KELOMPOK TEATER NAN TUMPAH: KEBERSAMAAN PERIHAL PENTING DALAM BERTEATER

Image

Koleksi Teater Nan Tumpah

Teater Nan Tumpah  dires­mikan di Padang, 9 Oktober  2010.  Pada tanggal tersebut  Teater Nan Tumpah melakukan pementasan perdana setelah melalui proses latihan selama 5 bulan sejak dibentuknya kesepakatan mendirikan kelompok teater indipenden, yang digerakan oleh beberapa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di kota Padang. Pementasan perdana tersebut berjudul  “Cincin Kelopak Mawar” , Naskah Mahatma Muhammad adaptasi cerpen Firdaus dengan Sutradara Yeni Ibrahim yang dipentaskan di Gedung Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat.

Berangkat dari tantangan untuk mengadaptasi cerpen Cincin Kelopak Mawar karya Firdaus ke Panggung Teater serta kesamaan ide dari Mahatma Muhammad dan Yosefintia Sinta yang ingin mementaskan karya teater pada Maret 2010, maka mereka berdua sepakat mengumpulkan beberapa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di kota Padang untuk memulai proses latihan naskah Cincin Kelopak Mawar. Pelan tapi pasti, proses tersebut berjalan dibantu oleh Yeni Ibrahim(sutradara), Joni Andra (Penata Gerak) dengan grup Tari Impresa  serta beberapa tokoh senior lain di taman Budaya Sumatera Barat. Baca lebih lanjut

TANAH IBU DAN SIHIR-SIHIR PUITIS

ImageLebih kurang satu jam, enam orang gadis usia belasan (Mentari Delatisya, Velin Raveliane Karlen, Poppy Melani Qoriza, Yola Avisha P.D, Melati Ganeza, Dini Reswari) bermain pada pementasan teater yang berjudul “Tanah Ibu” di gedung Teater Utama, Rabu Malam kemarin (27/10), dan saya kira pementasan tersebut berhasil memukau penonton. Siasat Syuhendri selaku sutradara membuat para aktor  yang rata-rata para pemula tidak terlihat canggung di panggung.

Dari bangku penonton tampak aktor bermain sangat rileks, nyaman, tanpa tekanan dari narasi yang penuh dengan sihir-sihir puitis. Catatan ini sebentuk apresiasi, bukan puja-puji, meski di lain soal bagi penonton yang pernah menyaksikan garapan Syuhendri sebelum ini akan terlihat banyak perulangan-perulangan. Semisal membandingkan pementasan “Tanah Ibu” dengan “Rumah Jantan” .

Dan salah satu yang melatari perbedaan tersebut, “Rumah Jantan” dalam program grub Teater Nokhtah, sedangkan “Tanah Ibu” digarap me-ngatas-nama-kan Bengkel Teater Remaja Sumatra Barat. Dengan ruh yang sama tapi mempergunakan tubuh yang berbeda. Baca lebih lanjut

DALAM SEHELAI CELANA RANDAI [BIENAL SENI RUPA SUMATERA #1]

 

IMG_3969

“PRRI ada bukan ingin lepas dari NKRI tapi karena Sukarno ingkar janji…” sebaris tulisan tertera di antara beragam tulisan lain di sehelai celana randai (galembong) yang menggantung di galeri lukisan Taman Budaya Sumatera Barat, kemarin (6/12). Celana randai berwarna hitam dengan atasan merah tersebut menggantung pada kawat besi yang dibentuk menjadi gantungan kain.

Ada kesan memilukan ketika memandang celana yang merupakan karya instalasi karya Stefan Buana berjudul “Padang Bengkok” berukuran 150 x 100 yang dibuat tahun 2012 tersebut. Apalagi, yang memandang instalasi tersebut adalah orang Minangkabau yang merasa ‘kalah’ atau ‘dikalahkan’ dalam peristiwa PRRI yang berlangsung di Sumatera Barat tahun 1958-1961 tersebut. Dalam beberapa catatan sejarah, orang Minangkabau menghiba-hiba setelah kejadian tersebut, ada yang bilang sebagian merasa rendah diri. Sebuah novel karangan Ayu Utami, berjudul “Cerita Cinta Enrico” bahkan membahasakan peristiwa tersebut dengan revolusi yang ringkih, seperti ceker ayam. Baca lebih lanjut

