BUKAN TUTORIAL PENGIRIMAN PUISI

Tulisan ini bukanlah sebuah “panduan” atau “tutorial”. Setiap orang mempunyai cara berbeda dalam mengirimkan karya. Tapi saya dari waktu ke waktu tetap menggunakan format surel yang relatif sama. Meskipun suatu ketika ada perbedaan (dalam hal penjelasan) dan tergantung mood saya. Bagaimanapun juga, menurut pandangan saya, redaksional dalam surel bukanlah pertimbangan utama apakah karya akan dimuat oleh redaktur, tetap karya menjadi pertimbangan utama.

Beberapa tutorial baik komentar di media sosial saya baca menjabarkan ada pula trik-trik tertentu dalam mengirimkan karya ke media massa. Ada yang mengatakan “kirimlah hari Minggu malam, sebab Senin pagi redaktur dalam pikiran tenang seusai liburan”. Ada pula yang berkata, “kirimlah tulisan Anda hari Kamis sore, atau Kamis malam, sebab antara hari Kami dan Jumat deadline persiapan untuk koran Minggu”. Saya tak pernah berlaku begitu, bagi saya, siang atau malam, Senin atau Minggu dan hari lain sama saja.
Baca lebih lanjut

SETELAH MEMBUKA TAMBO

Di hadapanku,
rumah tinggi
sebuah balkon dengan bohlam pecah
 
hari sedang kelam raya
ketika seekor kumbang terbang berputar lalu terjungkal
di atas meja.
 
Kemari ingatan,
ke pangkal telingaku
ke ruas-ruas jariku
ke gelupas triplek pada pintu kamarku
tapi jangan berharap apa-apa lagi pada urat kudukku
tidak lagi ada denyut
tidak lagi membikin segala macam ketakutan susut.
 
Kecuali rumah tinggi
tegak dengan bagak di hadapanku
kota ini telah berkerut
dan bikin angin bergerak menggelambir
kutunaikan sudah membaca kitab tentang kalian
kitab itu terus membikin ruang dalam mataku
terus berkejaran ke liang limpaku.
 
Dengung listrik,
loteng meredam suara kucing berkejaran
keran tidak lagi bisa ditutup rapat
terus meneteskan air
 
dan selesai sudah kelam raya
hari telah hitam muda
sementara kitab itu terus terjaga
di dalamnya kalian berjaga.
 
Depok, 2017

Dimuat Koran Tempo, Akhir Pekan, 1Juli 2017