SABDA ARMANDIO, “KAMU”, TIGA HARI ANEH

Judul : Kamu (Novel) | Penulis: Sabda Armandio | Penerbit: Moka Media | Cetakan: Pertama, 2015 | Tebal: viii + 348 hlm: 11 x 17 cm | ISBN: 978-795-961-9 ~ Ulasan diterbitkan di halaman Buku, koran Padang Ekspres, Minggu, 26 April 2015. Pada edisi koran, ada kesilapan dari penulis yang mencantumkan judul film Jim Carrey Sip Men!, seharusnya judul film tersebut adalah Yes Man! Mohon dimaafkan atas kesalahan tersebut.

Judul : Kamu (Novel) | Penulis: Sabda Armandio | Penerbit: Moka Media | Cetakan: Pertama, 2015 | Tebal: viii + 348 hlm: 11 x 17 cm ISBN: 978-795-961-9

Judul : Kamu (Novel) | Penulis: Sabda Armandio | Penerbit: Moka Media | Cetakan: Pertama, 2015 | Tebal : viii + 348 hlm: 11 x 17 cm
ISBN: 978-795-961-9

Sabda Armandio Alif barangkali adalah salah seorang prosais muda dengan kemunculan karya cemerlang. Sebuah novel bertajuk Kamu (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya) yang ditulis Sabda memperlihatkan bagaimana ia menggarap jalinan cerita dari peristiwa-peristiwa biasa bahkan terkadang teramat konyol, nyeleneh, asing, tapi mampu membuat pembaca bertahan dalam rekaannya. Sabda seakan memberikan kesempatan hanya tiga hari untuk tokoh “aku” mengingat mundur ke masa lalu dan menarasikan tokoh-tokoh lain semisal “kamu”, “pacarku”, “mantan pacarku”, “perempuan teman sekelasku”, “permen”, dll.

Sabda juga memberikan kesempatan tiga hari bagi pembaca untuk memasuki peristiwa asing yang terjadi pada tokoh “aku” dan persentuhannya dengan tokoh-tokoh lain. Tiga hari sebagai pembuktian bahwa tidak butuh waktu panjang untuk menghidupkan tokoh dan peristwa dalam sebuah novel. Tiga hari yang terkayakan.

Sudut pandang orang pertama tunggal digunakan Sabda sebagai penutur dalam novel barangkali benar menggambarkan prosa modern (novel) dalam kerangka kerja naratologi. Sebagaimana pandangan Ian Watt (Faruk, 2007:185), “aku” yang merupakan kata ganti yang menunjuk diri sebagai individu, merepresentasikan diri manusia dalam keadaan paling konkret, partikular, unik, yang berbeda misalnya dari kami yang merepresentasikan manusia dalam keadaan kolektif, abstrak, dan terbagi.

“Aku” dalam novel Sabda menggambarkan laku manusia sehari-hari (ordinary man). Bukan manusia yang lebih tinggi dalam gambaran tragedi, bukan pula manusia rendah dalam gambaran komedi. “Aku” adalah manusia biasa, manusia yang bukan apa-apa, tetapi dapat menjadi apa saja, manusia yang belum jadi sekaligus menjadi. Manusia yang terlibat dalam proses, terlibat dalam keadaan dan peristiwa, bukan manusia yang berada di luar proses, manusia yang ada di luar atau dikeluarkan dari peristiwa dan keadaan itu.

Dalam posisi keadaan biasa tersebut, tokoh “kamu” oleh Sabda turut diposisikan dalam bagian terpenting daalam novel ini.. Dari tokoh “kamu”-lah semua pengalaman aneh dan konyol yang dialami narator. “Kamu” seakan menjadi pusaran dari rekaan Sabda sehingga tajuk novel tersebut memberi kesempatan bagi tokoh tersebut untuk muncul dan diunggulkan oleh “aku”.

