KECURIGAAN PADA POLITIK LITERASI

Untuk tidak terlalu jauh menganalogikan proses penerbitan karya-karya penulis muda sebagai bentuk politik literasi, sebagaimana tulisan Muarif bertajuk Politik Literasi, Buku Sastra, dan Penulis Muda (Jurnal Ruang, 1 Oktober, 2017), saya ingin mengemukakan tiga pertanyaan kepada kritikus sastra terseebut: (1) Bagaimana bisa proses penulisan dan perjuangan penerbitan buku penulis muda mutakhir dapat disandingkan dengan penulis yang menerbitkan karya di luar penerbit Balai Pustaka periode 1900-an hingga 1920-an?; (2) Bagaimana dapat menilai kualitas sebuah karya jika hanya bersadar perbandingan proses penerbitan indie (atau self-publishing) dengan penerbit mayor?; Bagaimana pula sebuah buku karya sastra yang dianggap berkualitas tanpa dilektika dengan di luar karya itu sendiri (kritikus, institusi penerbitan, sayembara kepenulisan, dst—arena kesusastraan)? Baca lebih lanjut