MENCARI PUTI BUNGSU

Pada air tenang dalam talam itu
kembali aku cari tubuhmu

kulihat sebuah dusun tersibak dari balik kabut pagi
barangkali itu kota tersumbul seusai asap berhari-hari

lenguh seekor babi hutan diterkam anjing pada bagian leher
gerung truk-truk tua pengangkut pasir pada pendakian kesekian

Baca lebih lanjut

LENGGO GENI KEPADA CINDUA MATO

Telah aku himpun berpuluh lesung berikut alu, Kakanda
ketika tiga malam berturut-turut
murai memekik di tandan buah kelapa
dan bengkalai kain selesai kubakar
sudah jadi abu, sudah berupa debu
lesung dan alu kubuat berbunyi bertalu-talu
hingga tanah membikin lindu
lenganku berharap segera terkait tulang belikatmu
rambutku berkibaran sudah sementara angin kosong tiada menderu
entah mambang dari gunung mana
entah hantu dari lembah mana
membikin gerak jantung ini kian menggila.

Baca lebih lanjut

EMAS SURIAN

Sepasang cincin apa yang hendak kita pesan, istriku
sementara pati santan pati asam tahun lalu 
masih mengendap dalam lambungku 
dan hari raya terus datang terburu.

Aku dengar di pasar orang-orang berteriak 
pada pisau tukang daging, pada timbangan gantung: kenapa 
terlalu tipis daging sapi itu disayat, kenapa terlalu banyak lemak 
dicampurkan, kenapa daging ringan ketika dimasukkan 
ke kuali perendangan? Dan sial benar, sepotong tungkai sapi 
dihargai lebih tinggi dibanding tahun lalu.

Sepasang cincin mana yang akan kita beli, istriku
aku pilih emas dari Surian seperti rantai ibuku di masa lalu
dapat disepuh bila perlu
dapat dibeli seukuran tungku.

Di belakang, aku lihat periuk belum ditambal 
sementara anak-anak minta diisi penuh lemari baju. 

“Seperti orang itu, Bapak. Seperti orang itu!”
 
Aku membayangkan bermalam-malam mereka akan tidur
berjaga di hadapan lemari hingga tersumbul baju 
dengan ragi kain seperti yang mereka lihat di televisi itu.

Sepasang cincin dari emas surian, istriku
sebelum datang lagi hari raya baru 
sebelum lambung menaikkan endapan pati santan 
dan pati asam hingga sampai ke pangkal leherku.

2016   

Disiarkan Koran Tempo akhir pekan, Sabtu, 17 Desember 2016
  

HIMBAU-HIMBAU

Sebab kita tidak tahu apa itu keinginan
maka kukenakan lagi baju hangat
sepatu hitam dari masa lampau.

Sebuah jalan mungkin akan memberi petunjuk
dari satu tiang listrik ke tiang lain
dari gelupas aspal, tembok terbongkar, rumah tinggal.

Tapi sajak telah mengantarkan kita jauh sebelumnya
pada mimpi tentang hunian tropis
atap ijuk
hantu pengembala cuaca
hujan ngambang di belakang
hutan dalam kaleng roti
dan seutas benang terikat tiang membentang jauh
ke seberang benua, terus berdengung, memberi kabar.

Keinginan, katamu, seperti sebuah dusun
di mana kematian tenang adalah bahasa terbaik
di mana mimpi akan terus dilamun air gadang

keinginan hanya ada pada tungkai kaki orang pergi.

Maka kukenakan lagi baju hangat
sepatu hitam dari masa lampau
jalan menghimbau-himbau.

2016
Disiarkan Koran Tempo akhir pekan, Sabtu, 17 Desember 2016