PUISI DAN BANALITAS RUANG

Tulisan ini diterbitkan di halaman budaya Padang Ekspres, Minggu, 10 Mei 2015.

Lukisan Muhammad Taufiq (Emte) untuk puisi Menjadi Kemacetan di buku puisi Melihat Api Bekerja

Melihat Api Bekerja, merupakan buku puisi sekaligus buku rupa. Secara konsep buku tersebut merupakan paduan dari himpunan puisi M. Aan Mansyur sekaligus buku rupa (semacam menghadirkan pameran langsung ke hadapan penikmat seni ripa) Muhammad Taufiq (Emte). Meski puisi serta rupa dalam buku tersebut saling berkaitan, secara ide, karena dikonsep berbarengan, penyair dan perupa saling berinteraksi menghadirkan teks tertulis dan teks visual. Namun puisi dan rupa di dalamnya secara tidak langsung turut berdiri-sendiriir dengan kemadiriannya. Masing-masing hadir sebagai kekuatan masing-masing. Ulasan berikut barulah menyentuh bagian kecil dari buku tersebut, sebuah ruang dalam puisi M. Aan Mansyur namun belum menyentuh bagian dari lukisan Emte.

Ketika M. Aan Masyur merilis Melihat Api Bekerja sebagai bakal judul buku puisi terbarunya, saya langsung terbayang satu adegan dalam novel Norwegian Wood, karya Haruki Murakami. Adegan ketika tokoh Watanabe berkunjung ke rumah Midori di distrik Toshima. Saat itu terjadi kebakaran dekat rumah Midori. Mereka berdua naik ke lantai tiga rumah, tempat penjemuran, dan dari ketinggian itu mereka memandang daerah sekeliling. Mereka menonton kebakaran terjadi.

Melihat Api Bekerja telah mengantarkan pikiran saya ke bagian adegan yang saya anggap banal itu. Meskipun Aan tidak melakukan reproduksi teks terhadap adegan novel Murakami, tetapi teks puisi-puisi Aan sejauh pembacaan saya terhadap beberapa puisinya yang dimuat di halaman sastra media massa dan buku puisi sebelumnya, cenderung menegasikan banalitas ruang.

Aku-puisi Aan kerap lahir dari ruang dengan kepungan sistem yang kian lama kian memabukkan, menjenuhkan, mengikat erat tubuh dan pikiran. Sehingga aku-puisi dan tokoh lain dalam puisinya menciptakan realitas sendiri dalam kebanalan ruang itu. Aku-puisi terkadang berupaya mengasingkan tubuh dan pikiran dari keruwetan ruang. Aku-puisi sesekali berupaya menciptakan keberbahagiaan di luar keberbahagiaan yang dirasakan orang kebanyakan (mainstream). Sebaliknya, begitu juga ketika menciptakan kesedihan.

Dalam adegan Norwegian Wood dinarasikan suasana ketika Watanebe dan Midori santai minum kopi di lantai tiga rumah sambil melihat asap membumbung tinggi. Api melahap rumah tetangga. Mereka melihat api tersebut bekerja. Sirine mobil pemadam kebakaran meraung-raung. Orang-orang di sekitar kebakaran turut menonton api bekerja. Watanabe dan Midori masih sempat berciuman dalam situasi begitu.

Melihat Api Bekerja

Lukisan Muhammad Taufiq (Emte) untuk puisi Surat buat Ibu di Kampung di buku puisi Melihat Api Bekerja

Ketika saya mendapati buku puisi Melihat Api Bekerja (Gramedia Pustaka Utama, 2015), kecurigaan saya terhadap citraan lirikal puisi Aan menemukan sebuah hulu: citraan banalitas ruang. Aan memiuh lirikal puisi secara timpa-menimpa, meski kerap muncul aku-kamu-puisi yang apabila dibaca sepintas akan terkesan menyempit pemaknaannya, hanya hubungan kausalitas aku-kamu-puisi. Namun, ketika puisi Aan terus dimasuki, aku-puisi secara terang menjadi representasi dari peristiwa yang mewakili realitas ruang bersama.

