HENDAK KE KANDANGPADATI (5): “SERASA DI BIBIR TEPI CAWAN…”

Di Kandangpadati, saya (tentu juga para penghuni lain) saling mengetahui “pariuk bareh” hingga “suduik dapur” masing-masing. Semua saling membantu dalam susah dalam senang. Setidaknya itu yang saya rasakan. Tentu juga soal cinta, tapi perihal satu ini, biarlah kami simpan dalam-dalam, bakal bahan tertawaan saat duduk beramai-ramai. Bercerita tentang orang-orang Kandangpadati tidak akan asik secara linear. Ingatan datang tidak dengan cara begitu juga. Ingatan datang melompat-lompat. Tenggelam dan mengapung tidak diduga.

Atas kebahagiaan saya untuk terbitnya buku puisi “Badrul Mustafa, Badrul Mustafa, Badrul Mustafa” karya Heru Joni Putra, kali ini saya akan bercerita bagaimana perkenalan saya dengan dia. Entah bagaimana pula saya bisa sekamar dengan dia di Kandangpadati, mungkin 3-4 tahun lamanya. Seingat saya, kami berkenalan di Komunitas Seni Intro (Payokumbuh) tahun 2016. Ia masih SMP dan kamis sedang sama-sama gemar menulis puisi. Selanjutnya kami juga sama-sama peserta bengkel penulisan kreatif yang diadakan Dewan Kesenian Sumatera Barat di Kayutanam, tahun yang sama.

Heru datang ke Kandangpadati saat ia Bimbingan Belajar di Padang tahun 2009. Ia di terima di Jurusan Sastra Inggris, barangkali ia beruntung di antara mahasiswa lain, kenal dengan senior, aman ketika Ospek—seingat saya ia lebih sering dikenakan hukuman main gitar. Ia tinggal setelahnya di Kandangpadati hingga selesai S1.

Heru barangkali salah seorang rekan yang kenal dekat dengan saya. Ia tahu “pariuk bareh” dan “sudut dapur saya” sampai ke kerak-keraknya. Saya sekamar dengannya dulu karena ia suka beres-beres kamar. Sebelum dengannya, saya sekamar dengan Andika yang kelak saya beri gelar Bajak Laut. Ya, kamar kami seperti kapal pecah sebelum Heru datang memberes-bereskan kain saya, menumpuknya dalam karung, mengantarnya ke binatu.

Kerap kali, setiap Heru datang dari kampung, ia membawakan kami pepaya. Pepaya yang barangkali sampai hari ini ia tidak tahu pernah menjadi bagian dari puisi saya dalam seri “Oslan dan Lagu Palinggam”. Pepaya berukuran besar yang saya ibaratkan… (maaf tidak saya lanjutkan). Seseklai ibunya datang ke Kandangpadati. Saya terharu, ibunya memasukkan kain saya ke dalam baskom besar lalu mencucinya. Barangkali ibunya mengira kain kotor itu semua milik Heru. Saya dulu memang suka sembarangan saja meletakkan kain kotor—sampai hari ini memang. Heru biasa membersihkan. Hingga beberapa tahun sesudahnya saya juga menemukan kamar Heru di Kandangpadati seperti kapal pecah. Saya menertawakannya.

Saya tahu, Heru dulu paling susah menghapal alamat. Dia pernah tersesat berbutar-putar di sekitaran Pondong, Padang—bangkali sesudah dari Taman Budaya. Tapi hari ini ia tidak tersesat lagi di belantara Jakarta. Soal ke Jakarta, Heru pernah saya beri petua saat transit untuk mengikuti kegiatan temu sastrawan di Ternate? Bagian ini tidak saya lanjutkan dan saya ingin tertawa.

Soal kelaparan, ah, sudahlah. Satu ingatan tentang masa-masa kami benar-benar kesusahan makan adalah ketika Romi Zarman membohongi kampi kami. Heru selalu menertawakan saya mengenai cerita yang satu ini. Suatu kali, mungkin 2010 atau 2011, Heru mengikuti lomba esai (mudah-mudahan saya tidak salah ingat) di Taman Budaya dan Romi Zarman mengatakan Heru adalah pemenang. Di kepala saya sudah terbayang akan meminjam uang sebesar 200-300 ribu pada Heru. Kami berbahagia karena kabar dari Romi itu. Saya dan Heru buru-buru ke Taman Budaya untuk menanyakan kabar dan mengambil hadiah. Vespa dengan minyak seadanya, cukup untuk bolak-balik dari Kandangpadati ke Taman Budaya. Ternyata harapan kami pupus sampai di Taman Budaya. Sudah “terasa di bibir tepi cawan”, sudah serasa akan makan enak, ternyata kami dibohongi Romi Zarman. Heru tidak menjadi pemenang dalam lomba itu.