Beberapa Peristiwa Aneh

Sabda memainkan peristiwa masa lalu tokoh “aku”. Meski cuma tiga hari dinarasikan, tetapi seakan menyayat lapis-lapis terpenting dari kenangan tokoh tersebut. Dimulai dari narasi tokoh “aku” yang bekerja di sebuah perusahaan swasta dan ia hanya mempunyai tujuh jari tangan: lima di kanan, dua di kiri (hanya telunjuk dan ibu jari). “Aku” yang berusia 27 tahun, baru saja pindah indekos, dan perpindahan tersebut membuatnya mengenang sesuatu mengenai masa lalu dengan cara yang unik: “Mengenang sesuatu sepertinya menarik, lagi pula mudah. Ada banyak cerita asik untuk memulai: tentanglah kardus berisi barang-barang lawasmu, ambil satu benda yang terletak di lantai, benda apa saja, dan biarkan ia bercerita. Atau begini: jilat bersih sendok bekas makan, pandangi agak lama, dan sebuah cerita bisa kembali begitu saja—seperti pria ramah yang mengetuk jendela kamarmu dan berkata, “Ya, ini saatnya membuka jendela” (hal.23).

Dari sanalah, “aku” mulai mengenang 10 tahun ke belakang, sewaktu masih kelas III SMA. “Aku” menarasikan hari pertama dalam novel tersebut ketika melalui sambungal telpon ia diajak bolos sekolah oleh “kamu” untuk mencari sendok tukang bakso yang dihilangkannya. Tokoh “aku” pun mendapat telpon kedua dari “perempuan teman sekelas” yang mengajaknya bolos untuk menceritakan keluhan hidupnya. Namun ia mengingat janji dengan “kamu” dan memilih menemani “kamu” mencari sendok.

Dari pencarian sendok inilah peristiwa unik dan aneh dimulai. “Kamu” yang kerap berkata salut! dengan berbagai gaya pengucapan di setiap situasi menganggap sendok tukang bakso yang dihilangkannya harus dicari. Dikarenakan tidak dapat diganti dengan sendok lain. Sebab sendok yang dia punya di rumah adalah “sendok untuk mengingat” dan dibuat sepasang : Tistan dan Isolde.” Perdebatan pencarian sendok antara “aku” dan “kamu” berakhir ketika “kamu” mengundur waktu pencarian dan mengajak “aku” mengantar tas titipan ayahnya ke rumah Kek Su di Gunung Mas, Bogor.

Lima menit terpanjang dalam hidup tokoh “aku” barangkali dirasakannya ketika itu. “Aku” seakan masuk ke dalam dunia mimpi ketika tertidur (atau barangkali tidak) di atas mobil “kamu”. Dari perihal itulah “aku” mengalami peristiwa aneh, Badai Monyet Parit menyerang kota Bogor, orang-orang panik karena monyet-monyet mengambil telepon seluler, kota lumpuh.

“Aku” dan “kamu” mengambil jalan pintas menuju rumah Kek Su. Mereka meyusuri sebuah gorong-gorong di belakang air mancur kota Bogor dan sampai ke “sisi B kota Bogor”. Tempat asing dengan tiga matahari menggantung, ladang bunga, harum, tanah, awan yang bergerak tanpa harus diseret angin. Tempat yang menurut “aku” tidak pernah ada di Bogor. Di tempat itu pula mereka bertemu dengan beberapa orang utan yang salah satunya memakai kaos bertuliskan “Save Human”.

Pertemuan dan percakapan dengan orang utan tersebut mengantarkan “aku” dan “kamu ke peristiwa yang lebih aneh lagi ketika sampai di rumah Kek Su. Kek Su yang gemar mengganti sebuah istilah dengan kata yang berima dan hanya mempunyai mata kanan dengan mata kiri rata dengan wajah mempunyai kepiawaian yang absurd. Ia melukis matanya sendiri dan menjadi mata asli. Kek Su menawarkan untuk melukis tiga jari “aku”, tapi ia menolak. Dan menang ternyata peristiwa itu adalah peristiwa paling membingungkan tokoh “aku”: Badai Monyet Parit, sisi B kota Bogor, dan kepiawaian Kek Su.

