SUBURBIA DAN KEGAGALAN MEMBACA TUBUH TRADISI

“Tubuh tradisi harus dipulangkan pada asalnya. Apa manfaat mengadakan pertunjukan dengan kerangka tradisi di ekosistem urban bagi pemilik kerangka tubuh tradisi itu sendiri?” Pernyataan sekaligus pertanyaan itu, meskipun tidak persis benar, diungkapkan seorang pelaku teater pada seorang direktur festival di ruang komentar media sosial. Saya menyimak, dan hanya bisa menyimak, perdebatan mereka yang berangkat dari dua perspektif.

Baca lebih lanjut

KOTA PUITIK, KOTA DARI DALAM PIKIRAN

padang_javasche-bank-en-wh-greve-memorial

Monumen De Greve, di depan Museum BI kini (di kaki jembatan Siti Nurbaya)

Di mata saya, Kota Padang selalu puitik, tapi pikiran saya juga terus dibikin lelah memandang beberapa ruang kota tersebut. Saya gemar berjalan di antara reruntuhan loji-loji tua di mana kopi dan segala rempah rempah kiriman dari dataran tinggi Minangkabau pernah dihimpun sebelum dinaikkan ke kapal-kapal dagang di Bandar Muaro Padang. Dalam sebuah catatan sejarah, di tahun 1790, sebanyak 2.000 pikul kopi pernah dinaikan ke kapal-kapal dagang. Terdengar fantastis memang, tapi di loji-loji mana kopi tersebut disimpan sebelum dinaikkan ke kapal? Saya hanya dapat mengela napas.

Baca lebih lanjut

PAGI GIPSI

Di atas timbunan Tašlihan
kau tepuk rebana
kau dendangkan Djelem Djelem.

Pagi dengan dingin tertahan
angin lamban membentur dinding batu lama
memutar debu sisa berabad pembakaran tulang kuda.

Tapi di atas timbunan Tašlihan
kecuali pelancong dengan rambut tertabur bau rakija
mulut berisi baklava dan terkagum pada pandai bejana
tak ada lagi rombongan karavan tiba.

Djelem Djelem terus kau dendangkan
tepuk rebana dari kulit domba mengimbau masa lampau
mengimbau hantu legiun hitam penggorok kabilah berdarah harimau
mengimbau segala derau, biar ngendap dalam perasan daging anggur
biar lesap bersama asap dari bumbung dapur.

Dan pagi
gipsi,
jalanan
niscaya memberi,
dendang
membikinnya lapang.

 

Sarajevo, Agustus 2018

SARAJEVO, 23 TAHUN PASCA PENGEPUNGAN

IMG_3154 - Copy

Salah satu jalan di Sarajevo

Dua jam menaiki pesawat dari Ataturk Airport (Istanbul, Turki) ke Sarajevo International Airport membuat mata saya kelimpanan. Pukul 19.20 waktu Istambul, kota itu masih terang ketika pesawat lepas landas dan Sarajevo juga masih belum gelap betul ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat, pukul 20.20 waktu Sarajevo. Waktu Sarajevo mundur satu jam dari Istanbul dan lima jam dari waktu di Padang (WIB). Jauh hari sebelum melaksanakan program residensi penulis Indonesia dari Komite Buku Indonesia (KBN) yang bekerjasama dengan Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, saya sudah memasang aplikasi perpedaan waktu dunia, termasuk prediksi cuaca, dan saya mengetahui matahari baru akan tenggelam penuh pukul 21.00 waktu Sarajevo.

 

Baca lebih lanjut

ENJOY SARAJEVO!

IMG_3336

Vijecnica/Sarajevo City Hall

Di Sarajevo, lonceng gereja berdentang-dentang beberapa kali dalam satu jam, lantunan suara azan terdengar mengalun dari menara-menara masjid setiap waktu salat akan masuk. Musim panas seakan tidak berarti apa-apa bagi kota yang pernah mengalami masa pengepungan terlama dalam sejarah dunia modern dunia–pengepungan selama 1.414 hari dari tahun 1992 sampai 1995. Hujan turun tidak menentu. Suhu bergerak antara 12 C sampai 28 C. Musim panas seperti bukan benar-benar musim panas di Sarajevo.

Baca lebih lanjut