MENGUNJUNGI LADANG NAN JOMBANG DANCE COMPANY

(Materi untuk koran Haluan 29 Juli 2012 dan sudah dimuat dengan beberapa suntingan dan perubahan redaksi, “Nan Jombang Dance Company Padang, Bawa Minangkabau Arungi Dunia”)
Di antara nyala api ungun pada sebuah pekarangan rumah di Stradebroke Island, Eri Mefri, pendiri dan koreografer Nan Jombang Dance Company tercenung mengingat hari lalu. Waktu itu, Agustus 2007, di mana grup yang sejak 1 November 1983 didirikannya tersebut mendapat kesempatan tampil pada agenda yang diadakan oleh Brisbane Powerhouse, Australia, dengan membawakan dua nomor tari, Ratok Piriang dan Sarikaik. Itulah awal perjalanan Nan Jombang Dance Company ke luar negeri melalui karya.
Meski pada tahun-tahun sebelumnya Ery Mefri sudah berulangkali hadir memberikan workshop di beberapa negara, tapi bukan dalam kapasitas menampilkan karya. “Di Stradebroke Island itu saya dan Nan Jombang tercenung, teringat bagaimana perjalanan selama ini,” kata Ery ketika Haluan mendatangi kediamannya di Ladang Nan Jombang, Komplek Polda, Balaibaru, Padang, Jumat (27/7) lalu. Ia bahkan mengingat, dalam proses berkesenian sejauh ini di menjadi seorang koreografer, keluarga, anak istrinya, harus rela kelaparan tidak makan. “Pada waktu itu haru campur bahagia. Bagaimana tidak, agenda tersebut diadakan pada tanggal 2–11 Agustus, saya dan personil Nan Jombang merasa benar-benar dihargai dalam berkesenian,” lanjut Ery.
Ia lantas menceritakan bagaimana rumah penginapan di Stradebroke Island tersebut merupakan bagian dari pelayanan promotor Brisbane Powerhouse di sela-sela bertunjukan yang berjarak dalam waktu seminggu. “Jadi seminggu penuh, Nan Jombang benar-benar disuruh berlibur oleh promotor,” kata Ery.
Tapi tidak berarti ketika diundang di agenda Brisbane Powerhouse, Ery Mefri dan Nan Jombang, merasa puas dan itulah pencapaian dalam proses sejauh ini. Grup itu pun segera berbenah, baik dalam esplorasi karya atau dalam segi manajemen grup. “Sebab sebelum kami diundang pada Brisband Powerhouse, beberapa buyer dan produser dari beberapa negara sudah menawarkan tampil di negaranya,” kata Ery.
Penawaran dari buyer dan produser itupun di dapat bukan serta-merta. Penawaran tersebut dimulai ketika Nan Jombang mengikuti IPAM (Indonesia Performing Art Market) di Bali tahun 2004. Program yang diadakan oleh Kementrian Pariwisata dan Kebudayaan itulah yang mulanya membuat Ery Mefri merasa yakin, bahwa karya-karyanya ternyata diminati oleh banyak buyer dan produser luar negeri. “Waktu itu Nan Jombang menampilkan tari Sarikakik, seusai pertunjukan beberapa buyer dan produser luar negeri langsung menyalami dan memberi penawaran,” kata Ery.
Prosedur yang diberikan oleh buyer dan produder seni pertunjukan luar negeri ternyata memang jauh berbeda dengan pelayanan di Indonesia. Sebelum Nan Jombang diundang ke pada Brisband Powerhouse, Ery Mefri bersama Angga Mefri (manajer dan penari Nan Jombang), terlebih dahulu diundang untuk Queensland Music Festival oleh promotor pada bulan Juli 2005. Padahal jarak waktu Nan Jombang akan pentas di daerah tersebut adalah dua tahun. “Itu adalah hadiah dari promotor, agar sebelum tampil nanti kita sudah paham tentang kota, tradisi, dan masyarakatnya”, kata Ery.
Debut koreografer Ery Mefri bersama grup Nan Jombang untuk tampil di luar negeri terus kian diminati setelah itu. Pada agenda IPAM 2009 di Solo, nomor tari Rantau Berbisik yang ditampilkan oleh Nan Jombang menarik perhatian lebih banyak lagi buyer dan promotor. Ery menceritakan, seusai penampilan tersebut banyak janji dengan promotor, ada yang langsung menentukan kapan tampil di negaranya, bahkan ada yang mengatakan sudah menyediakan dana.” Padahal ada yang akan tampil dua tahun ke depannya, tapi mereka bilang sudah ada dana,” kata Ery sambil tertawa.
Ladang Nan Jombang
“Tari adalah jalan hidup saya, jika berhasil akan hidup dengan tari, jika gagal akan mati dengan tari,” kata Ery meneguhkan tentang jalan hidup berksenian yang sudah dipilihnya. Kini dari hasil perjalanan Ery Mefri bersama Nan Jombang (Angga Djamar, Rio Mefri, Geby Mefri, Intan Mefri, Ririn Mefri) ke luar negeri, baik dalam memberikan workshop atau penampilan tari, kini grup yang hampir berusia 30 tahun tersebut sudah mempunyai sebuah ‘ladang’ memadai. “Ladang ini seluas 1.600 M3, akan menjadi masa depan Nan Jombang,” kata Ery.
