LINGKUNG SINGKARAK DALAM RETROSPEKSI

sore kelabuHampir keseluruhan fenomena sosial dalam catatan Albert Rahman Putra di buku Sore Kelabu di Selatan Singkarak (Forum Lenteng, 2018) dekat dengan saya secara personal. Saya menghabiskan masa kecil hingga dewasa di nagari Saniangbaka, bagian selatan Danau Singkarak. Saya masih bisa mengingat amis ikan Bilih yang baru dikeluarkan dari lukah, mengingat bagaimana bentuk putaran arus di muara pertemuan Batang Lembang dengan Danau Singkarak, dan merasakan manisnya limau dari Kacang yang dibawakan teman-teman saya sewaktu sekolah menengah atas di daerah Singkarak.

Baca lebih lanjut

Iklan

KUPU-KUPU BANDA MUA: SEBUAH PEMBACAAN AWAL

Persoalan sosio-kultural Minangkabau agaknya tetap menjadi perhatian utama bagi pengarang dengan basis penciptaan dari Minangkabau. Dialektika antara rantau dan kampung terus menerabas batas-batas posisi geografis mereka. Tubuh boleh jadi berada pada ruang lain, tapi pikiran tetap menyentuh dusun-dusun tersuruk di pedalaman Minangkabau. Kita dapat melihat beberapa pengarang yang melalui proses penciptaan di rantau tapi tetap berusaha menggapai persoalan kampung. Di saat beberapa penulis lain menggap isu-isu seputar kosmopolitan, pluralisme, atau interaksi lintas budaya saat mereka berpindah secara georafis. Wacana mengenai dialektika Minangkabau tetap menjadi pilihan bagi penulis dengan basis penciptaan Minangkabau. Pilihan tersebut barangkali sebagai penanda bahwa dalam ruang lingkup domestik terdapat wacana kebudayaan yang belum tuntas dibahas.

Baca lebih lanjut

SASTRA, ARENA, KUASA: SURAT TERBUKA UNTUK PUBLIK SASTRA INDONESIA

Salah satu persoalan kesusastraan Indonesia hari ini adalah praktik pelemahan sistemik dari agensi-agensi sastra untuk melanggengkan ketokohan Denny JA dalam arena kesusastraan Indonesia kontemporer. Agensi-agensi kesusastraan ini bekerja merekrut penulis-penulis untuk bekerjasama membuat apa yang dianggap pembaruan dalam model perpusisian Indonesia, membayar mereka dengan iming-iming honorium besar (benarkan besar?), dan membubuhkan tanda tangan di atas klausul-klausul dalam surat perjanjian bermaterai terkait kerjasama antara kedua belah pihak sebagai bentuk legalitas formal. Permasalahan ini memunculkan kecurigaan antar pelaku kesusastraan, sesama anggota dalam komunitas kesusastraan, dan hubungan-hubungan personal sastrawan di dalam daerah (provinsi) atau antar daerah. Karena pola kerja agensi tersebut tertutup dan menyusup ke dalam komunitas-komunitas sastra di beberapa daerah.

Baca lebih lanjut

KECURIGAAN PADA POLITIK LITERASI

Untuk tidak terlalu jauh menganalogikan proses penerbitan karya-karya penulis muda sebagai bentuk politik literasi, sebagaimana tulisan Muarif bertajuk Politik Literasi, Buku Sastra, dan Penulis Muda (Jurnal Ruang, 1 Oktober, 2017), saya ingin mengemukakan tiga pertanyaan kepada kritikus sastra terseebut: (1) Bagaimana bisa proses penulisan dan perjuangan penerbitan buku penulis muda mutakhir dapat disandingkan dengan penulis yang menerbitkan karya di luar penerbit Balai Pustaka periode 1900-an hingga 1920-an?; (2) Bagaimana dapat menilai kualitas sebuah karya jika hanya bersadar perbandingan proses penerbitan indie (atau self-publishing) dengan penerbit mayor?; Bagaimana pula sebuah buku karya sastra yang dianggap berkualitas tanpa dilektika dengan di luar karya itu sendiri (kritikus, institusi penerbitan, sayembara kepenulisan, dst—arena kesusastraan)? Baca lebih lanjut

BERBEDA JALAN MENUJU REVOLUSI [SEBUAH PERTUNJUKAN TEATER]

Narasi empat tahun masa Revolusi Nasional Indonesia (1945 – 1949) ditarik kembali dalam pertunjukan teater berjudul Jejak Tak Bertoreh di Teater Utama Taman Budaya Sumatera Barat, Jumat malam lalu (18/8). Pidato heroik Bung Tomo pada 10 November 1945 di Surabaya diperdengarkan pada penonton berbarengan dengan penayangan gambaran pertempuran masa itu. Penghadiran tersebut barangkali untuk mengapungkan kembali memori kolektif penonton, sebagai pengantar suasana pertunjukan, atau malahan untuk menguji sejauh mana penonton mengetaui mengenai revolusi Indonesia.

Pertunjukan Jejak Tak Bertoreh yang disutradarai Reza Astika (naskah Edi Suisno)—dalam rangka Ujian Akhir Penciptaan Seni Teater Pascasarjana ISI Padangpanjang—sepertinya memang tak hendak berleha-leha menghadapkan gambaran perjuangan revolusi fisik pada penonton. Namun lebih pada dinamika pemikiran The Founding Fathers Indonesia dalam masa revolusi. Pada pementasan tersebut Tan Malaka disebut-sebut oleh para pelakon, ia hadir secara ideologis, tapi absen sebagai sosok. [….]

 

Tulisan ini dimuat di Koran Padang Ekspres, 27 Agustus 2017

Sila unduh versi pdf: BERBEDA JALAN MENUJU REVOLUSI

 

KATA MATA: SEBUAH PEMBACAAN AWAL

POSTER KATA MATA

Tulisan berikut merupakan makalah saya dalam diskusi buku Ibnu Wahyudi, 4 Desember 2017, di Gedung I FIB Universitas Indonesia, Pukul 10.00-12.00 WIB. Agenda ini merupakan rangkaian Dies Natalis FIB UI ke-77. Saya diminta untuk membicarakan buku puisi berjudul Kata Mata (2017). Dr. Fachry Ali membicarakan buku Jejak Jarak (2017) dan Dr. Eva Latifah membahas buku puisi Dalam Pesona Sinjo (2017).

Sila diunduh versi pdf.:

KATA MATA, PEMBACAAN AWAL oleh Esha Tegar Putra