N.V. NUSANTARA DAN KATALOG BUKU PERTAMA

Untitled

Kehadiran penerbit N.V. Nusantara sepertinya memang melanjutkan tradisi penyebaran ilmu pengetahuan sebagaimana dijalankan penerbitan-penerbitan sebelumnya yang berada di Bukittinggi. Corak buku-buku terbitan dari N.V. Nusantara hampir sama dengan penerbit Penjiaran Ilmoe yang juga berbasis di Bukittinggi. Sebagaimana dibahas Sudarmoko (2008, hlm.32-33), bahwa penerbit tersebut menerbitkan sejumlah buku yang berkaitan dengan buku-buku sekolah, keahlian dan keterampilan, ilmu pengetahuan, organisasi (pergerakan), agama, dan karya fiksi. Jika ditilik dari hubungan pendanaan, maka besar kemungkinan antara penerbit Penjiaran Ilmoe dan N.V. Nusantara mempunyai kaitan erat meskipun dalam penghadiran konten dua penerbit ini memiliki ciri khas masing-masing dalam menghadirkan buku-buku. Penjiaran Ilmoe berdiri sebelum masa kemerdekaan dan telah melewati masa Revolusi Nasional Indonesia, mendahului N.V. Nusantara lebih dari satu dekade, agaknya juga membuat penerbit sesudahnya itu belajar banyak terkait dengan industri penerbitan.
Sosok pendiri dua penerbitan tersebut juga saling berhubungan, Penjiaran Ilmoe didirikan oleh Sjamsoeddin Datoek Pamoentjak yang pernah menjabat sebagai wakil direktur Bank Nasional selama tujuh tahun (1934-1941) dan menjabat sebagai direktur selama enam tahun (1947-1953). Sedangkan N.V. Nusantara didirikan oleh Anwar Sutan Saidi yang juga merupakan salah seorang pendiri Bank Nasional dan salah seorang berpengaruh dalam pembangunan di Bukittinggi pada periode tersebut. Kaitan dua penerbitan ini terutama dalam hal bantuan pendanaan di mana Bank Nasional turut berusaha untuk mengembangkan cabang usaha di dalam jaringannya sbeagaimana keberhasilan N.V. Inkorba. Besar kemungkinan N.V. Nusantara, meskipun dalam kapasitas berbeda, merupakan cabang usaha yang turut didorong secara keuangan oleh Bank Nasional setelah kemunduruan penerbitan Penjiaran Ilmoe akibat meninggalnya Sjamsoeddin Datoek Pamoentjak pada 24 September 1953.
Menurut Sudarmoko (2008, hlm.42) kaitan antara Bank Nasional dan Penerbit Penjiaran Ilmoe dapat dijelaskan dari salah satu buku terbitan penerbit tersebut karya M. Hatta berjudul Mentjari Volkenbound dari Abad ke Abad (1939). Pengantar dalam buku tersebut mengindikasikan bahwa Anwar Sutan Saidi memberikan bantuan usaha penerbitan buku Hatta. Begitu juga dengan penerbit N.V. Nusantara, meskipun belum ada data pendukung tentang bantuan dana dari Bank Nasional, tapi dari periode awal hingga akhir usaha penerbit tersebut menempati bagian dari gedung N.V. Inkorba yang merupakan cabang usaha dari Bank Nasional. Hal tersebut terlihat jelas dari katalog (daftar buku) pertama diterbitkan N.V. Nusantara pada bulan Agutus tahun 1953 di mana pada bagian sampul dan bagian dalam katalog menampakkan kantor percetakan dan penerbit berada pada posisi di bawah N.V. Inkorba di Jalan Tembok, 32-34, Bukittinggi.
Katalog terbitan 1953 tersebut juga memungkinkan pada tahun tersebut N.V. Nusantara dikukuhkan sebagai penerbit dan disiarkan pada masyarakat luas. Meskipun beberapa tahun sebelumnya percetakan tersebut sudah beroperasi tetapi belum resmi berstatus penerbitan. Hal tersebut terlihat dari (1947) buku Thesis karya Tan Malaka yang pada sampul berlakang tertulis: Pertjetakan “Noesantara” Boekittinggi, Mai 1947. Jika melihat tahun terbitan awal buku-buku sekolah, salah satunya buku Ilmu Alam karya A. Moeis yang ditujukan untuk siswa Sekolah Menengah Pertama, maka penerbitan N.V. Nusantara dimulai pada tahun 1952. Barulah pada tahun 1953 katalog pertama diterbitkan termasuk dengan memasukkan buku A. Moeis tersebut ke dalam daftar buku yang dijual dan disebarluaskan.
Penjelasan di dalam katalog terbitan 1953 tersebut juga kian menguatkan bahwa penerbitan N.V. Nusantara didirikan satu tahun sebelumnya. Setelah menerbitkan beberapa judul buku barulah penerbit merilis daftar terbitan mereka. Dalam katalog pertama tersebut dituliskan dua keterangan penting di bagian pembuka terkait tujuan didirikan dan kenapa nama “Nusantara” diambil. Dalam keterangan pertama dengan tajuk “Kata Pembuka” terlihat bagaimana penerbit N.V. Nusantara berusaha menyikapi persoalan-persoalan penerbitan pada periode sebelum penerbitan mereka didirikan, terkait dengan masa revolusi dan juga hubungannya dengan kondisi ekonomi, sosial, dan politik dalam masyarakat. Persoalan tersebut dijelaskan dengan detil dan secara trbuka oleh oleh direksi penerbit dalam kutipan berikut:

Tugas penerbitan semakin hari mengambil lapangan jang semakin luas, semakin dalam, dan semakin menuntut sifat “pemilih”. Memang ini terasa benar oleh Penerbitan Nasional, jang menghadapi 1001 matjam gunung2 kesulitan, dalam bergerak antara kemauan baik dan kesanggupan jang dimiliki.
Demikian djuga halnja dengan Penerbitan “Nusantara”.
Dari segi lain pula, pasang-surut jang dialami oleh Revolusi kita, dengan sendiri memberi bekas pula pada Penerbitan kita. Seegala-galanja harus disesuaikan dengan setiap perubahan jang dialami masjarakat—politik, ekonomi dan sosial—sehingga dengan sangat hati-hati kami berusaha, agar perusahaan kami djangan mengamil langkah jang terdorong-dorong ataupun terlompat-lompat, karena setiap langkah jang terdorong pasti akan disurutkan sedjarah pada tempat jang semestinja.
Demikianlah pengalaman2 telah menjuruh kami, agar berhati-hati dalam tindakan kami, dan kami pun membatasi diri kami pada hanja lingkungan buku-buku Sekolah rakjat, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas dan buku2 jang menaruh nilai pendidikan.
Tetapi meskipun demikian—dengan bekerdja membatasi diri itu—terasa djuga bagi kami, bahwa lapangan itu baru dapat kami isi dengan serba-sederhana, dan mengharapakan djuga petundjuk2 jang sehat dari masjarakat, terutama sekali dari mereka jang ahli.
Dengan setjara berangsur-angsur kami djuga bermaksud untuk menerbitkan buku dalam berbagai seri, tetapi ini juga baru dapat berupa kenjataan, djikalau tempatnja bertumpu, jaitu apa jang kami terbitkan sekarang, dapat kami laksanakan mnurut ukuran bagaimana semestinja.
Dengan mengeluarkan daftar2 buku ini, dapatlah kami lebih memperkenalkan Penerbitan kami pada masjarakat, karena kanjalah djikalau didukung oleh masjarakat, suatu penerbitan mungkin mempertahankan hak hidupnja, sebeagai suatu lapangan pembangunan jang sungguh meminta tenaga jang efficient.

Kata pembuka dalam katalog pertama N.V. Nusantara tersebut juga membuka kemungkinan bahwa penerbitan mereka pada periode awal sudah menentukan dan membatasi wilayah mana yang akan mereka garap dalam dunia penerbitan nasional yang masih dirundung dalam berbagai masalah. Sifat keterebukaan juga diperlihatkan oleh direksi penerbit, mengingat mereka baru dalam dunia penerbitan, dan tidak menutup kemungkinan untuk dikritisi dan diberi masukan oleh para ahli. Mengingat, penerbitan tersebut mengkhususkan penerbitan buku-buku bacaan sekolah. Niat serta cita-cita penerbit untuk menerbitkan buku-buku berbagai seri, sebagaimana ditulis dalam kata pembuka, akan terlihat kemudian hari setelah mereka menerbitkan beberapa buku seri sastra dalam “Seri Denai” sebagai seri pamungkas mereka dalam industri penerbitan nasional pada periode itu.
Selain menjelaskan tujuan penerbit N.V. Nusantara didirikan dan batasan yang diambil dalam penerbitan mereka, di dalam katalog pihak penerbit juga menjelaskan kenapa nama “Nusantara” digunakan. Nama tersebut agaknya semakin menjelaskan tujuan mereka dalam dunia penerbitan untuk menjadi jembatan bagi pendistribusian ilmu pengetahuan ke seluruh pelosok Indonesia. Penerbit N.V. Nusantara dengan buku-buku terbitan mereka terlihat seakan berusaha menjadi jembatan pengetahuan untuk menghubungkan negara kepulauan Indonesia. Hal tersebut tampak jelas dengan dengan terang dituliskan dalam kutipan berikut:

APA SEBAB NAMA NUSANTARA?