Lihat bagaimana bait pertama puisi Melihat Api Bekerja (hal. 129) yang dijadikan judul pengait untuk keseluruhan buku: Di kota ini ruang bermain/ adalah sesuatu yang hilang/ dan tak seorang pun berharap/ menemukannya. Anak-anak tidak/ butuh permainan. Mereka akan/ memilih kegemaran masing-masing/ setelah dewasa. Menjadi dewasa/ bukan menunggu negara bangun./ menjadi dewasa adalah menu/ favorit restoran cepat saji.

 

Dalam bait tersebut “kota” telah menjadi ruang banal dan menciptakan manusia dengan ketidakberperasaan (senselessness)—meminjam istilah Yasraf Amir Piliang dalam Hantu-Hantu Politik dan Matinya Sosial (2003)—manusia yang tidak mampu lagi merasakan dan lahirlah “anak-anak” yang tidak lagi membutuhkan ruang “permainan”, yang membiarkan “ruang bermain” hilang dan tidak berharap lagi menemukan ruang kegembiraan tersebut. Manusia dengan cara berpikir yang dipengaruhi hasrat praktis seperti “restoran cepat saji” di mana mereka tidak lagi memerlukan permenungan, refleksi, dan sublimasi dalam menelaah eksistensi manusia dan kemanusiaan.

Pada bait kedua, puisi Melihat Api Bekerja seakan kian mempertegas sosok manusia yang hadir dalam ruang banal. Dibenturkannya kebutuhan dan mengenai hasrat besar manusia akan “pagar” (rumah) ketimbang “pendidikan”. “Sekolah” seakan hanya jadi ruang beristirah dari kesuntukan perkelahian di “rumah”: Para tetangga lebih butuh pagar/ tinggi daripada pendidikan. Sekolah/ adalah cara terbaik untuk/ istirahat berkelahi di rumah. Anak-/ anak membeli banyak penghapus/ dan sedikit buku. Terlalu banyak hal/ yang mereka katakan dan gampang/ jatuh cinta. Mereka menganggap/ jatuh cinta sebagai kata kerja dan/ ingin mengucapkannya sesering/ mungkin. Mereka tidak tahu jatuh/ cinta dan mencintai adalah dua/ penderitaan yang berbeda.

Saya teringat sebuah esai Avianti Armand dalam buku Arsitektur yang Lain (2011) ketika simbolisasi “pagar” sebagai bagian dari ruang banal dihadirkan Aan dalam puisi. “Mungkin memang ada fungsi simbolis selain fungsi praktis yang dihadirkan oleh pagar. Menegaskan hierarki, misalnya…” tulis Avianti tentang pagar rumah masyarakat di sebuah kota. Ia memaknai kebutuhan manusia akan pagar tinggi adalah fenomena masyarakat yang paranoid. Fenomena tersebut dianggap sebagai cerminan keadaan sosial yang lebih luas: disparitas dalam masyarakat, ketimpangan kaya-miskin, dan tak adanya penegakan hukum yang baik. Masyarakat terpaksa mengambil tindakan sendiri untuk menjaga hak miliknya dan melindungi dirinya dari bahaya. Kota telah berkembang menjadi ancaman. Dan pagar sekedar bentuk tangible dari rasa ketidakamanan dan ketidak percayaan yang akut.

