BERBEDA JALAN MENUJU REVOLUSI [SEBUAH PERTUNJUKAN TEATER]

Narasi empat tahun masa Revolusi Nasional Indonesia (1945 – 1949) ditarik kembali dalam pertunjukan teater berjudul Jejak Tak Bertoreh di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, Jumat malam lalu (18/8). Pidato heroik Bung Tomo pada 10 November 1945 di Surabaya diperdengarkan pada penonton berbarengan dengan penayangan gambaran pertempuran masa itu. Penghadiran tersebut barangkali untuk mengapungkan kembali memori kolektif penonton, sebagai pengantar suasana pertunjukan, atau malahan untuk menguji sejauh mana penonton mengetaui mengenai revolusi Indonesia.

Pertunjukan Jejak Tak Bertoreh yang disutradarai Reza Astika (naskah Edi Suisno)—dalam rangka Ujian Akhir Penciptaan Seni Teater Pascasarjana ISI Padangpanjang—sepertinya memang tak hendak berleha-leha menghadapkan gambaran perjuangan revolusi fisik pada penonton. Namun lebih pada dinamika pemikiran The Founding Fathers Indonesia dalam masa revolusi. Pada pementasan tersebut Tan Malaka disebut-sebut oleh para pelakon, ia hadir secara ideologis, tapi absen sebagai sosok. [….]

 

Tulisan ini dimuat di Koran Padang Ekspres, 27 Agustus 2017

Sila unduh versi pdf: BERBEDA JALAN MENUJU REVOLUSI

 

Iklan

KATA MATA: SEBUAH PEMBACAAN AWAL

POSTER KATA MATA

Tulisan berikut merupakan makalah saya dalam diskusi buku Ibnu Wahyudi, 4 Desember 2017, di Gedung I FIB Universitas Indonesia, Pukul 10.00-12.00 WIB. Agenda ini merupakan rangkaian Dies Natalis FIB UI ke-77. Saya diminta untuk membicarakan buku puisi berjudul Kata Mata (2017). Dr. Fachry Ali membicarakan buku Jejak Jarak (2017) dan Dr. Eva Latifah membahas buku puisi Dalam Pesona Sinjo (2017).

Sila diunduh versi pdf.:

KATA MATA, PEMBACAAN AWAL oleh Esha Tegar Putra

PUISI DAN GAIRAH SEBUAH KOTA

Catatan ini dibuat untuk agenda diskusi Octofest 2017, 23 Oktober 2017, di Mataram, Lombok. Berangkat dari tawaran Kiki Sulistyo untuk membicarakan hubungan puisi dan proses penulisan puisi dengan kota. Saya memulai dari persentuhan saya dengan Padang. Melanjukan dengan contoh beberapa puisi dan peristwa puisi yang ditulia oleh beberapa penyair tentang kota. Tulisan ini hanya pembacaan awal untuk kemudian akan dilanjutkan kembali pembicaraannya di Padang dengan riset yang diupayakan lebih lengkap. Banyak karya-karya tentang kota di Indonesia yang tidak dapat saya runut dalam makalah ini. Mudah-mudahan mendapat pemakluman dari pembaca sekalian. Salam hangat.

Sila unduh pdf:

PUISI DAN GAIRAH SEBUAH KOTA