Tampak oleh kami, Indonesia jang terdiri dari beratus-ratus pulau-pulau besar-ketjil itu, NUSA-ANTARA.
Timbul pertanjaan pada kami, apakah jang terutama sekali jang harus mengeratkan perhubungan antara pulau-pulang jang ratusan djumlahnja itu?
Salah satu antaranja pastilah ilmu pengetahuan, dan ini dapat ditjapai dengan perantara buku-buku jang berfaedah, jang sebelum itu harus pula “selesai” diurus Penerbitan dan Pengarang.
Dalam hubungan inilah kami membenarkan tindakan kami membenarkan tindakan kami untuk memilih nama
“NUSANTARA”

Penerbit

SURFIVAL, DOMINASI RANTAU DALAM GARAPAN FILM

PANJAGO KAMPUANG - POSTER 1.0Bagaimana, saya selaku penonton ‘aktif’, memperlakukan film dalam tahapan kuratorial? Pertanyaan ini menjadi persoalan yang terus saya kembalikan pada diri sendiri ketika hendak menghadapi film-film hasil seleksi awal dari penyelenggara Sumbar Film Festival (Surfival) berdasarkan sarat ketentuan yang sudah mereka terakan pada formulir pendaftaran. Laku kuratorial tentu tidak saja hanya sekadar ‘memilah’, menata, atau menentukan hasil para kreator, melainkan juga melakukan pembacaan wacana bahkan mencari benang merah isu-isu apa saja yang berkembang dalam sebuah karya.

Baca lebih lanjut

PAMERAN KHAZANAH MINANGKABAU DALAM MANUSKRIP DAN KARYA INTELEKTUAL: PENGUATAN DATA SENI DAN BUDAYA

IMG_6752

Barang-barang milik sastrawan A.A. Navis (koleksi keluarga A.A. Navis)

Tidak mudah melakukan pendataan kembali, apalagi mengumpulkan, buku-buku para penulis dari Sumatera Barat atau penelitian yang berkaitan dengan basis kultural Minangkabau. Mulai dari buku karya sastra, penelitian sejarah dan budaya, memoar, hingga biografi dan autobiografi tersebar kian-kemari dan tidak ada satu lembaga yang mempunyai data lengkap atau mengoleksi buku-buku tersebut. Tidak hanya itu, makalah-makalah diskusi atau seminar seni dan budaya berikut dengan catatan penting dari diskusi atau seminar yang pernah diadakan di Sumatera Barat sulit untuk diakses kembali.

Baca lebih lanjut

SUBURBIA DAN KEGAGALAN MEMBACA TUBUH TRADISI

“Tubuh tradisi harus dipulangkan pada asalnya. Apa manfaat mengadakan pertunjukan dengan kerangka tradisi di ekosistem urban bagi pemilik kerangka tubuh tradisi itu sendiri?” Pernyataan sekaligus pertanyaan itu, meskipun tidak persis benar, diungkapkan seorang pelaku teater pada seorang direktur festival di ruang komentar media sosial. Saya menyimak, dan hanya bisa menyimak, perdebatan mereka yang berangkat dari dua perspektif.

Baca lebih lanjut

KOTA PUITIK, KOTA DARI DALAM PIKIRAN

padang_javasche-bank-en-wh-greve-memorial

Monumen De Greve, di depan Museum BI kini (di kaki jembatan Siti Nurbaya)

Di mata saya, Kota Padang selalu puitik, tapi pikiran saya juga terus dibikin lelah memandang beberapa ruang kota tersebut. Saya gemar berjalan di antara reruntuhan loji-loji tua di mana kopi dan segala rempah rempah kiriman dari dataran tinggi Minangkabau pernah dihimpun sebelum dinaikkan ke kapal-kapal dagang di Bandar Muaro Padang. Dalam sebuah catatan sejarah, di tahun 1790, sebanyak 2.000 pikul kopi pernah dinaikan ke kapal-kapal dagang. Terdengar fantastis memang, tapi di loji-loji mana kopi tersebut disimpan sebelum dinaikkan ke kapal? Saya hanya dapat mengela napas.

Baca lebih lanjut

FORUM PENYAIR MUDA: SEBENTUK EMBRIO

Tulisan ini merupakan catatan saya setelah mengikuti Temu Penyair Empat kota di Yogyakarta, 2006.

“Kawanku yang baik, terima kasih untuk pemberianmu, sebuah antologi puisi berjudul Herbarium yang kau kirimkan kepadaku beberapa jam lalu. Ah, sudah terlalu lama aku tak mencermati perkembangan puisi dengan baik; mataku seakan kian rabun saja terhadap munculnya generasi-generasi baru kepenyairan kita.” Begitulah ucapan dari Muhammad Al-fayyadl ketika membacakan makalahnya yang berjudul “Kitab Murung Sendu: Surat Imajiner (kepada) Seorang Pembaca” pada pembukaan acara forum penyair muda 4 kota di Taman Budaya Jogja. Seketika itu Taman Budaya Jogja tengah didatangi oleh puluhan “penyair muda” yang terdiri dari 4 kota; Jogja, Denpasar, Bandung dan Padang (Sum-bar), dan para penggiat sastra dari berbagai daerah lain yang menyaksikan peluncuran dan bedah buku antologi puisi 4 kota (Herbarium).

Baca lebih lanjut