Hari ke dua dan ke tiga dinarasikan tokoh “aku” melalui beberapa peristiwa yang juga tergolong aneh dan dibungkus dengan kisah tragik. Misalkan ketika tokoh “aku” diajak oleh “mantan pacar” ke sebuah rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya—konon ia dihamili orang lain. Namun ketika mereka mampir ke sebuah kafe untuk makan, “aku” bertemu dengan seorang tukang sulap yang bisa membaca dirinya dan membaca diri mantan pacarnya. Tukang sulap dengan topi model top-hat yang bisa mengeluarkan kelinci, mengeluarkan selembar kartu namanta tapi beralamatkan rumah “aku”, dan hilang tertarik ke dalam topi sendiri.

Resistensi Tokoh

Beberapa peristiwa aneh dihadirkan Sabda dari pengalaman “aku”, “kamu”, dan tokoh lain setidaknya menggambarkan resistensi terhadap realitas hidup kekinian. Tokoh “aku” seakan hadir dan lengkap dari pengalaman tokoh lain, ia barulah menjadi “aku” setelah ia bersentuhan dengan pengalaman tokoh lain. Tiga hari aneh tersebut diisi sepenuhnya dengan bolos sekolah. Perdebatan “aku” dan beberapa tokoh lain seakan mengambarkan sebuah kritikan terhadap sekolah sebagai ruang penyeragaman. Kritik tersebut terlihat juga dari kehadiran tokoh bernama “Permen” yang disukai oleh “kamu”, yang konon, memilih home-schooling.

Selain itu tokoh “mantan pacar” juga dibenturkan perdebatan  tentang anggapan terhadap perempuan hamil di luar nikah, kehendak untuk sekolah, namun norma sosial. Tokoh “Perempuan teman sekelas” hadir dengan dilema. Ternyata belakangan hari ia baru mengetahui bahwa mencintai ayah kandungnya. Ia masih mempertanyakan hasrat yang oleh orang-orang dibahasakan sebagai electra complex tersebut. “Perempuan teman sekelas” menganggap cinta itu pemberian tuhan. Ia merasakan, meragukan, dan mengaminkan cintanya. Bahkan dalam novel dinarasikan peristiwa “perempuan teman sekelas” bertanya pada seorang ustad melalui sambungan telpon di acara reality show sebuah stasiun televisi. Pertanyaan tokoh tersebut menyentak orang-orang. Perasaan dan naluriah dasar manusia dibenturkan dengan norma dan hukum agama.

Dama novel tersebut Sabda seakan menggali ceruk terdalam masa lalu tokoh melalui perihal sangat sederhana dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang barangkali dalam realitas dianggap enteng dan tidak penting dipertanyakan. Kegemaran Sabda akan film, video game, dan beragam genre musik juga terlihat dari cara ia menghadirkan peristiwa dan memunculkan suasana. Dari jazz, rock and roll, blues, hingga musik pop lawas Indonesia. Minnie Smith and Her Jazz Hounds, Bob Dylan, The Beatels, Rolling Stones, The Doors, Norah Jones, Nick Drake, Stevie Wonder, hingga Elfa Singer dihadirkan untuk membangun suasana sekaligus dibangun oleh suasana.

Wajah sumringah Audrey Hepburn memerankan tokoh Holly Golightly dalam film Breakfast at Tiffany’s atau Jim Carrey dalam film Yes Man! turut dibangun dan terbangun dari sebuah  peristiwa. Juga beberapa teori yang mempengaruhi peradaban dunia semisal The Smoky God George Emerson dijadikan pandangan dan landasan tokoh dalam berinteraksi. Sebuah novel hadir dengan peristiwa yang boleh dipercaya atau tidak. Seperti penawaran Sabda dari novelnya pada pembaca: cerita-cerita yang tidak perlu dipercaya.***

Versi PDF:

ULASAN NOVEL SABDA ARMANDIO

 

KARTOSOEWIRDJO DALAM PUISI

Di Tasikmalaya, 7 Agustus 1949, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirdjo selaku Imam dan Pimpinan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII). Tak lama kemudian Presiden Indonesia, Sukarno, mengirimkan Divisi Siliwangi dan satuan lain untuk menghancurkan gerakan tersebut.

