“RAISYA” YANG MELAWAN DENGAN RATAP

Sebuah contoh praktik poligami dapat dilihat pada ulasan Suryadi (Singgalang, Minggu, 3 Maret 2013) tentang foto klasik Tuanku Laras (larashoofd) Sungai Puar, Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman, yang merupakan salah seorang kepala laras terkemuka di Minangkabau pada zamannya. Beliau menjadi kepala laras Sungai Puar
sejak tahun 1870-an sampai 1930-an. Dalam ulasan foto berjudul “Vrouwen en kinderen van het Larashoodf te Soengei Poear” (Istri-istri dan anak-anak Kepala Laras Sungai Puar), koleksi KITLV Leiden dan Tropenmusemum Amsterdam, Belanda, Suryadi menuliskan bahwa kelihatan 13 perempuan dan 8 laki-laki, termasuk Datuak Tumangguang Sutan Sulaiman sendiri yang berdiri paling belakang menggendong seorang anak lelaki (kelihatan kepalanya saja).

Sila unduh:

RATAP GADIS SUAYAN

Iklan

BIOGRAFI PUITIK LELAKI MINANG

LdTS membawa beban kultural mengenai posisi “lelaki”, “ruang privat”, dan “rantau” di Minangkabau. Lelaki terus digambarkan dalam posisi tidak menguntungkan, terus berada dalam kondisi memilukan. Lelaki ditakdirkan dari lahir untuk merantau dan tidak mempunyai ruang privat sendiri. Benarkan posisi lelaki di Minangkabau pada dasarnya serupa itu jalan hidupnya?

Sila diunduh:

ESAI LELAKI TANGKAI SAPU

DI AKHIR KITAB

Aku sudah sampai, Lenggo
ke inti kitab petualangan orang-orang muda
telah aku buang jauh-jauh diri sendiri
aku gantung tinggi-tinggi tubuh sendiri
hasratku padamu sudah terbiar lindap
bersama bengkalai dibakar itu
jadi abu
kau tiup
terbang-hilang di jenjang rumah

Baca lebih lanjut