POLITIK IDENTITAS DAN AMBIVALENSI “DALAM LIPATAN KAIN”

Oleh Fariq Alfaruqi, penyair. Tulisan ini dibacakan dalam seminar Pekan Kritik Sastra 2, 15-04-2015, dalam bentuk makalah dan kemudian dimuat di harian Padang Ekspres, Minggu, 18 Maret 2015.

Politik Identitas dan ambivalensiPendirian Balai Pustaka pada tahun 1908, lembaga buatan Belanda yang memberi pemisahan antara sastra yang bermutu (menggunakan bahasa Melayu tinggi) dengan bacaan-bacaan liar (menggunakan bahasa Melayu rendah); Kemudian, Berdirinya majalah Poedjangga Baroe sebagai anak ideologis dari Balai Pustaka, yang menjadi rujukan utama dalam mengkonstruksi sejarah sastra Indonesia; Atau, Masuknya arus pemikiran baru ke Indonesia yang ramai-ramai menolak modernisme dan sebagai bagian dari usaha perlawanan terhadap praktik-praktik represif pemerintahan Orba. Adalah periode-periode penting dalam perjalanan sejarah sastra Indonesia yang tidak bisa dilepaskan dari praktik kolonialisasi Belanda selama kurang lebih 350 tahun di Nusantara

Dengan menggunakan konsep mimikri yang dikemukakan Homi K Bhaba, bisa dilihat, bagaimana berdirinya lembaga Balai Pustaka dan eksisnya majalah Poedjangga Baroe, sebagai usaha-usaha menyejajarkan bangsa Indonesia sebagai bangsa terjajah, dengan Belanda sebagai bangsa penjajah. Usaha-usaha sastrawan dan kaum intelektual Indonesia yang berada dalam ‘lokasi kebudayaan’ yang serba pasca untuk memposisikan diri keluar dari tatanan budaya lama namun dengan tetap mempertahankan identitas Indonesia; Di satu sisi ingin keluar dari kekuatan hagemonik kolonial, namun di satu sisi tetap terikat dan memang terbentuk oleh kebudayaan tersebut. Sementara untuk poin ketiga, masuknya arus pemikiran baru ke Indonesia tersebut dipengaruhi, terutama oleh teori Edward Said (Orientalism), yang membongkar hagemoni kolonial (barat) terhadap penjajah (timur) dan praktik-praktiknya dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

Maka kondisi masyarakat sastra Indonesia hari ini juga tidak terlepas dari suatu keadaan yang disebut pascakolonial. Termasuk karya-karya yang muncul belakangan, atau yang biasa disebut dengan sastra mutakhir. Ania Loomba menyatakan, secara umum pascakolonial adalah sindrom kolonial, yang bentuknya sangat beragam dan barangkali tak terelakkan bagi mereka yang dunianya telah ditandai oleh praktik kolonialisme. Konsep ini di satu pihak dapat berarti era atau zaman, di pihak lain juga dapat berarti teori. Sebagai teori, pascakolonialise dibangun atas dasar peristiwa sejarah terdahulu, dalam kasus Indonesia, berarti pengalaman pahit bangsa Indonesia selama kolonialisme Belanda.

Melalui cara pandang ini saya akan coba membaca puisi-puisi Esha Tegar Putra yang terhimpun dalam buku kumpulan puisi Dalam Lipatan Kain (Motion Publishing, 2015). Melihat bagaimana sebuah diskursus yang hierarkis oposisional dibentuk (konstruksi lembaga-lembaga model kolonial) tersebut dilanggar dalam sebuah teks sastra mutakhir. Atau malah antara yang opisisional dengan yang terpecah, yang pusat dengan yang pinggir, atau yang barat dengan yang timur, justru tumpang tindih, membentuk suatu bentuk yang ambivalen. Baca lebih lanjut

DALAM LIPATAN KAIN, TUBUH MENJADI REPRESENTASI SIMBOLIK MANUSIA (TENTANG PUISI DALAM KEABADIAN ‘YANG RIIL’)

Oleh Zulfa Nasrulloh. Makalah ini dibacakan dalam diskusi Dalam Lipatan Kain merupakan acara kedua dalam rangkaian BOM (Books on March) yang digagas Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) UPI dan digelar 23-25 Maret 2015.