Di tempat yang dinamakan ‘ladang’ tersebut sudah berdiri sebuah gedung latihan, gedung berlantai dua yang kini dijadikan tempat tinggal keluarga Nan Jombang dan kantor manajemen, ada kolam yang dinamakan ‘danau’, dua gundukan tanah dinamakan bukit, serta laga-laga dan tempat santai. “Ini hasil dari Nan Jombang, tanpa bantuan dari Pemerintahan Indonesia (Baik Pemko Padang atau Pemda Sumbar),” Ery menegaskan. Ia menceritakan, kebetulan anak-anaknya yang sebagian besar adalah penari di Nan Jombang sangat mendukung sekali dibangunnya Ladang Nan Jombang. “Anak-anak bilang, hasil pementasan bangunlah sanggar, yang penting kuliah kami ayah selesaikan,” Ery bercerita bangga tentang anak-anaknya. Dan hasilnya, sangar atau Ladang Nan Jombang tersebut mungkin akan jadi salah satu sanggar terbaik dan mewah yang dibangun secara pribadi di Sumbar.
Untuk ke depannya, Ladang Nan Jombang tersebut akan dibangun lagi satu gedung berlantai dua, untuk tempat diskusi dan dokumentasi Nan Jombang. “Sayang juga, beberapa waktu lalu Wakil Dubes Amerika datang dan sebelumnya Dubes Australia juga datang, tapi mereka hanya sempat diskusi di tempat latihan,” kata Ery tentang niatnya membangun ruangan diskusi. “Saya ikut heran, Dubes luar negeri saja datang, kenapa petinggi di Sumbar, khususnya kesenian saja tidak pernah datang ke sini,” kata Ery agak sedikit kecewa dalam pengapresiasian.
Ladang Nan Jombang, kata Ery, hanya sekedar tempat ‘menumpang’ bagi keluarganya saat ini. menurut rencananya ke depan, tempat tesebut benar-benar hanya akan dijadikan untuk kesenian. “Akan ada kantor, tempat diskusi, laga-laga menonton, dan ruang yang akan bisa digunakan juga oleh banyak orang,” kata Ery Mefri sambil mengatakan rumah keluarga akan dibangunnya di depan lokasi Ladang Nan Jombang.
Tour 2012 Akan Melelahkan
Dari bulan Agustus sampai Oktober ke depan akan menjadi tour yang melalah kan bagi Nan Jombang. Tarian Malam, koreografi terbaru Ery Mefri akan tampil dari 9-11 Agustus di pentas premiere di Brisbane Powerhouse, 23-25 Agustus dipentaskan lagi pada Darwin Festival di Darwin, dan dilanjutkan 7-8 September pada agenda Pesta Raya di Esplanade Theater Singapura.
Tidak hanya itu, pertengahan September tahun ini tour Nan Jombang akan berlanjut ke negeri Paman Sam untuk mengisi undangan beberapa promotor dan festival. Pada tanggal  nomor tari Rantau Berbisik dan Sarikaik pada 17 September – 16 Oktober akan dipentaskan di beberapa tempat seperti Dance Place dan The Kennedy Center Millenium Stage di Washington DC
26 – 29 September, agenda FirstWork di Providence Rhode Island, agenda Fall for Dance Festival dan Asia Society di New York, agenda REDCAT di Los Angeles California, dan yang terakhir akan tampil di Indonesia. “ Nan Jombang akan menutup Festival Salihara di Teater Salihara Jakarta dengan Tarian Malam,” tutur Angga Djamar manajer Nan Jombang Dance Company.
Angga ikut menari dalam koreografer terbaru Tarian Malam bersama Rio Mefri, Geby Mefri, Intan Mefri, Ririn Mefri, dan dua anggota Nan Jombang dari ISI Padangpanjang. “Beberapa gandang sudah dikirim ke Australia dan yang kami gunakan latihan sekarang Akan segera dikirim ke Amerika secepatnya,” kata Angga tentang persiapan mereka untuk tampil di luar negeri.
Ery Mefri mengatakan bahwa Tarian Malam adalah koreografi terbarunya tentang kejadian gempa 2009 lalu yang menimpa Minangkabau. Dalam 80 menit, kata Ery, para penari dalam pertunjukan tersebut akan tamnpil ekstra dengan gerakan yang benar-benar harus sempurna filosofinya. “Akan ada raungan kesedihan dalam tari ini,” lanjut Ery. Melalui Tarian Malam,  Ery mefri dan para penari Nan Jombang tentu akan memabawa nama Sumbar (Minangkabau) dan Indonesia ke luar negeri melalui tari. Meski menurut Ery Mefri sejauh ini pemerintah tak banyak membantu dalam proses kreatifnya. Ia tetap optimis, melalui tari, dan Ladang Nan Jombang yang sudah dibangunnya, grup tari yang tahun depan beusia kepala tiga tersebut akan menghasilkan debut-debut terbaik selanjutnya.

