SASTRA, ARENA, KUASA: SURAT TERBUKA UNTUK PUBLIK SASTRA INDONESIA

Salah satu persoalan kesusastraan Indonesia hari ini adalah praktik pelemahan sistemik dari agensi-agensi sastra untuk melanggengkan ketokohan Denny JA dalam arena kesusastraan Indonesia kontemporer. Agensi-agensi kesusastraan ini bekerja merekrut penulis-penulis untuk bekerjasama membuat apa yang dianggap pembaruan dalam model perpusisian Indonesia, membayar mereka dengan iming-iming honorium besar (benarkan besar?), dan membubuhkan tanda tangan di atas klausul-klausul dalam surat perjanjian bermaterai terkait kerjasama antara kedua belah pihak sebagai bentuk legalitas formal. Permasalahan ini memunculkan kecurigaan antar pelaku kesusastraan, sesama anggota dalam komunitas kesusastraan, dan hubungan-hubungan personal sastrawan di dalam daerah (provinsi) atau antar daerah. Karena pola kerja agensi tersebut tertutup dan menyusup ke dalam komunitas-komunitas sastra di beberapa daerah.

Baca lebih lanjut

KECURIGAAN PADA POLITIK LITERASI

Untuk tidak terlalu jauh menganalogikan proses penerbitan karya-karya penulis muda sebagai bentuk politik literasi, sebagaimana tulisan Muarif bertajuk Politik Literasi, Buku Sastra, dan Penulis Muda (Jurnal Ruang, 1 Oktober, 2017), saya ingin mengemukakan tiga pertanyaan kepada kritikus sastra terseebut: (1) Bagaimana bisa proses penulisan dan perjuangan penerbitan buku penulis muda mutakhir dapat disandingkan dengan penulis yang menerbitkan karya di luar penerbit Balai Pustaka periode 1900-an hingga 1920-an?; (2) Bagaimana dapat menilai kualitas sebuah karya jika hanya bersadar perbandingan proses penerbitan indie (atau self-publishing) dengan penerbit mayor?; Bagaimana pula sebuah buku karya sastra yang dianggap berkualitas tanpa dilektika dengan di luar karya itu sendiri (kritikus, institusi penerbitan, sayembara kepenulisan, dst—arena kesusastraan)? Baca lebih lanjut

SOEWARDI IDRIS (1930-2004): ANTARA KARYA SASTRA DAN MORAL HISTORIOGRAFI

soewardiNasionalisme kata Benedict Anderson dalam Imagined Communities, seharusnya akan lebih mudah bila orang memperlakukannya seolah-olah ia berbagi ruangan dengan ‘kekerabatan’ dan ‘agama’, bukannya dengan ‘liberalisme’ atau ‘fasisme’. Bangsa atau nasion, lanjutnya, adalah komunitas politis dan dibayangkan sebagai suatu yang bersifat terbatas secara inheren sekaligus berkedaulatan. Tapi nasionalisme juga membawa permasalahan pokok. Bangsa yang dibayangkan sebagai sebuah komunitas, yang dipahami sebagai kesetiakawanan dan rasa persaudaraan, memungkinkan banyak orang, jutaan jumlahnya, bersedia melenyapkan nyawa orang lain, bahkan rela merenggut nyawa sendiri demi pembayangan tentang yang tak terbatas itu.

Permasalahan pokok dalam membayangkan bagaimana sebuah bangsa itu menjadi juga telah merundung masyarakat Minangkabau (Sumatera Barat). Diproklamirkannya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) oleh Ahmad Husein di Padang, 10 Februari 1958, menjadi bukti nyata bagaimana bayangan akan sebuah bangsa itu berangkat dari persoalan. Kesenjangan antara pusat dan daerah serta kecewaan-kecewaan lain terhadap pemerintahan membuat bagian dari sebuah bangsa sanggup menyatakan diri tidak lagi mempunyai ikatan. Kesenjangan tersebut ditegaskan secara metaforik dalam bait pantun Ahmad Husein saat proklamasi PRRI: Penjahit penjolok bulan/ tiba di bulan patah tiga/ Di langit hari yang hujan/ di bumi setetes tiada.

Baca lebih lanjut

PADANG LITERARY BIENNALE: “KOTA DALAM RETAKAN TEMPURUNG”

10411891_4391174153145_7057877423793590838_n

Saya memegang seutas tali dengan rentang panjang delapan meter sambil menulis tengah malam. Satu ujung tali saya genggam erat, ujung lain terikat pada buaian rotan anak saya. Saya menulis, memegang tali, dan terus mengingat puluhan anak muda berjaga malam untuk mewujudkan sebuah festival sastra. Saya menulis, mengutuk diri sendiri, mengutuk ‘kota ini’, kota yang seperti berada di dalam retakan tempurung, dan saya memandang mimpi-mimpi dari arah retakan itu—mimpi-mimpi bergelantungan di langit benderang. Saya mengutuk berkali-kali hingga saya sadar keajaiban tidak akan pernah datang dari kutukan demi kutukan.

Baca lebih lanjut

KOMUNITAS, REGENERASI, DAN FESTIVAL SASTRA

10394101_4558404773806_974818285367122111_n

Pada saat kedatangan Hary B Koriun ke Padang sebagai pengarang undangan dalam agenda Padang Literary Biennale (PLB) 2014 (19-21 September), saya berjanji menemaninya bercerita, tentang banyak hal mengenai gairah berkesusastraan di kota saya. Saya ingin mengetahui juga dari Hary B Koriun mengenai perkembangan kawan-kawan di Pekanbaru. Tapi kami tidak kunjung menemukan waktu tepat. Mulai dari terkendala cuaca, terkendala keruwetan tugas-tugas saya saat festival tersebut diselenggarakan, dan berbagi waktu dengan anak yang umurnya baru satu bulan.

Baca lebih lanjut