MENGAJAK SABAI

Kembali ke arah selat, Sabai.

Sebelum kota ini membuat tumitmu

terus membentur pembatas jalan.

Kota ini akan terus menghitung dengkur

Dibuatnya kita mimpi berlari di antara kedai-kedai pakaian

menelusuri gang-gang sempit

dengan suara-suara mesin jahit terus menderu

dan akan terus ada ratap pukimak mengharu-biru itu.

Kita akan terjaga, akan terus dibuat terjaga

Dengan pandangan mata menghampang rumah-rumah tinggi

tiang-tiang tinggi, jalan-jalan membenam-meninggi.

Kita dibuat terjaga di meja makan dengan hidangan pagi

menghadapi ayam goreng potong empat

gulai ikan karang dengan insang membiru

dan bau kulit sepatu lama direbus dalam panci.

Kembali, sebelum mambang belang lima

penunggang hantu kuda jantan tak bermoncong

dan tak berpinggang itu tiba dari masa lalu

merampas selimut tidur hingga pakaian dalammu

merebut buku tata cara membuat kerang saus padang

dengan sampul bergambar pisau

dan sendok goreng menyilang, kesukaanmu itu.

Ke arah selat, Sabai

mari ke ruang di mana tidur

tidak dihitung dari berapa kali kita mendengkur.

Depok, 2017

Dimuat di Koran Kompas, 7 April 2018

Iklan

UBAI

Ubai adalah keluh prostat dan ambeien

gerungan lapar pada subuh

dengan suara rebusan akar batu

gelegak labu kuning dan jantung pisang

lenguh pangkal paha tersiram air panas

ketuntang panci dan kaleng roti jatuh ke lantai.

Di halaman, rumput akan terus meninggi, Ubai

daun rambutan akan tetap saja rurut

ada batang-batang pisang dengan umbi busuk tak terselamatkan

dahan-dahan jambu air patah dihempas angin gadang

kelapa tua jatuh menggelinding ke balik pagar apartemen.

Di sini, hari baik dan hari buruk terus bersabung

nasib serupa pertikaian bahasa pagar dengan palang panjang itu:

“terkurung

tak hendak kita di luar

terbebas

tak hendak kita di dalam”.

Ubai serupa alarm Mahali berdering dua jam sekali

hasrat untuk terus mematikan lampu laman saat subuh tiba

kehendak memautkan tali seekor anak anjing

ke pangkal pohon paling jauh

dan keinginan untuk menyembuhkan udara kota

dari demam berkepanjangan.

Depok, 2017

Dimuat di Koran Kompas, 7 April 2018

OBITUARI LEON AGUSTA: SEMUA SUDAH DIMAAFKAN, SEBAB KITA PERNAH BAHAGIA (DAN MAKALAH LAINNYA)

Makalah ini dibacakan saat “Diskusi Kamis: Warisan Sastra Indonesia” dalam program LIFEs (Literature & Ideas Festival Salihara) 2017, Kamis, 12 Oktober 2017, Pukul 19.00 – 21.00 WIB. Sesi ini membicarakan sastrawan Indonesia yang meninggal dua tahun belakangan (2015-2017). Dalam sesi ini dibicarakan pula mengenai Gerson Poyk oleh Berto Tukan dan Korrie Layun Rampan oleh Hasan Aspahani.

….

Sila unduh:

Esha Tegar Putra, Semua sudah dimaafkan

 

Terima kasih Rebecca Kezia dan Alpha Hambali sudah memberikan soft-file tulisan beberapa pembicara dalam prgram “Diskusi Kamis: Warisan Sastra Indonesia”. Kecuali Heru Joni Putra yang ingin memperbaiki kembali tulisannya dengan beberapa penambahan data, berikut saya bagikan tulisan Berto Tukan, Ni Made Purnama Sari, dan Hasan Aspahani:

Berto Tukan – Gerson Poyk: Pengembara Satir dari Rote

Hasan Aspahani – Korrie Layun Rampan dan Lengang Daerah Perpuisian

Ni Made Purnama Sari – Hamsad Rangkuti dan Rupa-rupa Rekaan yang Menjadi

 

 

 

DI AKHIR KITAB

Aku sudah sampai, Lenggo
ke inti kitab petualangan orang-orang muda
telah aku buang jauh-jauh diri sendiri
aku gantung tinggi-tinggi tubuh sendiri
hasratku padamu sudah terbiar lindap
bersama bengkalai dibakar itu
jadi abu
kau tiup
terbang-hilang di jenjang rumah

Baca lebih lanjut