BAHASA PENOLAKAN DESLENDA

PERTUNJUKAN “TARI LATAH” KOREOGRAFER DESLENDA

Adorno, filsuf sekaligus kritikus budaya massa di Eropa, pernah menuliskan ketakutannya dalam sebuah telaah berjudul The Culture Industry (1991). Ia mengatakan dampak menyeluruh industri budaya secara massal salah satunya adalah anti-pencerahan, di mana pencerahan dalam pandangan industri budaya adalah dengan hadirnya dominasi teknik progresif, menjadi sebuah penipuan massal dan diubah menjadi alat untuk membelengggu kesadaran. Pencerahan tersebut, menghalangi perkembangan mandiri (manusia), sebagai individu-individu bebas yang menilai dan memutuskan secara sadar untuk diri mereka sendiri.

Ketakutan Adorno mengenai industri budaya massa tersebut, barangkali bisa ditemukan pemaknaannya dalam pertunjukan tari pada perayaan 21 Tahun Galang Dance Company (1991-2012), di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, Selasa malam (12/6) lalu. Pada perayaan tersebut, dua karya koreografer Galang Dance Company, Deslenda dengan penulis naskah Mahatma Muhammad ditampilkan. Masing-masingnyan karya berjudul “Negeri Budaya Latah” dan “Tari Latah”.