Simbolisasi “pagar” tinggi yang dimaksud Avianti baik mengenai masyarakat paranoid, ketimpangan sosial, dan tak adanya penegakan hukum yang baik barangkali hampir sama dengan “hidup dalam kehilangan”, “harapan”, dan “hidup tanpa curiga” yang dianggap sebagai “hidup yang terkutuk” dalam bait puisi Melihat Api Bekerja selanjutnya: “…Jalan-jalan dan rumah kian lebar./ Semakin banyak orang hidup/ dalam kehilangan. Harapan adalah/ kalimat larangan, sesuatu yang/ dihapus para polisi setiap mereka/ temukan di pintu-pintu toko./ Hidup tanpa curiga adalah hidup/ yang terkutuk. Kawan adalah lawan/ yang tersenyum kepadamu…”

Tiga bait puisi Melihat Api Bekerja di atas seakan memperlihatkan dan bahkan mempertegas bagaimana cara Aan terus menghadirkan bagian dari banalitas ruang (kota) melalui tafsir puisi. Aan seakan merancang arsitektur untuk ruang privat dan kolektif yang banal. Membenturkan realitas kehidupan di dalamnya lantas menciptakan sebuah realitas lain yang sebenarnya semu. Dalam kondisi tersebut, pada bait puisi selanjutnya, aku-puisi muncul di tengah kondisi ruang banal dengan citraan ketakberperasaan masyarakatnya. Aku-puisi dihadirkan  di tengah masyarakat yang dalam istilah Yasraf telah menjadi mesin-mesin paranoia global. Masyarakat yang membentangkan semacam diseminasi global semiotik (global semiotic dissimination) dengan menyebarkan citra kekerasan, ketakutan, kecurigaan, kebencian dan kutukan, dalam skala besar dengan segala manipulasi dan simulasinya.

Lihat bagaimana aku-puisi muncul di bait keempat puisi Melihat Api Bekerja: “…Selebihnya tanpa mereka tahu,/ sepasang kekasih diam-diam/ ingin mengubah kota ini jadi/ abu. Aku mencintaimu dan kau/ mencintaiku—meskipun tidak/ setiap waktu. Kita menghabiskan/ tabungan pernikahan untuk beli/ bensin./ /Kita akan berciuman sambil/ melihat api bekerja.

Aku-puisi dan seseorang lain dengan sebutan kekasih hadir sebegai sepasang manusia sadar akan ruang. Sepasang kekasih dengan cara diam-diam berkeinginan mengubah kota menjadi abu. Sepasang kekasih yang berencana menghabiskan tabungan pernikahannya untuk membeli bensin dan mereka akan melakukan adegan seperti Watanabe dan Midori dalam novel Norwegian Wood, Haruki Murakami. Jika “api bekerja” dalam novel Murakami adalah semacam kebetulan belaka, maka “api bekerja” dalam puisi Aan adalah niat dan keinginan aku-puisi dan kekasih. Sebuah upaya penghancuran realitas  semu  oleh aku-puisi bersama kekasihnya.

Beberapa Puisi Lain

Lukisan Muhammad Taufiq (Emte) untuk puisi Menikmati AKhir Pekan di buku puisi Melihat Api Bekerja

Beberapa puisi lain dalam buku puisi Melihat Api Bekerja melihatkan kecenderungan serupa. Hampir sebagian besar dari 54 puisi dalam buku puisi tersebut Aan seakan terus-menerus menghadapkan pembaca ke realitas ruang bersama. Perihal tersebut terbaca dari puisi Menonton Film (hal. 30), Melihat Peta (hal. 37), Menunggu Perayaan (hal. 40-41), Menenangkan Rindu (hal. 47), Sejam Sebelum Matahari Tidak Jadi Tenggelam (hal. 49-51), Catatan Seorang Pedagang di Pasar Terong Makassar (hal. 52), Pameran Foto Keluarga Paling Bahagia (hal. 63), Jendela Perpustakaan (hal. 64), Mengunjungi Ambon (hal. 71-73), Langit dan Laut di Timur (hal. 74),  Meyaksikan Pagi di Beranda (hal. 90), Menjadi Kemacetan (hal. 93), dll.

