FIKSI POSMODERN CINDUA MATO

Dalam kosmologi Minangkabau Kaba Cindua Mato menempati posisi penting karena menggambarkan keseimbangan, ketertiban, dan struktur dalam masyarakat Minangkabau. Selain penting, kaba tersebut dianggap spesial, berbeda dengan kaba lain.

Taufik Abdullah (2009) mengungkapkan bahwa Kaba Cindua Mato sudah dianggap par excellence, mitos negara, pegangan dan standar rujukan bagi ahli teori dan penjaga adat Minangkabau. Sementara itu Elizabeth E. Graves (2007) memandang kaba tersebut adalah epos dari penggambaran sistem pengorganisasian, kewenangan, dan bagaimana kerajaan Pagaruyung menghormati Raja Adat dan Raja Ibadat serta Basa Ampek Balai yang merupakan pendamping sekaligus perwakilan sub-divisi geografis utama.

Baca lebih lanjut

MENCARI PUTI BUNGSU

Pada air tenang dalam talam itu
kembali aku cari tubuhmu

kulihat sebuah dusun tersibak dari balik kabut pagi
barangkali itu kota tersumbul seusai asap berhari-hari

lenguh seekor babi hutan diterkam anjing pada bagian leher
gerung truk-truk tua pengangkut pasir pada pendakian kesekian

Baca lebih lanjut

LENGGO GENI KEPADA CINDUA MATO

Telah aku himpun berpuluh lesung berikut alu, Kakanda
ketika tiga malam berturut-turut
murai memekik di tandan buah kelapa
dan bengkalai kain selesai kubakar
sudah jadi abu, sudah berupa debu
lesung dan alu kubuat berbunyi bertalu-talu
hingga tanah membikin lindu
lenganku berharap segera terkait tulang belikatmu
rambutku berkibaran sudah sementara angin kosong tiada menderu
entah mambang dari gunung mana
entah hantu dari lembah mana
membikin gerak jantung ini kian menggila.

Baca lebih lanjut

MONOPOLIS & TUBUH PANGGUNG

DSC_2440 - ed

Pertunjukan teater Komunitas Seni Hitam Putih berjudul Monopolis (Sabtu, 25 Maret 2017) lebih terlihat seperti sebuah usaha untuk “mempertanyakan” kembali tema Helateater Komunitas Salihara 2017 mengenai teater non-verbal (teater tubuh). Apakah non-verbal hanya dimaksud untuk teater tanpa kata-kata, tanpa dialog, dan seutuhnya mengandalkan dramaturgi tubuh? Atau malahan ketika bagian dari pertunjukan tersebut tidak lagi menggunakan kata-kata dan dialog, tubuh malah hadir secara verbal?

Baca lebih lanjut

RAISYA, YANG MELAWAN DENGAN RATAP

Dalam catatan Parada Harahap (lihat saduran ulang Suryadi, Leiden, dalam Kilas Balik: Poligami di Minangkabau Dari Pantai ke Pantai: Perdjalanan ke-Soematra, October – Dec. 1925 dan Maart – April 1926, dituliskan bagaimana lazimnya orang-orang beristri banyak (poligami). Ia menyebutkan bahwa adat (di Minangkabau) meluluskan orang untuk beristri hingga empat, dan kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh banyak orang, dan sebagian menganggap bahwa beristri (atau kawin) hingga berkali-kali adalah tanda kemegahan dan kemahsyuran. Bahkan ada yang mengganggap beristri banyak sebagai pencaharian (mata pencarian), karena kerap antara istri pertama, kedua, atau ketiga, berlomba-lomba untuk menyenangkan hati si suami setiap pulang ke rumahnya, dengan menyediakan makanan yang lezat-lezat termasuk memberikan uang. Dengan keadaan yang demikian, maka pihak suami menjadi manja, dan menganggap perempuan jadi perkakas kerja dan untuk menyenangkan hati saja.

Baca lebih lanjut