Kartosoewirdjo, menurut sejarawan Bonnie Triyana, merupakan representasi dari salah satu keberagaman ideologi yang tumbuh dalam taman kebangsaan Indonesia. Dibesarkan oleh Tjokroaminoto bersama-sama Sukarno. Namun berpisah di penghujung jalan perjuangan dengan rekan indekosnya itu. Mohammad Iskandar, penulis esai “Sekarmadji Maridjan Kartosoewirdjo di Penghujung Perjalanan” beranggapan bahwa angan-angan mendirikan Negara Islam di Kepulauan Indonesia sudah dimiliki Kartosoewirdjo sejak ia masih menjadi pengurus Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII) di akhir dekade 1930-an.

 Saya menulis dua ulasan soal buku puisi ini, satunya resensi ini, dimuat di Padang Ekspres, 15 Maret 2015.

Cover Kematian Kecil Kartosoewirdjo

Usaha pembasmian gerakan DI/TII atas perintah Sukarno berlangsung cukup lama, belasan tahun. Barulah tahun 1962 gerakan tersebut dilumpuhkan. Kartosoewirjo ditangkap oleh tentara Siliwangi pada tanggal 4 Juni 1962 saat bersembunyi dalam sebuah gubuk di Gunung Rangkutak, Jawa Barat. Dan akhirnya Kartosoewirjo diputuskan hukuman mati oleh Sukarno dan dieksekusi September 1962 di Pulau Ubi, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.

Namun informasi mengenai bagaimana cara Kartosoewirjo dihukum mati masih menjadi pertanyaan bagi banyak orang termasuk dugaan tempat eksekusi dan pemakamannya. Minimnya informasi tersebut barulah menemui titik-terang ketika Fadli Zon, politisi partai Gerindra, meluncurkan buku 81 foto jalannya eksekusi mati Kartosoewirdjo. Foto-foto dalam buku tersebut memperlihatkan bagaimana Kartosoewirdjo melakukan pertemuan terakhir dengan keluarganya, makanan terakhir yang disantapnya, perjalanan ke pulau, proses eksekusi mati, pemandian jenazah dan sholat jenazah, sampai proses pemakamannya.

Kartosoewirdjo adalah pengusung cita-cita besar, pemilik rasa cinta terhadap Tanah Air, tapi salah memilih strategi, setidaknya itulah anggapan jurnalis Ichwan Prasetyo. Kegetiran Sukarno atas eksekusi mati Kartosowirdjo juga dirasakannya, namun tindakan tersebut harus diambil sebagai seorang pemimpin: “Menandatangani hukuman mati, misalnya, bukanlah satu pekerjaan yang memberi kesenangan padaku. Ambillah misalnya Kartosoewirdjo. Di tahun 1918 dia kawanku yang baik. Di tahun 1920-an di Bandung, kami tinggal bersama, makan bersama, dan bermimpi bersama-sama…” kata Soekarno.

Kematian Kecil Kartosoewirdjo

Terkuaknya proses eksekusi mati Kartosoewirjo membuat cerpenis dan penyair Triyanto Triwikromo menulis buku himpunan puisi bertajuk “Kematian Kecil Kartosoewirdjo”. Buku tersebut berisikan 54 puisi yang merupakan pembacaan Triyanto bersumber pada beberapa buku, pemberitaan, termasuk foto-foto koleksi Fadli Zon. Triyanto menuliskan pada akhir buku puisi tersebut bahwa Hari Terakhir Kartosoewirdjo, koleksi foto dalam buku Fadli Zon tersebut, telah membantu dirinya dalam menghadirkan (dalam bentuk puisi) peristiwa eksekusi mati Kartoseowridjo di tiang penembakan.

Selain itu sumber buku Kahar Muzakar & Kartosowirjo, Pahlawan atau Pemberontak? Buku yang ditulis oleh Prof Dr Suwelo Hadiwidjodjo, Kartosoewirdjo, Mimpi Negara Islam, seri Buku Tempo terbitan Redaksi KPG, penolakan grasi terhadap Kartosoewirdjo dalam tulisan Cindy Adams Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat, dan tulisan Martin Lings mengenai Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, menurut Triyanto telah menjadi sumber tak kering-kering baginya dalam menulis puisi-puisi dalam buku kumpulan puisi Kematian Kecil Kartosoewirdjo.