Komunikasi antara saya dan Esha Tegar Putra tentu melalui sajaknya. Apakah Esha sadar tentang sajaknya akan dibaca oleh orang semisal saya atau tidak? Saya menduga Esha menyadarinya, tapi bagaimana bentuk kesadaran itu? Saya orang Sunda dengan gramatika dan konstruk budaya yang berbeda dengan orang Minang. Perbedaan ini yang membuat sajak Esha (komunikasi bahasa Indonesia yang terbelah) menuntut saya menyisipi celah retak ke-universal-annya.

Saya katakan terbelah, sebab jika bahasa adalah representasi pikiran dari segala yang seseorang tangkap dari realitas, maka jelas sajak Esha adalah diri Esha yang simbolik. Saya mengutip Lacanian Zizek tentang bagaimana “aku” yang gramatikal adalah bentuk lain dari keberlangsungan “aku” yang riil. Aku dalam sebuah tulisan, bukan lagi aku identis, melainkan aku ideologis yang berusaha menyampaikan representasi idenya.

It seems universal that every creature which cannot contain itself or draw itself together in its own fullness, draws itself outside itself, whence, e.g. the elevated miracle of the information of the world in the mouth belongs, which is a true creation of the full inside when it can no longer remain in itself (Zizek, 1996: 43)

Baca lebih lanjut

DALAM LIPATAN KAIN, DARI CERITA KE CERITA, DARI CEMAS YANG SATU KE CEMAS YANG LAIN

oleh Alvi Puspita. Ulasan ini dilmuat di harian Riau Pos, Minggu 13 Maret 2016

 

1

Ketika sebuah teks dilemparkan maka berarti ada seribu cara pembacaan bagi pembaca. Salah satunya bahwa pembacaan adalah soal kenikmatan. Seorang pembaca memiliki kebebasan untuk mencari kemungkinan-kemungkinan pemaknaan dari teks-teks yang ia baca. Teks adalah rimba sekaligus peta. Dan pembaca “menyesatkan” diri di dalamnya, melakukan pengembaraan dan perjalanan. Maka, dengan cara pandang inilah saya memasuki Dalam Lipatan Kain, buku kumpulan puisi Esha Tegar Putra (penyair kelahiran Solok Sumatera Barat) yang diterbitkan oleh Motion Publishing, Maret 2015.

Baca lebih lanjut

MEMBACA “DALAM LIPATAN KAIN”

Ulasan mengenai buku “Dalam Lipatan Kain” ini ditulis R.Abdul Aziz, mahasiswa UPI, Bandung. Anggota ASAS UPI. Diterbitkan halaman seni-budaya koran Padang Ekspres, Minggu, 12 April 2015.

Selain pengkaji, pembaca adalah orang yang tidak bisa berbuat apa-apa dengan bahasa yang diposisikannya sebagai objek, itulah pandangan Bourdieu yang menyamakan persepsinya dengan Bally. Dalam membaca kumpulan puisi terbaru Esha Tegar Putra berjudul “Dalam Lipatan Kain” terbitan Motion Publishing (2015) saya berupaya menempatkan teks sebagai objek untuk dianalisis dan harus mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan terdekat.

Meminjam ungkapan Barthes tentang ruang otonom ‘teks’ bahwa kematian pengarang telah terjadi ketika ‘teks’ itu diberi label dan diedarkan untuk dikonsumsi. ‘Aku’ yang berada di dalam ‘teks’ bukanlah aku seorang pengarang, melainkan aku ‘teks’. ‘Teks’, sebelum diberi label ‘puisi’ adalah sebuah ruang hampa yang diciptakan. Sebab ketika teks diberikan identitas, ketika itu pula ruang hampa ini seolah-olah terisi. Lalu apa yang menarik dari teks dalam buku puisi “Dalam Lipatan Kain” yang dinamai puisi oleh Esha Tegar Putra ini?

Baca lebih lanjut