SURFIVAL, DOMINASI RANTAU DALAM GARAPAN FILM

PANJAGO KAMPUANG - POSTER 1.0Bagaimana, saya selaku penonton ‘aktif’, memperlakukan film dalam tahapan kuratorial? Pertanyaan ini menjadi persoalan yang terus saya kembalikan pada diri sendiri ketika hendak menghadapi film-film hasil seleksi awal dari penyelenggara Sumbar Film Festival (Surfival) berdasarkan sarat ketentuan yang sudah mereka terakan pada formulir pendaftaran. Laku kuratorial tentu tidak saja hanya sekadar ‘memilah’, menata, atau menentukan hasil para kreator, melainkan juga melakukan pembacaan wacana bahkan mencari benang merah isu-isu apa saja yang berkembang dalam sebuah karya.

Baca lebih lanjut

PAMERAN KHAZANAH MINANGKABAU DALAM MANUSKRIP DAN KARYA INTELEKTUAL: PENGUATAN DATA SENI DAN BUDAYA

IMG_6752

Barang-barang milik sastrawan A.A. Navis (koleksi keluarga A.A. Navis)

Tidak mudah melakukan pendataan kembali, apalagi mengumpulkan, buku-buku para penulis dari Sumatera Barat atau penelitian yang berkaitan dengan basis kultural Minangkabau. Mulai dari buku karya sastra, penelitian sejarah dan budaya, memoar, hingga biografi dan autobiografi tersebar kian-kemari dan tidak ada satu lembaga yang mempunyai data lengkap atau mengoleksi buku-buku tersebut. Tidak hanya itu, makalah-makalah diskusi atau seminar seni dan budaya berikut dengan catatan penting dari diskusi atau seminar yang pernah diadakan di Sumatera Barat sulit untuk diakses kembali.

Baca lebih lanjut

N.V. NUSANTARA DAN TRADISI INTELEKTUAL SUMATERA BARAT

pertjobaan setiaLembaga penerbitan di daerah dalam historiografi Indonesia berperan penting dan berkedudukan khusus dalam perkembangan tradisi intelektual. Dorongan-dorongan lembaga penerbitan untuk menghadirkan bacaan bermutu bagi masyarakat kemudian hari berefek pada kemunculan intelektual-intelektual baru. Selain itu, lembaga penerbitan di berbagai daerah pada masa pergerakan nasional juga merupakan semangat perlawanan terhadap penerbit Balai Pustaka sebagai badan resmi penerbitan kolonial.

Baca lebih lanjut

PENGARANG SUMATERA BARAT DAN BEBAN HISTORIS

IMG_8665.JPGHistoriografi kehadiran pengarang sastra dari Sumatera Barat ke panggung nasional sejak masa pra-kemerdekaan Indonesia terkadang membuat proses generasi pengarang abai dan terjebak dalam lingkaran romantisme. Historiografi tersebut memang tidak dapat dinafikan, bahwa Sumatera Barat dengan basis kultural Minangkabau telah turut menghadirkan keberagaman wacana dalam kesusastraan di Indonesia. Sejak Commissie voor de Inlansche School en Volkslectuur (1908), selanjutnya disebut Balai Pustaka (1917), dan kemunculan karya-karya yang dianggap sebagai tonggak kesusastraan modern Indonesia, pengarang dari Sumatera Barat tidak pernah absen menghadirkan karya mereka. Regenerasi kepengarangan tersebut memang masih berlangsung sampai hari ini. Meskipun harus dilakukan pemutakhiran kajian untuk melihat pasang-surut proses regenerasi tersebut. Namun secara garis besar, dalam historiografi kesusastraan Indonesia, dari periode pra-kemerdekaan hingga pergantian dari satu rezim penguasa ke rezim penguasa lainnya di Indonesia, pengarang dari Sumatera barat dengan kekhasan karyanya selalu hadir sebagai penyeimbang dari kehadiran karya-karya pengarang lain di berbagai daerah di Indonesia. Baca lebih lanjut

LINGKUNG SINGKARAK DALAM RETROSPEKSI

sore kelabuHampir keseluruhan fenomena sosial dalam catatan Albert Rahman Putra di buku Sore Kelabu di Selatan Singkarak (Forum Lenteng, 2018) dekat dengan saya secara personal. Saya menghabiskan masa kecil hingga dewasa di nagari Saniangbaka, bagian selatan Danau Singkarak. Saya masih bisa mengingat amis ikan Bilih yang baru dikeluarkan dari lukah, mengingat bagaimana bentuk putaran arus di muara pertemuan Batang Lembang dengan Danau Singkarak, dan merasakan manisnya limau dari Kacang yang dibawakan teman-teman saya sewaktu sekolah menengah atas di daerah Singkarak.

Baca lebih lanjut