Dalam leaflet menjelang pertunjukan, pertunjukan “Negeri Budaya Latah” tertulis monolog tari, akan tetapi setelah menonton pementasan tersebut kiranya lebih mendekati pada performing art yang merupakan fragmen dari tema besar “Latah” (dengan huruf kapital)—atau bagian, sandingan, pertautan. Sederhananya, pertunjukan tersebut tidak terdiri dari seorang yang menari, atau seorang yang mengucapkan dialog, melainkan dua pemain (Deslenda dan Desi Fitriani) ikut melancarkan dialog meski hanya sesekali. Walau pembatasan tentang tari telah terkaburkan melalui penggabungan dari lintasan-lintasan karya seni pertunjukan (tari, teater, pembacaan puisi), tetap saja tari mempunyai dudukan yang jelas. Tulisan ini, tidak mengacu pada pertunjukan “Negeri Budaya Latah”, melainkan “Tari Latah” yang seolah menjadi perwakilan dari tema “Latah”  dalam bentuk tari yang utuh.

Tafsir “Latah” dalam Tari

Tujuh orang penari (Rahmy, Febby, Nurrahmania, Intania, Annisa, Merry, Riana) hadir dari permulaan sampai akhir pertunjukan “Tari Latah”. Pada awal pertunjukan mereka muncul, tiga di antaranya dari atas meja di bagian kanan (belakang) dan empat lainnya di posisi kiri (tengah) panggung. Masing-masing dari mereka memakai pakaian serba merah, dengan baju terusan longgar, serta celana galembong (celana pakaian silat dan randai) yang didesain untuk mendukung pertunjukan tersebut.

Lampu dengan warna normal mengiringi gerak para penari tanpa efek pencahayaan dari alat-alat lain dengan musik-musik khas tataan Susandra Jaya. Tampak dari pola pergerakan pertunjukan, bahwa tari tersebut berjalan dengan pengelompokan, tiga-empat. Sesekali pola tersebut terpecah seiring pergerakan tari, menjadi pola dua-dua-dua-satu. Masing-masing pola tersebut dalam tempo pertunjukan menghadirkan pemaknaan-pemaknaan tertentu. Dimulai dari satu kelompok yang seakan penjadi panduan pergerakan dari kelompok lain untuk mengikuti pola pergerakkannya. Dari hal inilah simbolisasi dari tema “Latah” tersebut mulai bisa dibaca; yang satu (minoritas) mengikuti yang lain (mayoritas); atau yang lain bisa jadi mengikuti yang satu karena sesuatu hal yang dianggap populer. Pola pertunjukan tersebut seakan menggambarkan “masyarakat” dan kecendrungan konsumsi tingkat tingginya, di mana “masyarakat” akan mengikuti segala sesuatu yang dianggap tengah populer (trend).

Iklan-iklan di televisi pun menjadi sasaran penafsiran dari pertunjukan tersebut. Sebagaimana iklan, dengan visualisasi dan bahasa tekstualnya, menuntut dan dapat menarik seseorang agar dapat membeli sebuah produk budaya massa dan itu memang tujuan. Sementara itu, tujuh orang penari, yang masih muda belia dengan usia yang boleh jadi kurang dari 20 tahun seakan menjadi perwakilan dari masyarat konsumtif di dalam pertunjukan tersebut.

Perempuan muda dan iklan, sebagaimana di dalam “Tari Latah”, merupakan isu yang sangat penting dan sering dibicarakan dalam kajian cultural studies. Pada umumnya perempuan muda kerap didefinisikan sebagai kelompok konsumen utama dalam produk iklan. Hal ini diungkapkan juga oleh Stacey (1994) yang mengatakan bahwa perempuan adalah subjek sekaligus objek dalam pertukaran budaya (produk iklan), dengan cara-cara yang tidak sepenuhnya dapat direduksi menjadi kepatuhan. Iklan seakan menekankan perempuan sebagai konsumen dan menitik beratkan pada kontradiksi-kontradiksi tentang konsumsi kaum perempuan.

Beberapa bahasa pengungkapan iklan di telvisi pun tak luput dari kata-kata yang keluar dari mulut masing-masing penari yang sedang melakukan pergerakan. Kata-kata tersebut sesekali terdengar seperti celoteh, gumaman, gerutu, atau diucapkan dengan gaya sengau atau gaya populer. Di bagian ini, jelas disimbolkan bahwasanya media, melalui iklan dengan pengetahuan dan realitas yang dibangunnya, merupakan bagian dari penentu bahasa (gaya, ungkapan, kosakata) yang digunakan masyarakat. Tidak hanya bahasa pengungkapan iklan, bahasa pengungkapan yang populer diucapkan oleh kaum muda Minangkabau pun sesekali hadir dan diucapakan oleh beberapa penari.

