N.V. NUSANTARA DAN TRADISI INTELEKTUAL SUMATERA BARAT

pertjobaan setiaLembaga penerbitan di daerah dalam historiografi Indonesia berperan penting dan berkedudukan khusus dalam perkembangan tradisi intelektual. Dorongan-dorongan lembaga penerbitan untuk menghadirkan bacaan bermutu bagi masyarakat kemudian hari berefek pada kemunculan intelektual-intelektual baru. Selain itu, lembaga penerbitan di berbagai daerah pada masa pergerakan nasional juga merupakan semangat perlawanan terhadap penerbit Balai Pustaka sebagai badan resmi penerbitan kolonial.

Baca lebih lanjut

Iklan

PENGARANG SUMATERA BARAT DAN BEBAN HISTORIS

IMG_8665.JPGHistoriografi kehadiran pengarang sastra dari Sumatera Barat ke panggung nasional sejak masa pra-kemerdekaan Indonesia terkadang membuat proses generasi pengarang abai dan terjebak dalam lingkaran romantisme. Historiografi tersebut memang tidak dapat dinafikan, bahwa Sumatera Barat dengan basis kultural Minangkabau telah turut menghadirkan keberagaman wacana dalam kesusastraan di Indonesia. Sejak Commissie voor de Inlansche School en Volkslectuur (1908), selanjutnya disebut Balai Pustaka (1917), dan kemunculan karya-karya yang dianggap sebagai tonggak kesusastraan modern Indonesia, pengarang dari Sumatera Barat tidak pernah absen menghadirkan karya mereka. Regenerasi kepengarangan tersebut memang masih berlangsung sampai hari ini. Meskipun harus dilakukan pemutakhiran kajian untuk melihat pasang-surut proses regenerasi tersebut. Namun secara garis besar, dalam historiografi kesusastraan Indonesia, dari periode pra-kemerdekaan hingga pergantian dari satu rezim penguasa ke rezim penguasa lainnya di Indonesia, pengarang dari Sumatera barat dengan kekhasan karyanya selalu hadir sebagai penyeimbang dari kehadiran karya-karya pengarang lain di berbagai daerah di Indonesia. Baca lebih lanjut

LINGKUNG SINGKARAK DALAM RETROSPEKSI

sore kelabuHampir keseluruhan fenomena sosial dalam catatan Albert Rahman Putra di buku Sore Kelabu di Selatan Singkarak (Forum Lenteng, 2018) dekat dengan saya secara personal. Saya menghabiskan masa kecil hingga dewasa di nagari Saniangbaka, bagian selatan Danau Singkarak. Saya masih bisa mengingat amis ikan Bilih yang baru dikeluarkan dari lukah, mengingat bagaimana bentuk putaran arus di muara pertemuan Batang Lembang dengan Danau Singkarak, dan merasakan manisnya limau dari Kacang yang dibawakan teman-teman saya sewaktu sekolah menengah atas di daerah Singkarak.

Baca lebih lanjut

TENTANG PERJODOHAN DALAM PROSA: DARI MARAH RUSLI HINGGA DAMHURI

Perjodohan demi perjodohan terus dikisahkan dalam prosa (roman, novel, cerita pendek) karangan penulis yang tinggal, pernah tinggal, atau pernah bersentuhan dengan Minangkabau. Seakan perjodohan demi perjodohan adalah maklumat tragik yang patut disiarkan pada orang banyak. Kisah perjodohan demi perjodohan dalam perkembangan prosa di Indonesia memberikan warna dan kekhasan tersendiri secara tematik. Kisah tersebut seakan sudah melekat dan tersemat erat pada adat dan tradisi masyarakat Minangkabau.

Baca lebih lanjut

SOEWARDI IDRIS (1930-2004): ANTARA KARYA SASTRA DAN MORAL HISTORIOGRAFI

soewardiNasionalisme kata Benedict Anderson dalam Imagined Communities, seharusnya akan lebih mudah bila orang memperlakukannya seolah-olah ia berbagi ruangan dengan ‘kekerabatan’ dan ‘agama’, bukannya dengan ‘liberalisme’ atau ‘fasisme’. Bangsa atau nasion, lanjutnya, adalah komunitas politis dan dibayangkan sebagai suatu yang bersifat terbatas secara inheren sekaligus berkedaulatan. Tapi nasionalisme juga membawa permasalahan pokok. Bangsa yang dibayangkan sebagai sebuah komunitas, yang dipahami sebagai kesetiakawanan dan rasa persaudaraan, memungkinkan banyak orang, jutaan jumlahnya, bersedia melenyapkan nyawa orang lain, bahkan rela merenggut nyawa sendiri demi pembayangan tentang yang tak terbatas itu.

Permasalahan pokok dalam membayangkan bagaimana sebuah bangsa itu menjadi juga telah merundung masyarakat Minangkabau (Sumatera Barat). Diproklamirkannya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) oleh Ahmad Husein di Padang, 10 Februari 1958, menjadi bukti nyata bagaimana bayangan akan sebuah bangsa itu berangkat dari persoalan. Kesenjangan antara pusat dan daerah serta kecewaan-kecewaan lain terhadap pemerintahan membuat bagian dari sebuah bangsa sanggup menyatakan diri tidak lagi mempunyai ikatan. Kesenjangan tersebut ditegaskan secara metaforik dalam bait pantun Ahmad Husein saat proklamasi PRRI: Penjahit penjolok bulan/ tiba di bulan patah tiga/ Di langit hari yang hujan/ di bumi setetes tiada.

Baca lebih lanjut