PERKARA LAMA YANG TAK PERNAH SELESAI (“MEMBACA” SAJAK PERKARA LAMA GUNAWAN MARYANTO)

Tulisan ini merupakan periode awal saya belajar menulis puisi dan artikel, tahun 2007. Tidak disunting dan dihadirkan sebagaimana versi awlanya.

Bau tubuhmu yang tak bersalin kembali dibawa angin
Mengganggu dengan kenyataan lain
:malam, kaki gunung, gitar dan lagu-lagu, Oalah, sepatah cinta tanpa sepatu, dulu (perkara lama; fragmen satu)

Baca lebih lanjut

N.V. NUSANTARA DAN TRADISI INTELEKTUAL SUMATERA BARAT

pertjobaan setiaLembaga penerbitan di daerah dalam historiografi Indonesia berperan penting dan berkedudukan khusus dalam perkembangan tradisi intelektual. Dorongan-dorongan lembaga penerbitan untuk menghadirkan bacaan bermutu bagi masyarakat kemudian hari berefek pada kemunculan intelektual-intelektual baru. Selain itu, lembaga penerbitan di berbagai daerah pada masa pergerakan nasional juga merupakan semangat perlawanan terhadap penerbit Balai Pustaka sebagai badan resmi penerbitan kolonial.

Baca lebih lanjut

PENGARANG SUMATERA BARAT DAN BEBAN HISTORIS

IMG_8665.JPGHistoriografi kehadiran pengarang sastra dari Sumatera Barat ke panggung nasional sejak masa pra-kemerdekaan Indonesia terkadang membuat proses generasi pengarang abai dan terjebak dalam lingkaran romantisme. Historiografi tersebut memang tidak dapat dinafikan, bahwa Sumatera Barat dengan basis kultural Minangkabau telah turut menghadirkan keberagaman wacana dalam kesusastraan di Indonesia. Sejak Commissie voor de Inlansche School en Volkslectuur (1908), selanjutnya disebut Balai Pustaka (1917), dan kemunculan karya-karya yang dianggap sebagai tonggak kesusastraan modern Indonesia, pengarang dari Sumatera Barat tidak pernah absen menghadirkan karya mereka. Regenerasi kepengarangan tersebut memang masih berlangsung sampai hari ini. Meskipun harus dilakukan pemutakhiran kajian untuk melihat pasang-surut proses regenerasi tersebut. Namun secara garis besar, dalam historiografi kesusastraan Indonesia, dari periode pra-kemerdekaan hingga pergantian dari satu rezim penguasa ke rezim penguasa lainnya di Indonesia, pengarang dari Sumatera barat dengan kekhasan karyanya selalu hadir sebagai penyeimbang dari kehadiran karya-karya pengarang lain di berbagai daerah di Indonesia. Baca lebih lanjut

LINGKUNG SINGKARAK DALAM RETROSPEKSI

sore kelabuHampir keseluruhan fenomena sosial dalam catatan Albert Rahman Putra di buku Sore Kelabu di Selatan Singkarak (Forum Lenteng, 2018) dekat dengan saya secara personal. Saya menghabiskan masa kecil hingga dewasa di nagari Saniangbaka, bagian selatan Danau Singkarak. Saya masih bisa mengingat amis ikan Bilih yang baru dikeluarkan dari lukah, mengingat bagaimana bentuk putaran arus di muara pertemuan Batang Lembang dengan Danau Singkarak, dan merasakan manisnya limau dari Kacang yang dibawakan teman-teman saya sewaktu sekolah menengah atas di daerah Singkarak.

Baca lebih lanjut

KUPU-KUPU BANDA MUA: SEBUAH PEMBACAAN AWAL

Persoalan sosio-kultural Minangkabau agaknya tetap menjadi perhatian utama bagi pengarang dengan basis penciptaan dari Minangkabau. Dialektika antara rantau dan kampung terus menerabas batas-batas posisi geografis mereka. Tubuh boleh jadi berada pada ruang lain, tapi pikiran tetap menyentuh dusun-dusun tersuruk di pedalaman Minangkabau. Kita dapat melihat beberapa pengarang yang melalui proses penciptaan di rantau tapi tetap berusaha menggapai persoalan kampung. Di saat beberapa penulis lain menggap isu-isu seputar kosmopolitan, pluralisme, atau interaksi lintas budaya saat mereka berpindah secara georafis. Wacana mengenai dialektika Minangkabau tetap menjadi pilihan bagi penulis dengan basis penciptaan Minangkabau. Pilihan tersebut barangkali sebagai penanda bahwa dalam ruang lingkup domestik terdapat wacana kebudayaan yang belum tuntas dibahas.

Baca lebih lanjut

SASTRA, ARENA, KUASA: SURAT TERBUKA UNTUK PUBLIK SASTRA INDONESIA

Salah satu persoalan kesusastraan Indonesia hari ini adalah praktik pelemahan sistemik dari agensi-agensi sastra untuk melanggengkan ketokohan Denny JA dalam arena kesusastraan Indonesia kontemporer. Agensi-agensi kesusastraan ini bekerja merekrut penulis-penulis untuk bekerjasama membuat apa yang dianggap pembaruan dalam model perpusisian Indonesia, membayar mereka dengan iming-iming honorium besar (benarkan besar?), dan membubuhkan tanda tangan di atas klausul-klausul dalam surat perjanjian bermaterai terkait kerjasama antara kedua belah pihak sebagai bentuk legalitas formal. Permasalahan ini memunculkan kecurigaan antar pelaku kesusastraan, sesama anggota dalam komunitas kesusastraan, dan hubungan-hubungan personal sastrawan di dalam daerah (provinsi) atau antar daerah. Karena pola kerja agensi tersebut tertutup dan menyusup ke dalam komunitas-komunitas sastra di beberapa daerah.

Baca lebih lanjut