Melihat Api Bekerja telah menjadi keterwakilan dari sebagian besar puisi Aan. Semesta banalitas ruang dihadirkan lengkap dengan penghuninya. Dan agaknya saya tidak setuju ketika Sapardi Djoko Damono, dalam penghantar buku, melalui puisi berjudul Menyeberangi Jembatan mengatakan bahwa Aan seakan berdongeng dan “menyampaikan dengan seenaknya apa yang terlintas begitu saja dalam pikirannya”, atau “ia ‘ngomong’ saja”.

Puisi Aan dianalogikan seperti dongeng yang disampaikan secara lisan. Kalimat-kalimat Aan dianggap  sebagai episode-episode  yang bermunculan ‘begitu saja’ seperti kita dengar dari  penyampaian lisan. Pandangan Sapardi seakan tidak berupaya menyentuh capaian lain dalam puisi Aan.

Versi PDF:

Aan Mansyur, Melihat Api Bekerja, PUISI DAN BANALITAS RUANG

MEMBACA “DALAM LIPATAN KAIN”

Ulasan mengenai buku “Dalam Lipatan Kain” ini ditulis R.Abdul Aziz, mahasiswa UPI, Bandung. Anggota ASAS UPI. Diterbitkan halaman seni-budaya koran Padang Ekspres, Minggu, 12 April 2015.

Selain pengkaji, pembaca adalah orang yang tidak bisa berbuat apa-apa dengan bahasa yang diposisikannya sebagai objek, itulah pandangan Bourdieu yang menyamakan persepsinya dengan Bally. Dalam membaca kumpulan puisi terbaru Esha Tegar Putra berjudul “Dalam Lipatan Kain” terbitan Motion Publishing (2015) saya berupaya menempatkan teks sebagai objek untuk dianalisis dan harus mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan terdekat.

Meminjam ungkapan Barthes tentang ruang otonom ‘teks’ bahwa kematian pengarang telah terjadi ketika ‘teks’ itu diberi label dan diedarkan untuk dikonsumsi. ‘Aku’ yang berada di dalam ‘teks’ bukanlah aku seorang pengarang, melainkan aku ‘teks’. ‘Teks’, sebelum diberi label ‘puisi’ adalah sebuah ruang hampa yang diciptakan. Sebab ketika teks diberikan identitas, ketika itu pula ruang hampa ini seolah-olah terisi. Lalu apa yang menarik dari teks dalam buku puisi “Dalam Lipatan Kain” yang dinamai puisi oleh Esha Tegar Putra ini?

Baca lebih lanjut

DALAM LIPATAN KAIN

image1

Buku puisi terbitan Kata Bergerak (Motion Publishing) ini memuat 87 puisi yang saya tulis dalam rentang waktu 2009-2014. Sebagian puisi sudah pernah disiarkan di halaman sastra beberapa media cetak seperti koran Padang Ekspres, Kompas, Koran Tempo, Riau Pos, Suara Merdeka, dan Lampung Pos. Untuk pemesanan silahkan hubungi penerbit, ponsel 081281977257, atau mention ke twitter @katabergerak. Buku ini dujual seharga Rp. 54.000. Selamat membaca.

ANTARA NERSALYA & “AKU”-PUISI


Tulisan ini telah dipublikasikan di halaman buku koran Padang Ekspres, Minggu, 29 Maret 2015.

Nersalya Renata, penyair perempuan sekaligus aktris Teater Satu Bandar Lampung, beberapa waktu lalu menerbitkan sepilihan puisi dalam buku berjudul Lima Gambar di Langit-langit Kamar. Dalam buku tersebut terhimpun 55 puisi Nersalya yang ditulis rentang waktu satu dekade lebih. Puisi pembuka berjudul “Lingkaran” tercatat berkolofon 2001 dan puisi penutup berjudul “Garis” dengan kolofon 2013.

