustanul Arifin Adam kakak Huriah jang tertua: “Hilangja seorang seniman, tidak dapat digantikan dengan lowongan suatu djabatan. Kita hanja dapat menantikan lahirnja seorang seniman baru, dengan karakter dan kwalitas jang belum tentu sama…”

Kenjataan ini hendaknja memberikan pengertian baru kepada pemimpin urang awak dikampung bahwa seniman adalah djuga sesuatu professi jang patut untuk dihargai dan dikembangkan, sehingga seniman seniwati kita tidak mendjadi latah untuk meninggalkan kampung halaman, besar dinegeri orang, tetapi tersia-sia dikampung halaman sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s