BERBEDA JALAN MENUJU REVOLUSI [SEBUAH PERTUNJUKAN TEATER]

Narasi empat tahun masa Revolusi Nasional Indonesia (1945 – 1949) ditarik kembali dalam pertunjukan teater berjudul Jejak Tak Bertoreh di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, Jumat malam lalu (18/8). Pidato heroik Bung Tomo pada 10 November 1945 di Surabaya diperdengarkan pada penonton berbarengan dengan penayangan gambaran pertempuran masa itu. Penghadiran tersebut barangkali untuk mengapungkan kembali memori kolektif penonton, sebagai pengantar suasana pertunjukan, atau malahan untuk menguji sejauh mana penonton mengetaui mengenai revolusi Indonesia.

Pertunjukan Jejak Tak Bertoreh yang disutradarai Reza Astika (naskah Edi Suisno)—dalam rangka Ujian Akhir Penciptaan Seni Teater Pascasarjana ISI Padangpanjang—sepertinya memang tak hendak berleha-leha menghadapkan gambaran perjuangan revolusi fisik pada penonton. Namun lebih pada dinamika pemikiran The Founding Fathers Indonesia dalam masa revolusi. Pada pementasan tersebut Tan Malaka disebut-sebut oleh para pelakon, ia hadir secara ideologis, tapi absen sebagai sosok. [….]

 

Tulisan ini dimuat di Koran Padang Ekspres, 27 Agustus 2017

Sila unduh versi pdf: BERBEDA JALAN MENUJU REVOLUSI

 

MONOPOLIS & TUBUH PANGGUNG

DSC_2440 - ed

Pertunjukan teater Komunitas Seni Hitam Putih berjudul Monopolis (Sabtu, 25 Maret 2017) lebih terlihat seperti sebuah usaha untuk “mempertanyakan” kembali tema Helateater Komunitas Salihara 2017 mengenai teater non-verbal (teater tubuh). Apakah non-verbal hanya dimaksud untuk teater tanpa kata-kata, tanpa dialog, dan seutuhnya mengandalkan dramaturgi tubuh? Atau malahan ketika bagian dari pertunjukan tersebut tidak lagi menggunakan kata-kata dan dialog, tubuh malah hadir secara verbal?

Baca lebih lanjut

TAFSIR 500 KESUNYIAN SUN GO KONG

25584573042_7f8a0d35e4_o

Tulisan ini dimuat di lembaran budaya Cagak, Padang Eskpres, 20 Maret 2016.

Tidak ada “tadi”, tidak ada “nanti”, tapi perjalanan hidup terus merupakan perulangan. Waktu hanyalah “antara”. Peristiwa terus terjadi dalam sebuah rentang waktu “antara”. Terus berulang, tapi dalam perulang itu orang-tidak sadar apa yang sudah pernah terjadi dan terus mempertanyakan tentang kebenaran diri mereka. Dan bagaimana jika kamu hidup sendirian, mengapa tidak hidup dalam sebuah cerita yang tidak pernah berakhir?

Peristiwa itulah yang dihadirkan Ryuzanji Company (Jepang) lewat pertunjukan Kera Sakti di Teater Salihara, Jakarta, pekan lalu (11/3). Pertunjukan teater dengan sutradara Tengai Amano tersebut menafsir lagi Perjalanan ke Barat, karya sastra klasik Tiongkok, karangan Wu Cheng’en, penulis dari masa Dinasti Ming (1360-1644).

Baca lebih lanjut

“MEGA-MEGA” ARIFIN C. NOER: ANTARA MEMBIAR DAN MENGHELA WAKTU #HELATEATER

Minggu, 21 April 2015, saya menonton pertunjukan teater di Teater Salihara dengan naskah Mega-Mega karya Arifin C Noer. Pertunjukan ini dimainkan oleh Prodi Teater IKJ disutradarai Bejo Sulaktono. Setahu saya, pertunjukan ini sudah beberapa kali dimainkan Prodi Teater IKJ dengan sutradara sama (pernah di agenda Art Summit Indonesia Festival), meski saya tidak menyaksikan. Namun ini kali ketiga saya menonton pertunjukan dengan naskah sama.