 

Kesabaran Nersalya dalam mengasah intuisi puitiknya terbaca dari sebagian besar puisi dalam buku tersebut. Tak ada ledakan diksi-diksi membahana. Tak ada liukan metafor-metafor njelimet. Suara-suara akupuisi Nersalya seakan muncul dari ruang kesederhanaan namun menyimpan beragam peristiwa. Ia seakan berusaha membekap getar bahasa, mengajak kata-kata mengembara ke bagian tersuruk di hari lalu, di mana ada sebuah ruang (barangkali rumah)nyaman yang telah mengendapkan peristiwa-peristiwa kecil dan selalu bergelayutan hingga hari depan seseorang.

 

Akupuisi Nersalya di satu sisi mengajak kita memasuki dunia kanak-kanak seorang perempuan. Bermain “dokter-dokteran” dengan “stetoskop plastik” pemberian seorang ayah (Stetoskop Plastik”, hal.27-28) . Fantasi tentang gambar di langit-langit kamar dimana ada gambar hati seorang lelaki berisi “3 kuntum bunga”, gambar “ibu mencium seekor katak”, “sebuah kanvas kosong”, dan fantasi lainnya (Lima Gambar di Langit-langit Kamar”, hal.35). Cerita tentang seorang “ibu” yang selalu menjadikan dirinya “rumah bagi ayah” dimana rumah tersebut “terus menerus ditinggalkan” untuk kemudian “dimasuki kembali oleh ayah” (“Rumah”, hal.36). 

 

Tentang “khayalan” untuk seorang “nenek” dimana seorang cucu seakan berharap “selembar uang plastik” yang “cukup untuk membayar tagihan telepon, listrik, dan belanja-belanji 30 tahun ke depan,” atau “robot untuk membersihkan rumah” barangkali agar nenek tidak perlu repot “memasak, mencuci, menyetrika, menyiram bunga”, hingga “dokter pribadi  yang selalu siap dan sabar” mendengarkan segala keluhan seorang nenek (Khayalan untuk Nenekku, hal. 51). Juga tentang cerita seorang cucu mengenai “mobil impian kakek”-nya (Mobil Impian Kakek, hal. 52-53).

 

Di sisi lain, aku-puisi yang perempuan kecil itu terus bertumbuh matang pikiran dan perasaan hingga mampu berpikir tenang memutuskan sebuah persoalan dalam ruang pribadinyaPerempuan itu terus bertumbuh dan mulai mempertanyakan persoalan hubungan illahiah manusia. Ia membayangkan “dosa-dosa” serta “doa-doa” barangkali “berputar seperti pusaran air” (“Lingkaran”, hal.12). Ia bayangkan dirinya jika mati kelak akan diawetkan dalam puisi (“Mati”, hal.38). Ia memberi tahu tentang ayahnya yang selalu mencari tuhan-tuhan lain sebab satu tuhan tak pernah cukup bagi ayaknya, “tuhan yang tak perlu dirayu-rayu dengan doa”, “tuhan yang bisa disematkan di jari manis”, “tuhan yang di tanam di pojok-pojok rumah”, “tuhan yang dapat dilarutkan dalam minuman”, dan beragam pengandaian tuhan lain (“Tuhan dan Ayahku”, hal.42-43). 

 

Perempuan kecil dalam puisi Nersalya terus bertumbuh, mempertanyakan tubuhnya sendiri dan meragukan berahi. Perempuan kecil itu juga tumbuh menjadi seorang ibu sebagaimana ibu yang turut dibahasakannya. Lihat bagaimana aku-puisi berlaku sebagai seorang “ibu” dalam puisi berjudul “Kepada Anakku”: aku mencintaimu/ jauh sebelum namamu kutemukan// telah kupilih ayah terbaik untukmu/ ayah yang membuat matamu berbinar/ setiap kali kau menatapnya/ ayah yang berwarna pelangi/ ayah yang kau sukai seperti permen dan coklat// aku bersumpah/ kau tak akan memiliki/ sebuah pisau yang menancap di kepalamu/ seperti yang kumiliki/ pisau yang ditancapkan ayahku… (hal.33)

 

Puisi “Kepada Anakku” tersebut memperlihatkan pertumbuhan aku-puisi Nersalya. Sebuah proses kematangan dari aku-puisi yang bermain dalam fantasi kanak-kanaknya hingga aku-puisi dengan naluriah dasarnya menjadi seorang ibu melakukan dorongan pemeliharaan terhadap anak. Nersalya dalam puisi tersebut seakan menggambarkan dua sudut dimana terletak kesakitan dan kebahagian. Dan aku– puisi menginginkan posisi seorang anak sejatinya musti diletakkan pada sudut kebahagiaan.