Adakalanya dalam pola gerak pertunjukan “Tari Latah”, tingkat penerimaan terhadap budaya populer dan konsumerisme masyarakat yang tidak tanggung-tanggung tersebut, seakan menemukan counterculture. Semacam penolakan-penolakan kecil melalui penghadiran berbagai pola gerak; gerak yang satu melawan gerak yang lain; atau yang satu melawan karena tidak ingin mengikuti yang lain. Atau melalui gerak-gerak pola permainan randai, yang memberi simbol pertahanan satu kebudayan sebagai penghambat pola kebudayaan populer.

Akan tetapi counterculture tersebut dihadirkan melalui ketidak-berdayaan seseorang dalam melawan pola konsumerisme budaya massa; dihadirkan penari-penari yang berjatuhan; dihadirkan penari-penari yang bergulingan atau digulingkan oleh yang lainnya; dihadirkan penari yang tak sanggup menaiki meja tempat pertama kemunculannya. Di sela pola-pola gerak tersebut muncul semacam “kekerasan simbol”, kekerasan yang dalam istilah Bourdieu adalah bentuk kekerasan yang halus dan tampak diterima secara salah. Kekerasan simbol, melalui wacana iklan yang dihadiRkan dalam pertunjukan seakan menggambarkan bahwa kekerasan tersebut berlangsung di dalam berbagai aktivitas keseharian yang mungkin dianggap dan diterima sebagai aktivitas yang berterima dalam masyarakat, tanpa melakukan kritik terhadapnya.

Secara garis besar, setidaknya wacana budaya populer dihadirkan oleh Deslenda dalam “Tari Latah”. Selaku penonton dalam pementasan tersebut, kita seakan disuguhkan pernyataan bahwa di dalam masyarakat dewasa ini telah muncul persoalan-persoalan kultural semacam itu. Persoalan tersebut terutama mengenai televisi dan khususnya iklan, melalui tanda (sign) dan citra (imagine) yang ditampilkan telah mempengaruhi persepsi, pemahaman, bahkan tingkah laku masyarakat. Yasraf Amir Piliang membahasakan persoalan ini sebagai realitas palsu yang diberikan iklan, ada jurang apa yang ditampilkan dalam sebuah produk dengan realitas produk sesungguhnya. “Tari Latah” pada akhirnya seolah memperi pertanyaan selanjutnya pada kita: adakah kita (masyarakat) tau dan sadar?

Penari Muda Energik

Harus diakui, untuk menghadikan gerak tari dari koreografi Deslenda, tujuh orang penari dalam “Tari Latah” seakan menghadirkan stamina yang berlebih pada pementasan malam itu. Lebih kurang 45 menit, tujuh penari belia dengan usia yang bisa ditaksir kurang dari 20 tahun, melakukan gerak dengan tempo yang hampir secara keseluruhan tertata dinamis melalui musik. Energi dari penari tersebut terlihat konstan, bertahan, dan tidak berkurang di tiap-tiap pola perubahan struktur tari. Meski tidak ada gerak-gerak akrobatik, akan tetapi “Tari Latah” berusaha menggabungkan pola pemikiran melalui balutan pemaknaan besar untuk kata “Latah”, melalui media tubuh tujuh perempuan muda belia.

Tujuh orang penari dalam “Tari Latah” seakan memunculkan “kekuatan baru” untuk Galang Dance Company yang sudah berumur 21 tahun, yang pada malam itu juga berganti menjadi Galang Performing Art. Dan akhir kata, sembari menunggu pementasan tari yang akan ditampilkan Deslenda melalui Galang Performing Art pada produksi berikutnya, saya kutipkan potongan kalimat dari penyair W.H. Auden: Dance till the stars come down from the rafters. Dance, Dance, Dance till you drop….

Esha Tegar Putra, penyair, penikmat seni pertunjukan.

 Dimuat harian Padang Ekspres, Minggu 17 Juni 2012