KUPU-KUPU BANDA MUA: SEBUAH PEMBACAAN AWAL

Persoalan sosio-kultural Minangkabau agaknya tetap menjadi perhatian utama bagi pengarang dengan basis penciptaan dari Minangkabau. Dialektika antara rantau dan kampung terus menerabas batas-batas posisi geografis mereka. Tubuh boleh jadi berada pada ruang lain, tapi pikiran tetap menyentuh dusun-dusun tersuruk di pedalaman Minangkabau. Kita dapat melihat beberapa pengarang yang melalui proses penciptaan di rantau tapi tetap berusaha menggapai persoalan kampung. Di saat beberapa penulis lain menggap isu-isu seputar kosmopolitan, pluralisme, atau interaksi lintas budaya saat mereka berpindah secara georafis. Wacana mengenai dialektika Minangkabau tetap menjadi pilihan bagi penulis dengan basis penciptaan Minangkabau. Pilihan tersebut barangkali sebagai penanda bahwa dalam ruang lingkup domestik terdapat wacana kebudayaan yang belum tuntas dibahas.

Baca lebih lanjut

LUKAH PULAN

Tepian batang air kini lengang. Sudah jarang orang-orang menahan lukah, menebarkan jala. Jarang pula terlihat sekarang perempuan-perempuan tua dan muda mencuci kain. Atau anak-anak kecil yang menyusun batu-batu untuk membuat sumur-sumuran. Dulu, seketika tepian batang air di muara bawah masih belum turun tanahnya karena luapan air dari hulu bukit, kegiatan-kegiatan itu masih ramai setiap harinya.

***

Pulan terlihat sedang membersihkan sampah-sampah yang tersangkut di lubang lukahnya. Ia duduk bersila di rerumput tepian batang air. Pikirannya entah ke mana tertuju. Matanya kosong memandang sampah-sampah yang mengantung di sela-sela lidi rajutan lukah. Ia jatuhkan sampah ke batang air yang agak kering airnya—ikannya pun sekarang tidak banyak terlihat. Sudah beberapa bulan ini lukahnya sering tidak berisi.
Tiga tahun yang lalu, seketika abaknya masih hidup dan seketika itu di sealiran batang air kampung masih ramai orang menahan lukah. Sebab Pulan masih bisa mendapatkan sepuluh liter sampai lima belas liter ikan setiap pagi dari dua lukah yang ditahan Pulan dan ayahnya setiap malam. Lukah diambilnya setiap pagi sebelum Pulan pergi sekolah. Ketika itu Pulan masih kelas satu es-em-pe. Hasil-hasil tangkapan lukah itu bisa untuk biaya hidup Pulan sekeluarga. Baca lebih lanjut

LIMIN JADI DUKUN

Tiba-tiba tubuh Limin terlentang, rubuh ke tanah, ia terkulai lemas tidak berdaya. Segelas kopi yang baru saja ingin diseruputnya tertuang membasahi pakaian lelaki paruh baya itu. Di genggaman tangan kirinya kulihat batu, pipih seukuran telur ayam kampung, berwarna hitam dan kesat. Batu itu erat digenggamnya.
Orang-orang di lepau tersentak melihat kejadian yang menyiratkan keanehan tersebut. Sesekali tubuh Limin menggelepar seperti ayam yang baru saja disembelih. Dari mulutnya air liur membusa, matanya membelalak. Pandangan dari gelap pupilnya tertuju pada sesuatu yang jauh, sesuatu yang mengarah pada kedalaman alam bawah sadarnya. Arah yang dalam dan hitam, sehitam batu di genggaman tangan kirinya. Aku dan beberapa orang yang duduk di lepau menggotong tubuh Limin yang sedang tidak sadarkan diri ke rumahnya, di pinggiran sawah, tidak jauh dari lepau.
Malam diam membatu, hanya sesekali terdengar cericit murai batu terdengar dari julaian daun pohon kelapa. Cericit yang membuat tengkukku dingin. Sebelumnya sudah kudengar cerita sepintas lalu, tentang batu yang kulihat di genggaman tangan Limin dari orang-orang yang juga duduk di lepau. Ya, setiap hari ada saja yang diceritakan orang-orang tersebut, termasuk aku, pengunjung wajib lepau. Maklumlah, sebagian besar orang yang duduk malam-malam di lepau (seluruhnya laki-laki) adalah peladang dan petani. Baca lebih lanjut