 

Kebahagiaan yang digambarkan dengan memilih “ayah terbaik”, “ayah yang berwarna pelangi” dan “seperti permen dan coklat” yang disukai  anak-nyaSi aku-puisi tidak menginginkan anaknya memiliki sebilah “pisau yang menancap” dalam kepalanya, “pisau” yang ditancapkan oleh ayahnya, yang membuatnya “tak mengenal warna”.

 

Kegemaran Nersalya, agaknya, memang menghadirkan ragam psikologi perempuan dalam puisi-puisinya. Melalui aku-puisi, ia seakan berusaha membangun apa yang disebut Sigmund Freud dalam psikoanalisa sebagai ciri-ciri kepribadian (personality traits). Gerak aku-puisi Nersalya terus memperlihatkan keterikatan, aku-puisi yang berkaitan. Perihal tersebut terlihat dari bagaimana satu puisi mempengaruhi puisi lain, seperti sebuah struktur kepribadian, dimana laku aku-puisi yang merupa perempuan kecil (masa lalu) dalam satu puisi akan mempengaruhi laku aku-puisi sebagai perempuan dewasa. 

 

Disadari atau tidak, Nersalya berusaha melengkapi kehidupan aku-puisinya dengan membangun fase-fase perkembangan kehidupan seksual (psichosexsual development). Fase-fase yang oleh Freud dibelah menjadi empat bagian (fase infantile, 0-5 tahun; fase latensi 5-12 tahun; fase pubertas 12-18 tahun; fase genitaldapat dibaca seutuhnaya dalam laku aku-puisi Nersalya. 

 

Lihat bagaimana fase infantile dimana seorang anak mulai mendapatkan pengalaman pertama dalam mengatur impuls-impuls dari luar, dan itu terlihat melalui posisi seorang “ibu”tak perlu kau perbaiki keran itu/ biarkan ibu terus menunggu/ air menetes/ sambil menjahit tubuhnya/ dengan garis-garis jelujur/ dan rapatkan titisan/ atau biarkan ia membayangkan/ air mengalir deras dalam kepalanya/ menghanyutkan ihwal lama tersimpan// (“Keran”, hal.15). Fase tersebut juga terlihat pada puisi “Rumah” yang memperlihatkan bagaimana akupuisi berlaku pada “ibu”, aku-puisi dengan ketenangan, yang tentunya didapat dari sosok seorang ibu.

 

Pada fase infantile ini pusat perhatian seorang anak juga tertuju pada perkembangan seksual, dan rasa agresi serta fungsi alat kelamin. Anak ingin tahu tentang seluk-beluk tubuhnya dan berhasrat mengeksplorasi tubuhnya sendiri serta berusaha menemukan perbedaan-perbedaan diantara dua jenis kelamin. 

 

Puisi “Stetoskop Plastik” memperlihatkan bagaiamana fase ini turut mempengaruhi aku-puisi Nersalyapagi itu kau membawa stetoskop plastik/ mainan baru/ oleh-oleh dari ayahmu// kau mengajakku ke gudang/ main dokter-dokteran//…kau telentang/ membuka celanamu dan memintaku/ memeriksa kelaminmu dengan stetoskop/…aku berikan stetoskop padamu/ tapi aku tak mau kau memeriksa kelaminku/ karena aku ingin bertanya dulu pada ibu/ mengapa kelaminku tak seperti kelaminmu. (hal.27-28). Salah satu puisi lain memperlihatkan laku aku-puisi sebagai seorang anak perempuan yang berusaha mengeksplorasi dan mempertanyakan persoalan dua jenis kelamin adalah berjudul “Hujan dari Dahan Pohon Jambu” (hal.13).

