PAGI GIPSI

Di atas timbunan Tašlihan
kau tepuk rebana
kau dendangkan Djelem Djelem.

Pagi dengan dingin tertahan
angin lamban membentur dinding batu lama
memutar debu sisa berabad pembakaran tulang kuda.

Tapi di atas timbunan Tašlihan
kecuali pelancong dengan rambut tertabur bau rakija
mulut berisi baklava dan terkagum pada pandai bejana
tak ada lagi rombongan karavan tiba.

Djelem Djelem terus kau dendangkan
tepuk rebana dari kulit domba mengimbau masa lampau
mengimbau hantu legiun hitam penggorok kabilah berdarah harimau
mengimbau segala derau, biar ngendap dalam perasan daging anggur
biar lesap bersama asap dari bumbung dapur.

Dan pagi
gipsi,
jalanan
niscaya memberi,
dendang
membikinnya lapang.

 

Sarajevo, Agustus 2018

ENJOY SARAJEVO!

IMG_3336

Vijecnica/Sarajevo City Hall

Di Sarajevo, lonceng gereja berdentang-dentang beberapa kali dalam satu jam, lantunan suara azan terdengar mengalun dari menara-menara masjid setiap waktu salat akan masuk. Musim panas seakan tidak berarti apa-apa bagi kota yang pernah mengalami masa pengepungan terlama dalam sejarah dunia modern dunia–pengepungan selama 1.414 hari dari tahun 1992 sampai 1995. Hujan turun tidak menentu. Suhu bergerak antara 12 C sampai 28 C. Musim panas seperti bukan benar-benar musim panas di Sarajevo.

Baca lebih lanjut

FORUM PENYAIR MUDA: SEBENTUK EMBRIO

Tulisan ini merupakan catatan saya setelah mengikuti Temu Penyair Empat kota di Yogyakarta, 2006.

“Kawanku yang baik, terima kasih untuk pemberianmu, sebuah antologi puisi berjudul Herbarium yang kau kirimkan kepadaku beberapa jam lalu. Ah, sudah terlalu lama aku tak mencermati perkembangan puisi dengan baik; mataku seakan kian rabun saja terhadap munculnya generasi-generasi baru kepenyairan kita.” Begitulah ucapan dari Muhammad Al-fayyadl ketika membacakan makalahnya yang berjudul “Kitab Murung Sendu: Surat Imajiner (kepada) Seorang Pembaca” pada pembukaan acara forum penyair muda 4 kota di Taman Budaya Jogja. Seketika itu Taman Budaya Jogja tengah didatangi oleh puluhan “penyair muda” yang terdiri dari 4 kota; Jogja, Denpasar, Bandung dan Padang (Sum-bar), dan para penggiat sastra dari berbagai daerah lain yang menyaksikan peluncuran dan bedah buku antologi puisi 4 kota (Herbarium).

Baca lebih lanjut

PERKARA LAMA YANG TAK PERNAH SELESAI (“MEMBACA” SAJAK PERKARA LAMA GUNAWAN MARYANTO)

Tulisan ini merupakan periode awal saya belajar menulis puisi dan artikel, tahun 2007. Tidak disunting dan dihadirkan sebagaimana versi awlanya.

Bau tubuhmu yang tak bersalin kembali dibawa angin
Mengganggu dengan kenyataan lain
:malam, kaki gunung, gitar dan lagu-lagu, Oalah, sepatah cinta tanpa sepatu, dulu (perkara lama; fragmen satu)

Baca lebih lanjut

MENGAJAK SABAI

Kembali ke arah selat, Sabai.

Sebelum kota ini membuat tumitmu

terus membentur pembatas jalan.

Kota ini akan terus menghitung dengkur

Dibuatnya kita mimpi berlari di antara kedai-kedai pakaian

menelusuri gang-gang sempit

dengan suara-suara mesin jahit terus menderu

dan akan terus ada ratap pukimak mengharu-biru itu.

Kita akan terjaga, akan terus dibuat terjaga

Dengan pandangan mata menghampang rumah-rumah tinggi

tiang-tiang tinggi, jalan-jalan membenam-meninggi.

Kita dibuat terjaga di meja makan dengan hidangan pagi

menghadapi ayam goreng potong empat

gulai ikan karang dengan insang membiru

dan bau kulit sepatu lama direbus dalam panci.

Kembali, sebelum mambang belang lima

penunggang hantu kuda jantan tak bermoncong

dan tak berpinggang itu tiba dari masa lalu

merampas selimut tidur hingga pakaian dalammu

merebut buku tata cara membuat kerang saus padang

dengan sampul bergambar pisau

dan sendok goreng menyilang, kesukaanmu itu.

Ke arah selat, Sabai

mari ke ruang di mana tidur

tidak dihitung dari berapa kali kita mendengkur.

Depok, 2017

Dimuat di Koran Kompas, 7 April 2018

UBAI

Ubai adalah keluh prostat dan ambeien

gerungan lapar pada subuh

dengan suara rebusan akar batu

gelegak labu kuning dan jantung pisang

lenguh pangkal paha tersiram air panas

ketuntang panci dan kaleng roti jatuh ke lantai.

Di halaman, rumput akan terus meninggi, Ubai

daun rambutan akan tetap saja rurut

ada batang-batang pisang dengan umbi busuk tak terselamatkan

dahan-dahan jambu air patah dihempas angin gadang

kelapa tua jatuh menggelinding ke balik pagar apartemen.

Di sini, hari baik dan hari buruk terus bersabung

nasib serupa pertikaian bahasa pagar dengan palang panjang itu:

“terkurung

tak hendak kita di luar

terbebas

tak hendak kita di dalam”.

Ubai serupa alarm Mahali berdering dua jam sekali

hasrat untuk terus mematikan lampu laman saat subuh tiba

kehendak memautkan tali seekor anak anjing

ke pangkal pohon paling jauh

dan keinginan untuk menyembuhkan udara kota

dari demam berkepanjangan.

Depok, 2017

Dimuat di Koran Kompas, 7 April 2018