FORUM PENYAIR MUDA: SEBENTUK EMBRIO

Tulisan ini merupakan catatan saya setelah mengikuti Temu Penyair Empat kota di Yogyakarta, 2006.

“Kawanku yang baik, terima kasih untuk pemberianmu, sebuah antologi puisi berjudul Herbarium yang kau kirimkan kepadaku beberapa jam lalu. Ah, sudah terlalu lama aku tak mencermati perkembangan puisi dengan baik; mataku seakan kian rabun saja terhadap munculnya generasi-generasi baru kepenyairan kita.” Begitulah ucapan dari Muhammad Al-fayyadl ketika membacakan makalahnya yang berjudul “Kitab Murung Sendu: Surat Imajiner (kepada) Seorang Pembaca” pada pembukaan acara forum penyair muda 4 kota di Taman Budaya Jogja. Seketika itu Taman Budaya Jogja tengah didatangi oleh puluhan “penyair muda” yang terdiri dari 4 kota; Jogja, Denpasar, Bandung dan Padang (Sum-bar), dan para penggiat sastra dari berbagai daerah lain yang menyaksikan peluncuran dan bedah buku antologi puisi 4 kota (Herbarium).

Baca lebih lanjut

PERKARA LAMA YANG TAK PERNAH SELESAI (“MEMBACA” SAJAK PERKARA LAMA GUNAWAN MARYANTO)

Tulisan ini merupakan periode awal saya belajar menulis puisi dan artikel, tahun 2007. Tidak disunting dan dihadirkan sebagaimana versi awlanya.

Bau tubuhmu yang tak bersalin kembali dibawa angin
Mengganggu dengan kenyataan lain
:malam, kaki gunung, gitar dan lagu-lagu, Oalah, sepatah cinta tanpa sepatu, dulu (perkara lama; fragmen satu)

Baca lebih lanjut

MENGAJAK SABAI

Kembali ke arah selat, Sabai.

Sebelum kota ini membuat tumitmu

terus membentur pembatas jalan.

Kota ini akan terus menghitung dengkur

Dibuatnya kita mimpi berlari di antara kedai-kedai pakaian

menelusuri gang-gang sempit

dengan suara-suara mesin jahit terus menderu

dan akan terus ada ratap pukimak mengharu-biru itu.

Kita akan terjaga, akan terus dibuat terjaga

Dengan pandangan mata menghampang rumah-rumah tinggi

tiang-tiang tinggi, jalan-jalan membenam-meninggi.

Kita dibuat terjaga di meja makan dengan hidangan pagi

menghadapi ayam goreng potong empat

gulai ikan karang dengan insang membiru

dan bau kulit sepatu lama direbus dalam panci.

Kembali, sebelum mambang belang lima

penunggang hantu kuda jantan tak bermoncong

dan tak berpinggang itu tiba dari masa lalu

merampas selimut tidur hingga pakaian dalammu

merebut buku tata cara membuat kerang saus padang

dengan sampul bergambar pisau

dan sendok goreng menyilang, kesukaanmu itu.

Ke arah selat, Sabai

mari ke ruang di mana tidur

tidak dihitung dari berapa kali kita mendengkur.

Depok, 2017

Dimuat di Koran Kompas, 7 April 2018

UBAI

Ubai adalah keluh prostat dan ambeien

gerungan lapar pada subuh

dengan suara rebusan akar batu

gelegak labu kuning dan jantung pisang

lenguh pangkal paha tersiram air panas

ketuntang panci dan kaleng roti jatuh ke lantai.

Di halaman, rumput akan terus meninggi, Ubai

daun rambutan akan tetap saja rurut

ada batang-batang pisang dengan umbi busuk tak terselamatkan

dahan-dahan jambu air patah dihempas angin gadang

kelapa tua jatuh menggelinding ke balik pagar apartemen.

Di sini, hari baik dan hari buruk terus bersabung

nasib serupa pertikaian bahasa pagar dengan palang panjang itu:

“terkurung

tak hendak kita di luar

terbebas

tak hendak kita di dalam”.

Ubai serupa alarm Mahali berdering dua jam sekali

hasrat untuk terus mematikan lampu laman saat subuh tiba

kehendak memautkan tali seekor anak anjing

ke pangkal pohon paling jauh

dan keinginan untuk menyembuhkan udara kota

dari demam berkepanjangan.

Depok, 2017

Dimuat di Koran Kompas, 7 April 2018

N.V. NUSANTARA DAN TRADISI INTELEKTUAL SUMATERA BARAT

pertjobaan setiaLembaga penerbitan di daerah dalam historiografi Indonesia berperan penting dan berkedudukan khusus dalam perkembangan tradisi intelektual. Dorongan-dorongan lembaga penerbitan untuk menghadirkan bacaan bermutu bagi masyarakat kemudian hari berefek pada kemunculan intelektual-intelektual baru. Selain itu, lembaga penerbitan di berbagai daerah pada masa pergerakan nasional juga merupakan semangat perlawanan terhadap penerbit Balai Pustaka sebagai badan resmi penerbitan kolonial.

Baca lebih lanjut

PENGARANG SUMATERA BARAT DAN BEBAN HISTORIS

IMG_8665.JPGHistoriografi kehadiran pengarang sastra dari Sumatera Barat ke panggung nasional sejak masa pra-kemerdekaan Indonesia terkadang membuat proses generasi pengarang abai dan terjebak dalam lingkaran romantisme. Historiografi tersebut memang tidak dapat dinafikan, bahwa Sumatera Barat dengan basis kultural Minangkabau telah turut menghadirkan keberagaman wacana dalam kesusastraan di Indonesia. Sejak Commissie voor de Inlansche School en Volkslectuur (1908), selanjutnya disebut Balai Pustaka (1917), dan kemunculan karya-karya yang dianggap sebagai tonggak kesusastraan modern Indonesia, pengarang dari Sumatera Barat tidak pernah absen menghadirkan karya mereka. Regenerasi kepengarangan tersebut memang masih berlangsung sampai hari ini. Meskipun harus dilakukan pemutakhiran kajian untuk melihat pasang-surut proses regenerasi tersebut. Namun secara garis besar, dalam historiografi kesusastraan Indonesia, dari periode pra-kemerdekaan hingga pergantian dari satu rezim penguasa ke rezim penguasa lainnya di Indonesia, pengarang dari Sumatera barat dengan kekhasan karyanya selalu hadir sebagai penyeimbang dari kehadiran karya-karya pengarang lain di berbagai daerah di Indonesia. Baca lebih lanjut