KUPU-KUPU BANDA MUA: SEBUAH PEMBACAAN AWAL

Persoalan sosio-kultural Minangkabau agaknya tetap menjadi perhatian utama bagi pengarang dengan basis penciptaan dari Minangkabau. Dialektika antara rantau dan kampung terus menerabas batas-batas posisi geografis mereka. Tubuh boleh jadi berada pada ruang lain, tapi pikiran tetap menyentuh dusun-dusun tersuruk di pedalaman Minangkabau. Kita dapat melihat beberapa pengarang yang melalui proses penciptaan di rantau tapi tetap berusaha menggapai persoalan kampung. Di saat beberapa penulis lain menggap isu-isu seputar kosmopolitan, pluralisme, atau interaksi lintas budaya saat mereka berpindah secara georafis. Wacana mengenai dialektika Minangkabau tetap menjadi pilihan bagi penulis dengan basis penciptaan Minangkabau. Pilihan tersebut barangkali sebagai penanda bahwa dalam ruang lingkup domestik terdapat wacana kebudayaan yang belum tuntas dibahas.

Baca lebih lanjut

SOEWARDI IDRIS (1930-2004): ANTARA KARYA SASTRA DAN MORAL HISTORIOGRAFI

soewardiNasionalisme kata Benedict Anderson dalam Imagined Communities, seharusnya akan lebih mudah bila orang memperlakukannya seolah-olah ia berbagi ruangan dengan ‘kekerabatan’ dan ‘agama’, bukannya dengan ‘liberalisme’ atau ‘fasisme’. Bangsa atau nasion, lanjutnya, adalah komunitas politis dan dibayangkan sebagai suatu yang bersifat terbatas secara inheren sekaligus berkedaulatan. Tapi nasionalisme juga membawa permasalahan pokok. Bangsa yang dibayangkan sebagai sebuah komunitas, yang dipahami sebagai kesetiakawanan dan rasa persaudaraan, memungkinkan banyak orang, jutaan jumlahnya, bersedia melenyapkan nyawa orang lain, bahkan rela merenggut nyawa sendiri demi pembayangan tentang yang tak terbatas itu.

Permasalahan pokok dalam membayangkan bagaimana sebuah bangsa itu menjadi juga telah merundung masyarakat Minangkabau (Sumatera Barat). Diproklamirkannya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) oleh Ahmad Husein di Padang, 10 Februari 1958, menjadi bukti nyata bagaimana bayangan akan sebuah bangsa itu berangkat dari persoalan. Kesenjangan antara pusat dan daerah serta kecewaan-kecewaan lain terhadap pemerintahan membuat bagian dari sebuah bangsa sanggup menyatakan diri tidak lagi mempunyai ikatan. Kesenjangan tersebut ditegaskan secara metaforik dalam bait pantun Ahmad Husein saat proklamasi PRRI: Penjahit penjolok bulan/ tiba di bulan patah tiga/ Di langit hari yang hujan/ di bumi setetes tiada.

Baca lebih lanjut

TERAPI AUTISME KESUSASTRAAN

[tulisan ini bagian dari polemik dari tulisan yang dipicu oleh Darman Moenir dan dilanjutkan oleh beberapa orang penulis Sumbar di tahun 2011 di koran Haluan dan tulisan ini sendiri dimuat di Haluan 6 Maret 2011. Polemik lengkap bisa dilihat di mantagibaru.blogspot.com]

A Moment To Remember, film drama Korea (2004), sutradara John H Lee adalah peristiwa yang sedikit dekat dengan penuturan tulisan Romi Zarman (“Autisme Kesastraan”, Haluan, 27/2). Dalam A Moment To Remember, seorang laki-laki dihadapkan pada kenyataan, harus menerima kekasihnya divonis berpenyakit alzheimer.

Perlahan, si kekasih hilang ingatannya, sampai ia lupa pada diri sendiri. Tokoh laki-laki berusaha mengingatkan, mela­lui potret-potret romantis masa lalu, catatan-catatan kecil pada kulkas, meja, pintu, di mana si kekasih bisa mengingat dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Usaha itu mem­buahkan hasil, si kekasih mengingat hari lalu, hari depan pun tampak bagi mereka ber­dua. Yang paling berharga di kisah ini, tentunya cinta dan sejarah, kenangan dan ingatan. Baca lebih lanjut

PUISI, ESKPLORASI, ESTETIKA BARU DAN ZAMAN

[tulisan ini pernah dimuat di Padang Ekspres, Maret 2009]

Ada pendapat menarik yang dikemukakan oleh JJ. Kusni atas pernyataan Sutardji Calzoum Bachri (Tardji) mengenai ?eksplorasi isi puisi? beberapa tahun silam. Tardji menilai perkembangan puisi sangat meriah dan bahkan sudah mulai sangat ramai. Tetapi, eksplorasi isi cendrung berkurang disebabkan tidak adanya penemuan baru. Sebaliknya, JJ. Kusni berpendapat, bahwasanya ?zaman? ketika Tardji meng-otoproklamasi-kan dirinya sebagai ?presiden penyair? berbeda dengan kemajuan perpuisian di Indonesia saat ini.

Hal ini tidak pernah tuntas dibahas dalam kajian kesusastraan. Baik itu kritikus atau pun para pencipta puisi; persoalan eksplorasi isi dan estetika dalam puisi. Ketika dikembalikan lagi pada ?wujud?-nya, puisi menjadi jalinan teks yang hadir dalam sistem tanda (semiotik) dan nyatanya, memang puisi, dianggap sebagai awal-mula dari karya sastra. Pada akhirnya, tetap puisi akan dikembalikan pada pembaca (masyarakat) melalui ?wujud? yang berbeda kapasitasnya; berbeda dari sudut pandang pencipta; berbeda dari sudut pandang kritikus. Baca lebih lanjut

SENI(MAN) JALAN SENDIRI

[tulisan ini pernah dimuat di Padang Ekspres, Februari 2009]

Menyimak tulisan Romi Zarman (RZ), dengan judul Catatan atas Forum Diskusi Sastra Sumbar (Padeks, Minggu, 15/2), membuat saya kembali bertanya-tanya tentang wajah kesenian dan lembaga kesenian Sumbar hari ini. Ya, bagaimanakah wajah kesenian dan lembaga kesenian Sumbar hari ini? Kiranya pada tulisan RZ tersebut, data yang dipaparkan merupakan data faktual dalam kesusastraan Sumbar hari ini, sastrawan dan penyebaran karyanya. Juga forum-forum yang dilaksanakan berdasarkan ide-ide dari para penggiat sastra yang merasa kurangnya apresiasi, ?penghargaan?, apalagi perhatian lembaga semacam Dewan Kesenian Sumatra Barat (DKSB), yang seharusnya menjadi ruang dan mediasi bagi kelansungan dunia kesenian, termasuk perkembangan kesusastraan yang dibahas RZ.

Menengok lagi ke belakang, menelisik muasal forum-forum kesusastraan yang setahun belakangan hadir di Sumbar, khususnya Forum Diskusi Sastra Sumbar (FDSSB) yang sudah diadakan tiga kali, secara insiatif dan seadanya oleh fasilitator acara?dan cuma ini forum diskusi sastra paling diapresiasi selain forum-forum kecil yang diadakan komunitas-komunitas sastra independen. Baca lebih lanjut