Arifin C. Noer menuntaskan naskah Mega-Mega pada dekade gamang, pertengahan hingga akhir dekade 1960. Tahun-tahun dimana terjadi pergolakan besar dan mengubah arus perpolitikan Indonesia. Arifin mengangkat bagian dari momen tragik di tahun-tahun itu. Potret segerombolan orang miskin di ,lingkungan Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Di lingkungan itu mereka bertahan hidup, melangsungkan kegiatan sehari-hari, dan mengenang nasib buruk di hari lalu hingga berangan-angan tentang hari depan lebih baik. Tujuh tokoh rekaan Arifin dalam naskah tersebut adalah gambaran dari masyarakat kelas bawah dengan segala perangai, tapi kesamaan nasib membuat mereka saling paham kekurangan dan kelebihan masing-masing, paham bahwa hari depan harus dijelang.

Dan di Teater Salihara, Minggu, 21 April 2015, saya menonton Prodi Teater IKJ memainkan naskah tersebut. Tiap menonton pertunjukan ini saya selalu menunggu tokoh Ma’e  yang saya anggap sebagai pusaran mega-mega dalam lakon ini mengucapkan kalimat pamungkasnya: “Kita tidak pernah mendapatkan, tapi selalu merasa kehilangan”… (bersambung)

JALAN LURUS: DISTORSI REALITAS LEWAT KONSENSUS

Konsensus, permufakatan bersama melalui kebulatan suara, ternyata bisa mendistorsi realitas melalui permainan tanda-tanda yang melampaui (hyper-sign) hingga menyebabkan tanda-tanda tersebut kehilangan hubungan dengan realitas yang direpresentasikannya. Konsensus, yang dihasilkan melalui gagasan abstrak, ternyata bisa membentuk kesadaran diri (self-consciousness) bahkan secara komunal, padahal kesadaran tersebut hanyalah palsu.

Senyawa dusta dan kebenaran, pembauran kepalsuan dan keaslian, ternyata membungkus konsensus yang pada dasarnya merupakan fasilitas untuk memudahkan pelaksanaan agenda politik hingga menghasilkan keputusan. Konsensus telah memalsukan “tiang listrik” menjadi “batang pinang” dan sebaliknya. Konsensus telah mengaburkan batasan “perempuan” dan “laki-laki” baik secara fisik dan batin. Konsensus juga yang membuat sekelompok lelaki menyakini bisa menyamai metanarasi tujuh pemuda ashhabul kahfi yang tertidur selama 309 tahun dalam gua. Dan konsensus juga telah membantu perekayasaan “batu dibungkus kain” dapat disebut “seekor anjing” untuk menemani sekelompok lelaki tersebut di dalam goa. Baca lebih lanjut

TANGGA, MEMBANGUN NARASI KULTURAL SENDIRI

Image

Peraih Hibah Yayasan Kelola-Kategori Pentas Keliling di tiga tempat yaitu Taman Budaya Sumatera Barat (23 September 2012), Taman Ismail Marzuki-TIM (25 September 2012) dan STSI Bandung (27 September 2012).

CATATAN PEMENTASAN KOMUNITAS SENI HITAM PUTIH PADANG PANJANG [dipublikasikan di koran Haluan, Minggu, 30 September 2012]

Seusai pertunjukan teater berjudul Tangga yang dipentaskan Komunitas Hitam-Putih di Teater Utama Taman Budaya Sumbar, Minggu (23/9), sebagian permerhati teater berpandangan bahwa kekuatan masing-masing bangunan (aktor, penari, pemusik) dalam pementasan tersebut telah mengaburkan warna ‘Yusril’ selaku sutradara.

Sebagian lagi berpendapat, karena proses pencarian estetik panggung telah membuat peralihan makna dari naskah yang berawal teks naratif puisi Tangga Iyut Fitra tersebut: menghancurkan sebuah sejarah lantas membangun sejarah yang baru… (mengutip pandangan S Metron M). Baca lebih lanjut