HENDAK KE KANDANGPADATI (4): “PUISI MENCUCI PIRING, MENYAPU RUANGAN, DAN BERSOLEK DI DEPAN CERMIN”

Pamflet ini saya potret tahun 2015 dan masih tertempel di dinding Kandangpadati sampai hari ini.

Sekira bulan Agustus 2007, Pinto Anugrah mengabarkan pada bahwa Beni Sumarna sudah menemukan rumah kontrakan murah di sekitar Jalan Tunggang. Saya tertarik untuk ikut patungan membayar sewa rumah tersebut, 5 juta rupiah selama satu tahun. Waktu itu sudah tujuh orang sepakat akan ikut patungan: Beni (Sastra Indonesia, 2003), Rama (adik Beni—belum kuliah), Pinto Anugrah (Sastra Indonesia Unand, 2003), Andri Andha Saputra (Sastra Indonesia, 2006), Eka Satiawan (Pertanian, 2005), Delvi Yandra (Hukum, 2005). Setelah kami perhitungkan benar, sewa tersebut benar-benar murah, dan Beni membayar uang muka. Rumah dengan lima kamar, empat kamar disewakan dan satunya dijadikan gudang. Kami berjanji akan menyicil sisanya pada pemilik rumah—saya dan kawan-kawan sampai hari ini tentu masih akan berterima kasih pada kebaikan Uni Hafiza dan alm. suaminya.

Baca lebih lanjut

HENDAK KE KANDANGPADATI (3): “MAKAN GRATIS, POLEMIK MANTAP, DAN WAKIL GUBERNUR YANG MENANGIS”

Ada tradisi mengucapkan “selamat” ketika tulisan disiarkan di koran, di masa awal saya kuliah di Jurusan Sastra Indonesia Unand. Ucapan selamat berbarengan dengan cemooh “penyair minggu ini”, “cerpenis minggu ini”, “esais minggu ini”. Halaman budaya Padang Eskpres adalah capaian utama ketika dua tahun awal saya berkuliah. Setahun menembus halaman puisi, satu setengah tahun menembus halaman resensi dan esai. Tiga koran di Padang menjadi incaran mahasiswa yang menulis: Padang Ekspres, Singgalang, dan Haluan. Padang Ekspres honornya memang agak lebih memadai dulu dibanding dua koran lain. Siasat demi siasat dijalani termasuk ketika mengirimkan puisi ke Haluan dan bagaimana supaya mendapat honor lebih besar.

Baca lebih lanjut

HENDAK KE KANDANGPADATI (2): “BAGAIMANA KALIAN KENAL DENGAN PINTO?”

Saya tidak tahu pada siapa orang tua saya meminjam uang waktu itu. Dua setengah juta rupiah saya bawa ke Padang untuk mendaftar ulang. Untuk penginapan, saya tidak perlu berpikir banyak karena rekan sekampung saya bersedia menampung untuk beberapa bulan ke depan sampai saya mampu untuk menyewa kamar sendiri. Hampir dua bulan saya tinggal di belakang kampus Teknik UBH di Jalan Gajah Mada. Tiga kali berganti kendaraan umum sampai ke kampus. Saya masih sanggup membayar ongkos sampai harga BBM pada waktu itu naik. Sial benar.

Baca lebih lanjut

HENDAK KE KANDANGPADATI (1): “KEHENDAK MERANTAU DAN HASRAT UNTUK PULANG”

Dari pada catatan mengenai saya hingga sampai ke Kandangpadati ini tercecer. Ada baiknya saya bagikan. Saya mulai bercerita dari rantau, kampus, sampai Kandangpadati. Banyak nama barangkali akan luput. Sebagaimana ingatan tidak pernah dapat diraih semuanya.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa rantau akan menyelamatkan diri dari hari buruk dan kesunyian kampung. Pikiran untuk kuliah harus saya buang jauh-jauh setelah tamat sekolah di salah satu SMA negeri Kota Solok tahun 2003 (saya dikeluarkan dari SMA 1 X Koto Singkarak). Saya pernah menempuh ujian masuk Jurusan Arsitektur di salah satu kampus swasta di Padang. Lulus ujian tapi tidak mendaftar ulang setelah mendengar jumlah uang yang harus saya keluarkan untuk biaya masuk. Saya memang sengaja tidak mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri di tahun itu. Tidak ikut bimbingan belajar seperti kebanyakan rekan-rekan seangkatan saya. Karena kondisi keuangan pada saat itu benar-benar tidak memungkinkan.

Baca lebih lanjut