Triyanto menggunakan pola puisi liris dalam menghadirkan kembali citraan hari-hari terakhir Kartosoewirdjo, dimulai dari puisi “Penangkapan” dan diakhiri dengan puisi “Kesaksian”. Tiga babakan dihadirkan dalam dalam buku tersebut seakan ingin membatasi ruang pembacaan: Awal (1 puisi), Antara (52 puisi, Akhir (1 puisi). Puisi-puisi dalam buku tersebut seolah menghadapkan kembali pada pembaca bagaimana Kartosoewirdjo tertangkap, dibawa ke tiang gantungan, dan kesaksian-kesaksian para regu tembak. Lihat bagaimana Triyanto menghadirkan suasana puitik dalam proses “Penangkapan” (hal.1) Kartosoewirdjo: “/Hutan biru menyembunyikan apapun, atau siapapun,/ yang bertabur fosfor dan aura kirmizi dari ancaman/ sedadu. Hutan biru menyembunyikan aku dari kutuk/ kematianku.// karena itu, kau, prajurit yang lemah lembut, jangan pernah/ merasa gampang menangkapku. Aku satwa yang dililit/ bersi berlapis salju. Peluru tak bisa menembus jantungku…//”

Dalam puisi-puisi tersebut Triyanto seolah ingin memasuki dunia Kartosoewirdjo sebelum eksekusinya, dunia para regu tembak, bahkan secangkir kopi, ganti baju, tiang gantungan sampai raut maut dicitrakan oleh Triyanto. “Aku belum mengenal raut maut saat kau mempercakapkan/ kematianku. Apakah ia berwajah kuda atau mutiara, apakah/ ia hijau muda atau biru tua, aku sama sekali tak berhasrat/ memandang matanya yang terus menyala, aku sama sekali/ tak ingin menyapa…” (Raut Maut, hal 7).

Lihat bagaimana Triyanto berusaha menghadirkan pengandaian-pengandaian dalam puisi “Kesaksian” (hal.103). Pada puisi tersebut dihadirkan semacam pandangan-pandangan dari komandan regu tembak, pemeriksa jenazah, pemandi jenazah, para pengubur, perawat jenazah, imam tentara, para pendoa, dan oditur. “Komandan Regu Tembak: Segalanya telah selesai. Tak/ perlu mempersoalkan apakah lelaki ini pemberontak atau/ pahlawan.// Pemeriksa Jenazah: Aku bersaksi mayat itu begitu harum.// Para Pengubur: Tugu kembalilah tugu. Senja/ kembalilah pada senja. Batu kembalilah pada batu./ Bianglala kembalilah pada biang lala…//

Kehendak Kartosoewirdjo dengan mendirikan Darul Islam telah membawanya ke tiang gantungan. Imam DI/TII ini memang adalah salah satu bentuk keberagaman pandangan di negera ini, keberagaman yang menginginkan ‘kemerdekaan’ dengan cara sendiri. Dalam buku puisi Kematian Kecil Kartosewirdjo, Triyanto mengutip pandangan Ahmad Sahal, Wakil Ketua Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Amerika-Kanada, yang mengungkapkan bahwa kehendak Kartosoewirdjo  mendirikan Darul Islam barangkali karena ia tidak sabar dengan manusia konkret, manusia dengan daging dan keringatnya seringkali kerdil, mementingkan diri sendiri dan munafik. Karena itu Kartosoewirdjo berusaha mengatasi kekecewaan itu dengan solusi yang (dibayangkan) sempurna dan jauh dari kekerdilan manusia konkret.

Paradoksnya, menurut Sahal, Kartosoewirdjo menginginkan “surga” di bumi. Padahal bumi manusia, sebagaimana yang dia alami sendiri, justru mengecewakan, sama sekali bukan surga, ini berbeda, misalnya, dengan tokoh-tokoh Islam lain pada zamannya yang tak menempuh jalan “pemberontakan”.

Dan puisi memang menghadirkan paradoks itu. Kematian Kecil Kartosowirdjo yang ditulis Triyanto telah menghadirkan semacam alternatif lain dari cara memandang sebuah peristiwa sejarah, tidak ada benar dan salah, kemungkinan-kemungkinan selalu tersimpan dalam bahasa puisi. ***