SUBURBIA DAN KEGAGALAN MEMBACA TUBUH TRADISI

“Tubuh tradisi harus dipulangkan pada asalnya. Apa manfaat mengadakan pertunjukan dengan kerangka tradisi di ekosistem urban bagi pemilik kerangka tubuh tradisi itu sendiri?” Pernyataan sekaligus pertanyaan itu, meskipun tidak persis benar, diungkapkan seorang pelaku teater pada seorang direktur festival di ruang komentar media sosial. Saya menyimak, dan hanya bisa menyimak, perdebatan mereka yang berangkat dari dua perspektif.

Baca lebih lanjut

KOTA PUITIK, KOTA DARI DALAM PIKIRAN

padang_javasche-bank-en-wh-greve-memorial

Monumen De Greve, di depan Museum BI kini (di kaki jembatan Siti Nurbaya)

Di mata saya, Kota Padang selalu puitik, tapi pikiran saya juga terus dibikin lelah memandang beberapa ruang kota tersebut. Saya gemar berjalan di antara reruntuhan loji-loji tua di mana kopi dan segala rempah rempah kiriman dari dataran tinggi Minangkabau pernah dihimpun sebelum dinaikkan ke kapal-kapal dagang di Bandar Muaro Padang. Dalam sebuah catatan sejarah, di tahun 1790, sebanyak 2.000 pikul kopi pernah dinaikan ke kapal-kapal dagang. Terdengar fantastis memang, tapi di loji-loji mana kopi tersebut disimpan sebelum dinaikkan ke kapal? Saya hanya dapat mengela napas.

Baca lebih lanjut

FORUM PENYAIR MUDA: SEBENTUK EMBRIO

Tulisan ini merupakan catatan saya setelah mengikuti Temu Penyair Empat kota di Yogyakarta, 2006.

“Kawanku yang baik, terima kasih untuk pemberianmu, sebuah antologi puisi berjudul Herbarium yang kau kirimkan kepadaku beberapa jam lalu. Ah, sudah terlalu lama aku tak mencermati perkembangan puisi dengan baik; mataku seakan kian rabun saja terhadap munculnya generasi-generasi baru kepenyairan kita.” Begitulah ucapan dari Muhammad Al-fayyadl ketika membacakan makalahnya yang berjudul “Kitab Murung Sendu: Surat Imajiner (kepada) Seorang Pembaca” pada pembukaan acara forum penyair muda 4 kota di Taman Budaya Jogja. Seketika itu Taman Budaya Jogja tengah didatangi oleh puluhan “penyair muda” yang terdiri dari 4 kota; Jogja, Denpasar, Bandung dan Padang (Sum-bar), dan para penggiat sastra dari berbagai daerah lain yang menyaksikan peluncuran dan bedah buku antologi puisi 4 kota (Herbarium).

Baca lebih lanjut

PERKARA LAMA YANG TAK PERNAH SELESAI (“MEMBACA” SAJAK PERKARA LAMA GUNAWAN MARYANTO)

Tulisan ini merupakan periode awal saya belajar menulis puisi dan artikel, tahun 2007. Tidak disunting dan dihadirkan sebagaimana versi awlanya.

Bau tubuhmu yang tak bersalin kembali dibawa angin
Mengganggu dengan kenyataan lain
:malam, kaki gunung, gitar dan lagu-lagu, Oalah, sepatah cinta tanpa sepatu, dulu (perkara lama; fragmen satu)

Baca lebih lanjut

N.V. NUSANTARA DAN TRADISI INTELEKTUAL SUMATERA BARAT

pertjobaan setiaLembaga penerbitan di daerah dalam historiografi Indonesia berperan penting dan berkedudukan khusus dalam perkembangan tradisi intelektual. Dorongan-dorongan lembaga penerbitan untuk menghadirkan bacaan bermutu bagi masyarakat kemudian hari berefek pada kemunculan intelektual-intelektual baru. Selain itu, lembaga penerbitan di berbagai daerah pada masa pergerakan nasional juga merupakan semangat perlawanan terhadap penerbit Balai Pustaka sebagai badan resmi penerbitan kolonial.

Baca lebih lanjut

PENGARANG SUMATERA BARAT DAN BEBAN HISTORIS

IMG_8665.JPGHistoriografi kehadiran pengarang sastra dari Sumatera Barat ke panggung nasional sejak masa pra-kemerdekaan Indonesia terkadang membuat proses generasi pengarang abai dan terjebak dalam lingkaran romantisme. Historiografi tersebut memang tidak dapat dinafikan, bahwa Sumatera Barat dengan basis kultural Minangkabau telah turut menghadirkan keberagaman wacana dalam kesusastraan di Indonesia. Sejak Commissie voor de Inlansche School en Volkslectuur (1908), selanjutnya disebut Balai Pustaka (1917), dan kemunculan karya-karya yang dianggap sebagai tonggak kesusastraan modern Indonesia, pengarang dari Sumatera Barat tidak pernah absen menghadirkan karya mereka. Regenerasi kepengarangan tersebut memang masih berlangsung sampai hari ini. Meskipun harus dilakukan pemutakhiran kajian untuk melihat pasang-surut proses regenerasi tersebut. Namun secara garis besar, dalam historiografi kesusastraan Indonesia, dari periode pra-kemerdekaan hingga pergantian dari satu rezim penguasa ke rezim penguasa lainnya di Indonesia, pengarang dari Sumatera barat dengan kekhasan karyanya selalu hadir sebagai penyeimbang dari kehadiran karya-karya pengarang lain di berbagai daerah di Indonesia. Baca lebih lanjut