 

Puisi-puisi yang bercerita tentang “nenek” dan “kakek” memperlihatkan fase selanjutnya, yakni fase latensi, mempengaruhi psikologi aku-puisi. Fase ini merupakan periode teduh yang memperlihatkan aktifitas pergaulan seorang anak dengan orang lain. Fase ini turut membentuk rasa malu, aspirasi-aspirasi moral, serta pandangan estetis, dan perkembangan psikoseksual berkurang pada fase ini

 

Selanjutnya fase pubertas dan gentital terlihat dari puisi-puisi Nersalya berjudul “Coffe Break” (hal.17), “Sebotol Kenangan” (hal.19), “Angin Ngilu” (hal.23), dan beberapa puisi lain. Pada fase pubertas dorongan-dorongan libidal kembali muncul, namun jika dorongan tersebut dapat disublimasikan dengan baik, maka seorang anak akan sampai pada kematangan terakhir: yakni fase genital dimana segala kepuasan dianggap berpusat pada alat kelamin.

 

Fase-fase perkembangan kehidupan seseorang (dalam pandangan Freaudian) dapat dibaca seutuhnya melalui laku aku-puisi Nersalya. Ia memperlakukan aku-puisinya dengan penuh kesabaran dan menjaga pertumbuhan psikologinya mulai dari fase infantil hingga genital. Aku-puisi Nersalya pun dibuat tak gusar dalam berbicara persoalan cinta perempuan dalam masa puber hingga hasrat seksual seorang perempuan dewasa. Barangkali benar, puisi ibarat anak, dari kelahiran dan pertumbuhannya musti dijaga dengan baik.

MEMBENDAHARAKAN KATA, MEMAKNAI BAHASA

[telisik singkat tentang buku puisi “Jantung Lebah Ratu” Nirwan Dewanto ini pernah dimuat di koran Riau Pos, Juli 2010]

Barangkali ungkapan Hans Robert Jauss dalam Toward and Aesthetic of Reception (1982) mengenai karya sastra seibarat orkestra memberikan resonansi baru, membebaskan teks dari belenggu bahasa, menciptakan konteks penerimaan bagi pembaca masa kini, berlaku untuk membaca perpuisian Indonesia dewasa ini.  Jauss juga beranggapan, sifat diagonal karya sastra yang seibarat orkestra tersebut, memungkinkan pembaca mengapropiasikan penerimaan masa lampau, pengabaian, bahkan penolakan.
Di lain soal, puisi cenderung berusaha menggapai bahasa dengan gairah artistik tertinggi untuk menghadirkan teks beragam makna. Puisi juga menjadi ladang penyemaian hasil observasi, dari pembacaan terhadap teks budaya dari dalam (asal) dan luar budaya penciptanya. Sebentuk usaha untuk menciptakan pola baru dalam gaya perpuisian Indonesia.

Begitulah beberapa pandangan saya setelah berkali-kali membaca himpunan puisi Jantung Lebah Ratu, karya Nirwan Dewanto (Gramedia Pustaka Utama, 2008)—selanjutnya ditulis JLR. Penerimaan ini mengabaikan hal di luar teks dalam  kumpulan puisi tersebut, semisal: puisi tersebut ditulis oleh si anu, menerima penghargaan anu… Jika penerimaan masa lampau, anggapan Jauss, maka tersirat pada bentuk-bentuk dasar permainan bahasa (language game) pantun dan gurindam dalam JLR. Pola perombakan sampiran serta isi pantun dan gurindam, intertekstualitas simbol-simbol di beberapa puisilah yang membuktikan penerimaan dan perombakan tatanan bentuk yang lama ke yang baru. Baca lebih lanjut